Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 Sihir Pertama Yang Membunuh
Tiga pemburu hadiah yang memiliki sihir api kelas menengah. Berdiri berhadapan dengan Eliya yang sudah bersiap melakukan uji coba elemen tanah yang baru mengisi mahkotanya.
"Hanya menangkap seorang gadis kecil tanpa sihir berhadiah satu juta koin emas. Ini benar-benar keterlaluan! Apa istimewanya gadis itu?" cibir salah satu penjahat setelah menelisik Eliya dari atas hingga bawah.
Mereka berada di luar kedai, di dekat perbukitan.
"Istimewanya diriku? Setelah kalian mencobanya, kalian akan tahu," sahut Eliya dengan sikapnya yang tenang, setenang air yang tak beriak.
"Kita serang bersama untuk mempercepat waktu. Dengan begitu kita akan segera mendapatkan uangnya," ujar salah satu dari kelompok pemburu hadiah itu disetujui dengan dua lainnya.
Eliya mencibir, menatap mereka dengan acuh. Lalu, tiga bola api muncul di hadapan mereka. Bersamaan melempar sihir itu ke arah Eliya.
Gadis itu menghentakkan kaki ke atas tanah, kemudian mengangkat tinjunta tinggi, setinggi dada. Dinding batu setinggi dua meter mencuat dari tanah, meredam raungan sihir api kelas menengah yang dikirimkan oleh tiga pemburu hadiah di hadapannya. Benturan itu menciptakan dentuman keras, melemparkan percikan jelaga ke udara malam yang dingin.
"Dulu aku selalu menghindari serangan saat berlatih dengan Seraphina. Sekarang berbeda, aku sudah tidak takut lagi." Eliya bergumam pelan, menatap dinding tanah yang membatasi pandangannya dengan para pemburu hadiah.
Dinding tanah itu masih berdiri angkuh di antara mereka. Menimbulkan kepulan asap yang membumbung tinggi ke langit. Terdengar suara batuk kecil dari dalam kepulan itu.
Kael yang berdiri tak jauh dari mereka tercengang melihat aksi menakjubkan Eliya. Ia mundur dan bersembunyi di balik semak dengan pedang di tangan.
"Dia tidak merapalkan mantra ... dan sihir itu muncul begitu saja? Ini benar-benar aneh!" gerutu Kael dengan perasaan takjub yang tak dapat ditolak hati dan pikirannya.
"Elemen tanah? Ternyata dia seorang penyihir. Pantas saja hadiahnya begitu besar," ujar salah satu pemburu kesal.
'aku tidak akan pernah lagi berlari seperti tikus ketakutan di lorong-lorong gelap istana. Di dunia baru ini, aku mendikte jalannya pertempuran.'
Eliya bergumam di dalam hati mendengar suara menggerutu dari para pemburu hadiah di seberang dinding tanah yang mulai retak itu.
Dari balik perlindungan dinding batu yang mulai retak, Eliya kembali menghentakkan kaki kanan ke permukaan tanah yang lembab.
Mulutnya bergumam lirih, berucap dengan pasti, "Tanah!"
Seketika, fondasi di bawah kaki ketiga pemburu itu melunak, bergeser, dan kehilangan kepadatannya bersamaan dengan dinding yang dibuat Eliya sebelumnya melebur.
Eliya tidak berhenti di sana, sebelum mereka sempat menyadari perubahan struktur tanah di kaki mereka, gadis itu mengangkat tangan kanannya ke atas searah dada.
Lisannya kembali bergumam pelan dan tegas, "Air!"
Udara malam yang lembab mengembun dengan cepat, mengalir dan membanjiri sela-sela tanah yang longgar. Dalam hitungan detik, tanah kering di bawah kaki mereka berubah menjadi kubangan lumpur hidup yang pekat dan mengisap.
Ketiga pemburu itu terperosok hingga sebatas lutut. Mereka berteriak panik, mencoba merapal mantra pembalik, tapi konsentrasi mereka pecah oleh kepungan lumpur yang kian mencengkeram.
"Sialan! Apa yang terjadi dengan tanah ini?!" teriak pemburu berambut merah, wajahnya pias saat menyadari tubuhnya perlahan karam.
"Kenapa tiba-tiba ada lumpur?" Yang lain ikut panik, mencoba menggerakkan tubuhnya untuk dapat keluar. Sia-sia.
