Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Jawaban yang Tidak Diberikan
Alden menoleh sedikit.
Seraphina sudah berdiri di sana. Bukan baru datang. Seolah… memang menunggu ia selesai.
Senyumnya tipis seperti biasa. Anggun. Tidak memaksa, namun cukup untuk membuat langkah orang lain terhenti.
Alden tidak langsung mendekat. Matanya sempat beralih ke arah depan. Belvina sudah berjalan lebih dulu. Tidak menunggu.
Tatapan Alden beralih ke sopirnya. Lalu ia memberi isyarat kecil. Satu gerakan jari. Cukup.
Sopir yang berdiri tak jauh langsung mengangguk singkat dan bergerak.
Belvina hampir sampai ke mobilnya ketika suara itu datang.
“Nyonya.”
Ia menoleh.
Sopir Alden berdiri di sana. Tegak. Sopan.
“Tuan meminta Anda naik ke mobil beliau.”
Belvina menatap sopir itu beberapa detik.
“Mobilku?” tanyanya singkat.
“Akan saya urus, Nyonya.”
Belvina terdiam beberapa saat.
"Baik. Selesaikan saja sekalian."
pikirannya.
Ia melangkah menuju mobil Alden tanpa komentar lagi.
Pintu dibukakan. Ia masuk. Duduk. Dan saat matanya terangkat, ia melihat dari kejauhan. Alden berdiri bersama Seraphina.
Berbicara.
“...oh.” Sudut bibir Belvina terangkat tipis. “Pantesan.”
Ia bersandar santai.
Ponselnya sudah di tangan. Layarnya menyala. Bukan mengarah ke luar. Bukan juga ke Alden.
Video pendek berjalan. Suara pelan, cukup untuk dirinya sendiri. Ekspresi wajahnya berubah ringan, benar-benar teralihkan.
Bukannya kesal, ia malah terlihat seperti seseorang yang sedang menikmati sesuatu yang jauh lebih menarik.
Sopir yang duduk di depan melirik lewat kaca spion. Alisnya sedikit mengernyit.
Video pendek berjalan pelan di ponselnya. Matanya tertuju pada layar. Namun itu hanya… pilihan.
Memilih untuk tidak melihat ke luar. Atau— memang tidak ia izinkan untuk penting.
Bahkan, ujung bibirnya bergerak. Tertahan. Seolah menahan tawa karena video yang ia tonton.
Sopir itu mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Keningnya masih sedikit berkerut.
Dalam hati, ia bergumam pelan. "Nyonya… benar-benar tidak peduli."
—
Di sisi lain.
Alden berdiri berhadapan dengan Seraphina.
“Ada apa?” tanyanya singkat. Langsung. Tanpa basa-basi.
Seraphina tersenyum kecil. Tidak terganggu.
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”
“Cepat.”
Nada Alden tetap datar.
“Tadi… di dalam,” ujar Seraphina pelan.
Alden tidak menjawab.
“Belvina terlihat masih marah.”
“Tidak,” potong Alden.
Seraphina terdiam sepersekian detik.
Alden menatapnya sekarang. Langsung.
“Dia tidak marah.”
Kalimat itu tenang. Tapi pasti.
Ini pertama kalinya, ritme percakapan tidak lagi dipegang Seraphina.
“Lebih baik, jaga jarak.”
Bukan untuk Belvina. Untuk Seraphina.
Kata-kata Alden ringan. Namun maknanya tidak.
Senyum Seraphina tetap terpasang. Namun matanya, mengeras sedikit. Sangat tipis.
“Baik,” jawabnya lembut.
Alden tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik. Langsung menuju mobil. Meninggalkan Seraphina berdiri di sana.
Sendiri.
Tatapannya mengikuti punggung pria itu. Lalu perlahan bergeser, ke arah mobil. Tempat Belvina berada.
Senyumnya masih ada. Namun kali ini, lebih tipis. Lebih dingin.
“Menarik…” gumamnya dalam hati.
Permainan ini, tidak berjalan seperti yang ia rencanakan. Dan itu, tidak ia sukai.
-
Pintu mobil tertutup pelan. Suara dari luar langsung teredam.
Alden masuk tanpa tergesa, tapi juga tanpa santai. Gerakannya rapi. Terukur. Ia duduk di samping Belvina, lalu memberi isyarat kecil ke depan.
Mobil mulai bergerak.
Tidak ada sapaan. Hanya suara pelan dari video di ponsel Belvina yang masih berjalan. Cahaya layar memantul samar di wajahnya. Ekspresinya ringan. Seolah dunia di dalam mobil ini… tidak terlalu penting.
Alden melirik sekilas. Lalu mengalihkan pandangan ke depan.
“Matikan.”
Belvina tidak langsung bereaksi. Video itu masih berjalan beberapa detik. Cahaya layar berkedip pelan di matanya. Seolah ia sedang mempertimbangkan sesuatu. Bukan soal video itu. Tapi soal… apakah ia harus menuruti.
“…Belvina.”
Klik.
Layar mati.
Belvina menyandarkan punggung, masih santai. Ponsel tetap di tangannya.
“Ada apa?”
Nada suaranya ringan. Seolah tidak ada yang perlu dibahas.
Alden akhirnya menoleh.
“Apa yang kau bicarakan dengan Seraphina?” tanyanya langsung ke inti.
Belvina mengangkat alis sedikit. “Kenapa?” Ia tak langsung melanjutkan. “Kau takut aku menyakitinya?”
“Jawab saja," ulangnya tegas.
Tidak ada emosi di wajah Alden. Tapi cara dia menatap, tidak memberi ruang untuk mengalihkan.
Bahu Belvina terangkat kecil.
“Tidak banyak.”
“Apa?”
Pertanyaan singkat. Tajam.
Belvina memiringkan kepala sedikit, seolah mengingat.
“Dia tanya kenapa aku berubah.”
Ia berhenti sebentar. Lalu bibirnya melengkung sedikit.
“Aku jawab… orang bisa berubah.”
Alden diam. Tidak menyela.
“Lalu?” desaknya.
Sekarang Belvina menatap ke depan. Nada suaranya tetap ringan.
“Dia tanya apa aku tidak khawatir.”
Sorot Alden sedikit berubah. Lebih fokus.
“Jawabanmu?”
Belvina sempat terdiam sepersekian detik. Tatapannya bergeser ke depan, seolah memikirkan sesuatu. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kalau bisa diambil…” Ia berhenti sebentar. “berarti memang tidak pernah dimiliki.”
Alden tidak langsung bicara. Tatapannya tidak lepas. Seolah sedang memastikan, kalimat itu… ditujukan untuk siapa.
“Maksudmu?”
Nada suaranya tetap datar. Tapi sekarang, lebih dalam.
Belvina akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Ia tidak menghindar. Tidak juga menantang. Hanya… lurus.
“Maksud apa?”
Alden menyipitkan mata sedikit.
“Kau bicara soal siapa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi ini bukan soal jawaban.
Ini soal, apakah Belvina akan menghindar, atau justru menekan balik.
Belvina menatapnya beberapa detik.
“Menurutmu?”
...✨“Ketenangan bukan kelemahan, itu batas yang tidak bisa ditembus.”✨...
.
To be continued
Belvina kena jebakannya Seraphina.
Semoga Belvina dan bayi dalam kandungannya selamat
Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.
Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.
Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.
Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.
Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.
Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.
Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.
Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.
Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.
Dimas takut Seraphina berbuat nekat.
Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.
Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.
Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.
Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.
Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.
Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.
Seraphina menahan amarah.
Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.
Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.
Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.
Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.
Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.