Kebencian adalah awal dari kehancuran yg akan ku persembahkan kepada langit, dendam yg terpendam akan ku ukir setajam pedang pusaka, terkadang takdir memang sungguh lucu, dengan sebilah pedang di tangan akan ku tunjukkan kepada langit , dengan sebilah pedang di tangan aku akan menentang takdir langit, dengan sebilah pedang akan ku hancurkan para dewa, dengan sebilah pedang akan ku ukir namaku, dengan sebilah pedang di tangan akan ku ukir namaku sebagai legenda kultivator iblis, kultivator yg paling menakutkan dan paling kejam yg pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusub Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kultivator misterius bertopeng emas
Cuih.....!
Seorang pemuda gagah bertopeng emas penuh luka berdiri tegak di bawah cakrawala biru di tengah-tengah ribuan mayat dan puing-puing bangunan. Sebilah pedang di tangannya telah menetaskan sarah. Pemuda itu menatap lurus ke depan. Api yg berkobar dari bekas puing-puing bangunan yg hancur seolah-oleh tidak terasa oleh kulitnya, dia berdiri tegak tanpa bergerak sedikitpun.
Bau anyir darah memenuhi wilayah itu karena darah sudah menganak sungai mengalir keberbagai arah.
Jubah yg dipakai kultivator bertopeng emas itu sudah di penuhi lubang akibat sayatan pedang dan hujaman tombak. Setengah jubahnya sudah menghilang entah kemana. Darah yg menetes dari tubuhnya adalah daranya sendiri beserta darah musuhnya.
Cuih...!
Pemuda itu kembali meludah ketanah, angin bertiup kencang seolah-olah menyusun awan hitam dari berbagai arah dilangit seperti menutup cakrawala biru. Pemuda itu seperti tidak melihat ribuan mayat dihadapannya, dia kembali meludah ketanah berkali kali seperti merendahkan mayat- mayat tersebut. Tidak terhitung jumlah kultivator yang mati ditangannya, namun seolah-olah dia belum puas.
Di samping pemuda itu, seekor Elang Merah ikut memperhatikan mayat-mayat di hadapannya dengan serius. Paruh, cakar dan bulu-bulu elang tersebut sudah berwarna merah darah hasil kerja kerasnya.
"Mana kesombongan kalian semua... Hah !"
Pemuda itu berteriak penuh kebencian dan kekesalan kepada ribuan mayat yg ada di hadapannya. Dia mengira akan membutuhkan usaha yg keras untuk membalaskan dendam masa lalunya dan ternyata semua itu tidak sesuai perkiraannya. Ini memang baru awal, Pemuda itu juga baru kembali ke dunia kultivator setelah puluhan tahun menjadi buronan kekaisaran dan berbagai pihak. Namun baru beberapa bulan sudah hampir ratusan ribu mayat yang menjadi korbannya.
Pemuda itu menghilang tanpa jejak sepuluh tahun yg lalu seperti di telan bumi. Disaat pemuda itu kembali di situlah cerita dongeng pengantar tidur di mulai.
"Hanya karena kalian memiliki sedikit kekuatan sudah berani menindas orang lain...!"
Pemuda itu kembali berbicara untuk melampiaskan kebencian yg selama ini dia pendam atas peristiwa kelam dimasa lalu. Dia teringat bagaimana orang-orang di masa lalu membantai keluarganya serta klannya. Pihak kekaisaran hanya mengambil inisiatif sepihak dan mengeluarkan titah bahwa salah satu Jenderalnya berkhianat tanpa bukti yg jelas.
Orang-orang bahkan tersenyum melihat kejatuhan seorang Jendral Besar Kekaisaran bersama klannya seolah-olah mereka menganggap klan pemuda itu adalah klan serangga yg tidak perlu di bantu.
"Keluar ...!"
Pemuda itu menatap keberbagai arah serta berteriak dari balik topeng emasnya. Dia tau masih banyak orang-orang yg selamat dari kelakuannya dan bersembunyi dibalik rumah-rumah yg belum runtuh di sekitarnya dan ada di balik pepohonan atau semak-belukar.
Mereka ketakutan dan wajah mereka pucat seperti kertas ketika memperhatikan pemuda itu dan tidak berani bergerak satu inci pun dari tempat mereka berdiri. Kekuatan pemuda itu bukanlah tandingan mereka, apalagi mereka yg masih dibiarkan hidup hanya memiliki kekuatan kultivator tingkat pemula.
