[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
"Awas saja kalau aku sampai menemukanmu di kota nanti, akan kuhancurkan dan kuhisap ingatanmu sampai kau lupa pada namamu sendiri!"
Dengan langkah gontai dan hati yang terasa seberat timah, Elisa berbalik menuju pintu panti. Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik dinding, Ibu Iris telah mendengar seluruh keributan dan ancaman penggusuran itu.
Di balik daun pintu yang reyot, wanita tua itu berdiri mematung dengan tubuh gemetar. Air mata hangat mulai menggenang dan merembes turun di pipinya yang keriput, membuat pandangannya kabur.
Ia berusaha keras membekap mulutnya sendiri, menahan sesak dan tangisan hancur yang menghantam dadanya. Begitu mendengar suara langkah kaki Elisa yang basah mendekat ke arah pintu, Iris bergegas menyeka air matanya dan menjauh.
Beruntung, ia sudah menyuruh anak-anak panti yang lain masuk ke kamar masing-masing sejak awal, sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang perlu melihat kerapuhan sang ibu pengasuh.
Dengan tergesa-gesa, Iris berlari kecil ke area dapur yang remang-remang. Ia menghapus kasar sisa air matanya dengan ujung celemek kumal, lalu berpura-pura sibuk mengelap tumpukan piring yang sebenarnya sudah kering dan bersih sejak pagi.
Elisa melangkah masuk perlahan. Ia menutup pintu depan dengan suara sepelan mungkin, lalu menyandarkan punggungnya di sana. Ia memejamkan mata erat-erat, menghela napas panjang yang terasa sangat menyakitkan di dadanya.
Ya Tuhan, aku tidak akan sanggup memberitahu Ibu sekarang, batin Elisa perih.
Aku tidak mau melihat penyakit asma Ibu kambuh, atau melihat adik-adik kecilku menangis histeris karena kehilangan satu-satunya rumah tempat mereka bernaung.
Pandangan Elisa terlempar ke arah dapur, menatap punggung Ibu Iris yang entah kenapa hari ini tampak jauh lebih bungkuk dan rapuh dari biasanya. Dengan langkah kaki yang berat, Elisa menghampiri wanita tua itu. Ia menarik napas sedalam mungkin berulang kali, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian tak keruan.
Ibu..." ucapnya lirih.
Ia berdiri bersandar di tepi meja makan kayu yang permukaannya kasar, menyembunyikan jemarinya yang saling memilin gelisah di balik punggung.
Iris menoleh, memasang raut wajah terkejut yang dibuat-buat, lalu memaksakan sebuah senyuman lebar yang sayangnya sama sekali tidak mencapai sepasang matanya yang sembab.
"Bagaimana, El? Apa kata Tuan Louis tadi? Apa kau... berhasil membuatnya melupakan urusan panti lagi?"
Belum sempat Elisa merangkai kata untuk berbohong, Iris melangkah mendekat. Raut wajah wanita tua itu seketika berubah cemas yang nyata saat menangkap penampilan Elisa yang berantakan dan basah oleh lumpur.
"Astaga, kenapa bajumu bisa sekotor dan sebasah ini, Elisa? Apa yang terjadi di luar?"
"Tadi... aku tidak sengaja terkena cipratan air kubangan dari motor yang lewat di depan jalan, Bu," jawab Elisa seceria mungkin, memaksakan nada suara yang riang meski hatinya hancur.
"Tapi Ibu tahu tidak? Sepertinya usahaku kali ini sangat berhasil. Tuan Louis langsung pergi begitu saja tanpa banyak bicara setelah aku memberikan 'tatapan' itu."
Meski bibirnya melengkung tersenyum, batin Elisa menjerit perih tertusuk rasa bersalah.
Kenapa aku malah berbohong padanya? Sialan!
Iris terdiam untuk beberapa detik yang terasa sangat menyiksa. Ia menatap Elisa dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa kasih sayang yang mendalam, kepedihan, dan rasa bersalah karena membiarkan gadis delapan belas tahun itu memikul beban sedewasa ini.
"Begitu ya... syukurlah kalau begitu, El. Setidaknya malam ini kita semua masih bisa tidur dengan nyenyak di bawah atap rumah tua ini," ucap Iris lirih.
