Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08

Keesokan paginya.

Alya, Theo, dan Elang duduk bersama di meja makan sebelum berangkat beraktivitas. Pemandangan yang cukup langka. Biasanya Theo terlambat bangun. Elang sibuk dengan tugas kampus dan Alya makan sambil terburu-buru.

Ketiganya duduk melingkar dengan ekspresi serius. Seperti sedang rapat rahasia negara.

Theo membuka pembicaraan.

"Oke..."

Elang mengangkat alis.

"Oke apa?"

"Hari ini..." Theo menunjuk meja.

"Kita pulang cepat."

Alya langsung mengangguk.

"Setuju!"

Elang juga mengangguk pelan.

"Tidak ada yang nongkrong ... tidak ada keluyuran."

Theo menyilangkan tangan, Alya mengangkat tangan.

"Aku punya ide!" Seru Alya antusias.

Theo langsung menunjuknya.

"Katakan!"

Alya tersenyum manis.

"Aku akan bersikap menyebalkan di depan wanita itu,"

Theo terlihat bangga. "Itu bakat alamimu..."

Alya melotot, Theo langsung batuk.

"Maksudku ide kamu bagus."

Elang memijat pelipis."Apa rencanamu?"

Alya berpikir sejenak. "Aku akan membuat wanita itu tidak betah tinggal di sini meksipun hanya satu jam,"

Sekarang giliran Theo, pemuda itu menyeringai lebar.

"Aku punya rencana terbaik."

Elang langsung punya firasat buruk.

"Kenapa aku takut mendengarnya?"

Theo berdeham. "Aku akan memutar musik keras-keras."

Elang menatap datar.

"Dan?"

"Aku akan membawa teman-teman ke rumah."

"Dan?"

"Aku akan membuat rumah berisik."

"Dan?"

Theo berkedip, "itu saja! Dari tadi dan! Dan!" Kesal Theo, menatap Elang.

Elang menghela napas. "Itu bukan rencana."

"Itu bakatmu yang bikin rumah berisik,"

Theo mendengus, kini semua mata beralih ke Elang. Mahasiswa itu terlihat paling tenang.

"Aku tidak perlu melakukan apa-apa." Ujarnya.

Theo mengernyit. "Lalu?"

Elang mengambil gelas minumnya.

"Lihat skripsiku ... Aku akan meminta dia mengerjakannya, aku yakin dia menyerah. Lagian dia nggak kuliah mana paham tentang skripsi,"

Theo dan Alya langsung terdiam.

"Benar juga." Kata Alya dan Theo serentak.

Skripsi Elang yang selalu gagal sudah cukup menjadi sumber stres tersendiri.

Namun, sebelum diskusi rahasia mereka berlanjut suara langkah kaki terdengar dari tangga. Ketiganya langsung membeku. Nathan muncul dengan jas kerja hitam yang rapi.

Wajahnya terlihat segar, sangat berbeda dengan tiga anaknya yang langsung terlihat bersalah. Nathan berhenti tatapannya berpindah dari satu anak ke anak lain.

Nathan menyipitkan mata. "Kalian sedang apa?"

Theo langsung mengambil roti, Alya pura-pura minum susu. Elang membuka ponselnya.

Nathan semakin curiga.

"Kalian merencanakan sesuatu?"

"Tidak!" Jawaban mereka bertiga keluar bersamaan. Nathan mengangkat sebelah alis.

"Kalian yakin?"

"Yakin! Kami tidak merencanakan apa pun."

"Kami anak baik." Kata Alya. Nathan langsung menatap Theo.

Theo tersenyum kaku. "Oke, mungkin bukan aku."

Nathan menghela napas, lalu duduk di kursi kepala meja. Nathan mengambil cangkir kopinya. Sementara di seberang meja, Theo, Elang, dan Alya saling melirik diam-diam.

Nathan menyesap kopinya dengan tenang. Sementara di hadapannya, ketiga anaknya berusaha terlihat normal. Meski sebenarnya mereka baru saja menyusun rencana besar untuk mengusir ibu tiri mereka. Nathan menyipitkan mata, semakin dilihat, semakin mencurigakan.

Pria itu berdiri dari kursinya lalu merapikan jas kerjanya. "Ayah berangkat."

"Iya, Yah." Jawaban ketiga anak itu terdengar terlalu kompak.

Nathan langsung curiga lagi. Saat berjalan menuju pintu, Nathan tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh ke belakang.

"Oh ya..."

Ketiga anaknya langsung menegang.

"Ibu tiri kalian akan datang hari ini. Dan Ayah ingin kalian pulang lebih awal."

Theo langsung mengernyit. "Memangnya jam berapa dia datang?"

Nathan menjawab singkat. "Sebelum sore."

Mata Alya langsung membesar. "Cepat sekali?"

Nathan mengangguk. "Karena mulai hari ini dia tinggal di rumah ini."

Elang memijat pelipis, rumah ini benar-benar akan berubah. Nathan kembali menatap ketiga anaknya satu per satu.

Terutama Theo.

"Kamu!"

Theo langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Aku lagi?"

"Pulang tepat waktu! Berhenti balapan liar! Yang kamu tantang itu anak yang bermasalah. Ayah nggak mau berurusan dengan keluarganya,"

Theo mendesah. "Iya, Yah."

Nathan lalu beralih ke Alya. "Tidak ada alasan mampir ke mana-mana."

Alya langsung mengangguk cepat.

"Iya, Yah."

Kemudian Nathan menatap Elang.

"Kamu juga..."

Elang mengangkat alis.

"Aku?"

"Kamu yang paling dewasa."

Theo langsung menyela. "Itu karena usianya paling tua di antara kami."

Nathan melirik tajam, Theo langsung diam. Nathan kembali berkata pada Elang.

