Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
#17
Mereka menunggu sampai malam di tempat yang sama, diam tak bergerak kemana-mana sampai waktu dirasa pas untuk beraksi.
Selama menunggu, Zion berkoordinasi dengan Louis, pria itu juga berhasil menyadap CCTV di kantor ekspedisi tersebut, hingga mereka tahu dari titik mana saja yang tidak diawasi oleh penjaga.
Pembagian tugas dimulai, Louis mengawasi CCTV, sementara Zion menyusup seorang diri, bukan dengan tangan kosong, sudah pasti ia menyiapkan beberapa senjata yang terselip di balik sepatu dan pakaiannya. Untuk berjaga-jaga bila terjadi masalah. Sementara Louis yang memandunya dari kejauhan dengan alat komunikasi mereka.
Zion berpura-pura berjalan seperti halnya warga biasa kebanyakan, hingga di titik lokasi yang minim penjaga, Zion berhasil menyelinap masuk saat para penjaga lengah. Pria itu berjalan dengan cara menempel di dinding, pagar agar tidak terlalu mencurigakan. Ditambah Louis yang membantunya menghapus gambarnya saat bayangannya tertangkap kamera CCTV.
Bangunan di dalam pagar tak terlalu istimewa, sama seperti gedung perkantoran biasa yang terdiri dari tiga lantai. Namun, sejak siang hingga sore Zion dan Louis mengawasi, tak nampak para pegawai keluar dari kantor tersebut selepas jam kerja. Yang ada hanyalah para pekerja yang khusus mengangkut dan memindahkan barang-barang, mereka sudah meninggalkan kantor sebelum jam kerja berakhir.
Hal itu semakin meningkatkan rasa curiga Zion serta Louis, apakah benar bangunan itu adalah kantor ekspedisi, atau ada hal lain yang mereka sembunyikan di sana.
Tak ada cara aman untuk masuk ke dalam ruangan selain mengenakan seragam penjaga, karena mereka memiliki kartu akses untuk masuk ke dalam ruangan. Mau tak mau Zion pun harus menunggu ada petugas keamanan yang melewati tempat persembunyiannya agar ia mudah melumpuhkannya.
Dasar rezeki tak kemana, beberapa saat kemudian, seorang penjaga melintas, dan dengan sigap Zion melumpuhkannya, menyeret pria itu ke lorong gelap lalu melucuti pakaiannya. Zion memakai pakaian tersebut dan dengan demikian Zion berhasil mengelabui para penjaga lain.
Sekarang tinggal mencari cara masuk ke dalam ruangan. Meski telah memiliki kartu akses, Zion tak bisa sembarangan, karena para penjaga hanya berkeliaran di luar ruangan terutama pada malam hari, mungkin karena tidak ada aktivitas penting di dalam ruangan.
Selama berpura-pura menjadi penjaga, praktis Zion tak berbicara dengan Louis, tapi bukan berarti komunikasi mereka terputus. Sebab Louis terus memberikan informasi dari jauh.
Tiba-tiba semua penjaga berkumpul di pintu gerbang utama, Zion tak punya pilihan selain ikut berkerumun di sana.
“Komandan, ada dua truk besar mendekat.” Louis melaporkan keadaan dari luar.
“Hmmm, di sini semua penjaga sedang berkumpul di dekat pintu gerbang,” kata Zion, berbisik dengan suara yang sangat datar.
Kedua truk itu masuk dan parkir dengan sempurna, sebagai penyusup Zion hanya menunggu instruksi, karena ia sendiri tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Rupanya mereka semua harus memindahkan isi truk ke dalam ruangan, akhirnya Zion memiliki kesempatan masuk ke dalam ruangan.
Tak lama kemudian, pintu belakang truk terbuka, dan nampak dengan jelas tumpukan peti-peti besar yang terlihat familiar bagi Zion, karena beberapa hari yang lalu, ia pun menggagalkan transaksi senjata ilegal dan isi truknya pun sama.
Apakah peti-peti ini juga berisi senjata?
Tapi untuk apa semua senjata ini?
Rupanya pertanyaan itu makin membuat Zion penasaran, karena ruangan yang ada di dalamnya bukanlah sebuat tempat yang semula Zion bayangkan sebagai kantor ekspedisi.
