Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Arvin melangkah menyusuri jalan setapak berumput hijau, membawa seikat bunga segar di genggamannya. Langkah tegapnya terhenti persis di depan sebuah pusara berbatu pualam, bertuliskan nama Inaya.
Saat hendak meletakkan bunga tersebut, pandangan Arvin tertegun pada sekumpulan bunga lain yang masih tampak segar di atas nisan. Ada desah napas tipis yang hening. Ia tahu pasti siapa yang baru saja menjejakkan kaki di sini sebelum dirinya.
Kini, hanya ada dirinya seorang di tengah embusan angin siang yang membelai dedaunan.
Arvin berlutut pelan di samping makam. Ia meletakkan bunganya tepat bersisian dengan bunga yang sudah ada, lalu memejamkan mata, mendoakan almarhumah mantan istrinya dengan begitu khusyuk.
Usai berdoa, Arvin mengusap batu nisan yang terasa dingin di telapak tangannya. Tatapannya tertuju pada ukiran nama itu, lalu suara beratnya berbisik pelan.
"Inaya... bagaimana kabarmu di sana?" bisik Arvin.
"Anak-anak tumbuh dengan baik. Damian dan Jovan makin dewasa, dan Kenzo... dia makin pintar. Kamu gak perlu khawatir, aku selalu menjaga mereka seperti janji aku ke kamu dulu."
Arvin menghela napas panjang. Ada beban di dadanya yang perlahan ia lepas satu per satu.
"Inaya... aku juga mau minta maaf. Maaf kalau aku baru bisa benar-benar mengikhlaskan kamu sekarang. Maaf kalau perjalanan hidup aku setelah kamu pergi sempat membuat anak-anak dan suasana rumah tidak tenang."
Arvin memandangi nisan itu lebih dalam, hingga senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya. "Hari ini aku mau bilang... aku sudah memutuskan untuk melangkah maju dan melanjutkan hidupku. Aku sudah menikah lagi dengan Nadia. Dia wanita yang sangat baik dan menyayangi anak-anak kita seperti anaknya sendiri. Dulu pernikahan kami memang dingin, tapi sekarang... aku sudah mulai membuka hati untuknya."
"Aku harap kamu tenang di sana, Naya. Terima kasih untuk semua kenangan manis dan anak-anak hebat yang sudah kamu titipkan buat aku. Aku pamit dulu."
Saat Arvin bangkit dan memutar tubuh hendak keluar dari area makam, langkahnya mendadak tertahan. Di ujung jalan setapak, berdiri sosok remaja berpostur tinggi dengan seragam sekolah yang masih terpasang rapi. Damian berdiri di sana, meremas seikat mawar putih di tangannya.
Damian ikut tertegun saat matanya beradu dengan sang ayah.
"Papa?"
Arvin menatap putra sulungnya itu dengan binar mata yang hangat.
"Kamu langsung ke sini habis sekolah, Dam?"
Damian mengangguk pelan. Langkah kakinya mendekati pusara ibunya, berdiri tepat di samping Arvin.
"Iya, Pa. Tadi selesai jam terakhir langsung ke sini. Kemarin Nenek Yasmin sempat ngechat dan ngingetin..." Ia menggantungkan kalimatnya sejenak.
"Tapi Damian sengaja datang jam segini biar nggak ketemu Nenek. Mau kirim doa tenang-tenang aja."
Arvin mengulurkan tangan, menepuk bahu Damian pelan dan mengusapnya hangat. "Ya sudah. Papa juga baru selesai."
Damian mendongak, melirik Papanya. "Papa mau langsung pulang? Nyamperin Bunda?"
"Iya," jawab Arvin singkat.
"Bunda kamu sendiri di rumah, Papa nggak mau ninggalin terlalu lama."
Senyum tipis terukir di wajah Damian. Ada kehangatan dan rasa lega yang membuncah di dadanya melihat perubahan sang ayah yang kini begitu memprioritaskan Nadia.