Eliya tidak berencana memberi mereka waktu untuk bernapas. Ia lantas memanfaatkan celah kecil di antara reruntuhan dinding batu penahan tadi, lalu menjentikkan jari kelingking.
Bibirnya berdesis, "Angin!"
Sekali klik, manipulasi tekanan udara terjadi dalam skala mikro. Angin kecil yang tajam berputar cepat dan tepat di depan wajah mereka, menyedot pasokan oksigen dalam radius satu meter.
"A-apa lagi yang terjadi?" Mereka gelagapan, kehilangan pasukan oksigen ke paru-paru mereka.
Ketiga pemburu itu mendadak mencengkeram leher masing-masing. Kulit mereka berubah kebiruan, mata mereka melotot saat paru-paru mereka berjuang keras mencari udara yang tiba-tiba lenyap.
"Ku-kurang ajar!"
Itu kalimat yang mereka ucapkan untuk terakhir kali sebelum ketiganya lunglai tak bernyawa.
Tiga puluh detik. Hanya dalam hitungan detik semuanya selesai dengan mudah. Tanpa menggunakan banyak energi, apalagi sihir. Eliya tidak terlihat merapal mantra sama sekali. Lalu, dari mana datangnya sihir-sihir itu?
Tubuh ketiga pemburu itu ambruk secara bersamaan, tenggelam separuh badan di dalam lumpur yang kini mulai mengeras kembali seiring hilangnya pasokan sihir air milik Eliya. Halaman kedai makan kembali hening, hanya menyisakan suara jangkrik dan deru napas para warga yang memburu.
Mereka merasakan ketegangan saat sihir-sihir dilepaskan. Namun, tak satupun percikan sihir mengenai mereka atau kedai makan itu.
Kael, yang bersembunyi di balik semak-semak dengan pedang terhunus, melangkah keluar dengan lutut yang tampak sedikit gemetar. Wajahnya pucat pasi, menatap tiga jasad di depan mereka yang tak berkutik di hadapan Eliya. Lalu, pandangannya beralih menatap telapak tangan Eliya yang masih menyisakan pendaran cahaya sihir yang samar.
"Kau ... menggabungkan elemen?" bisik Kael, suaranya parau karena syok. Matanya melebar, semburat kekaguman jelas terlihat memancar dari sana.
Yang mereka ketahui, di dunia Aethervan ini, seorang penyihir biasanya menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mendalami satu elemen sihir secara murni. Mereka akan menghabiskan mana di dalam diri mereka saat mencoba menggabungkan beberapa elemen sihir.
Sementara Eliya, menyandingkan tiga elemen berbeda dalam satu rangkaian serangan. Itu adalah hal yang dianggap mustahil, atau setidaknya, dianggap tabu karena berisiko menghancurkan inti sihir sang penyihir sendiri.
"Efisiensi," jawab Eliya santai sambil mengibaskan debu yang menempel di jubah hitamnya.
"Di dunia lamaku, ini namanya multitasking," katanya lagi sambil berlalu.
Kael mengerutkan kening, tidak memahami istilah asing yang baru saja Eliya ucapkan. Namun, dia tahu satu hal yang pasti, gadis yang berdiri di depannya saat ini bukan lagi seorang putri buangan yang lemah. Bukanlah sampah yang tidak berguna, apalagi aib bagi keluarga.
"Hore! Sang Penyihir hebat!"
Sorak-sorai para warga menggema setelah keheningan terjadi beberapa saat. Mereka berhamburan keluar dari tempat persembunyian memuja tinggi-tinggi sosok Eliya.
****
Sementara itu, hanya butuh waktu tiga hari bagi gosip untuk melintasi perbatasan wilayah terlarang. Di kedai-kedai minum para petualang, di aula pertemuan para bangsawan, hingga ke telinga para petinggi kerajaan dan penyihir hebat mereka, sebuah rumor mengerikan mulai berembus kencang.
Berita menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru negeri.
"Penyihir Misterius Jurang muncul. Kalahkan tiga pemburu tanpa luka."
Di sudut sebuah ruang baca di istana ibu kota, seorang gadis berjubah merah meremas perkamen laporan itu hingga hancur. Matanya memancarkan kemarahan sekaligus ketakutan yang mendalam. Mereka mengira target mereka telah mati membusuk di dasar jurang terdalam.
Namun kini, entitas yang kembali dari kegelapan itu jauh lebih mengerikan dari apa yang pernah mereka bayangkan.