Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Depan Rumah Kedelapan
Langit pagi itu mulai terang benderang, namun sinar matahari yang menembus celah pepohonan di sekitar kawasan itu terasa tidak begitu hangat. Suasana di depan tujuh rumah yang berjejer itu hening, seakan seluruh penghuni rumah sedang menahan napas menyambut kedatangan orang-orang dari luar. Raka, Laras, Bu Sari, dan seluruh anggota kru berdiri diam, menatap kedua orang tua yang berdiri menunggu di depan mereka. Lelaki tua itu bernama Pak Tua Suryo, orang yang paling dihormati dan ditakuti di kampung itu, sementara wanita di sampingnya adalah Bu Wiyati, penduduk asli kampung itu yang juga ibu kandung Dimas.
"Silakan masuk ke rumahku dulu," ucap Pak Tua Suryo pelan, suaranya terdengar berat namun tegas. "Kita bicara dulu sebelum kalian melangkah lebih jauh. Karena sekali kalian melangkah ke rumah itu, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi."
Mereka semua mengikuti Pak Tua Suryo dan Bu Wiyati masuk ke rumah yang terletak di tengah-tengah ketujuh rumah itu. Rumahnya sederhana, berlantai semen, dinding anyaman bambu yang sudah mulai menghitam dimakan usia, dan atap genteng yang terlihat tua namun tetap kokoh. Di dalam ruangan itu terasa sejuk, namun ada hawa dingin yang bukan berasal dari angin luar, melainkan dari sesuatu yang tak kasat mata menyelimuti ruangan itu. Mereka duduk di kursi kayu panjang yang sudah tua, sementara Pak Tua Suryo duduk di kursi kayu tunggal di hadapan mereka. Bu Wiyati menyajikan teh hangat dan pisang rebus, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuh hidangan itu.
"Kalian harus tahu," mulai Pak Tua Suryo, matanya menatap satu per satu wajah mereka dengan tatapan tajam namun penuh peringatan, "bahwa Kampung Pitu ini bukan tempat biasa. Sejak dulu, leluhur kami menetapkan aturan bahwa hanya boleh ada tujuh rumah dan tujuh kepala keluarga di sini. Bukan karena kami pelit tanah, bukan karena kami tidak mau berbagi. Tapi karena tanah ini sudah ditentukan begitu. Lebih dari tujuh rumah, maka keseimbangan tempat ini akan terganggu. Dan rumah yang kalian maksud untuk syuting itu adalah rumah kedelapan. Rumah yang tidak seharusnya ada di sini."
"Siapa yang membangun rumah itu, Pak?" tanya Laras pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Keluarga bernama Candra Wijaya," jawab Pak Tua Suryo perlahan. "Mereka pindahan dari Jakarta, datang ke sini mencari ketenangan. Mereka membangun rumah itu bertahun-tahun lalu, meskipun kami semua sudah memperingatkan agar tidak membangunnya. Mereka tidak percaya pada hal-hal yang tidak bisa dilihat mata. Mereka bilang zaman sudah maju, tidak ada hal mistis. Namun takdir tetaplah takdir. Rumah itu berdiri, dan sejak saat itu, hal-hal aneh mulai terjadi di kampung ini. Suasana yang dulu damai perlahan berubah. Angin yang dulu lembut berubah menjadi angin yang berhembus kencang dan panas. Pertengkaran yang dulu tidak pernah ada mulai terjadi di antara warga. Dan akhirnya, keluarga Candra Wijaya itu hilang tanpa kabar satu malam. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Tidak ada yang melihat mereka berangkat. Pagi harinya rumah itu sudah kosong, seakan tidak pernah dihuni siapa pun."
"Apakah tidak ada jejak sama sekali?" tanya Raka, matanya menatap lurus ke arah rumah kedelapan yang terlihat dari jendela rumah itu.