"Yaudah, Papa duluan aja," ucap Damian seraya berlutut pelan di samping makam. "Damian berdoa sebentar di sini, habis itu pulang naik taksi."
"Papa tunggu di mobil," potong Arvin pelan, tak mengizinkan bantahan.
"Berdoa dulu yang tenang. Habis ini kita pulang bareng."
Damian menatap Papanya sejenak, lalu mengangguk dengan senyuman tipis. "Okey, Pa."
Sekitar jam empat sore, mobil Arvin akhirnya membelah gerbang rumah utama. Begitu mesin mobil mati, Damian langsung pamit naik ke kamarnya di lantai atas untuk berganti pakaian.
Arvin melangkah masuk, mendapati ruang tengah yang sunyi dan sepi. Merasakan atmosfer yang tak biasa, Arvin memanggil salah satu pelayan yang melintas.
"Nadia di mana?" tanya Arvin singkat dengan nada dingin.
Pelayan itu meremas jemarinya, menunduk dalam. "Anu, Pak... Ibu sama Den Kenzo ada di taman belakang dari tadi."
Mendengar hal itu, raut wajah Arvin seketika mengeras tegang. Tatapannya menajam tajam. "Taman belakang? Bukannya saya sudah bilang Nadia harus istirahat di kamar?"
"Ma-maaf, Pak... Tadi Ibu kekeh mau menemani Den Kenzo main angin-anginan di luar. Saya sudah tahan tapi Ibu bilang sudah bosan di kamar...."
"Kenapa dibiarin?" potong Arvin.
"Udaranya mulai dingin jam segini, dan Nadia baru sembuh! Kalau terjadi apa-apa sama Nadia, kamu bisa tanggung jawab?!"
Pelayan itu tertunduk makin dalam dengan tubuh gemetar hebat. "Maafkan saya, Pak..."
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, dengan dada yang bergemuruh dan raut wajah kaku menahan cemas bercampur amarah, Arvin melangkah lebar menuju pintu kaca yang menghubungkan area rumah utama dengan taman belakang.
Arvin mendorong pintu kaca dengan gerakan sedikit kasar. Angin sore yang mulai berembus dingin langsung menyapa wajahnya, namun matanya hanya tertuju pada satu titik di tengah rumput hijau taman.
Di sana, Nadia sedang duduk di kursi kayu berukir, terbungkus kardigan tipis. Wajahnya tertawa lepas, matanya berbinar melihat Kenzo yang sibuk menendang bola kecil ke sana kemari.
"Nadia!"
Suara Arvin yang berat dan tajam membelah keheningan taman.
Nadia tersentak. Tawanya terhenti seketika. Ia menoleh dan mendapati Arvin berjalan lebar menghampirinya dengan raut kaku dan tatapan mata yang penuh amarah. Kenzo pun menghentikan bolanya, menatap Papanya dengan bingung.
"Mas Arvin... udah pulang?" tanya Nadia gugup.
Arvin tak membalas senyuman itu. Langkahnya berlanjut hingga berdiri tegap mengikis jarak di hadapan Nadia, menatap istrinya dengan sorot mata dingin dan tajam.
"Apa yang kamu lakukan di luar jam segini?" tanyanya.
"Kamu tahu udaranya sudah dingin? Kamu baru saja keluar dari rumah sakit, Nadia!"
"Mas... aku cuma...."
"Siapa yang izinkan kamu turun ke taman?!" potong Arvin.
"Saya sudah bilang istirahat di kamar! Kenapa susah sekali nurut sama saya?! Kamu mau balik ke rumah sakit lagi?!"
Nadia terpana. "Aku cuma bosan di kamar, Mas... Aku cuma mau nemenin Kenzo sebentar..."
"Bosan bukan alasan untuk bertindak sembrono!" bentak Arvin lagi, napasnya naik turun menahan gejolak di dadanya.
