Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN DARI BARAT
Hutan Larangan di bagian utara biasanya diselimuti oleh kabut tebal dan raungan monster-monster ganas yang menakutkan. Namun hari itu, seorang petualang veteran dari Kerajaan Granvalia sedang menjalankan misi pengumpulan bahan langka di perbatasan hutan.
Saat menyibak semak-semak beracun di atas bukit batu, mata petualang itu membelalak lebar. Ia mengucek matanya berulang kali, merasa tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Di tengah-tengah hutan yang terkenal mematikan itu, berdiri sebuah kerajaan yang sangat megah. Dinding benteng marmer putih berlapis emas menjulang tinggi menembus awan, memancarkan aura sihir murni yang amat dahsyat.
"T-Tunggu... apa-apaan itu?!" bisik sang petualang dengan tubuh gemetar. "Sejak kapan ada kerajaan berdiri di tengah Hutan Larangan?!"
Tanpa membuang waktu, petualang itu berlari kencang kembali ke kota perbatasan. Dalam hitungan jam, rumor tentang "Kerajaan Misterius di Hutan Monster" menyebar cepat di Guild Petualang, hingga akhirnya sampai ke telinga para dewa dan menteri di istana Kerajaan Granvalia kerajaan manusia yang menguasai wilayah barat.
Di ruang rapat utama Kerajaan Granvalia, suasana berlangsung sangat tegang. Puluhan menteri, jenderal militer, dan penyihir agung sedang berdebat sengit di hadapan raja mereka.
"Penyusup! Itu pasti tindakan provokasi dari pihak asing!" teriak salah satu jenderal sambil memukul meja kayu tebal. "Bagaimana bisa ada pemukiman raksasa berdiri di wilayah utara tanpa sepengetahuan kita?!"
"Berdasarkan laporan petualang dan pengintai sihir kita, struktur bangunan itu memancarkan aura sihir yang sangat masif," pungkasi Penyihir Agung Granvalia dengan wajah serius. "Jika kita biarkan negara misterius ini berkembang di Hutan Larangan, mereka bisa menjadi ancaman eksistensial bagi Kerajaan Granvalia!"
Raja Granvalia menggebuk sandaran takhtanya. "Kita tidak boleh membiarkan ancaman yang tak terduga tumbuh di perbatasan kita! Kerahkan sepuluh ribu prajurit garis depan dan barisan penyihir tempur! Hancurkan kerajaan misterius itu sebelum mereka sempat menyerang kita!"
"Siap, Baginda!"
Sementara itu di Kerajaan Solaria, suasana justru berbanding terbalik. Alan sedang duduk santai di balkon istana, menikmati teh hangat yang disajikan langsung oleh Yumi. Di sekitarnya, beberapa pelayan wanita sibuk merawat tanaman bunga dengan senyuman hangat.
"Teh buatanmu memang selalu yang terbaik, Yumi," puji Alan sambil menyesap minumannya.
Yumi membungkuk anggun, wajahnya sedikit merona bahagia. "Merupakan kebanggaan tertinggi bagi Yumi bisa melayani Tuan Alan."
Namun, keheningan menyenangkan itu tidak bertahan lama.
DUAAAMMM!
Langit biru di atas Solaria mendadak berubah menjadi merah kehitaman. Dari kejauhan di luar perbatasan hutan, sepuluh ribu pasukan militer Granvalia telah mengepung wilayah tersebut. Ratusan penyihir tempur Granvalia berdiri di barisan belakang, menyatukan kekuatan sihir mereka untuk membentuk lingkaran sihir raksasa di udara.
[Peringatan! Deteksi serangan sihir berskala besar dari pihak luar,] suara Melodina mendadak bergema di kepala Alan.
Alan terlonjak dari duduknya. "Sihir dari luar? Siapa yang—"
Belum sempat Alan menyelesaikan kalimatnya, lingkaran sihir raksasa milik Granvalia menembakkan ribuan tombak api dan gelombang ledakan dahsyat ke arah Kerajaan Solaria.
BOOOOOOMMM!
Karena Alan belum pernah mengaktifkan atau membayangkan sistem pertahanan aktif (barrier) untuk merespons serangan fisik berskala besar, struktur luar istana langsung dihantam ledakan hebat. Debu membubung tinggi, batu-batu marmer hancur berkeping-keping, dan dinding benteng megah Solaria meriam runtuh hingga rata dengan tanah dalam sekejap.
Di tengah kepulan asap tebal dan getaran gempa, Yumi dengan cepat mengarahkan seribu pelayan untuk berlindung di area bawah tanah dan balik reruntuhan.
Ketika debu menyengat mulai menipis, Alan berdiri mematung di tengah puing-puing istana. Makanan mewah, balkon indah, dan bangunan megah yang baru saja ia nikmati kini telah berubah menjadi reruntuhan batu yang hancur berantakan.
Alan berlutut di atas ubin batu yang retak. matanya menatap kosong ke arah kehancuran di sekelilingnya. Rasa syok dan sedih merayap di dadanya.
