Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Suasana canggung dan ketakutan Shinta benar-benar lenyap digantikan oleh perdebatan kecil yang menyegarkan.
"Sudah, lebih baik kau cepat makan sarapanmu, nanti kita terlambat ke kampus," suruh Shinta beranjak dari kasur.
"Kita tetap ke kampus hari ini? Kukira kau mau libur dulu memulihkan mentalmu," tanya Arif mengambil piring sarapannya.
"Tidak mau! Kalau aku diam di rumah, aku malah terus kepikiran kejadian semalam," jawab Shinta bersedekap dada.
"Lagi pula kan ada kau yang menemaniku, preman mana lagi yang berani menggangguku di kampus?" tambah gadis itu penuh percaya diri.
Arif tersenyum bangga mendengar ucapan gadis itu yang secara tidak langsung mengakui kemampuannya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menghabiskan makanan ini dalam lima menit," janji Arif mulai makan dengan lahap.
Setengah jam kemudian, mereka berdua sudah rapi dan turun ke ruang keluarga lantai satu.
Nana yang sedang duduk di sofa tersenyum menggoda melihat adiknya berjalan mengekor di belakang Arif.
"Sepertinya hari ini mobil kalian butuh Pak Sopir ya, biar aku yang panggilkan Paman Maman," goda Nana.
"T-tidak usah Kak! Aku masih bisa nyetir sendiri kok!" bantah Shinta gelagapan menyembunyikan wajahnya.
"Lagipula si udik ini kan belum punya SIM, masa aku biarkan dia yang nyetir mobil mahalku," kilah Shinta mencari alasan.
Arif hanya mengangkat bahu tidak peduli dengan ledekan tersebut.
"Ayo cepat berangkat, Nona cerewet, sebelum jalan tolnya macet," ajak Arif berjalan keluar rumah.
Shinta buru-buru menyusul langkah pemuda itu dan masuk ke kursi kemudi mobil sport putihnya.
Brummm.
Mobil itu melesat meninggalkan halaman kediaman Liem menuju Universitas Mahkota.
Sesampainya di kampus, suasana terasa sedikit berbeda dari kemarin.
Tidak ada lagi gerombolan Reyhan yang berjaga di lobi, dan mahasiswa lain terlihat berbisik-bisik membicarakan berita pagi ini.
Kehancuran Keluarga Kusuma benar-benar menjadi topik paling panas di seluruh sudut kampus.
"Kalian dengar tidak? Grup Kusuma bangkrut total dan Tuan Muda Reyhan masuk sel tahanan!" bisik seorang mahasiswa pria di koridor.
"Iya aku dengar! Katanya mereka terlibat urusan dengan mafia jalanan dan digerebek polisi tadi malam," sahut temannya.
"Berarti kampus kita sekarang bebas dari gangguan si Tuan Muda arogan itu dong? Syukurlah!"
Arif dan Shinta berjalan melewati koridor itu dengan sangat santai seolah tidak tahu apa-apa.
Shinta berjalan dengan jarak yang sangat dekat dengan Arif, bahu mereka bahkan sesekali bersentuhan.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan gengsinya atau apa kata orang tentang status pertunangannya dengan Arif.
Setelah diselamatkan dari ambang maut, bagi Shinta, Arif adalah satu-satunya tempat paling aman di dunia ini.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah berlawanan.
Tap. Tap. Tap.
Seorang gadis cantik berkacamata tebal berlari menghampiri Shinta dengan wajah penuh semangat.
"Shinta! Kau sudah dengar berita pagi ini belum?!" sapa gadis itu heboh.
Gadis itu adalah Maya, sahabat baik Shinta di kampus yang juga sama-sama dari keluarga konglomerat.
"Berita soal keluarga si monyet Reyhan itu ya? Tentu saja aku sudah dengar," jawab Shinta tersenyum lega.
"Gila banget kan! Padahal kemarin siang dia masih sok jagoan di kantin, malamnya langsung masuk bui!" tawa Maya puas.
Maya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Arif yang berdiri diam di sebelah Shinta.
"Eh, ini pemuda yang kemarin kau bilang sebagai tunanganmu itu kan?" tanya Maya menatap Arif dengan penasaran.
Wajah Shinta langsung bersemu merah kembali saat diingatkan tentang pengakuannya kemarin di lobi.
"I-iya, kenalkan Maya, ini Arif... di... dia calon suamiku," ucap Shinta terbata-bata memaksakan diri mengakuinya.
Arif sedikit terkejut mendengar pengakuan langsung itu, tapi dia langsung menguasai dirinya dan tersenyum ramah.
"Salam kenal Maya, aku Arif Wicaksono, pengawal merangkap tunangan gadis cerewet ini," sapa Arif mengulurkan tangannya.
Maya menjabat tangan Arif dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.
"Salam kenal juga Arif! Wah, Shinta beruntung banget punya cowok yang berani melawan Reyhan kemarin!" puji Maya.
"Kau pasti ahli bela diri ya? Gerakanmu mematahkan kursi Reyhan kemarin itu keren banget!"
Arif tertawa kecil merendah.
"Bukan apa-apa, hanya insting refleks biasa saja."
Ketiga orang itu akhirnya berjalan bersama menuju ruang kelas untuk memulai mata kuliah pagi ini.
Bagi mahasiswa lain, ini adalah hari yang biasa, tapi bagi Shinta, ini adalah awal kehidupan barunya yang terasa lebih ringan tanpa gangguan Reyhan.
Di dalam kelas, Arif duduk di barisan paling belakang seperti biasa dan mulai memainkan ponselnya.
Dia sengaja memilih tempat duduk di pojok agar bisa mengawasi seluruh ruangan dengan mudah.
Kring.
Pesan singkat masuk ke ponsel Arif, kali ini bukan dari Nana melainkan dari bawahan kepercayaannya di Biro Akasa.
"Tuan Besar, sisa-sisa petinggi geng Naga Hitam yang berhasil kabur tadi malam dilaporkan meminta bantuan pada organisasi yang lebih besar."
"Mereka berlindung di bawah sayap Sindikat Macan Putih yang menguasai wilayah selatan Jakarta."
"Apakah kami perlu memusnahkan mereka juga hari ini?"
Mata Arif menyipit tajam membaca laporan tersebut.
Ternyata masih ada beberapa kecoa yang berhasil lolos dari pembantaian di gudang pelabuhan tadi malam.
"Tidak usah bergerak dulu," balas Arif cepat mengetik di layar ponselnya.
"Kalian awasi saja pergerakan Sindikat Macan Putih itu dari jauh."
"Biar mereka yang datang mengantarkan nyawa kepadaku, aku sedang malas mencari mereka satu per satu."
Arif memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Dunia bawah tanah Jakarta ternyata lumayan berisik juga," gumam Arif menyeringai sinis.
Dia menatap punggung Shinta yang duduk dua baris di depannya sedang serius mendengarkan dosen.
Selama dia hidup dan bernafas, tidak akan ada satu organisasi pun yang berani menyentuh gadis itu lagi.
Meskipun dia harus membakar seluruh kota Jakarta, Arif akan memastikan calon istrinya itu tetap aman dan tersenyum.