Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Hukum yang Prematur
Suara langkah sepatu pantofel yang kaku memantul di sepanjang lantai marmer koridor utama Wibowo Group. Tiga orang pria berpakaian setelan jas hitam rapi berjalan mendampingi empat petugas kepolisian berseragam lengkap. Di barisan paling depan, Pak Gunawan melangkah dengan busung dada. Wajahnya yang sejam lalu pucat pasi kini kembali memancarkan keangkuhan yang meluap. Di sampingnya, Sisca tersenyum miring penuh kemenangan sambil merapikan gaun merahnya.
Pintu ruang kerja Direktur Utama didorong terbuka tanpa ketukan.
"Maya Wibowo!" panggil seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata berbingkai perak yang memimpin rombongan tersebut. Pria itu menyodorkan sebuah dokumen berstempel merah resmi ke atas meja kerja. "Kami dari Tim Investigasi Khusus Pengadilan Tinggi Kota bersama Kepolisian Daerah membawakan Surat Perintah Penyitaan dan Pembekuan Aset Operasional Wibowo Park."
Maya berdiri tegak di balik mejanya. Ia menatap dokumen tersebut dengan kening berkerut. Meski hatinya bergejolak, ia berusaha keras menjaga ketenangannya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan.
"Atas dasar apa penyitaan ini dilakukan?" tanya Maya tegas. "Dana investasi sebesar lima ratus miliar rupiah sudah masuk secara sah ke rekening operasional dari Bank Konsorsium Nusantara. Semua dokumen legalitas proyek sudah terpenuhi."
Sisca melangkah maju, memotong ucapan Maya dengan tawa mengejek. "Sah dari mana? Jangan berlagak polos, Maya! Ayahku baru saja melaporkan dugaan tindak pidana pencucian uang dan pemalsuan wewenang yang kamu lakukan bersama suami montirmu itu!"
Pak Gunawan menyilangkan tangan di dada, menatap Maya dengan pandangan dingin. "Penggunaan nama Wibowo Group untuk menarik pinjaman berisiko tinggi tanpa persetujuan seluruh anggota dewan komisaris adalah pelanggaran berat. Kami memiliki dugaan kuat bahwa dana lima ratus miliar itu berasal dari jaringan transaksi ilegal luar negeri yang sengaja dialirkan melalui rekening bank atas bantuan kenalan gelap suamimu. Pihak kepolisian berhak membekukan seluruh kegiatan proyek sampai asal usul uang itu diusut tuntas!"
Petugas berseragam di sampingnya mengangguk pelan. "Benar, Nona Maya. Sesuai dengan laporan yang masuk, kami harus menyegel seluruh berkas proyek Wibowo Park dan membawa Anda ke kantor markas besar untuk dimintai keterangan selama dua puluh empat jam ke depan."
Maya mengepalkan jemarinya rapat di samping tubuh. Ini adalah jebakan jahat. Jika ia dibawa ke kantor polisi dan proyek disegel selama sehari saja, berita buruk akan langsung digoreng oleh media massa. Saham perusahaan akan anjlok, dan Pak Gunawan bisa menggunakan momen itu untuk mengambil alih kendali RUPS darurat.
"Tunggu sebentar," sebuah suara berat terdengar dari sudut ruangan.
Arka yang sejak tadi menyandar santai di dekat lemari arsip melangkah maju. Tangannya masih berada di dalam saku celana kainnya yang sederhana. Pandangan matanya yang tenang menatap langsung ke arah pria berkacamata dari tim pengadilan.
Sisca menunjuk Arka dengan jarinya yang berkuteks merah. "Pak Polisi, tangkap juga orang ini! Dialah dalang utama yang membawa dokumen Bank Konsorsium Nusantara itu! Dia cuma buruh kasar yang bertindak sebagai perantara pencucian uang!"
Petugas polisi melangkah mendekati Arka. "Tuan, harap ikut kami dengan kooperatif untuk proses pemeriksaan."
Arka tidak bergerak selangkah pun. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap pria berkacamata berbingkai perak dari pengadilan tersebut.
"Jaksa Pratama dari Divisi Penindakan Khusus Pengadilan Tinggi, betul?" tanya Arka dengan nada bicara yang teramat datar, namun menyiratkan kewibawaan yang menekan.
Pria berkacamata itu mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak pelan saat mendengar Arka menyebutkan jabatan spesifiknya yang bahkan tidak tertera di papan nama seragam. "Bagaimana kamu..."
"Surat penyitaan darurat yang kamu bawa itu diterbitkan pukul sembilan pagi ini atas permohonan sepihak dari Firma Hukum Gunawan dan Rekan," lanjut Arka santai. Ia mengeluarkan ponsel lipat hitamnya dari saku, menekan satu tombol pendek, lalu memutar layar ponsel tersebut ke arah sang jaksa. "Tapi tampaknya kamu lupa memeriksa sistem pembaruan data Mahkamah Agung yang baru saja diperbarui lima menit lalu."
