Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 10 — Orang Ketiga dalam Hubungan Clara
Matahari baru saja terbit, memancarkan bias keemasan di celah-celah tirai kamar utama kediaman Alexsander. Clara mengerjap perlahan, merasakan dekap hangat tangan suaminya yang melingkar posesif di pinggangnya. Semalam, setelah insiden pencegatan di jalur lingkar luar kota, Fedro memperlakukan dirinya bukan hanya sebagai seorang istri, melainkan sebagai bagian paling berharga dalam hidup pria itu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kecanggungan. Yang tersisa hanyalah rasa aman yang terjalin erat di antara keduanya.
Namun, kedamaian pagi itu mendadak terusik ketika suara nada dering ponsel Clara berdering nyaring dari atas nakas sebelah tempat tidur.
Clara bergerak pelan agar tidak membangunkan Fedro, lalu meraih benda pipih tersebut. Layar menyala, menampilkan serangkaian angka yang tidak dikenal, namun di bawahnya tertera sebuah pesan singkat yang langsung membuat napas Clara tertahan.
> *“Halo, Clara. Lama tidak berjumpa. Aku tahu kamu sudah menikah dengan Fedro Alexsander. Tapi, apakah dia benar-benar mengenal siapa dirimu yang sebenarnya? Temui aku di kafe biasa pukul sepuluh pagi ini, atau rahasia masa lalumu kubongkar di hadapannya.”*
Kening Clara berkerut dalam. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa heran bercampur amarah. Siapa orang yang berani mencoba mengancamnya dengan cara murahan seperti ini? Di masa lalunya sebelum menikah, Clara memang dikenal sebagai ratu jalanan yang liar, namun ia tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar batas kriminalitas berat.
"Ada apa?" suara serak Fedro tiba-tiba terdengar di dekat telinganya. Pria itu sudah membuka mata, menatap Clara dengan sorot siaga yang langsung terpancar begitu melihat ekspresi tegang di wajah istrinya.
Clara terdiam sejenak, lalu menyerahkan ponselnya kepada Fedro. "Ada orang yang mengirim pesan ancaman. Katanya dia tahu masa laluku, dan meminta aku menemuinya pagi ini sendirian."
Fedro membaca pesan tersebut dalam sekali tatap. Garis rahangnya langsung mengeras, membentuk ekspresi dingin yang siap mencabik-cabik siapa pun yang berani mengusik ketenangan istrinya.
"Pengirimnya pengecut," desis Fedro datar, namun sarat akan ancaman berbahaya. "Dia tidak berani langsung berhadapan denganku, jadi dia mencoba memancingmu."
"Aku akan menemuinya," kata Clara tegas, sorot mata sang ratu jalanan kembali menyala tajam. "Aku ingin lihat siapa orang bermuka dua yang mencoba merusak hubunganku dengan cara seperti ini."
Fedro menatap Clara lurus-lurus. "Kamu tidak akan pergi sendirian. Aku akan mengikutimu dari jarak dekat. Biar aku yang memastikan siapa dalang di balik pesan sampah ini."
---
Pukul sepuluh pagi lewat sepuluh menit, Clara melangkah masuk ke dalam sebuah kafe semi-outdoor berdesain klasik di pusat kota. Suasana kafe cukup lengang, hanya ada beberapa pengunjung yang duduk di sudut ruangan. Clara mengenakan jaket kulit hitam kesayangannya, memancarkan aura dominan yang membuat siapa saja enggan mencari masalah dengannya.
Ia mengedarkan pandangan, hingga matanya menangkap sosok seorang pria tinggi berjas rapi sedang duduk menyilangkan kaki di meja pojok dekat taman belakang kafe. Pria itu membelakanginya, namun postur tubuhnya terasa tidak asing.
Clara melangkah mendekat, lalu menarik kursi di seberang pria itu tanpa diundang dan langsung mendudukinya.
"Tidak perlu main-main dengan pesan ancaman murahan seperti itu," buka Clara langsung dengan nada dingin tanpa basa-basi. "Katakan apa maumu, sebelum aku patahkan tanganmu di sini."
Pria berjas itu perlahan mendongak. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh seringai sinis yang membuat Clara tertegun sejenak. Pria itu adalah **Devan**, mantan ketua geng motor rival yang beberapa tahun lalu sempat menjadi musuh bubuyutan kelompok Clara di jalanan sebelum akhirnya memutuskan keluar kota untuk urusan bisnis keluarga.
"Wah, wah... sambutan yang luar biasa hangat dari seorang Nyonya Alexsander," ujar Devan dengan nada menyindir. Ia menyesap kopi hitam di cangkirnya perlahan. "Kudengar kamu sekarang hidup mewah setelah menikah dengan pengusaha elite itu. Tapi sayangnya, sepertinya suamimu tidak tahu sisi liar dari istrinya ini, ya?"
Clara menyipitkan matanya. Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Jangan buang waktuku, Devan. Apa urusanmu mencariku setelah sekian lama?"
Devan meletakkan cangkirnya, lalu menatap Clara dengan sorot mata penuh kebencian yang dipendam. "Urusanku sederhana, Clara. Aku benci melihatmu bahagia di atas penderitaan orang lain. Dulu, kamu merebut posisi teratas di jalanan dariku. Dan sekarang, kamu hidup bergelimang harta bersama pria yang sudah menghancurkan beberapa relasi bisnis keluargaku."
Clara tertawa kecil—tawa dingin penuh meremehkan. "Jadi ini masalah ego? Karena kamu kalah saing di masa lalu, dan sekarang keluargamu tersingkir dalam bisnis, kamu mencoba menggunakan ancaman murahan untuk merusak pernikahanku?"
