Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Malam merayap dengan begitu cepat, membawa kegelapan yang kian mencekam bagi Luna.

​Di dalam kamarnya, Luna terus berjalan mondar-mandir tanpa arah.

Ia sudah mengenakan gaun cantik bernuansa elegan yang disiapkan ayahnya—gaun yang justru terasa seperti gaun tahanan baginya.

Rasa cemas dan gelisah yang tinggi membuat jari-jarinya gemetar. Tanpa sadar, Luna menggigit kuku jarinya begitu keras hingga berdarah, melampiaskan ketakutan yang merayapi seluruh tubuhnya.

​KNOCK! KNOCK!

​Suara ketukan pintu kamar seketika memecah keheningan. Ketegangan Luna melonjak hingga ke puncaknya.

​"Luna? Kamu sudah siap, Nak?" suara Alan terdengar dari balik pintu.

​Luna membeku di tempat. Tenggorokannya serasa tersekat, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Rasanya teramat berat memikul beban tanggung jawab sebesar ini—menumbalkan masa depannya sendiri demi menebus kesalahan ayahnya.

​KNOCK! KNOCK!

​"Luna?" panggil Alan sekali lagi, lebih mendesak.

​Luna memejamkan mata rapat-rapat. Dengan dada yang sesak dan napas yang terengah berat, ia akhirnya bersuara, "I-iya, Pa... sebentar lagi Luna keluar."

​"Bagus. Jangan lama-lama ya, tamu kita sudah datang," balas Alan sebelum langkah kakinya menjauh dari depan kamar.

​Mendengar kata 'tamu kita sudah datang', jantung Luna serasa ingin melompat keluar. kepanikan makin membakar dadanya. Dengan jemari bergetar, Luna menatap cermin, mengusap sudut matanya dan berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak pecah lagi.

Dengan langkah gontai dan lutut yang terasa lemas, Luna berjalan menelusuri koridor lantai atas. Setiap pijakan kakinya menuruni anak tangga menuju ruang keluarga terasa bagai melangkah mendekati tiang eksekusi.

Tubuhnya kian gemetar hebat, membayangkan masa depannya yang terang benderang akan hancur dan berakhir tragis malam ini.

​Sesampainya di lantai bawah, Luna hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, sama sekali belum siap untuk menatap wajah sosok "pembeli misterius" yang telah bertransaksi dengan ayahnya.

​Melihat kehadiran anak gadisnya, Alan yang tampak begitu antusias langsung menghampiri Luna. Tanpa rasa bersalah, Alan merangkul hangat pundak Luna dan membimbingnya melangkah menuju tengah ruangan.

​"Luna, kenalkan... ini tamu istimewa kita," ujar Alan dengan nada suara ramah yang dipaksakan.

​Luna memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki.

Dengan dada yang bergemuruh dan bibir gemetar, perlahan-lahan Luna membuka kelopak matanya, menyapu pandangan, lalu mendongakkan wajahnya.

​Dan... DEG!

​Jantung Luna serasa berhenti berdetak seketika. Pasokan udara di paru-parunya menguap tanpa sisa.

​Alangkah terkejutnya Luna saat melihat sosok yang berdiri angkuh tepat di hadapannya.

Moreno—pemuda berdarah dingin dan juga musuh bebuyutannya.

Moreno berdiri dengan satu tangan masuk di saku celana, manatap tajam dan tersenyum miring meremehkan.

​Luna mencengkeram erat lengan kemeja ayahnya, matanya membelalak tak percaya.

​"Pa... p-pria ini... tamu yang Papa maksud?!" bisik Luna dengan suara bergetar.

​"Iya, Luna. Ini Nak Moreno yang sudah melunasi semua utang keluarga kita," jawab Alan polos tanpa beban.

​Pandangan Luna mendadak kabur dan berkunang-kunang. Ia hampir saja jatuh pingsan di tempat jika fondasi fisiknya tidak cukup kuat menahan guncangan mental yang begitu hebat.

Takdir rasanya sedang tertawa puas mempermainkan hidupnya secara instan.

​Sementara Luna tenggelam dalam keterkejutan yang luar biasa, Moreno justru bertindak impulsif dengan santai. Ia mendekat, menatap Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai.

​"Selamat malam, Luna," sapa Moreno dengan suara rendahnya yang berat dan dingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kemenangan.

"Senang melihat lo tampil cantik malam ini. Jadi... lo udah siap buat ikut pergi sama gue sekarang?"

Melihat senyum culas Moreno, insting Luna langsung menyuruhnya mundur. Ia merapat erat ke tubuh Alan, mencengkeram lengan ayahnya seraya menggelengkan kepala histeris.

​"Nggak! Papa, Luna nggak mau!" jerit Luna dengan suara serak, air matanya menetes makin deras.

"Batalin, Pa! Tolong batalin transaksi ini! Luna mohon... jangan jual Luna sama dia!"

​Namun, bukannya melindunginya, Alan justru menepis tangan Luna dengan dingin. Sorot matanya mengeras, menatap anak gadisnya tanpa belas kasihan.

​"Jangan konyol, Luna!" bisik Alan menekan. "Kamu mau lihat Mama kamu mati sia-sia di rumah sakit gara-gara kita nggak punya uang buat bayar perawatan?! Kamu tega?!"

​Kata-kata itu seperti pisau yang menghujam dada Luna hingga tak bernapas. Di saat bersamaan, suara tawa kecil yang sarat akan cibiran terdengar dari bibir Moreno.

​"Lucu banget," cibir Moreno seraya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.

"Gak usah drama, Tuan Alan. Dan buat lo, Luna... ingat satu hal. Lo gak punya hak lagi buat memohon sama laki-laki ini. Dia udah jual lo, dan sekarang lo sepenuhnya milik gue."

​Tanpa buang-buang waktu lagi, Moreno meraih pergelangan tangan Luna dan mencengkeramnya erat.

​"Lepas! Moreno, lepasin gue! Gue mohon, maafin gue kalau ada salah... lepasin gue!" rengek Luna terisak-isak, mencoba menarik tangannya dan memukul dada Moreno dengan tangan.

​Namun, usaha Luna seperti menabrak tembok kokoh. Tenaga pemuda itu jauh melampaui kekuatannya. Moreno menyeret Luna keluar dari rumah mewah itu tanpa peduli dengan tangisan dan jeritan pilunya sedikit pun.

​Dengan mudah, Moreno membuka pintu penumpang mobil sport-nya, mendorong Luna masuk ke dalam, lalu mengunci pintunya secara otomatis dari luar.

​BAM!

​Pintu tertutup rapat. Luna menggedor-gedor kaca mobil dari dalam dengan telapak tangan yang gemetar, menyaksikan ayahnya hanya berdiri diam di ambang pintu rumah tanpa niat sedikit pun untuk menolongnya.

​Moreno masuk ke kursi pengemudi, menatap Luna dari samping melalui kaca spion tengah dengan senyuman dinginnya.

​"Tangisan lo gak bakal ngerubah apa pun, Luna," desis Moreno dingin, lalu menekan pedal gas dalam-dalam, membawa Luna pergi membelah kegelapan malam.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!