Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesurupan
"Ko ada murid bule di sini?" tanya Hatta menunjuk seorang murid berambut pirang yang sedang bermain dengan anak anak lain, bahkan murid itu tidak memakai hijab meskipun seragam miliknya sama dengan yang lain.
"Dia sudah kelas satu SMP, dia di titipkan orang tuanya yang seorang darah keturunan Belanda katanya, tinggal di kampung Kaliki dan ke sini ikut suaminya, pak Burhan tetangga papa" jawab Dirga
"Oh.. yang dulu bekerja di luar negri jadi TKI?" tanya Hatta
"Iya, beliau pulang bawa istri dan anaknya, mereka sudah satu tahun tinggal di sini dan katanya betah" ucap Dirga
"Dirga... Nak..."
Urfa tiba tiba saja berbisik dan kedua lelaki itu mengangguk, dia juga mencium bau yang sama, bau belerang dan karena yakin itu berasal dari sosok putih yang mungkin berada di sekitar mereka, mereka langsung waspada memeriksa sekeliling.
Hatta langsung mengawasi Hannah dan Husna yang sedang bermain dengan anak anak TK lain, mereka tidak pulang karena mereka juga ingin menemani Hannan dan Hisyam di hari pertama mereka sekolah.
"Awasi Hannah kak, Dirga akan panggil Rissa" bisik Dirga dan Hatta mengangguk.
"Nak, harusnya tadi ajak juga Rian, Reza dan Rissa supaya bisa menjaga anak anak" ucap Urfa
"Bapak lebih perlu di jaga di sana Om, mereka juga mengincar bapak" jawab Hatta karena memang tiga jin kecil itu di minta untuk tetap di rumah.
Hannah tiba tiba saja berlari menuntun Bisma, yang lain juga berlari ke arah Hatta karena mereka merasakan ada angin kencang terus berputar di sekeliling mereka, bahkan Bisma berlari ke arah ruangan Bimantara untuk memanggil ayahnya itu supaya mengusir sosok yang sudah mengganggu anak anak di sana.
"Hiks... Pak gulu kami takut" rengek anak anak
"Tidak apa apa, kalian ke pinggir ya, dan berdiri di samping wali kelas kalian masing masing" bujuk Dirga
"Aaarrrhhhh! lepaskan!" teriak seorang guru yang tiba tiba kesurupan.
Khanza segera memegangi guru perempuan itu yang berlari untuk menyerang Husna dan anak anaknya. Khanza juga mengikat guru itu di bantu oleh Kharissa yang menggunakan energinya untuk melumpuhkan sosok yang merasuki guru itu.
"Panas!" bentaknya ke arah Kharissa
"Keluar!" ucap Kharissa
"Tidak! aku tidak akan pergi sampai aku bisa mendapatkan mata terakhir untuk nyonya!" bentaknya
"Mata terakhir? kata terakhir yang kamu sebut itu mata siapa? kenapa tidak minta mata dari manusia yang jadi tuanmu!" ucap Bimantara
"Hhhrrr..."
Mata guru itu memerah dan itu membuat semua anak anak berteriak ketakutan, bahkan ada beberapa anak yang pingsan dan di bawa guru lain ke dalam tempat yang lebih aman atas perintah Dirga agar mereka bisa menangani guru yang kesurupan itu.
"Istighfar Wid, lawan!" ucap Dirga
"Hahahah.... jangankan untuk beristighfar! perempuan ini bahkan sudah banyak melakukan dosa! berikan anak itu!"
"Hannah adalah anak kami, dia keturunan Wihardja dan tidak akan pernah ikut bersamamu atau tuanmu itu!" bentak Hatta
"Kacung!" ucapnya melotot ke arah Hatta
"Kamu yang kacung! kamu jadi kacung tuanmu dan pergi kesana kemari tanpa di hargai" sinis Kharissa memegang kepala guru itu yang kembali memekik kepanasan.
