Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Lentera

Gadis Pembawa Lentera

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Cintamanis / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 3 Tidak Setuju

"Ayah tidak setuju kalian beri cucuku Xiu Ren" kata Ayah mertuaku marah pada Fang, suaranya marah terdengar jelas dari kamar.

Aku berusaha menidurkan kembali bayi Xiu.

"Apa alasannya?" tanya Fang.

"Seharusnya memberi nama cucuku bukan Xiu Ren! tanyakan kenapa dengan istrimu, apa ini anak Pangeran Fang?" suara Ayah mertuaku keras.

"iya itu anakku!" kata Fang juga keras.

Xiu terus menangis.

Ayah mertuaku kembali ke kamar, datang sambil mengepalkan tangan.

"Lee! sebaiknya kau katakan saja ke Fang siapa Pangeran Fang yang kumaksud, dan kau tau aku hanya bisa kembali sebentar, aku hanya menghabiskan waktuku dalam sebuah lingkaran dan tidak bisa sepenuhnya kembali hanya karena sebuah lentera, dan KAU! Kau sudah menikah dengan Pangeran Fang" katanya menatapku.

Bibi Sara, Aku dan Fang bingung apa yang di katakan Ayah metuaku.

"Pa...kau meracau lagi" kata Bibi Sara, dia menarik tangan mertuaku, aku gemetar berhadapan langsung dan tatapan Ayah mertuaku seperti memusuhiku.

Aku gemetar, Fang memelukku dan Xiu terus menangis.

Bibi Sara pamit membawa ayah mertuaku pulang.

Pangeran Fang, ayah mertuaku mengira Xiu adalah anak Pangeran Fang?

**

"Maafkan Papaku, kata mama dia semenjak kembali terlihat sangat aneh" kata Fang.

Fang menggengam tanganku, aku bersandar di bahunya.

Xiu kembali nyenyak tertidur.

Aku masih melamun, pikiranku kacau apakah ayah mertuaku kembali ke masa kerajaan selama ini menghilang.

Dia seperti tau sesuatu dari kata-katanya, tapi Xiu memang anakku dan Fang Ren, bukan anak Pangeran Fang.

"Kalau Papa tidak suka anak kita di beri nama Xiu kita bisa mengganti nama lain" kataku.

"Sudahlah, bukannya kau bilang dulu Papa sangat suka cerita Kerajaan Fang? kenapa kita harus menggantinya, selama ini Papa pergi kemana, baru kembali mendadak mengatur, kau tidak dengar bicaranya melantur menuduh Xiu anak Pangeran Fang" kata Fang tersenyum.

"Aku ini Pangeran Fang" katanya lagi, dia tidak paham maksud Ayahnya, Pangeran Fang adalah Raja Fang di masa lampau.

Aku hanya diam, tidak menjawab apapun.

Dalam hati yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan ayah mertuaku di malam tahun baru itu.

Handphone Fang berdering dilayar tertulis Mama, itu pasti dari Bibi Sara, Fang buru-buru mematikan nada deringnya.

Berbicara di luar kamar.

Lalu masuk kamar dengan wajah aneh, "Kenapa?" tanyaku.

"Papa pergi lagi, ibu menelepon barusan"kata Fang.

"Pergi kemana?" tanyaku.

"Mama juga tidak tau, Ayah duduk di taman depan terakhir mama lihat dan tidak tau kemana, handphone nya masih ada di atas meja taman" jelas Fang.

Aku gemetar, Fang langsung mendekat.

"Lee, kenapa wajahmu pucat sekali" katanya.

Tanganku pucat dan terasa dingin, aku dilarikan ke rumah sakit.

**

Karena ayah mertuaku tidak setuju dengan nama Xiu Ren Fang maka aku dan Fang sepakat mengganti nama putri kami dengan nama Xin Li yang berarti cahaya dan harapan kami untuk anak perempuan kami mengambil filosofi lentera penerang.

Ayah mertuaku benar-benar menghilang tidak dapat di hubungi, kami mulai mencari jejaknya dengan menanyakan beberapa peneliti

Terkadang mengherankan kami diberi informasi yang beragam, terdapat kamera ayah mertua di sebuah bangunan sejarah.

ada tulisan tangan ayah mertua di bebatuan bangunan sejarah kerajaan Fang namun bagian bangunan itu tidak pernah terjamah manusia.

Ayah mertua tidak pernah membawa lentera kembali, lentera kayu yang seharusnya milikku, lentera kayu yang dikirimkan ke alamat kost tanpa ada nama pengirim.

Dan aku masih menyimpan lentera antik yang dibuat Ayah Pengawal Ziu di dalam kotak yang kuletakan di kamarku kediaman orang tuaku setelah pindah dari kost, lentera itu adalah lentera yang kubawa terakhir saar aku kembali, lentera itu aku pesan bersama Pangeran Fang sebelum  malam Festival lentera, lentera yang berbeda dengan lentera yang kubawa di malam tahun baru pertama kali bertemu dengan Pangeran Fang.

Lentera itu diletakan di ruang baca Pangeran Fang dan itu Lentera yang di gunakan Ayah mertuaku di malam tahun baru.

Rasanya ragu ingin mengambil kembali ke rumah, aku menjadi takut tiba-tiba aku kembali lagi ke masa lampau bagaimana dengan Fang dan putriku Denglong.

