Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.
Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.
Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.
Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.
Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.
Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa
Kecantikan Elisa membuat semua orang terpukau. Gadis itu menyilangkan kedua lengannya di bawah dada.
Sepasang matanya yang biru menyapu semua tamu pesta. Mereka semua tampil begitu anggun. Para wanita mengenakan gaun mahal, dan para pria memakai jas kelas atas.
Elisa merasakan tatapan semua orang tertuju padanya. Sensasi yang aneh sekali. Sebab sebagian besar hidupnya ia habiskan terkurung di sekolah asrama, dikelilingi para biarawati yang memarahinya untuk hal apa pun.
Ia mengangkat dagu dengan bangga dan angkuh. Ia seorang Wijaya, dan sudah semestinya ia terbiasa dengan acara semacam ini. Merasakan tatapan semua orang menghujaninya adalah sesuatu yang harus ia biasakan.
Elisa melukiskan senyum tipis, merentangkan lengannya, meletakkan tangan kanannya di atas pegangan tangga. Kecantikannya jadi semakin memukau.
Tanpa ia sadari, dua pria di hadapannya sudah dibuat tergila-gila. Salah satunya adalah Erlangga.
Pria berusia 43 tahun itu telah dijodohkan ayahnya dengan Elisa. Erlangga masih tak percaya betapa cantiknya calon istrinya. Elisa jelas wanita yang tepat untuk dijadikan simpanan dan memberinya keturunan.
"Elisa Wijaya, aku tak percaya kau secantik ini. Kau lebih rupawan aslinya daripada di foto," gumam Erlangga pada dirinya sendiri.
Tak sabar mengecup bibir gadis itu, Erlangga melangkah maju. Namun ibunya di sampingnya mencengkeram lengannya, mencegahnya mendekati Elisa dan mempermalukan diri.
Sebab gadis itu bisa saja merasa diganggu dan membuat keributan yang hanya akan mencoreng nama baik keluarga mereka yang terpandang.
Pria satunya adalah Mario. Mata hitamnya menancap pada Elisa. Gadis itu tampak begitu memesona hingga membangkitkan hasrat dalam diri Mario.
Ia membawa gelas sampanye ke bibirnya, meneguknya perlahan, lalu menyerahkannya pada pria di sampingnya.
Bisik-bisik di antara para tamu segera terdengar. Ada yang mengenal gadis itu, ada pula yang tak tahu siapa dia.
"Gadis yang sangat cantik."
"Wah. Cantik sekali gadis itu. Seperti seorang ratu."
"Siapa sangka putri Yosef yang satunya mewarisi kecantikan ibunya."
Dengan langkah perlahan sembari menatap semua orang, Elisa menuruni tangga. Ia berhenti sebelum menapaki anak tangga terakhir. Erlangga mendekat dan menghadang jalannya.
Terkejut, Elisa menyapukan pandangannya pada pria di hadapannya. Ia mengelak ketika Erlangga mencoba meraih tangannya.
Hal itu membuat Mario murka. Pria dengan tatapan seorang pembunuh itu melangkah maju dua langkah. Tak seorang pun di tempat itu boleh menaruh mata pada wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Lagi pula, Mario tahu persis siapa Erlangga. Mario akan membunuhnya di tempat itu juga jika ia berani menyentuh Elisa.
"Ikut aku, kuajak kau berdansa." Kata-kata Erlangga terdengar seperti perintah bagi Elisa.
Gadis itu mengernyitkan dahi dan menatap tajam mata Erlangga.
"Siapa kau berani bicara seperti itu padaku? Aku tak mengenalmu. Kularang kau mendekatiku."
Elisa menuntaskan langkah di anak tangga terakhir, meninggalkan Erlangga dalam keadaan malu di depan semua orang. Tindakan gadis itu membuat Erlangga naik pitam. Ia pria yang kasar, mudah dibutakan amarah, dan itu selalu mendatangkan masalah baginya.
Ia mencengkeram lengan Elisa, memutar tubuh gadis itu. Ia mengangkat tangannya di depan semua tamu, hendak memberi pelajaran pada Elisa.
Naluri membuat Elisa memejamkan mata. Ketakutan jelas terpancar di wajahnya. Yang paling menyakitkan, tak ada seorang pun yang membelanya. Di seberang aula, Diana menonton dengan geli tontonan yang dibuat Erlangga terhadap saudarinya. Ia membawa gelas sampanye ke bibirnya, tetapi sedetik kemudian menyemburkan semuanya, saat melihat Mario mencengkeram tangan Erlangga.
Mario menahan kuat-kuat tangan lawannya. Erlangga mengalihkan pandangan, ingin melihat wajah pria yang berani mencampuri urusan yang bukan miliknya.
Begitu tahu itu Mario Adikara, pria yang sangat disegani, Erlangga tak berani berkata apa-apa. Tubuhnya membeku, dan ayahnya terpaksa turun tangan.
"Maaf, Tuan Adikara."
"Singkirkan sampah ini dari hadapanku."
Ayah Erlangga mendorong putranya menjauh dari Mario dan Elisa. Gadis itu membuka mata, menatap wajah yang tak asing. Begitu sadar bahwa itu pria dari restoran di Italia, Elisa tak percaya.
Sebelum sempat bereaksi, lengannya sudah dicengkeram dan tubuhnya didorong ke lantai dansa. Salah satu tangan Mario melingkari pinggang ramping Elisa, sementara tangan kanannya menarik gadis itu semakin dekat ke tubuhnya.
Elisa nyaris tak bisa bernapas. Tubuhnya begitu menempel pada tubuh Mario hingga menyulitkannya bernapas.
Mario menundukkan kepala, menyusurkan hidungnya di rambut gadis itu. Aromanya begitu menyenangkan, mengundang sesuatu yang lebih. Ia menyusuri punggung Elisa dengan tangannya, membuat gadis itu sangat tak nyaman.
Tanpa memikirkan akibatnya, Elisa menginjak kaki Mario dengan hak sepatunya. Ia menekan sekuat tenaga hingga berhasil membuat Mario melepaskan cengkeraman tangannya dan meringis kesakitan.
"Ulangi lagi dan kau akan menyesalinya seumur hidup," ancam Mario dengan gigi bergemeletuk.
"Kaupikir aku takut pada pria sepertimu?" balas Elisa berani.
Mario menarik tubuh gadis itu lebih dekat lagi, lalu menempelkan bibirnya ke telinga Elisa. Dengan suara serak dan dingin, ia berkata.
"Seharusnya kau sangat takut padaku. Aku masih belum memaafkan perbuatanmu di Italia."
Elisa merasakan gigil hebat merayapi seluruh tubuhnya. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, teringat apa yang terjadi malam itu.