"Pastikan adik-adikmu ada di rumah."

Elang menghela napas.

"Baik, Yah."

Nathan mengangguk puas. Lalu sebelum pergi, ia memberikan peringatan terakhir.

"Ayah tidak ingin ada masalah hari ini."

Kalimat itu membuat Theo refleks menoleh ke arah Alya.

Alya menoleh ke Elang, Elang menoleh ke Theo. Mereka bertiga langsung teringat rencana rahasia mereka.

Nathan menyipitkan mata.

"Kalian mendengarkan Ayah?"

"Iya, ayah!"

Nathan masih merasa ada yang tidak beres. Namun, akhirnya ia berjalan keluar. Tak lama kemudian suara mobilnya terdengar meninggalkan halaman rumah.

Sementara itu, di sisi lain kota.

Warung sarapan milik Arabelle sedang ramai seperti biasanya. Aroma nasi kuning, lontong sayur, dan gorengan hangat memenuhi udara pagi. Para pelanggan silih berganti datang. Beberapa siswa membeli sarapan sebelum masuk sekolah. Guru-guru juga mulai berdatangan. Sedangkan, Arabelle sibuk melayani pesanan sambil sesekali menegur pelanggan yang lupa mengembalikan piring.

"Pak, piringnya jangan dibawa pulang."

Pria paruh baya itu langsung tersipu.

"Saya lupa."

"Sudah tiga kali minggu ini." Cetus Ara kesal, tetapi masih terlihat lucu di mata orang lain.

Para pelanggan langsung tertawa. Arabelle hanya menggelengkan kepala sambil kembali melayani pesanan. Tepat saat itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti tidak jauh dari warung. Mobil yang terlalu mahal untuk berada di depan warung sederhana seperti ini.

Beberapa pelanggan bahkan sempat melirik penasaran. Di dalam mobil Nathan menatap warung tersebut melalui jendela. Tatapannya tenang tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

Mohan yang duduk di kursi kemudi memperhatikan atasannya melalui kaca spion.

"Tuan Nathan..."

"Hm?"

"Apa Tuan ingin sarapan?"

Nathan kembali melihat ke arah warung. Di sana Arabelle sedang sibuk membungkus pesanan sambil berdebat dengan seorang siswa yang meminta tambahan sambal gratis.

Pria itu mengangguk pelan.

"Ya."

Mohan sampai berkedip dua kali. Biasanya Nathan jarang sarapan di luar. Apalagi di warung pinggir jalan.

"Baik, Tuan."

Nathan membuka pintu mobil. Lalu turun dengan jas kerjanya yang rapi. Aura dingin dan berwibawanya langsung menarik perhatian beberapa pelanggan. Beberapa bahkan tanpa sadar memberi jalan. Sementara Mohan ikut turun sambil membawa tablet kesayangannya.

Begitu melihat sosok tinggi itu berjalan mendekat Arabelle yang sedang menuang teh langsung membeku. Kemudian memejamkan mata sebentar. Seolah berharap saat membukanya pria itu akan menghilang.

"Sial! Dia benar-benar nyata..." Gumam Ara yang sedikit kecewa.

1
Endah Lestary
agak aneh pemikiran anak tirinya dibuat seperti abg...ga mungkin diusia mereka bersikap seperti bocah....
syska
ᴛʜᴏʀ.. ɪᴊɪɴ ɢᴀʙᴜɴɢ ᴅᴏɴᴋ ᴅɪ ɢʀᴜᴘ ᴋɪsᴀʜ ᴅʀ. ᴋᴇɴ sᴀᴍᴀ ᴀʟʏᴀ.
.😍😍
Aisyah Alfatih: boleh kak boleh DM Ig Aisyah alfatih, atau masuk grup di sini nanti ada Wanya kakak
total 1 replies
lenny sukmasari
Luar biasa
tutut wahyuningsih
cerita nya 👍👍❤️❤️❤️
syska
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴɴ...
sʏᴜᴋᴀᴀᴀᴀᴀ ʙᴀɴɢᴇᴛ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ.... 😍😍
Riana bere bere
suka banget sama setiap alur ceritanya...
Aisyah Alfatih: makasih kakak 💞
total 1 replies
Anelia Jg
good bgtt
Aisyah Alfatih: makasih kakak 💞
total 1 replies
Anelia Jg
siang thor mau gabung dong byr brp
Aisyah Alfatih: boleh kakak 🙏 bayarnya tergantung kakaknya bacanya yang mana, boleh langsng DM wa saya ya kak
total 1 replies
Sinta Dewi
ceritanya bagus Thor 😀
Uma
bagus
Enung Nurlaela
dari novel ini bnyak sekali ilmu yg didapat,author nya Ter the best ❤️❤️❤️
Aisyah Alfatih: makasih banyak kakak 🙏😭😭
total 1 replies
Fideli Deli
Thor boleh gabungin di grup kisah dokter Ken dan Alya dong🙏
Aisyah Alfatih: boleh kakak, langsung wa aku ya kak
total 1 replies
Itin
nah kan benar Ken.... 😬😬🤣🤣
Itin
Makin yakin saya kalo ini Ken...
tapi dia belum tau kalo yg mau dijodohin sama Alya
Itin
aku tebak yang mau dijodohin sama Alya si Ken... 😍😍
Alfia Amira
kamu yg bikin repot Lex 😂😂😂😂
QiDi
ken....
Itin
Reno nih...
Ga bakalan lolos... walau pake helm full face tetap keluarga Vasillo bisa ketemu kamu.
Alfia Amira
bayangkan , Kakak ipar lebih muda dari adik ipar 🤣🤣🤣🤣🤣
aksari
theo terbaik
👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!