Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia
Bertahun-tahun lamanya Elisa dititipkan di sebuah sekolah asrama bergengsi di luar negeri. Ibunya meninggal saat ia baru berusia delapan tahun.
Dua tahun setelah kepergian sang ibu, ayahnya, Yosef, menikah lagi — kali ini dengan Emma, sepupu mendiang istrinya sendiri.
Di mata orang banyak, itu pernikahan gila. Namun Yosef tak peduli. Emma seorang janda dengan seorang putri bernama Diana.
Usia Diana persis sama dengan Elisa. Anehnya, tak seorang pun tahu wajah — apalagi nama — ayah kandung Diana. Banyak kerabat dari pihak Kejora, mendiang ibu Elisa, berbisik bahwa Diana sebenarnya anak haram Yosef; itulah alasan ia menunggu tepat dua tahun sebelum menikahi Emma.
Berbeda dengan Elisa, Diana tumbuh di sisi ibunya sekaligus di sisi Yosef. Bertahun-tahun mereka menjelma menjadi satu keluarga utuh — dengan menyingkirkan Elisa dari hidup mereka.
Begitu genap dewasa, Elisa keluar dari asrama, lalu tinggal dua tahun lagi di luar negeri. Sampai belakangan ini, ia menerima telepon dari ayahnya yang memintanya pulang.
Peringatan kematian ibunya sudah dekat, dan Yosef ingin ia hadir.
Selama ini Elisa selalu merasa disingkirkan dari kehidupan ayahnya, jadi permintaan itu terasa ganjil. Meski begitu, ia tak menolak. Ia pun ingin hadir dalam misa arwah untuk mendiang ibunya.
Elisa memesan penerbangan terdekat menjelang 14 Februari. Hampir pukul delapan malam ketika kakinya menjejak bandara internasional New York.
Ia menyeret kopernya yang berat menuju pintu keluar. Di luar, seorang pria sudah menunggu — orang suruhan ayahnya. Tubuhnya tinggi, rambutnya beruban, wajahnya berkerut, namun memancarkan kehangatan.
Melihatnya, Elisa butuh waktu untuk mengenali. Sebaliknya, begitu memandang gadis itu, pria tua tersebut seolah menatap pantulan sempurna dari Kejora, ibunda Elisa.
Elisa gadis berambut pirang, bermata biru, berbibir merah muda, dan mewarisi keanggunan ibunya. Kulitnya putih dan lembut, bagai kelopak mawar.
"Nona Elisa!" Pria itu melambaikan tangan sambil memanggil namanya.
Elisa menghentikan langkah, menoleh ke kanan. Di samping sebuah mobil mewah berdiri Pak Emil. Ia menyipitkan mata, berusaha mengenali sosok itu, tapi tahun-tahun yang berlalu membuatnya nyaris mustahil.
"Nona Wijaya. Saya Emil, disuruh menjemput Nona."
Senyum tersungging di bibir Elisa. Pak Emil satu-satunya orang yang bersikap sangat baik padanya setelah ibunya tiada.
Gadis itu menghampiri mobil, melepaskan kopernya begitu tiba di dekat sang sopir.
"Halo, Pak Emil. Kukira tak akan ada yang menjemputku."
Pak Emil menundukkan kepala, malu karena datang terlambat. Ada kecelakaan di jalan tol tadi, membuat lalu lintas macet total.
"Maafkan saya, tak akan terulang lagi." Ia mengangkat koper Elisa ke bagasi.
Gadis itu terbiasa mengandalkan dirinya sendiri sepenuhnya. Ia tak menunggu Pak Emil membukakan pintu; ia masuk sendiri dan menatap keluar lewat kaca jendela.
Pak Emil naik ke belakang kemudi. Lewat kaca spion, ia mencuri pandang ke arah Elisa di jok belakang. Sungguh menakjubkan, kemiripan gadis itu dengan mendiang ibunya.
"Ada sesuatu di wajahku? Dari tadi kau terus menatapku." Elisa merasa risi diperhatikan, maka ia bertanya.
"Maaf, Nona. Saya tak bisa menahan kagum melihat betapa miripnya Nona dengan ibunda," pria itu meminta maaf.
"Bagaimana kabar ayahku?" Elisa mengalihkan pembicaraan.
"Beliau baik-baik saja. Begitu juga Nyonya Emma dan Nona Diana."
Ada kekosongan besar menganga di dada Elisa begitu mendengar nama Emma dan Diana disebut.
"Semuanya sudah berubah. Tak ada lagi yang tersisa dari sepuluh tahun lalu," gumam Elisa penuh kepiluan.
Pak Emil hanya diam. Sesekali ia bertukar sepatah dua patah kata dengan Elisa. Tak lama, mobil memasuki kawasan mansion mewah milik Yosef Wijaya.
Sesampainya di rumah megah sang ayah, Elisa justru merasa seperti orang asing. Seolah ia tak lagi punya tempat di sana. Namun ia memaksakan senyum dan turun dari mobil, menunggu Pak Emil menurunkan koper dan membawanya masuk.
Tetapi Pak Emil berkata,
"Nona, ada pesta di dalam. Koper Nona akan saya antar belakangan."
Elisa mengernyit. Ia sama sekali tak menyangka ayahnya menggelar pesta penyambutan untuknya.
"Pesta dalam rangka apa?"
Sebelum Pak Emil sempat menjawab, sebuah mobil hitam bermerek mewah berhenti tepat di belakang mobil keluarga Wijaya.
Elisa mengarahkan pandang, mencoba melihat pria yang duduk di jok belakang mobil itu. Namun kaca gelap kendaraan itu menutup segalanya. Menyerah, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam mansion.
Mario menancapkan tatapan dinginnya pada punggung terbuka gadis itu. Kepalan tangannya mengeras, sementara seulas senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
Mario bukan sekadar pria berkuasa di dunia bisnis. Ia juga pemimpin sebuah organisasi kejahatan di Italia.
Tanpa sengaja, ia pernah bertemu Elisa saat gadis itu bekerja di sebuah restoran kelas atas di Italia.
Elisa bersikap agak kasar padanya dan pada rekannya, Erlan. Gadis itu menolak menemani mereka, dan lebih memilih dipecat daripada menuruti.
Elisa begitu memukau Mario, hingga dalam waktu singkat ia menyelidiki seluruh kehidupan pribadi gadis itu. Mario tak pernah kalah, apalagi ditolak oleh seorang wanita. Apa yang dilakukan Elisa menampar telak harga dirinya.
"Buka pintunya," perintah Mario pada sopirnya.
Seketika, sang sopir turun dan membuka pintu belakang. Mario melangkah keluar perlahan, merapikan jasnya, lalu menatap ke arah mansion sembari melepas kacamata hitam yang menutupi wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments