Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Segalon

Cinta Segalon

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah baru yang sederhana

Dua minggu yang diberikan Pak Ahmad untuk mengosongkan kontrakan tersebut akhirnya hampir habis, memaksa Gilang dan ibunya untuk segera menemukan tempat tinggal baru meski dengan keterbatasan waktu dan dana yang mereka miliki. Berkat bantuan Yoga yang berhasil menemukan informasi mengenai sebuah kamar kontrakan kecil di gang sebelah, mereka akhirnya menemukan tempat yang meski jauh lebih sempit dari kontrakan sebelumnya, setidaknya cukup untuk menampung kebutuhan mereka berdua.

"Bu, ini kontrakan barunya emang lebih kecil, tapi setidaknya kita masih punya tempat buat tinggal," ujar Gilang sambil membantu ibunya menata barang-barang yang telah mereka pindahkan menggunakan gerobak galon yang dipinjam dari Pak Darto untuk mengangkut barang-barang tersebut secara bertahap.

Bu Suryani, yang masih dalam proses pemulihan namun berusaha membantu semampu yang dia bisa, tersenyum tipis menyaksikan kegigihan anaknya tersebut dalam menghadapi berbagai kesulitan yang datang bertubi-tubi belakangan ini. "Nggak apa-apa, Nak. Yang penting kita masih bisa bertahan bersama."

Proses pindahan tersebut berjalan cukup melelahkan, mengingat Gilang harus membagi waktu antara memindahkan barang-barang, tetap menjalankan pekerjaannya sebagai tukang galon, dan menemani ibunya menjalani sisa masa pemulihan kesehatannya. Namun di tengah kesulitan tersebut, dukungan dari tetangga sekitar dan sesama pekerja depot memberikan sedikit kehangatan yang membuat proses tersebut terasa lebih ringan.

"Lang, kalau butuh bantuan apa-apa lagi, bilang aja ya. Kita semua di sini kayak keluarga," ujar salah satu tetangga baru mereka, seorang ibu paruh baya yang dengan sukarela membantu membawakan beberapa kotak barang saat proses pindahan tersebut berlangsung.

Kebaikan sederhana tersebut memberikan sedikit penghiburan bagi Gilang, yang meski merasa lelah secara fisik dan emosional, tetap bersyukur karena masih dikelilingi oleh orang-orang yang peduli terhadap kesejahteraannya di tengah berbagai tekanan besar yang terus menghantam kehidupannya belakangan ini.

Wulan, yang mendengar kabar mengenai kepindahan tersebut, juga datang membantu di sela-sela waktu luangnya menjaga warung, membawa beberapa bungkus makanan untuk Gilang dan Bu Suryani yang tentu tidak sempat memasak di tengah kesibukan pindahan tersebut. "Lang, ini aku bawain nasi bungkus buat kalian. Pasti capek banget seharian pindahan."

"Makasih banyak, Wul. Kamu baik banget, padahal kita kan baru aja..." ujar Gilang dengan nada canggung, mengingat percakapan emosional mereka beberapa waktu lalu mengenai perasaan Wulan yang tidak terbalas tersebut.

"Udahlah, Lang, nggak usah dipikirin lagi. Kita kan tetap sahabat," jawab Wulan dengan senyum tulus, menunjukkan kedewasaan yang luar biasa dalam menerima kenyataan dan tetap menjaga persahabatan mereka meski hatinya sendiri masih dalam proses penyembuhan dari patah hati tersebut.

Malam pertama di kontrakan baru tersebut, Gilang duduk termenung di depan pintu, memikirkan kembali seluruh rangkaian kejadian yang telah mereka lalui, mulai dari tawaran kerja mencurigakan, ancaman terhadap depot tempatnya bekerja, hingga pengusiran paksa dari kontrakan lama mereka. Semua kejadian tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa ada kekuatan besar yang sengaja berusaha menghancurkan kehidupannya demi memisahkannya dari Nindi.

Melalui surat yang dititipkan Karin beberapa hari sebelumnya, Gilang telah menyampaikan kabar mengenai kepindahan tersebut kepada Nindi, yang membalas dengan penuh kemarahan dan rasa bersalah atas penderitaan yang harus dialami keluarga Gilang akibat keserakahan pamannya sendiri.

"Mas Gilang, aku janji, aku akan cari cara buat hentiin semua kekejaman Om Hensa ini. Aku nggak akan biarin dia terus-terusan nyakitin orang-orang yang aku sayangi," tulis Nindi dalam surat terbarunya, mengungkapkan tekad yang semakin bulat untuk mengungkap kebenaran mengenai penggelapan dana yang telah dia temukan di ruang kerja ayahnya tersebut.

Membaca surat tersebut, Gilang merasakan campuran antara haru dan kekhawatiran, menyadari bahwa perjuangan Nindi untuk mengungkap kebenaran tersebut bisa membawa risiko yang jauh lebih besar bagi keselamatannya sendiri, mengingat kekuasaan dan pengaruh besar yang masih dimiliki Om Hensa dalam struktur bisnis keluarga Prameswari.

Dia menulis balasan yang penuh dengan kekhawatiran sekaligus dukungan, memohon kepada Nindi untuk tetap berhati-hati dalam setiap langkah yang dia ambil, menyadari bahwa kebahagiaan mereka berdua kini bergantung pada keberhasilan mengungkap kebenaran yang tersembunyi tersebut, sebuah perjuangan yang akan segera memasuki babak yang jauh lebih berbahaya dan menegangkan dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya, mengingat Om Hensa yang mulai menyadari bahwa rencana besarnya perlahan mulai terancam oleh keberanian keponakannya sendiri yang tidak pernah dia duga akan sebesar itu.

Sebelum menutup suratnya malam itu, Gilang menambahkan satu kalimat terakhir yang menjadi pengingat bagi mereka berdua di tengah badai yang sedang mereka hadapi. "Mbak Nindi, apapun yang terjadi ke depannya, saya akan selalu percaya sama kekuatan cinta kita. Kita udah lewatin banyak hal berat, dan saya yakin kita bisa lewatin ini juga, asal kita tetap saling percaya dan saling jaga."

Kalimat sederhana tersebut, meski ditulis di tengah kelelahan fisik dan emosional akibat proses pindahan yang begitu melelahkan, memberikan kekuatan besar bagi Nindi ketika membacanya keesokan harinya, sebuah pengingat bahwa meski dunia mereka terus berusaha memisahkan mereka berdua, ketulusan yang telah mereka bangun bersama tetap menjadi fondasi yang kokoh untuk terus melangkah maju, menghadapi apa pun rintangan yang masih akan mereka temui dalam perjalanan mempertahankan cinta mereka tersebut.

1
Dewi Kasinji
ijin baca kaj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!