Jangankan untuk membunuh pemuda itu, untuk mencabut satu bulu elang merah di samping pemuda tersebut pun mereka belum tentu mampu. Walaupun diam, tapi elang itu memiliki mata yg tajam dan jarak pandang yg mengagumkan.
Mereka yg bersembunyi tidak berani mendekat karena ketakutan dan belum mengetahui siapa pemuda itu dan dari mana asalnya. Mereka memperhatikan wajah pemuda itu di balik topeng emasnya seperti memiliki bayangan. Mereka tau topeng itu pastinya adalah senjata pusaka karena menyamarkan wajah pemiliknya dan bahkan tidak tergores sedikitpun setelah berulang kali terkena senjata.
Cuih ...!
Pemuda itu kembali meludah ketanah lalu memandang ke langit setelah hujan turun tiba-tiba. Langit seolah-olah ikut bersedih atas gugurnya ribuan nyawa manusia di hari itu.
"Tidak perlu kau menangis, ini baru permulaan ....!"
Pemuda itu berbicara kepada langit dan merendahkannya. Kelompok yg dia hancurkan salah satu kelompok pembunuh terbesar di wilayah kekaisaran tempatnya tinggal, walaupun bukan yg terkuat tapi Kelompok ini memiliki anggota paling banyak bahkan ribuan orang.
Kelompok tersebut bisa di sejajarkan dengan sekte menengah, sekte menengah di wilayah tempat pemuda itu tinggal harus memiliki seribu murid keatas.
"Habisi mereka semua, jangan sisakan satu pun."
Pemuda itu berkata kepada Elang Merah di sampingnya. Seketika elang merah tersebut mengepakkan sayapnya dan bersiul kencang bahkan siulannya hampir saja meledakkan gendang telinga pemuda itu karena elang itu kesal mendapat perintah.
Setelah itu, pemuda tersebut pergi untuk mengambil harta kelompok tersebut. Saat pemuda itu kembali dia melihat Elang Merah itu sudah kembali dan bertengger di sebuah batang pohon yg tumbang.
"Apakah kau sudah mendapatkan barang dari klan itu dan pihak kekaisaran tempo hari...?"
Pemuda itu berbicara lagi kepada elang merah di sampingnya, setelah mereka berdua bertengger di batang pohon yg sama. Sebelum penyerangan terjadi mereka sudah membuat rencana dan akan meninggalkan barang bukti kekaisaran dan sebuah klan di lokasi kejadian. Mereka akan menjadikan pihak kekaisaran dan sebuah klan dalang di balik penyerangan tersebut.
"Ya, aku sudah membawanya kesini,"
Elang Merah tersebut berbicara sambil mengeluarkan sebuah tombak putih bermata tiga dan sebuah pedang bengkok berbentuk bulan sabit dari kalung mutiara merah dari lehernya. Puluhan mayat dari prajurit kekaisaran dan puluhan mayat anggota dari sebuah klan.
Tombak bermata tiga adalah simbol senjata kebanggan kekaisaran dan pedang berbetuk bulan sabit adalah simbol senjata kebanggan dari sebuah klan yang belum di ketahui pemuda itu namanya. Senjata tersebut bukanlah senjata pusaka melainkan senjata biasa, tapi jenis senjata tersebut biasanya identitas dari sebuah kelompok tertentu.
Setelah tombak dan pedang tergelatak di tanah lalu pemuda itu mengambilnya dan menancapkannya di tanah, di tengah tengah ribuan mayat tersebut. Mayat-mayat prajurit kekaisaran beserta anggota klan yg belum di ketahui namnya itu, di lempar pemuda itu keberbagai arah untuk menyamarkan tempat kejadian seolah-olah peperangan antar kelompok terjadi di wilayah tersebut.
'Ini baru awal, apakah kalian akan menyesal nantinya setelah tidak menemukan pemuda yg tidak bisa berkultivasi 10 tahun yang lalu dari klan yg kalian hancurkan? Bersiaplah, iblis pencabut nyawa dari neraka terdalam telah kembali ... '
Pemuda itu berbicara dalam hatinya dan sebuah senyuman tersungging dari bibirnya atas pekerjaannya hari ini, bahkan senyuman tersebut muncul begitu saja setelah lebih dari sepuluh tahun dia tidak pernah tersenyum.