Wanita tua itu berbalik kembali menghadap bak cuci piring, melanjutkan kegiatannya mengelap piring yang sudah bersih. Matanya kembali berkaca-kaca, namun ia sekuat tenaga menahan napas agar air matanya tidak jatuh dan ketahuan oleh Elisa.
Elisa menatap punggung tua itu dengan perasaan campur aduk yang menghimpit dadanya. Ia melirik sekilas ke arah jam dinding usang yang berdetak konstan, menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Sial, artinya ia hanya memiliki waktu tepat tiga jam sebelum anak buah Louis datang membawa buldozer. Pikirannya berputar hebat bak gasing, mencari cara ekstrem apa pun untuk mendapatkan tempat tinggal sementara atau uang dalam waktu singkat.
"Bu..."
"Hmm? Kenapa lagi, El? Apa kepalamu mulai sakit lagi?" tanya Iris tanpa menoleh, suaranya agak serak.
"Bukan itu, Bu. Aku... aku hanya ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar di luar distrik. Boleh, kan?"
Iris berbalik pelan, mengangguk kecil. "Tentu saja boleh, Sayang. Tapi jangan terlalu lama, ya? Siang ini cuacanya sangat terik di luar, jangan lupa memakai tabir surya agar kulitmu tidak terbakar."
Elisa mengangguk cepat, lalu bergegas masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian yang bersih. Setelah mengoleskan sedikit tabir surya pada wajah dan lengannya, memoleskan sedikit lip balm pada bibirnya yang pucat, serta menyemprotkan parfum murah beraroma bunga lili untuk menyamarkan bau lumpur, ia menatap bayangannya sendiri di dalam cermin retak.
"Waktunya beraksi dan berpikir realistis, Elisa," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Ia kini mengenakan sebuah gaun lengan panjang berwarna hitam sederhana yang kainnya menjuntai anggun hingga ke mata kaki. Rambut cokelat bergelombangnya yang tebal sengaja ia biarkan tergerai bebas, bernaung di bawah topi bulat bertepi lebar yang menyembunyikan sebagian wajah rupawannya dari sengatan matahari.
Saat melangkah keluar dari pagar panti, ia celingukan menatap ke kanan dan kiri jalanan yang berdebu. Sejujurnya, ia tidak tahu harus mulai mencari bantuan atau flat murah dari mana di kota sebesar ini.
"Ah, ke mana saja asal kaki ini melangkah," gumamnya nekat. Ia segera menaiki sepeda bututnya, lalu mulai mengayuh pedalnya kuat-kuat menuju aspal jalanan utama, meninggalkan panti dengan segenggam harapan tipis yang ia genggam erat di dalam dadanya.
****
"Bau ini... kenapa rasanya justru menjadi semakin dekat dan pekat? Tidak salah lagi, ini adalah aroma maskulin milik si pengendara motor sport sialan itu!" gumam Elisa dengan dahi berkerut dalam.
Ia telah mengayuh sepedanya sejauh satu kilometer menjauhi wilayah panti asuhan. Napasnya mulai memburu dan peluh dingin mulai membasahi keningnya, namun rasa amarah yang membara di dalam dada seolah memberi Elisa suntikan energi tambahan yang luar biasa.
Niat awalnya adalah pergi menuju pusat kota untuk mencari info kontrakan, tetapi indra penciumannya yang super sensitif mendadak menangkap jejak aroma yang sangat familiar di udara.
"Akan kuhajar dan kubuat kau amnesia! Tunggu saja sampai aku menemukanmu, Brengsek!"
Ckiittt!
Elisa menarik tuas rem sepedanya secara mendadak saat ia melintasi pinggiran hutan pohon cemara yang tumbuh lebat dan menjulang tinggi. Dahinya berkerut semakin dalam saat ia turun dari sepeda. Bau laut bercampur besi yang tajam tadi... mendadak menguap dan hilang begitu saja di sekitar area sunyi ini.
Elisa mencoba mengendus udara di sekitarnya sekali lagi, namun hasilnya nihil.
"Ke mana perginya pria itu? Jalannya buntu,"