Layar ponsel Arka menampilkan sebuah dokumen digital bertanda tangan elektronik khusus dengan tingkat enkripsi tertinggi dari Sekretariat Negara.
Dahi Jaksa Pratama berkerut kencang. Ia mendekatkan wajahnya untuk membaca tulisan di layar tersebut. Seketika, warna darah memudar dari wajah sang jaksa. Pelupuk matanya bergetar hebat, dan bulir keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
Dokumen digital itu adalah Surat Proteksi Aset Strategis Nasional. Di dalam dokumen tersebut, Proyek Wibowo Park secara resmi telah didaftarkan sebagai bagian dari Proyek Pembangunan Infrastruktur Prioritas di bawah perlindungan penuh Konsorsium Nusantara Group. Berdasarkan undang undang penanaman modal tertinggi, tidak ada lembaga pengadilan tingkat daerah maupun kepolisian kota yang memiliki wewenang untuk menyegel, menyita, atau membekukan aset proyek tersebut tanpa izin tertulis langsung dari Presiden atau Pimpinan Utama Nusantara Group.
"Ini... ini tidak mungkin..." bisik Jaksa Pratama dengan suara gemetar.
"Ada apa, Pak Jaksa?" tanya Pak Gunawan panik melihat perubahan sikap pejabat hukum tersebut. "Kenapa melamun? Cepat borgol mereka berdua dan segel ruangan ini!"
Jaksa Pratama memutar tubuhnya, menatap Pak Gunawan dengan pandangan ketakutan yang luar biasa. "Tutup mulutmu, Gunawan!" bentaknya keras hingga membuat seluruh orang di ruangan itu terkejut.
"Pak Jaksa?!" Sisca berteriak kaget.
Jaksa Pratama membungkukkan tubuhnya hampir sembilan puluh derajat di hadapan Arka, menyodorkan kembali surat penyitaan yang tadi diletakkannya di meja dengan kedua tangan yang gemetar. "Maafkan kecerobohan kami, Tuan. Kami tidak menerima informasi bahwa proyek ini telah berada di bawah perlindungan khusus Otoritas Prioritas Nasional. Surat penyitaan ini secara hukum batal demi hukum dan tidak berlaku lagi."
Pak Gunawan melangkah maju dengan wajah merah padam karena emosi. "Apa apaan ini?! Saya yang membayar biaya permohonan penindakan ini! Bagaimana bisa surat dari Pengadilan Tinggi dikalahkan oleh gertakan ponsel seorang montir jalanan?!"
Jaksa Pratama menatap Pak Gunawan dengan pandangan tajam. "Jika Anda meneruskan laporan palsu ini dan mencoba mengganggu proyek berstatus Proteksi Nasional, Anda dan seluruh tim hukum Anda bisa dijerat dengan pasal sabotase ekonomi negara dengan ancaman hukuman dua belas tahun penjara!"
Mendengar ancaman hukuman penjara tersebut, Pak Gunawan mundur dua langkah dengan tubuh lemas. Kakinya gemetar hebat, menyenggol kursi di belakangnya hingga hampir terjatuh.
"Petugas, kita tarik mundur seluruh personel sekarang juga!" perintah Jaksa Pratama terburu buru. Tanpa menunggu tanggapan dari Pak Gunawan maupun Sisca, tim pengadilan dan kepolisian melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan tergesa gesa, seolah ingin segera melarikan diri dari tempat itu.
Ruang kerja kembali hening. Pak Gunawan dan Sisca berdiri mematung di tengah ruangan seperti patung kayu yang kehilangan nyawa.
Maya berdiri di balik mejanya, menatap pemandangan ajaib tersebut dengan dada yang berdegup kencang. Tangannya bergetar menahan keheranan yang luar biasa.
Arka menyunggingkan senyum tipisnya, lalu berjalan mendekati Pak Gunawan.
"Paman Gunawan," panggil Arka dengan nada suara yang sangat ramah, namun menakutkan. "Trik hukummu sudah habis untuk hari ini. Sebaiknya Paman dan Nona Sisca segera merapikan barang barang pribadi di ruangan kalian sebelum tim audit independen yang disewa Maya datang memeriksa seluruh pembukuan keuangan lima tahun terakhir."
Sisca menggertakkan giginya rapat rapat, matanya memerah menahan rasa malu dan kemarahan yang luar biasa. "Kalian berdua... jangan senang dulu! Ini belum berakhir!" jeritnya histeris sebelum menarik lengan ayahnya yang sudah tak berdaya untuk keluar meninggalkan ruangan.
Pintu kayu tebal itu terhempas menutup rapat. Maya mendesah pelan, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja kerja. Rasa lega yang luar biasa mengalir di sekujur tubuhnya, namun rasa ingin tahunya kini meledak hingga ke puncaknya.
itu.