Kelompok pembunuh tersebut juga yg terakhir di hancurkan pemuda itu di wilayah selatan kekaisaran tersebut, hal ini sedikit mengobati rasa bencinya. Bagaimanapun semua kelompok yg bekerja sama dengan kekaisaran di wilayah selatan telah di hancurkan oleh pemuda itu, termasuk sekte - sekte kecil maupun menengah, baik itu aliran hitam atau aliran putih semua di hancurkan tanpa pandang bulu. Kelompok manapun yg bekerja sama dimasa lalu yg menghancurkan klannya akan di hancurkan mulai saat ini.
"Apakah kau sudah mengetahui batas kekuatanmu? Hanya sekelompok sampah kau harus bersusah payah untuk membersihkannya."
Elang Merah itu berbicara tanpa menoleh dan terlihat seperti meremehkan pemuda itu. Elang itu berbicara seperti itu agar pemuda itu tidak cepat puas atas latihannya, selama beberapa tahun terakhir pemuda itu sepertinya malas berlatih.
Elang Merah itu kesal karena pemuda itu tidak mau fokus khusus latihan tehnik dan seni beladiri terlebih dahulu, malah sibuk membuat pil dan menempa senjata serta pengobatan. Pemuda itu bahkan belajar berbagai segel dan formasi. Pemuda itu juga sibuk meneliti berbagai artefak dan senjata pusaka tingkat tinggi yg tidak terlalu penting.
Cuih ...!
"Berbicara sekali lagi tentang latihan, akan ku jadikan kau elang panggang."
Pemuda itu meludah ketanah dan menatap Elang Merah tersebut dengan tajam. Sekarang dia sadar ternyata kekuatannya belum cukup untuk mengobrak abrik istana kekaisaran, sekarang dia menyesal telah malas berlatih. Dia mengira kekuatannya saat ini tidak ada tandingannya, ternyata semuanya belum cukup. Dia memikirkan ulang rencana selanjutnya, dia membutuhkan latihan untuk meningkatkan kekuatannya sebelum menyerang istana.
Dia juga tidak mau mengotori tangannya sendiri, akan membentuk sebuah kelompok untuk menumpas ketidakadilan di wilayah kekaisaran tempatnya tinggal. Itulah sebabnya dia belajar membuat pil serta menempa senjata di sela-sela latihannya yg tidak pernah berujung. Pemuda itu sepertinya bosan berlatih sendiri secara terus-menerus. dia menginginkan latihan setiap hari antara hidup dan mati.
Kwak ... Kwak .... Kwak ... Kwak ...!
Elang Merah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak setelah memperhatikan celana pemuda itu." Apakah lato-lato nya masih lengkap? Sebaiknya kau periksa terlebih dahulu..." Elang Merah itu berbicara dan sedikit menjauh, lalu melompat ke batang pohon lainnya. Takut terkena tendangan yg tidak terduga.
"Kurang ajar ...!"
Pemuda itu sedikit malu dan terlihat kesal dia langsung pergi mencari air untuk membersihkan diri lalu mengganti jubahnya. Setelah dia selesai membersihkan diri pertanyaan langsung keluar dari mulutnya. Karena elang merah sudah menunggunya untuk rencana selanjutnya.
"Apakah kamu sudah menemukan sisa sekte angin selatan?"
Pemuda itu bertanya kepada elang merah di sampingnya. Sekte angin selatan adalah sekte kecil yg berlokasi jauh dari pusat Kekaisaran.Ketua sekte itu adalah teman akrab ketua klannya yaitu pamannya sendiri. Dia tau pasti ketua sekte itu terlibat walau hanya menyelamatkan sisa klannya.
"Walaupun bersusah payah mencarinya, aku berhasil menemukan sekte itu. Mereka bermukim di sebuah lembah misterius yg di huni ribuan hewan buas tingkat tinggi. Sepertinya mereka memiliki artefak tingkat tinggi untuk menyamarkan keberadaan mereka dari dunia luar."
Elang merah menjelaskan semuanya yg dia ketahui saat pengintaian, sekte angin selatan ternyata tidak berubah malah anggotanya berkurang. Jika sekte itu tidak terlibat untuk menyelamatkan anggota klan pemuda itu, mungkin sekarang sekte itu sudah menjadi sekte menengah.
"Baiklah, sebelum kita pergi ke sekte itu, sebaiknya kita mencari kota terdekat untuk beristirahat, lebih baik kita memulihkan diri. Kita juga belum lama berpetualang dan kita belum tau siapa kawan dan siapa lawan yg sesungguhnya."