"Tidak ada barang yang dibawa, tidak ada pakaian yang hilang, tidak ada uang yang diambil," jawab Bu Wiyati yang sejak tadi diam mendengarkan. "Semua barangnya masih ada di dalam rumah itu. Seakan mereka pergi sebentar dan akan kembali lagi. Tapi sampai sekarang, belum ada yang kembali. Dan sejak hari itu, tidak ada satu pun warga yang berani masuk ke rumah itu. Bahkan untuk sekadar membersihkannya pun tidak berani. Karena siapa pun yang masuk, akan merasa ada sesuatu yang mengawasi setiap gerak-geriknya."
Suasana di dalam ruangan itu menjadi hening seketika. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Kata-kata Pak Tua Suryo dan Bu Wiyati itu bukan sekadar cerita biasa. Ada kebenaran yang berat di setiap kalimatnya, kebenaran yang membuat bulu kuduk merinding tanpa alasan yang jelas. Namun di tengah keheningan itu, tekad Raka semakin kuat. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa bahwa rumah itu memanggilnya. Bahwa ada jawaban yang sedang menunggunya di dalam sana.
"Kami tetap ingin masuk, Pak," ucap Raka akhirnya, suaranya tenang namun tegas. "Kami berjanji akan menghormati tempat ini. Kami tidak akan mengubah apa pun di dalam rumah itu. Kami hanya akan mengambil gambar, lalu pergi. Dan jika di tengah jalan kami merasa tidak benar, kami akan berhenti. Tanpa dipaksa."
Pak Tua Suryo menghela napas panjang, lalu menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekhawatiran di matanya, namun ada juga pengakuan bahwa ia tidak bisa melarang mereka lebih jauh lagi.
"Baiklah," ucapnya pelan. "Kalau itu keputusan kalian, aku tidak bisa melarang. Tapi ingat pesanku. Jangan tinggal di sana setelah matahari terbenam. Jangan menyentuh benda apa pun yang terlihat seperti milik penghuni rumah itu. Dan jika kalian mendengar suara memanggil nama kalian, jangan dijawab. Jangan ditoleh. Teruslah berjalan seakan tidak mendengar apa pun. Karena di tempat ini, tidak semua yang memanggil itu teman."
Pak Tua Suryo bangkit berdiri, lalu berjalan menuju pintu. "Aku akan mengantar kalian sampai ke depan pintu rumah itu. Setelah itu, terserah kalian. Tapi ingat, aku sudah memperingatkan."
Mereka semua mengikuti Pak Tua Suryo keluar rumah dan berjalan perlahan menuju rumah kedelapan. Semakin dekat mereka, semakin berat hawa yang terasa. Rumah itu berdiri kokoh di sana, berlantai dua, dindingnya berwarna pudar, jendela besar di lantai dua menatap lurus ke arah mereka seakan mata raksasa yang telah lama menunggu kedatangan tamu. Pintu depannya tertutup rapat, namun tidak terkunci. Seakan sejak hari terakhir keluarga Candra Wijaya hilang, pintu itu siap dibuka untuk siapa pun yang berani masuk.
Pak Tua Suryo berhenti di depan pintu rumah itu, menatapnya lama seakan menyapa sesuatu yang ada di dalam. "Kalian sudah sampai," ucapnya pelan. "Aku tidak akan masuk lebih jauh. Semoga kalian baik-baik saja di dalam sana."
Ia berbalik perlahan dan berjalan kembali ke rumahnya, meninggalkan mereka berhadapan dengan pintu rumah kedelapan yang tertutup rapat. Bu Sari menatap Raka, lalu mengangguk pelan. Raka mengulurkan tangannya, menggenggam gagang pintu itu yang terasa dingin dan sedikit berkarat. Dengan satu tarikan napas panjang, ia mendorong pintu itu perlahan. Pintu terbuka, menampakkan kegelapan di dalamnya yang bercampur dengan debu yang beterbangan terkena cahaya matahari pagi. Dan di saat itu juga, seluruh kru merasa seakan ada sesuatu yang berbalik menatap mereka dari dalam kegelapan itu, menyambut kedatangan mereka dengan diam yang mencekam.