Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATASAN USIA DAN MATA YANG MENGAWASI
Aroma nasi goreng hangat buatan Ibu memenuhi ruang makan sederhana kami pagi ini. Sinar matahari tipis menembus celah jendela, menemani aku yang sudah rapi mengenakan seragam teknisi PT Purna Jaya.
Aku tersenyum tipis, menyendok suapan pertama dengan perasaan yang jauh lebih ringan setelah status karyawan tetap resmi kusandang kemarin.
Namun, ketenanganku terusik ketika Ibu yang duduk di seberang meja meletakkan cangkir tehnya perlahan. Beliau menatapku dengan sorot mata yang mendadak serius, khas seorang ibu yang sedang menimbang kekhawatiran besar.
"Jem," panggil Ibu lembut, namun ada nada tertahan di suaranya.
"Ibu mau tanya sesuatu. Tapi kamu jawab yang jujur, ya?"
Aku mendongak, masih memegang sendok. "Tanya apa, Bu? Serius banget mukanya."
"Kedekatan kamu sama Nak Maikel belakangan ini..." Ibu menjeda kalimatnya sebentar, menatap lurus ke dalam mataku.
"...itu enggak lebih layaknya hubungan seorang kakak dan adik biasa, kan?"
Uhuk!
Aku langsung terbatuk keras. Suapan nasi goreng yang baru masuk ke tenggorokanku mendadak terasa menyumbat saluran napas. Aku buru-buru meraih segelas air putih di dekat piring dan meneguknya dengan cepat hingga tandas.
Wajahku seketika memanas, bukan hanya karena tersedak, tapi karena pertanyaan Ibu menghantam tepat ke bagian hatiku yang paling labil.
"I-Ibu ngomong apa, sih?" ujarku setelah berhasil menguasai diri, berusaha keras membuat nada suaraku terdengar senormal mungkin.
"Ya enggak lah, Bu! Masa Jema yang sudah sedewasa ini, sudah umur dua puluh empat tahun dan sarjana teknik, ada apa-apa sama anak SMA? Dia itu masih bocah, kancing bajunya aja sering berantakan begitu. Jema cuma murni bantu ngajarin dia biar utang kita lunas, enggak lebih."
Mendengar jawabanku yang berapi-api, gurat cemas di wajah Ibu perlahan mengendur. Beliau mengembuskan napas lega yang teramat panjang, seolah baru saja melepaskan batu besar dari pundaknya.
"Syukurlah kalau begitu, Jem. Ibu lega mendengarnya," sahut Ibu tulus, mengusap punggung tanganku.
"Bukannya Ibu tidak berterima kasih atas semua kebaikan Nak Maikel, dia anak yang luar biasa mulia. Tapi... Ibu jujur agak kurang sreg kalau kamu ada hubungan khusus sama dia. Maikel itu terlalu muda buat kamu, Jem. Dunianya masih dunia mainan anak sekolahan."
Aku terdiam kaku, hanya bisa mendengarkan sembari memutar-mutar sendok di atas piring. Dadaku mendadak berdesir aneh, ada rasa sedikit sesak yang tidak bisa kujelaskan muncul di sana.
"Ibu berharap, nanti kalau kamu mencari pendamping hidup, carilah yang seumuran, atau yang usianya lebih dewasa dari kamu," lanjut Ibu penuh harap, tersenyum hangat.
"Yang sudah matang, punya pikiran stabil, dan bisa membimbing kamu. Bukan yang harus kamu bimbing seperti anak kecil."
Bayangan wajah Maikel yang tersenyum jail mendadak melintas di kepalaku, berbenturan keras dengan nasihat logis Ibuku. Aku memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu bangkit berdiri untuk merapikan piring kotor.
"Iya, Bu. Jema paham kok. Jema berangkat kerja dulu ya, sudah jam tujuh lewat."
Satu jam perjalanan mengendarai bus, akhirnya aku sampai ke tempat kerjaku. Begitu menginjakkan kaki di lantai workshop PT Purna Jaya Otomotif Bach, aku langsung membuang jauh-jauh obrolan sarapan pagi tadi.
Aku mengikat rambutku tinggi-tinggi, mengambil multitester, dan mulai bergelut dengan sistem kelistrikan pada sebuah unit sedan premium di stall kerjaku.
Namun, kedamaian kerjaku tidak bertahan lama. Sejak aku resmi diumumkan sebagai karyawan tetap lewat memo internal pagi ini, aku bisa merasakan sepasang mata yang terus mengawasiku dengan getaran permusuhan yang pekat.
