MONTIR PRIBADI HATI TUAN MUDA
Bau oli dan bensin sudah menjadi wewangian harianku sekarang. Ijazah S1 Teknik Elektro yang kuperjuangkan setengah mati dengan beasiswa, kini tersimpan rapi di dalam lemari tripleks rumahku. Menjadi montir di showroom mobil mewah ini bukan cita-citaku. Namun, tagihan obat anemia Ibu tidak bisa menunggu sampai aku mendapatkan pekerjaan kantoran yang ideal.
"Jema! Ada mobil sport mogok di lobi depan. Tolong kamu cek," teriak Kepala Bengkel memecah lamunan.
Aku mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor, lalu berjalan keluar sambil membawa kotak perkakas. Di depan showroom, sebuah mobil sport merah yang harganya setara dengan biaya hidupku selama sepuluh tahun sedang terparkir kapnya terbuka.
Di samping mobil itu, berdiri seorang remaja laki-laki. Dia mengenakan seragam SMA dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya. Rambutnya agak berantakan, gayanya cuek, dan matanya langsung berbinar saat melihatku berjalan mendekat.
"Wah, montirnya cewek? Keren banget!" serunya tanpa basa-basi. Suaranya khas remaja yang sedang mekar-mekarnya.
"Selamat siang. Saya Jema. Bisa tolong jelaskan kendala mobilnya?" tanyaku formal, mengabaikan pujiannya. Hidupku terlalu melelahkan untuk menanggapi keusilan anak orang kaya.
"Gini, Kak Jema... eh, Mbak? Panggil apa ya enaknya?" Dia tersenyum jail, memamerkan deretan giginya.
"Tiba-tiba mesinnya mati pas gue lewat turunan sana. Kayaknya dia ngambek karena gue lupa isi air radiator, atau mungkin dia tahu kalau gue lagi pengen ketemu montir cantik?"
Aku menarik napas dalam-dalam. Anak ini tipikal remaja liar yang kurang kerjaan.
"Saya cek dulu sistem kelistrikannya," ujarku pendek.
Aku membungkuk, mulai memeriksa kabel-kabel di balik kap mesin. Menggunakan keahlian elektroku, aku bisa melihat ada sekring yang longgar akibat guncangan. Sementara aku fokus bekerja, anak laki-laki itu justru bersandar di sampingku, memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan dagu ditopang tangan.
"Nama gue Maikel. Maikel Sebastian Bach. Panggil aja Maikel," katanya, mengenalkan diri tanpa diminta.
"Kak Jema umur berapa? Kok udah bisa kerja di sini?"
"Dua puluh empat," jawabku singkat tanpa menoleh.
"Oh, beda enam tahun doang. Gue delapan belas. Masih pas lah," gumamnya pelan, yang hampir tidak terdengar di antara deru mesin showroom.
Aku tidak memedulikan racauannya. Setelah mengencangkan soket dan mengganti sekring yang hangus, aku meminta kunci kontak.
"Coba nyalakan sekarang!."
Maikel masuk ke kursi kemudi, memutar kunci, dan mesin mobil langsung menderu halus. Dia keluar dengan wajah takjub yang kekanak-kanakan.
"Gila, cepet banget! Kak Jema hebat banget, sih!"
"Pekerjaan selesai. Silakan urus administrasinya di kasir depan," ucapku datar, lalu berbalik membawa kotak perkakas kembali ke dalam bengkel.
Aku mengira itu adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengannya. Namun, aku keliru.
Keesokan harinya, di jam yang hampir sama, mobil sport merah itu kembali berhenti di depan bengkel showroom. Maikel keluar dari sana dengan seragam SMA yang berbeda warna hari ini, melambaikan tangan ke arahku yang sedang mengelap mesin mobil lain.
"Kak Jema. Mobil gue mogok lagi nih! Kayaknya kabelnya putus digigit tikus cinta!" teriaknya tanpa urat malu, memancing tawa montir-montir lain.
Aku hanya bisa memijat pelipis yang mendadak pening. Sepertinya, hidupku yang semula hanya berisi kerja dan obat Ibu, mulai kedatangan satu gangguan besar yang berisik.
"Maikel, tolong pulang. Ini tempat kerja, bukan tempat bermain," ujarku tegas, berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun.
Anak laki-laki berseragam putih-abu-abu itu justru tertawa renyah. Dia sengaja duduk di atas ban bekas dekat meja kerjaku, sambil mengayun-ayunkan kakinya yang panjang.