Ruangan itu lebih mirip gudang senjata api, karena ratusan mungkin ribuan senjata api ada di dalamnya. Tersusun rapi di rak dan berjajar rapi berdasarkan bentuk, jenis, dan fungsinya.
“Apakah mereka mau berperang?” gumam Zion.
“Kau bilang apa?” Pengawal yang ada di dekat Zion tiba-tiba ikut bersuara, tentu dengan bahasa setempat.
Zion menggenggam erat senjata yang ada di dekatnya, sudah takut jika penyamarannya ketahuan.
“Tidak, aku hanya berdehem.”
Pria itu mengangguk, lalu kembali berjalan keluar untuk mengangkut senjata berikutnya.
Tapi, keadaan tak terduga terjadi, pria yang tadi sempat Zion lumpuhkan kembali sadar. “Ada penyusup!” teriaknya.
Semua orang saling menatap satu sama lain termasuk Zion, mereka saling melihat ciri-ciri orang di dekat mereka, bila ada perbedaan maka dialah penyusupnya.
“Kau siapa?” tanya pria yang sejak tadi ada di dekat Zion.
“Aku—” Zion meraba apa saja yang ada di dekatnya, lalu—
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Karena tak ada benda yang bisa ia gunakan, maka pria itu menggunakan tinju dan tendangan, untuk menendang tiga orang pria yang ada di dekatnya.
Perkelahian tak bisa Zion hindari, berbekal senjata ala kadarnya, pria itu melawan banyak orang sendirian.
Namun, Zion sangat lincah, sesekali ia bisa memanjat dan menjatuhkan lawannya dari atas, bahkan merobohkan rak untuk menghalangi pergerakan lawan.
Rak senjata yang semula berjajar rapi, kini mulai roboh satu persatu. “Datanglah segera! Aku akan berusaha keluar dari tempat ini!” perintah Zion di sela perkelahiannya melawan lebih dari sepuluh orang sendirian.
Beberapa kali wajah dan tubuhnya menjadi sasaran hantaman, namun, Zion tahu ia harus terus melawan, jika tak ingin mati di tempat.
Di luar, Louis langsung menyalakan mobil dan berhenti di depan gerbang, tak ada penjaga yang melihat keberadaannya, karena mereka fokus mengepung Zion yang terus melakukan perlawanan.
Lawan Zion tak main-main, mereka mulai merasa kehabisan cara padahal yang mereka lawan hanya satu orang. Mereka mulai menggunakan senjata api. Dan zion tak mau diam, karena percuma saja melawan senjata api dengan tangan kosong.
Dor!
Dor!
Zion berlindung di balik dinding, diantara beberapa peluru yang terus mengincarnya.
Maka pria itu pun mengeluarkan dua buah pistol yang ia selipkan di balik pakaiannya, namun, Zion dibuat terkesiap saat ia menyadari bahwa tempat ia gunakan untuk bersembunyi adalah gudang granat.
“Oh, my God,” gumam Zion lirih, wajahnya yang lelah seketika pucat pasi melihat pemandangan di depan matanya.
•••
Di rumah, Zea tiba-tiba bangun, dan minta minum.
“Tidur lagi, Sayang.” Lizie meletakkan gelas Zea, lalu membantu putrinya untuk berbaring lagi.
“Mama, kapan Papa pulang?”
“Secepatnya,” jawab Lizie, ia ikut merasa sedih. “Kenapa? Zea kangen papa?
Zea mengangguk, “Kan, ada Mama. Sekarang bobo' dan jangan lupa berdoa Papa selalu sehat dimanapun berada.”
“Pengen bobok sama Papa.”
Lizie menarik Zea ke dalam dekapannya. “Papa sedang melakukan pekerjaan yang penting, jika sudah selesai, papa pasti pulang lagi. Kan, papa juga kangen Zea.”
Lizie berdendang lagu pengantar tidur yang lembut, mendadak hatinya ikut gelisah, apalagi hari ini Zion belum mengirimkan kabar. “Semoga kamu baik-baik saja, Sayang,” monolog Lizie dalam hatinya, tangannya terus mengusap kepala dan punggung Zea hingga putri kecilnya kembali terlelap.
•• Tabungan bab othor udah habis, jadi mulai sekarang kalau belum ada bab baru artinya othor belum sempat nulis, atau sedang benar-benar kehabisan ide. 😁