Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Pernikahan di Bawah Langit Prigen

"Baik," gumam Wisnu. "Baik sekali."

Di vila keluarga Halim, Bella mendengar nama yang sama sekali berbeda.

"Sutradara Wira," kata Reno sambil menuang kopi. "Gue yang bicara sama timnya setahun lalu. Audisi itu bukan kebetulan."

Bella yang duduk di meja makan perlahan menurunkan cangkir. Peran dalam film Sutradara Wira telah mengubah kariernya. Setelah film itu tayang, tawaran iklan berdatangan dan namanya mulai terpampang di baliho.

Selama ini ia mengira keberhasilan tersebut lahir dari audisi yang jujur.

"Kamu yang mengatur?"

"Gue cuma buka pintu. Lo tetap menang karena kemampuan lo sendiri."

Reno tersenyum, tetapi ada kepuasan pemilik dalam caranya mengucapkan kalimat itu. Bella seharusnya berterima kasih. Sebagian dirinya memang ingin berterima kasih. Namun sebagian lain teringat Arya yang selalu berkata bahwa kesempatan pertama mungkin datang dari orang lain, tetapi bertahan adalah hasil kerja Bella sendiri.

"Kenapa baru bilang sekarang?"

"Karena dulu gue belum bisa pulang." Reno menggenggam tangannya. "Sekarang gue bisa memberi semua yang seharusnya lo dapat sejak awal."

Ponsel Bella menyala. Pengacaranya mengirim jadwal konsultasi perceraian dan meminta salinan surat pelepasan harta dari Arya.

Bella membalik ponsel itu.

Di lereng Prigen, musik gesek mulai terdengar di tepi danau Puri Adiwangsa.

Arya berdiri di bawah kanopi putih dengan setelan yang dipilihkan staf kurang dari dua puluh menit sebelumnya. Potongannya pas, tetapi dasi di lehernya sengaja ia longgarkan. Para tamu yang melihat tingkahnya di halaman tadi kembali berbisik.

Lalu Anindya Prawira muncul di ujung jalur bunga.

Bisik-bisik berhenti.

Gaun putihnya sederhana, tanpa ekor panjang atau batu berlebihan. Rambut gelap disanggul rendah. Ia berjalan tanpa menggandeng siapa pun, punggung lurus dan wajah setenang rapat direksi. Kalau bukan karena buku-buku jarinya mencengkeram buket terlalu kuat, tak seorang pun akan tahu ia ingin berada di mana saja kecuali di sana.

Arya menatapnya mendekat.

Foto majalah tidak menangkap ketegasan langkah itu. Tidak pula menangkap lingkar letih yang disamarkan riasan. Perempuan ini tidak datang untuk diselamatkan. Ia datang untuk mempertahankan perusahaannya.

Anindya berhenti di sampingnya.

"Mas Arya?" tanyanya pelan, sekadar memastikan.

"Kalau kamu berharap pengantin lain, masih ada waktu untuk kabur."

Tatapan Anindya bergerak dari dasinya yang longgar ke sepatu, lalu kembali ke wajah. "Saya hanya berharap Anda bisa diam selama upacara."

"Harapan yang berat untuk pertemuan pertama."

Pemimpin upacara berdeham, meminta mereka menghadap ke depan. Di kursi baris pertama, Wisnu menutup mulut dengan tangan, menyembunyikan senyum.

Upacara dimulai dengan sambutan tentang dua keluarga dan komitmen. Arya berdiri tenang sampai kalimat mengenai kesetiaan dalam suka, duka, sehat, sakit, dan sampai maut memisahkan.

"Bagian terakhir agak terburu-buru," bisiknya.

Anindya tidak menoleh. "Apa?"

"Kita baru bertemu. Sudah dibicarakan kematian."

"Mas Arya."

"Saya cuma memastikan tidak ada klausul tambahan yang belum masuk perjanjian."

Rahang Anindya menegang. "Kalau Anda mempermalukan saya di depan semua orang, saya akan membuat tiga tahun ini terasa sangat panjang."

Arya tersenyum ringan. "Nah, itu terdengar seperti janji pernikahan yang jujur."

Pemimpin upacara melirik mereka. "Apakah ada yang ingin disampaikan sebelum kita lanjut?"

"Tidak ada," jawab Anindya cepat.

"Calon istri saya hanya sedang menjelaskan konsekuensi pelanggaran kontrak," kata Arya.

Tawa kecil pecah dari beberapa kursi. Anindya menatap lurus ke depan, tetapi warna merah tipis muncul di ujung telinganya.

Wisnu melihat lebih dari sekadar lelucon. Arya mengubah suasana tanpa sekali pun kehilangan kendali. Di balik citra lelaki ceroboh, ia sedang memperhatikan tamu, pintu keluar, petugas keamanan, bahkan siapa yang berbisik ketika nama Prawira disebut.