Melihat Papanya membentak Nadia, Kenzo berlari kecil dan memberanikan diri mendekat. "Papa... jangan marahin Bunda. Kenzo yang ajak Bunda ke luar..."
Arvin menoleh cepat ke arah putra bungsunya, tatapannya tak kalah tegas. "Kenzo! Kamu juga! Kenapa ajak Bunda keluar saat udaranya dingin begini? Kamu tahu Bunda kamu baru sembuh, kan?! Kenapa nggak nurut sama kata-kata Papa?!"
Kenzo seketika tertunduk takut, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Nadia yang tak tega melihat Kenzo hendak merangkul anak itu, namun Arvin menepis halus pergerakannya seraya terus menyudutkan mereka berdua.
"Arvin!"
Ranti baru saja melangkah masuk ke area taman bersama Haris. Mereka berdua baru kembali dari luar.
Ranti berdiri menengahi. "Kamu kenapa, Arvin?! Datang-datang malah marah-marah! Nadia baru sembuh, Kenzo masih kecil, kenapa kamu bentak-bentak mereka?!"
"Mama jangan ikut campur," balas Arvin dingin. "Nadia tidak mau nurut. Udaranya dingin dan dia nekat turun. Kalau dia sakit lagi bagaimana?"
"Tapi bukan begini caranya!" potong Ranti tegas. "Nadia cuma cari udara segar. Kamu keterlaluan membentak istri dan anakmu. Luapkan cemasmu dengan benar, Arvin, jangan pakai amarah!"
Haris merangkul bahu Kenzo untuk menenangkan, lalu menatap Arvin, memberi isyarat agar meredakan emosi.
Arvin menarik napas panjang, menahan amarah di depan orang tuanya, lalu menuntun lengan Nadia cukup tegas menuju kamar utama di lantai atas. Nadia mengekor dengan bibir terkatup rapat dan mata yang sudah basah.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Arvin berbalik dan menatap Nadia tajam.
"Kenapa kamu susah banget nurut sama aku, Nadia?!" tegas Arvin, suaranya menggema di ruangan. "Aku minta kamu diam di kamar dan istirahat itu ada alasannya! Aku cuma mau kamu nurut dan dengerin kata-kataku!"
Nadia yang sejak tadi menahan sesak akhirnya tak mampu membendung emosinya lagi. Ia menatap Arvin lurus dengan mata berair.
"Cukup, Mas!" seru Nadia, suaranya bergetar. "Aku ini istri kamu, bukan bawahan kamu yang harus selalu nurut tanpa boleh protes! Jangan paksa aku untuk terus diam seolah aku gak punya suara!"
Arvin tertegun sejenak, tak menyangka Nadia akan membalas ucapannya selantang itu.
"Aku cuma turun ke taman nemenin Kenzo sebentar karena aku bosan di kamar seharian!" lanjut Nadia dengan air mata yang menetes. "Aku tahu kondisi tubuhku sendiri, Mas! Tapi kamu datang langsung marah-marah dan nuntut aku buat selalu nurut!"
"Aku ini suami kamu, Nadia! Sudah kewajiban kamu buat nurut dan dengerin kata-kataku!" potong Arvin dengan intonasi tinggi. "Semua yang aku atur itu demi kebaikan kamu sendiri!"
"Demi kebaikan aku atau demi kemauan kamu sendiri?!" balas Nadia tak mau kalah, menyapu air matanya kasar.
"Kamu nuntut aku nurut, tapi cara kamu bicara cuma isinya bentakan dan perintah! Kalau kamu mau aku dengerin kamu, hargai aku juga sebagai manusia, Mas, jangan cuma nuntut aku harus patuh!"
Kata-kata Nadia menghantam dada Arvin cukup telak. Pria itu berdiri kaku, napasnya memburu, menatap Nadia yang kini terengah-engah menahan tangisnya.