"Kerajaanku... tempat tinggalku yang tenang... kenapa hancur begini?" gumam Alan dengan suara gemetar.
Di luar batas hutan, komandan pasukan Granvalia menatap kepulan asap dari jauh melalui teropong sihirnya. Melihat benteng megah itu telah runtuh total menjadi puing-puing, ia tersenyum puas.
"Lapor! Sasaran telah diratakan dengan tanah! Tidak ada tanda-tanda prajurit atau penjaga musuh yang bertahan!" teriak sang komandan. "Kita kembali ke Granvalia!"
Tanpa memeriksa lebih teliti, sepuluh ribu pasukan Granvalia berbalik arah dan bergerak mundur, merasa sangat lega karena telah berhasil menumpas ancaman di utara.
Di tengah puing-puing Solaria yang hampa, Alan masih terduduk lemas. Yumi dan beberapa pelayan mulai keluar dari tempat persembunyian mereka, menatap Alan dengan rasa khawatir yang mendalam.
[Tuan Alan,] suara Melodina terdengar lembut di samping telinganya.
"Melodina..." suara Alan terdengar parau. "Semuanya hancur..."
[Harap ingat kembali siapa Anda di wilayah ini, Tuan,] potong Melodina dengan tegas namun penuh kehangatan. [Kemewahan dan bentuk istana ini bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, melainkan terlahir murni dari imajinasi Anda. Di dalam Domain Absolut, kehancuran fisik Hanyalah ilusi sementara selama kehendak Anda masih ada.]
Alan mendongak pelan. "Kehendakku... ?"
[Benar. Anda hanya perlu membayangkan Kerajaan Solaria berdiri utuh seperti semula. Bayangkan kedamaian dan keagungannya kembali.]
Alan menelan ludah. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengusap debu di wajahnya, lalu menghela napas panjang. Bayangan tentang istana megah, karpet merah tebal, air mancur kristal, dan suasana hangat bersama para pelayan kembali disusun secara utuh di dalam pikirannya.
"Kembalilah..." bisik Alan tegas. "Solaria... utuh seperti semula!"
WUSHHH!
Seketika itu juga, sebuah keajaiban besar terjadi.
Pusaran cahaya emas raksasa meledak dari tubuh Alan, membumbung tinggi hingga menembus awan dan menerangi seluruh Hutan Larangan. Batu-batu marmer yang tadinya hancur berkeping-keping mendadak melayang di udara. Puing-puing benteng menyatu kembali secara otomatis, pilar-pilar emas berdiri tegak tanpa bekas goresan sedikit pun, dan menara-menara megah kembali menjulang tinggi dalam hitungan detik.
Hanya dalam satu helaan napas, kehancuran total itu sirna. Kerajaan Solaria kembali berdiri tegak, memancarkan cahaya keagungan yang jauh lebih indah dan kokoh dari sebelumnya.
Yumi dan seribu pelayan yang menyaksikan peristiwa tersebut dari jarak dekat benar-benar terpana. Mata mereka membelalak, mulut mereka menganga tak percaya melihat tempat tinggal mereka yang hancur kini pulih sempurna hanya dengan kehendak kata-kata dari Alan.
Yumi langsung berlari mendekati Alan dan jatuh berlutut di hadapannya. Airmata keharuan mengalir di pipinya yang mulus.
"T-Tuan Alan..." bisik Yumi dengan suara bergetar penuh rasa takjub. "Kekuatan ini... Anda benar-benar Penguasa Agung yang tak tertandingi..."
Di belakang Yumi, seribu pelayan wanita ikut menundukkan kepala mereka rapat-rapat ke lantai marmer. Rasa kagum, hormat, dan kesetiaan mereka kepada Alan melonjak drastis hingga ke tingkat yang tak terbatas. Bagi mereka, Alan bukan lagi sekadar majikan, melainkan sosok dewa mutlak yang sanggup menciptakan dan memulihkan dunia sesuai keinginannya.
Alan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tersenyum canggung menatap Yumi dan para pelayannya.
"Ah... syukurlah bisa balik lagi," gumam Alan lega. "Lain kali aku harus minta Melodina pasang pelindung biar nggak ada yang ganggu tidur siangku lagi."
Sementara itu, di aula istana Kerajaan Granvalia, berita kemenangan telah sampai.
"Baginda Raja! Pasukan kita telah kembali!" lapor seorang menteri dengan wajah gembira. "Kerajaan misterius di Hutan Larangan telah hancur total! Tidak ada prajurit atau penjaga yang tersisa di sana!"
Raja Granvalia tertawa lega sambil menyandarkan tubuhnya di takhta. "Bagus! Dengan begitu, perbatasan barat kita kembali aman. Kerajaan kecil sok tahu itu sudah lenyap sebelum sempat menjadi ancaman!"
Seluruh dewa dan menteri bersorak gembira, merayakan "kemenangan" mereka. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di utara, Kerajaan Solaria bukan hanya masih berdiri utuh, tetapi kini siap menghadapi siapa pun yang berani mengganggu kedamaian Penguasa Absolut mereka.