Aku tidak berkerja, aku tinggal di rumah dengan mengerjakan proyek-proyek menulis buku dan mentranslate bahasa-bahasa kuno secara online untuk mengisi kesibukan selain ibu rumah tangga.

Xin Li sudah berusia sepuluh tahun sekarang.

Dia sangat memiliki adik, aku bilang adiknya adalah anak Kakakku.

Xin Li mengerti kalau itu adik sepupu, dia sangat ingin punya adik kandung.

Aku dan Fang selalu menjelaskan suatu saat dia juga akan punya adik kandung belum saatnya.

**

"Ma...kapan Paman Lio menikah?" tanya Xin Li.

Aku mengepang rambutnya setelah mandi, "Bulan depan" kataku.

"Kakek mana ma? Xin dengar kakek hilang diculik orang" kata Xin Li.

"Siapa yang bilang?" tanyaku.

"Nenek Mama" katanya, yag berarti Ibuku yang mengatakan itu padanya. Aku memegang kedua pipi putriku yang mulus dan putih wajahnya cantik dan kulitnya putih seperti salju mirip seperti ayahnya Fang.

"Kakek tidak diculik, kakek pergi berpetualang" kataku.

Wajahnya terlihat bingung, "Sudah..." kataku dengan kepangan rambutnya.

"Temui Papa di ruang kerja, katakan Mama sudah menunggu untuk makan malam" kataku mengajaknya keluar kamar agar menemui ayahnya yang sibuk di ruang kerja.

Xin Li mengangguk berjalan sendiri melalui lorong menuju ruangan ayahnya berkerja.

Putriku tidak mengenal Kakek dari Ayahnya, karena Ayah Fang tidak pernah kembali hingga kini.

Banyak hal aneh terjadi di ruang kerjanya di Museum, beberapa kenalan bilang terkadang malam hari ada cahaya lampu menyala di ruangan itu dalam keadaan terkunci dan rapi besok paginya mereka bisa melihat ruangan itu berantakan seperti ada yang berkerja di ruangan.

Tidak ada yang berani masuk ruang kerja Ayah mertuaku.

Bibi Sara berharap Ayah mertua kembali datang di pernikahan Lio adik Fang yang bungsu yang akan melaksanakan pernikahannya bulan depan.

Pencarian di hentikan karena Ayah mertuaku pun tidak pernah kembali pulang.

**

"Lee...sudah siap?" tanya Fang.

Aku mengangguk, sementara Xin Li juga menengok di jendela dengan rambut pita putih dan gaun berwarna merah jambu.

Hari ini kami akan menghadiri acara resepsi pernikahan Lio adik dari Fang.

Fang mengemudi, dia juga tidak lagi berpura-pura sebagai pria cacat.

Mobil terparkir di halaman acara resepsi, karena itu pesta kebun kami lebih leluasa dengan pemandangan alam.

Pesta Resepsi diadakan malam hari, malam ini cuaca sejuk.

Xin Li bermain bersama neneknya.

"Kau kedinginan?" tanya Fang, dia melepaskan jasnya dan memasangkan jas itu dibahuku.

Aku dan Fang berpegangan tangan.

"Aku kesana sebentar" kata Fang melihat sepupunya melambaikan tangan.

"Aku disini saja ya" kataku.

Fang mengangguk.

Aku melihat pepohonan pinus yang di hiasi lampu.

Mataku terbelalak, "Pa..."

aku bangkit dari kursi melangkah ke arah pepohonan pinus yang dihiasi lampu-lampu berwarna kuning.

"Papa..." kataku menatap pria paruh baya yang penampilannya tidak berubah menua.

"Lee...kau melihatku" kata Ayah mertuaku.

"Ayo Pa..kita kesana" kataku mengajak Ayah mertuaku yang datang, aku menyentuh tangannya, tapi Ayah mertuaku melepaskan ajakkanku.

"Aku tidak bisa, aku terjebak tidak bisa kembali pulang" kata Ayah mertuaku.

"Kenapa pa?" tanyaku.

"Mama...." panggilan Xin Li mengalihkanku berbalik.

"Kenapa Xin?" kataku bertanya.

"Kenapa mama disini?" kata Xin Li.

"Mama bicara dengan..." kataku berbalik.. melihat Ayah mertuaku sudah jauh berjalan di kerumunan.

Aku memegang tangan Xin Li dan mengajaknya mengejar kakeknya, tidak terkejar.

Ayah mertuaku menghilang dalam gelap malam.

"Ma...kenapa kita kesini, aku takut" kata Xin Li.

"Tadi ada kakekmu Xin Li..." kataku.

"Kakek? Kakek Xin? yang mana ma?" Kata Xin Li ikut mencari.

Aku menggelengkan kepala, "Sudah pergi..." kataku.

"Kenapa kalian kesini?" tiba-tiba Fang datang dari belakang.

"Aku bertemu papa" kataku.

"Hah?Papa? dimana" kata Fang.

"Dia sudah pergi..." kataku.

"Serius Lee? mungkin orang lain" kata Fang.

"Betul itu Papa, aku menyentuh tangannya" kataku.

Fang memeluk aku, kami bertiga kembali ke acara, Fang meminta aku dan Xin Li tidak mengatakan apapun tentang Ayah mertuaku.

***

Bersambung...

1
Novita Tory
Sampai saat ini berharap happy ending
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!