Wajah Devan berubah merah padam karena tersinggung. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Kamu pikir suamimu itu malaikat, hah?! Fedro Alexsander punya masa lalu yang jauh lebih kotor dari sekadar balapan liar yang kamu lakukan! Kalau dia tahu rahasia besarmu, atau kalau dunia tahu siapa sebenarnya keluarga Alexsander di balik layar hitam, pernikahan kalian tidak akan bertahan seminggu!"
Sebelum Clara sempat membalas ucapan Devan, sebuah suara dingin yang sangat ia kenal tiba-tiba bergema dari arah belakang meja mereka.
"Sayangnya, aku sudah tahu segalanya tentang istriku. Dan sepertinya, kamu jauh lebih tahu cara mencampuri urusan rumah tangga orang lain daripada mengurus hidupmu sendiri."
Devan sontak menegang. Ia mendongak dengan cepat, mendapati Fedro sudah berdiri tepat di samping kursi Clara, memasukkan sebelah tangan ke dalam saku celana dengan tatapan mematikan yang menghujam langsung ke ulu hatinya.
Beberapa anak buah Fedro berpakaian jas hitam dalam sekejap sudah berdiri di setiap sudut pintu kafe, memastikan tidak ada jalan keluar bagi Devan.
Clara menoleh ke arah suaminya dengan ekspresi terkejut sekaligus takjub. "Fedro? Bukankah kamu bilang mau mengikutiku dari jauh?"
Fedro menunduk sejenak, memberikan senyuman lembut kepada istrinya. "Aku mengikutimu dari dekat, Clara. Dan telingaku tidak cukup sabar untuk mendengar pria kurang ajar ini mencoba mengancam istriku."
Devan yang merasa terpojok berusaha berdiri, mencoba mempertahankan harga dirinya. "Fedro Alexsander! Jangan sombong! Aku bisa membongkar rahasia—"
*Brak!*
Belum sempat Devan menyelesaikan kalimatnya, Fedro sudah mendaratkan sebuah pukulan telak di atas meja kafe hingga cangkir kopi berserakan dan pecah berkeping-keping. Aura dominan dan intimidatif dari sang pengusaha bawah tanah itu seketika membuat Devan terhuyung mundur jatuh kembali ke kursinya dengan wajah pucat pasi.
"Dengar baik-baik, Devan," ucap Fedro dengan nada suara rendah, berat, namun menusuk hingga ke tulang sumsum. "Masa lalu Clara adalah bagian dari dirinya yang kuterima dengan segenap hatiku. Dan kalau kamu, atau siapapun di luar sana, berani mencoba menjadi orang ketiga yang mengusik ketenangan rumah tangga kami lagi..."
Fedro mendekatkan wajahnya, menatap Devan dengan tatapan predator yang siap menerkam. "...aku pastikan bukan cuma bisnis keluargamu yang hancur, tapi namamu akan hilang dari peta kota ini selamanya."
Devan menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan monster yang salah; pria di hadapannya bukan sekadar suami biasa, melainkan penguasa mutlak yang memegang kendali atas bayang-bayang kota.
"B-baik... aku minta maaf," ucap Devan terbata-bata dengan suara bergetar ketakutan. "Aku tidak akan mengganggu kalian lagi."
Fedro menegakkan tubuhnya, lalu melirik sekilas ke arah anak buahnya. "Bawa dia keluar dari sini. Pastikan dia tidak pernah berani menampakkan wajahnya di dekat istriku lagi."
Dalam hitungan detik, dua anak buah Fedro menarik Devan menjauh dari meja kafe dengan kasar, menyeret pria sombong itu keluar ruangan di bawah tatapan ngeri para pengunjung lain.
Suasana di meja itu kembali tenang.
Clara menatap suaminya dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa kagum, rasa terlindungi, dan gelombang cinta yang begitu besar membuncah di dalam dadanya. Ia tidak menyangka Fedro akan langsung turun tangan secepat itu untuk membela kehormatannya.
"Kamu terlalu berlebihan," kata Clara dengan senyuman kecil di bibirnya, meski matanya berkaca-kaca karena terharu. "Aku sebenarnya bisa mengatasi Devan sendiri tanpa harus merusak meja kafe orang."
Fedro menarik kursi di sebelah Clara, lalu duduk dengan tenang. Ia meraih tangan istrinya, menggenggam jemari lentik itu dengan erat. "Aku tidak peduli seberapa tangguh kamu di jalanan, Clara. Tapi di hadapanku, kamu adalah istriku. Menjaga dan melindungimu adalah tugas mutlakku."
Wajah Clara merona merah jambu. Ia menunduk sejenak, lalu meremas tangan suaminya balik. "Terima kasih, Fedro."
Fedro tersenyum hangat, mengangkat sebelah tangannya untuk merapikan rambut Clara. "Sama-sama, Nyonya Alexsander. Sekarang, bagaimana kalau kita tinggalkan tempat ini dan mencari makan siang yang lebih tenang? Aku traktir, tapi kali ini bukan balapan."
Clara tertawa renyah. "Baiklah! Kali ini aku terima tawarannya, Tuan Alexsander."
Keduanya beranjak meninggalkan kafe dengan bergandengan tangan. Badai kecil berupa kehadiran orang ketiga yang mencoba merusak hubungan mereka berhasil dipadamkan dalam sekejap mata.
Dan bagi Clara dan Fedro, ujian demi ujian yang datang justru semakin memperkuat fondasi cinta mereka, membuktikan bahwa ikatan di antara sang gadis geng motor dan pengusaha dingin itu adalah sebuah takdir yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh siapapun.
---
Bersambung