"Gue kan pelanggan, Kak Jema. Pelanggan adalah raja. Masa raja diusir?"
"Mobil kamu itu baru keluar dari pabrik tahun lalu. Tidak mungkin akinya tekor tiga kali dalam seminggu kalau tidak kamu utak-atik sendiri!" bentakku ketus sembari melempar kunci pas ke dalam kotak perkakas. Bunyi benturan besi yang nyaring sama sekali tidak membuat nyalinya ciut.
"Sengaja, biar bisa lihat Kak Jema pakai baju montir yang kegedean begini. Keren, tahu," sahutnya jail, lalu mengedipkan sebelah mata dengan gaya liarnya yang khas.
Aku mendengus kasar, lalu membalikkan badan dan mengabaikannya total. Pikiranku tidak punya ruang untuk meladeni romansa picisan anak SMA. Otakku sudah penuh dengan hitungan angka, sisa gaji bulan ini, biaya listrik, dan yang paling krusial, obat Ibu yang pagi tadi sudah kosong melongpong.
Begitu jam kerjaku usai, aku langsung bergegas pulang menggunakan angkutan umum. Rumah sederhanaku menyambut dengan sunyi yang akrab. Di dalam kamar yang remang, Ibu sedang berbaring lemas dengan wajah pucat pasi. Penyakit anemianya selalu menguras habis seluruh energi di tubuh rentanya.
"Ibu, ini Jema. Minum air hangatnya dulu, ya," bisikku lembut sambil membantu Ibu duduk dengan sangat hati-hati. Sisi ketat dan kasarku di bengkel runtuh seketika saat berhadapan dengan wanita yang telah melahirkanku ini.
"Obat Ibu... sudah habis, Jem?" tanya Ibu dengan suara parau yang terputus-putus. Tangannya yang dingin menggenggam jemariku.
Aku tersenyum, menyembunyikan rasa cemas yang menggerogoti dada.
"Iya, Bu. Ini Jema mau pergi ke apotek untuk membeli obat. Ibu istirahat saja dulu."
Aku mencium kening Ibu yang terasa hangat sebelum melangkah keluar rumah. Langit sudah temaram, berganti malam yang dingin saat aku berjalan kaki menuju apotek 24 jam di pinggir jalan raya. Pikiranku melayang memikirkan sisa uang di dompet yang pas-pasan.
Begitu melangkah masuk ke dalam apotek yang sejuk oleh pendingin ruangan, aku langsung menyerahkan secarik kertas resep kepada petugas di balik etalase kaca.
"Ditunggu sebentar ya, Mbak," ujar petugas itu.
Aku berdiri bersandar pada pilar, menghela napas panjang untuk melepaskan penat yang menumpuk seharian. Namun, ketenanganku tidak bertahan lama. Pintu kaca apotek mendadak berdenting, dan aroma parfum maskulin yang sangat kukenali tiba-tiba menyengat indra penciumanku.
"Loh, Kak Jema. Wah, jodoh emang enggak kemana-mana, ya!"
Aku tersentak dan langsung menoleh. Maikel berdiri di sana, masih memakai kaus hitam yang sama dengan siang tadi, lengkap dengan jaket denim yang tersampir di bahunya. Senyum lebarnya langsung mengembang, seolah dia baru saja memenangkan lotre.
"Maikel. Ngapain kamu di sini?" tanyaku penuh selidik. Mataku menyipit curiga.
"Kamu... membuntutiku, ya?"
"Heh. Sembarangan!" Maikel langsung memasang ekspresi defensif yang dibuat-buat, meski binar matanya yang jenaka tidak bisa berbohong.
Dia melangkah mendekat, berdiri terlalu rapat di sampingku hingga aku bisa mencium wangi tubuhnya.
"Gue ke sini mau beli obat buat nenek gue, tahu. Nenek gue lagi sakit sakitan di rumah."
Aslinya, Maikel berbohong. Dia sudah mengendarai mobilnya pelan-pelan di belakang angkot yang kunaiki sejak dari bengkel showroom, lalu ikut memarkirkan mobilnya agak jauh dari kompleks rumahku, dan berjalan kaki mengikutiku sampai ke apotek ini hanya demi mencari perhatian.
"Nenek kamu sakit apa?" tanyaku dingin, menguji ucapannya.
"Eee... itu, sakit... encok! Iya, encok menahun!" jawabnya cepat, sedikit gugup namun langsung kembali memasang wajah jailnya.