Di dekat rak penyimpanan komponen alternator, Senti sedang berdiri bersedekap dada. Matanya memicing sangat tajam, menatap setiap gerak-gerikku dari kejauhan dengan raut wajah yang dipenuhi rasa curiga dan iri hati yang amat ketara.
Senti akhirnya melangkah mendekat, menghentakkan sepatunya sengaja di lantai epoksi yang bersih. Dia berhenti tepat di samping kap mobil tempatku bekerja, melipat tangan di dada dengan senyum sinis yang memuakkan.
"Hebat ya, anak baru," sindir Senti dengan suara yang sengaja ditekankan.
"Belum ada sebulan kerja, statusnya masih training, tiba-tiba pagi ini dapet memo resmi langsung diangkat jadi karyawan tetap. Jalur ekspresnya mulus banget."
Aku tidak menghentikan pekerjaanku. Jarum penguji multitester tetap kutempelkan pada jalur kabel.
"Semua penilaian di sini berdasarkan data diagnostik sistem, Sen. Pak Yusuf dan manajemen melihat hasil kerja secara objektif."
"Halah, jangan bawa-bawa nama Pak Yusuf buat tameng lu deh!" potong Senti ketus, memajukan tubuhnya dengan tatapan menuduh.
"Gue tahu persis, kemarin siang lu dipanggil langsung ke ruangan Pak Samuel di lantai dua belas, kan? Dan setelah keluar dari ruangan Direktur Utama, surat pengangkatan lu langsung turun."
Aku menghentikan gerakanku sejenak, menatap Senti dengan pandangan datar.
Senti tertawa sinis, matanya berkilat penuh kecurigaan yang licik.
"Gue mulai curiga sama lu, Jema. Pegawai training biasa enggak akan mungkin bisa punya akses langsung ke lantai atas, apalagi sampai bikin Pak Samuel yang terkenal dingin itu ngasih hak istimewa secara instan. Jujur aja deh... trik kotor apa yang lu pakai di dalam ruangan tertutup itu, sampai bisa dapet karpet merah begini, hm?"
Kata-kata Senti laksana percikan api yang langsung menyambar tangki bensin di dalam dadaku. Trik kotor? Ruangan tertutup?
Detik itu juga, darahku berdesir panas hingga ke ubun-ubun. Harga diriku sebagai seorang wanita, sebagai sarjana teknik yang merangkak dari bawah kolong mobil dengan peluh dan air mata, rasanya baru saja diinjak-injak sampai lumat.
Selama ini aku selalu diam. Aku menahan diri, mengalah, dan memilih mengubur semua sindirannya demi profesionalisme kerja.
Namun, tuduhan murahan ini sudah kelewat batas. Kesabaranku habis total.
Brak!
Aku menghentakkan multitester di tanganku ke atas meja besi perkakas hingga menimbulkan dentingan nyaring yang memekakkan telinga.
Aku membalikkan badan dengan cepat, melangkah maju satu tindakan hingga jarakku dan Senti hanya tersisa beberapa senti. Kutatap matanya lurus-lurus dengan sorot mata sedingin es yang mematikan.
"Jaga mulut lu ya, Senti!" desisku dengan suara rendah namun penuh penekanan yang bergetar menahan amarah. Beberapa teknisi di stall sebelah langsung menoleh, menyadari ada badai besar yang siap meledak.
Senti sempat tersentak mundur setengah langkah, terkejut melihatku yang biasanya diam kini berbalik menantangnya. Namun, dia buru-buru menegakkan dagunya, mencoba menutupi kegugupannya.
"Kenapa? Tersinggung? Kalau omongan gue enggak bener, kenapa lu harus se-emosi ini?"
"Gue emosi karena ucapan lu itu fitnah menjijikkan!" bentakku lantang, tidak lagi menahan volume suaraku. Napasku memburu, kedua tanganku mengepal kuat di samping paha.
"Lu pikir semua perempuan di dunia ini cuma bisa pakai 'trik kotor' di dalam ruangan tertutup untuk dihargai?! Dengar ya, Senti. Gue dipanggil ke atas karena otak gue berfungsi, karena hasil kerja gue terbukti valid di sistem komputer, bukan kayak lu, yang kerjaannya cuma bisa tebar gosip dan iri sama pencapaian orang lain!"
"Lu— berani-beraninya lu ngatain gue?!" Wajah Senti seketika memerah padam, matanya melotot tajam.
"Lu cuma anak baru yang beruntung dapet muka polos. Jangan sok suci di depan gue!"
"Gue enggak sok suci. gue bicara fakta!" balasku sengit, melangkah maju lagi hingga dia terdesak mundur menabrak rak suku cadang.