Anak itu sudah mulai berakting.

Ketika kotak cincin dibawa, Anindya mengulurkan tangan kiri. Jemarinya kaku.

Arya tidak langsung menyentuh. Ia mengambil cincin, lalu memberi waktu sepersekian detik agar Anindya yang memilih mendekatkan tangan. Baru setelah itu cincin meluncur ke jarinya tanpa sentuhan lain.

Anindya menatapnya sebentar. Ketegangan di bahunya turun sedikit.

Gilirannya memasangkan cincin kepada Arya. Logam dingin itu sempat tersangkut di buku jari.

"Terlambat mundur," ujar Arya.

"Saya sedang mempertimbangkan mendorong Anda ke danau."

"Setelah foto keluarga. Biar hasilnya tetap bagus."

Kali ini, sudut bibir Anindya bergerak nyaris tak terlihat. Kemudian ia mendorong cincin sampai terpasang.

Tepuk tangan memenuhi tepi danau.

Tidak ada ciuman. Sesuai kesepakatan, mereka hanya berdiri berdampingan ketika fotografer mengambil gambar. Arya menjaga jarak beberapa sentimeter, cukup dekat untuk tampak wajar, cukup jauh agar Anindya tidak merasa terjebak.

"Anda sudah membaca perjanjian?" tanya Anindya di sela kilatan kamera.

"Sampai halaman sembilan. Saya menambahkan perlindungan pemutusan kontrak dan aset inti."

Wajah Anindya berubah. "Itu ide Anda?"

"Kamu kira saya hanya datang untuk makan prasmanan?"

"Saya belum memutuskan Anda datang untuk apa."

"Bagus. Teruslah mengamati."

Seorang eksekutif tua dari cabang properti menghampiri mereka dan mengangkat gelas. "Selamat, Bu Anindya. Den Arya. Semoga pernikahan ini juga membuat urusan PE lekas tenang."

Ucapan itu terdengar seperti doa, tetapi matanya mengukur siapa yang kini mengendalikan suara mayoritas.

"Terima kasih, Pak," jawab Anindya.

"Saya dengar wali saham baru belum pernah duduk di direksi mana pun," lanjut pria itu kepada Arya. "Lima puluh satu persen adalah beban berat untuk pemula."

Arya mengambil segelas air dari baki pelayan. "Untung saham tidak diangkat dengan punggung."

Pria itu tertawa kaku.

"Keputusan operasional tetap melalui prosedur," sambung Anindya. "Tidak ada yang berubah hanya karena pesta hari ini."

Arya mengangkat gelas sedikit kepadanya. Jawaban mereka berbeda, tetapi arahnya sama: jangan mengira PE bisa dibagi sebelum kontrak bahkan berlaku.

Eksekutif itu pamit tanpa berhasil mendapatkan celah.

Seorang fotografer meminta Arya merangkul pinggang pengantin perempuan. Anindya seketika kaku.

Arya memasukkan satu tangan ke saku. "Ambil dari sudut depan. Tidak perlu pose itu."

"Tapi, Den Arya..."

"Dari depan," ulangnya.

Fotografer menurut. Anindya tidak mengucapkan terima kasih, tetapi matanya bertahan pada Arya lebih lama.

Setelah sesi foto selesai, mereka berjalan menuju bangunan penerima tamu. Tepuk tangan berubah lagi menjadi percakapan dan penilaian. Beberapa perempuan memuji gaun Anindya; beberapa pria membahas PE seolah perusahaan itu hadiah pernikahan.

"Saya tahu orang-orang mengira Anda mengambil perusahaan saya," kata Anindya tanpa melihat Arya.

"Biarkan. Orang yang terlalu cepat percaya gosip biasanya menunjukkan kelemahannya tanpa diminta."

Anindya berhenti satu langkah. Kalimat itu sama sekali tidak terdengar seperti ucapan pria yang mengejar ayahnya mengelilingi air mancur.

"Siapa sebenarnya Anda?"

Arya mengangkat tangan bercincin. "Sejak lima menit lalu? Suamimu."

Tatapan dingin Anindya kembali. "Suami di atas kertas. Jangan lupa."

"Sulit lupa kalau kamu mengulangnya sebelum makan siang."

Mereka melanjutkan langkah. Di belakang, Wisnu berdiri dari kursinya sambil memperhatikan punggung putranya.

Ia mengenal hampir semua bentuk kepalsuan yang dipakai orang untuk mendekati keluarga Adiwangsa. Ambisi biasanya membuat seseorang tampak lebih pintar, lebih sopan, atau lebih kaya daripada kenyataan.

Arya memilih tampak lebih bodoh.

Wisnu tertawa dalam hati.

Anak itu belum satu jam menjadi pengantin, tetapi sudah mengenakan penyamarannya seolah lahir dengan wajah tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!