"Aaakhhh! panas sialan!" umpat guru itu mencengkram tangan Kharissa setelah dia berhasil melepaskan ikatan, tapi energi hitam Kharissa membuat cengkraman itu terlepas karena sosok itu benar benar kepanasan sekarang.
"Rissa... tangan kamu" ucap Dirga karena tangan Kharissa yang masih belum sembuh kembali berdarah.
"Tidak apa apa" jawab Kharissa datar bahkan dengan santai membersihkan tangan juga kuku guru itu dengan tisu basah yang dia ambil dari saku celana Dirga karena guru itu sudah mulai terikat sempurna tidak bisa lepas lagi.
"Hhrrr...."
"Kamu... kacung" ucap Kharissa
"Gggrrrrr!"
"Kacung meneer atau kacung si gendut?" tanya Kharissa berdiri di depan guru itu.
"Hhrrrrrr"
"Tidak jawab karena kamu di bungkam, tapi kamu sudah ketahuan" ucap Dirga tersenyum sinis.
"A'udzubillahiminasyaitonirojiim bismillahirrahmanirrahim..."
Dirga membaca ayat ayat rukiyah untuk guru itu karena dia sudah memakai sarung tangan, Kharissa juga tetap di samping guru itu karena dia ingin menangkap sosok yang sudah menandai Hannah sebagai tumbal mereka, tapi saat guru itu pingsan karena tidak kuat dengan rasa sakit dan panas dari energi sosok itu, sosok itu malah tidak bisa di tangkap Kharissa karena dia berubah jadi asap putih berbau belerang, membuat semua orang yang ada di sana terganggu dan menghindar.
"Dia kabur" gumam Kharissa
"Pak Ilham tolong bawa Bu Widi ke unit kesehatan di sana ada dokter Wulan" ucap Dirga
"Baik pak ustadz" jawab Ilham yang merupakan salah satu guru di sana.
Dia menggendong Widi yang pingsan di ikuti oleh Khanza karena dia ingin melihat apakah Widi masih di pengaruhi oleh sosok putih itu atau tidak.
"Kharissa, kenapa tadi kamu membersihkan tangan Bu guru itu?" tanya Hatta
"Mas..." keluh Kharissa dan Dirga mengangguk.
Dirga meminta Bimantara untuk mengantar Kharissa juga ke unit kesehatan karena tahu istrinya itu malas mejelaskan panjang lebar tentang alasan dia membersihkan tangan Widi tadi, karena penjelasan itu akan sangat panjang menurutnya.
"Sosok itu ke sini pasti bukan hanya untuk menandai Hannah lagi, tapi juga untuk mengambil darah atau bagian tubuh Kharissa" ungkap Dirga
"Maksudnya?" tanya Hatta terkejut.
"Semalam Kharissa bermimpi banyak hal tapi dia tidak mengatakan apa mimpinya karena dia bilang itu belum sempurna, tapi dia ketahuan sosok putih itu ketika dia tersadar dari mimpinya, pasti sosok putih itu ingin menggunakan darah Kharissa atau rambut bahkan sedikit bagian kulit Kharissa untuk hal yang tidak baik, jadi Kharissa menghindari itu, itu selalu di ajarkan Daddy Hamka padanya katanya" jawab Dirga
"Dia waspada dan penuh perhitungan, makannya Kharissa itu sering di juluki manusia mematikan oleh khodam Hamka" ungkap Bimantara yang kembali ke tempat Dirga.
"Pasti ada alasan lain?" tanya Hatta
"Energi hitam yang di miliki Kharissa ini tidak di miliki banyak orang, hanya beberapa saja dan yang pertama adalah Om Gafi, lalu Om Langit dan Opa Haris, setelah itu turun ke Daddy Hamka, ada kak Kaelan juga dari kampung Cadas dan Kharissa. Hitam itu identik dengan energi gelap yang jahat, tapi energi hitam mereka itu hitam yang murni baik, makanya para jin tidak menyukai mereka karena setiap bersentuhan, energi mereka akan terasa panas di kulit para jin tapi terasa dingin jika untuk manusia seperti kita" jawab Dirga
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