"Kalau lu enggak terima dengan keputusan Pak Samuel, silakan lu naik ke lantai dua belas. Ketuk pintu ruangannya, dan protes langsung di depan muka beliau. Jangan jadi pengecut yang cuma bisa menggonggong dan melempar fitnah murah di lantai bawah!"
"Jema! Senti! Udah, stop! Cukup!"
Sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat. Revan tiba-tiba muncul dari balik pilar stall kelistrikan dan langsung menempatkan tubuh tegapnya di antara aku dan Senti. Pria itu merentangkan kedua tangannya, menghalangi kami yang sudah siap beradu fisik.
"Senti. Lu bener-bener enggak ada kapoknya ya cari gara-gara?!" bentak Revan, beralih menatap Senti dengan wajah mengeras penuh amarah.
"Gue dari tadi di stall sebelah denger semua omongan sampah lu. Lu tahu enggak, tuduhan lu itu bisa bikin lu ditendang dari perusahaan ini karena pencemaran nama baik Direktur Utama?!"
Senti mendengus kasar, meskipun gurat panik mulai tersirat di matanya setelah nama Pak Samuel dibawa-bawa.
"Lu selalu aja ikut campur, Revan. Lu buta apa gimana sih? Lu bela dia terus karena emang udah dapet jatah juga dari muka polosnya dia, hm?!"
Plak!
Revan menepis kasar tangan Senti yang menunjuk-nunjuk jalurnya.
"Tutup mulut lu, Senti. Pergi dari sini sebelum gue sendiri yang seret lu ke ruang HRD buat ngelaporin fitnah murahan lu ini! Pergi!"
Senti mengepalkan tangannya dengan geram. Dia melihat ke sekeliling workshop, menyadari para teknisi lain menatapnya dengan pandangan menghakimi dan berbisik-bisik negatif tentang kelakuannya.
Dengan wajah yang menahan malu dan dendam yang teramat pekat, Senti menghentakkan kakinya keras ke lantai semen.
"Kita lihat aja sampai kapan karpet merah lu ini bertahan, Jema!" desis Senti kejam, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan area kelistrikan menuju toilet belakang.
Suasana tegang perlahan-lahan mereda. Revan mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu berbalik menatapku dengan sorot mata yang mendadak melunak penuh rasa khawatir.
"Jem... lu enggak apa-apa?" tanya Revan lembut, tangannya ragu-ragu bergerak ingin menyentuh bahuku namun ia urungkan.
"Lu gemeteran banget. Sorry ya, gue telat motong omongan nenek sihir itu tadi."
Aku menarik napas dalam-dalam berulang kali, mencoba meredakan detak jantungku yang masih bertalu-talu akibat amarah yang meluap.
Kuusap wajahku yang terasa kaku, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis ke arah pria di depanku.
"Enggak apa-apa, Van. gue enggak apa-apa. Justru gue yang mau bilang makasih. Kalau lu enggak dateng, mungkin obeng di meja udah melayang ke mukanya."
Revan terkekeh pelan, mencoba mencairkan sisa ketegangan yang kaku di antara kami.
"Hahaha, sangar juga ya ternyata lu kalau lagi ngamuk. Tapi lu keren banget tadi, Jem. Emang harus digituin biar dia tahu batas."
Aku hanya tersenyum tipis, kembali mengambil multitester-ku yang tergeletak. Di luar ketenanganku yang mulai kembali, ada riak kecemasan baru yang tersisa di sudut hatiku.
Senti sudah mulai mencurigai ku, aku agak sedikit takut ada salah paham atas kejadian impulsif memeluk pak Samuel kemarin siang jika sampai bocor ke telinga Senti, duniaku di workshop ini pasti akan berubah menjadi jauh lebih berbahaya.
Author's Note
Halo semuanya! 🔧🔥
Boom! Akhirnya Jema meledak juga! Puas banget ya liat Jema pasang badan membela harga dirinya dari fitnah kejinya Senti. Mental montir emang gak bisa diremehkan! Tapi untung ada Revan yang selalu sigap jadi penengah dan pahlawan pelindung Jema. 😍
Tapi, dendam Senti tampaknya makin membara nih setelah diskakmat total sama Jema dan Revan. Kira-kira, rencana licik apa lagi yang bakal disusun Senti untuk menjatuhkan Jema? Dan gimana kelanjutan les privat Maikel nanti malam setelah Jema dapet wejangan "jangan sama anak SMA" dari Ibunya? 😉
Yuk, buat kamu yang udah penasaran banget sama kelanjutan Bab 20, jangan lupa klik tombol Follow (Ikuti) akunku dan berikan Like (Suka) yang melimpah ya! Tulis tim kamu di komentar
tetap setia dukung Maikel atau mulai oleng ke Revan? Sampai jumpa di bab berikutnya! 🏎️✨