Untung saja pihak kekaisaran tidak tau bahwa sekte itu terlibat membantu klan pemuda itu sepuluh tahun yang lalu, jika pihak kekaisaran mengetahui sekte itu terlibat maka sudah dipastikan sekte itu menghilang dari peradaban. Pemuda itu berencana singgah di kota terdekat untuk mengumpulkan informasi, dia juga belum tau tentang kekuatan musuhnya yg sesungguhnya.
"Tidak usah repot-repot mencari informasi. Di kota terdekat dari sini ada sebuah kelompok pengumpul informasi, cukup membayar dengan koin emas, informasi yang kita butuhkan akan tersedia."
Elang merah menjelaskan ada sebuah bangunan misterius berdiri di pinggiran kota. Nama bangunan itu adalah elang hitam, tidak ada yg tau siapa pemiliknya, dan tidak ada yg tau seberapa banyak anggotanya. Penjual informasinya pun menyamarkan identitasnya bahkan wajahnya selalu memakai topeng. Orang-orang hanya mengetahui bahwa bangunan tersebut khusus menjual informasi.
"Masuklah...!"
Pemuda itu membuat segel tangan, lalu menyuruh elang merah masuk kedalam cincin di jari tangannya. Sepertinya cincin di jari tangan pemuda itu adalah sebuah pusaka yg mengesankan, karena mahluk hidup pun bisa di masukkan kedalamnya. Pemuda itu tidak mau orang lain mengetahui bahwa Elang Merah tersebut adalah bukan peliharaannya. Namun, bagaimanapun pemuda itu tidak ingin rahasianya cepat di ketahui orang lain.
Pemuda tersebut kembali memperhatikan hasil kerja kerasnya hari itu sebelum dia pergi meninggalkan wilayah itu.
Kekaisaran tengah( kekaisaran pusat )
Prang.... !
Di tempat lain. Di sebuah ruangan mewah sudah berantakan akibat perabotan beterbangan keberbagai arah dan ruangan itu hancur berantakan. Seorang pria tua yg memiliki wajah menyeramkan dan memiliki jenggot putih yg panjang memperhatikan salah satu giok jiwa yg tersusun rapi dan tergantung di ruangan tersebut, salah satu giok perlahan-lahan meredup hingga hancur membuat pria tua tersebut sangat marah.
Pria tua itu memanggil bawahannya untuk mengumpulkan semua tetua yg ada di kelompok tersebut agar datang ke aula pertemuan.
"Mo Di, kumpulkan semua tetua saat ini juga." perintah pria tua itu.
Pria bernama Mo Di yg di perintah pria tua tersebut ketakutan karena merasakan aura pembunuhan yg begitu pekat merembes dari tubuh pria tua itu dan hampir saja membuatnya pingsan.
"Baik Ketua, saya akan segera melaksanakan perintah anda."
Modi segera membungkukkan badannya memberi hormat pada ketuanya itu sebelum buru-buru meninggalkan ruangan itu. Dia tidak mau mati mendadak akibat tekanan aura pria tua tersebut.
Kota beiping
"Minggir, enyah dari hadapanku ... !"
Para penjaga gerbang kota melakukan pemeriksaan ketat beberapa hari terakhir akibat masalah yang terjadi. Satu masalah belum terpecahkan malah masalah lainnya datang secara bertubi-tubi membuat penguasa kota pusing di ruangannya dan melakukan pemeriksaan ketat kepada para pengunjung ke kotanya.
"Yang tidak memiliki identitas yg jelas, segara tinggalkan tempat ini...!"
Seorang penjaga gerbang marah-marah karena beberapa pria di barisan antrian tidak memiliki identitas yg jelas. Mereka bekerja tidak mau menambah masalah, karena masalah yg terjadi di wilayah itu membuat semua orang bekerja lebih keras dari biasanya.
Seorang pemuda tampan di antrian paling belakang mendadak maju melewati puluhan orang di depannya, pemuda itu sepertinya tidak mau menunggu terlalu lama. Para pengunjung ingin sekali membunuh pemuda tampan tersebut karena memotong antrian. tapi setelah melihat pakaiannya dan merasakan rembesan aura pembunuhan dari tubuh pemuda itu, mereka yg berniat memberikan pelajaran kepada pemuda tampan itu menyingkir secara teratur.
"Kalian cukup tau diri juga, membuat masalah denganku sama saja memperpendek umur kalian."