"Kenapa? Kak Jema perhatian ya sama keluarga gue? Berarti siap jadi cucu menantu, dong?"
Aku memutar bola mata malas, membuang muka darinya. "Berisik, Maikel."
"Atas nama Ibu Laras, totalnya seratus delapan puluh ribu rupiah," panggil petugas apotek dari balik meja.
Saat aku baru saja hendak membuka ritsleting dompetku, sebuah tangan kekar dengan cepat menyodorkan selembar uang pecahan seratus ribu dan dua lembar lima puluh ribu ke atas etalase.
"Pakai uang saya aja, Mbak. Kembaliannya ambil buat Mbaknya," ucap Maikel enteng, mendahuluiku dengan senyum sok keren yang langsung membuatku tertegun sekaligus meradang.
"Eh, apa-apaan sih?!"
Refleks, aku langsung menangkap pergelangan tangan Maikel. Kulitnya yang hangat bersentuhan dengan tanganku yang dingin. Aku memundurkan tangannya dengan paksa, menjauhkan lembaran uang ratusan ribu itu dari jangkauan petugas apotek.
"Maikel, jangan sok tahu ya. Ambil lagi uang kamu," desisku dengan suara rendah namun penuh penekanan, menahan malu karena petugas apotek mulai memperhatikan kami.
Maikel bukannya mundur, dia malah menahan posisinya. Otot lengannya mengeras, menolak digeser.
"Udah, Kak, terima aja kenapa sih? Gue cuma mau bantu. Keburu malam, kasihan nyokap lu nungguin obatnya."
"Aku bilang enggak, ya enggak!"
Aku langsung membuka ritsleting dompetku dengan kasar. Aku menarik dua lembar uang seratus ribu terakhir yang kupunya itu merupakan seluruh sisa uang makanku dan Ibu untuk minggu ini. Tanpa ragu, aku menyodorkan uang 200 ribu itu tepat ke depan dada Maikel, memaksa dia menerimanya.
"Ini ganti uang kamu. Ambil," ujar ku ketus, mataku menatapnya tajam tanpa berkedip. Aku tidak suka dikasihani, apalagi oleh bocah SMA yang belum tahu rasanya memeras keringat sendiri.
Maikel menatap dua lembar uang di tanganku, lalu beralih menatap mataku. Untuk pertama kalinya, binar jail di wajahnya memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit kubaca. Dia justru menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku jaket denimnya, menggeleng kuat-kuat.
"Enggak mau," tolak Maikel keras kepala.
"Gue beneran ikhlas, Kak Jema. Gue enggak ada niat ngeremehin lu atau gimana. Gue cuma... pengen ngebantu cewek yang gue suka. Emang salah?"
Kalimat terakhirnya membuatku tertegun sejenak. Jantungku berdesir aneh, namun egoku langsung menepisnya. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gemuruh di dadaku. Anak ini benar-benar bebal. Jika aku terus berdebat di sini, obat Ibu tidak akan pernah sampai ke rumah.
Aku memasukkan kembali uang 200 ribu itu ke dalam dompet dengan perasaan campur aduk. Aku menatap Maikel lurus-lurus, mencoba memasang wajah sedingin mungkin.
"Oke. Aku terima uang kamu malam ini," ucapku akhirnya, membuat Maikel langsung tersenyum cerah seolah baru memenangkan trofi. Namun, sebelum senyumnya makin lebar, aku langsung memotongnya.
"Tapi jangan harap ada makan malam atau ucapan terima kasih yang manis."
"Terus guenya dapet apa dong?" tanya Maikel, kembali ke mode jailnya yang menyebalkan, sembari menaik-turunkan alisnya.
"Sebagai gantinya..." Aku mengambil bungkusan obat dari petugas apotek, lalu berbalik menatap Maikel dengan tegas.
"...kalau besok-besok mobil mewah kamu itu rusak lagi karena kamu utak-atik sendiri, aku yang akan perbaiki secara gratis. Anggap itu bayaran untuk malam ini. Adil, kan?"
Maikel tergelak, tawa renyahnya menggema di sudut apotek yang sepi.
"Wah, tawaran yang menarik. Berarti gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari dong, biar bisa dapet servis gratis dari montir pribadi hati gue?"
Aku hanya bisa menghela napas panjang, memutar bola mata, dan melangkah keluar dari apotek tanpa memedulikan racauannya yang mulai ngawur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments