⚠️ PERINGATAN
Jika pembaca hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab, di hitung sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye: 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Atau Baca di judul Bab contoh:
[POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]
[POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebenc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKTI YANG DIBAYAR ORANG LAIN [POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]
# BAB 22 — BUKTI YANG DIBAYAR ORANG LAIN
Verifikasi klaim Han Lei sudah memakan waktu dua bulan tanpa kemajuan berarti.
Fang Ye tahu ini karena ia bertanya pada Su Yan setiap minggu, dan setiap minggu jawabannya sama: utusan sekte masih "mengumpulkan informasi," proses yang entah kenapa selalu butuh sedikit lebih lama lagi. Ia mulai curiga proses itu sengaja diperlambat oleh seseorang yang tidak ingin kebenarannya terungkap secepat yang seharusnya—dan ia punya dugaan kuat siapa yang berkepentingan dengan itu.
Ia tidak bisa membuktikan dugaannya hanya dengan menunggu. Jadi, untuk pertama kalinya sejak ia menjadi murid sekte, ia memutuskan mengambil tindakan tanpa menunggu izin siapa pun.
---
Ia meminta cuti singkat dengan alasan mengunjungi "kerabat jauh"—kebohongan yang terasa aneh di lidahnya, mengingat ia tidak punya kerabat yang diketahui siapa pun, tapi tidak seorang pun cukup peduli untuk mempertanyakannya lebih jauh.
Perjalanan ke Kabupaten Fengyang, wilayah tempat Han Lei dan keluarganya dulu tinggal, memakan waktu empat hari. Ia menyamar sebagai asisten pedagang keliling, pakaian sederhana menggantikan seragam sektenya, pedang disembunyikan di antara barang dagangan palsu yang ia bawa sebagai kedok.
Kantor Hakim Tong, pejabat yang bertanggung jawab atas kenaikan pajak tiga kali lipat yang menghancurkan desa Han Lei, berdiri megah di tengah kota, jauh lebih megah daripada yang pantas dimiliki seorang hakim kabupaten kecil dari gaji resminya.
---
Ia menghabiskan tiga hari pertama hanya mengamati, mendengarkan percakapan di kedai teh, di pasar, di mana pun penduduk lokal berbicara tanpa curiga terhadap "asisten pedagang" yang tampak tidak berbahaya.
Yang ia dengar mengkonfirmasi sebagian dugaannya, tapi juga mempersulitnya.
"Pajak naik karena ancaman perompak sungai," seorang pedagang berkata pada temannya. "Hakim Tong bilang butuh dana ekstra untuk membayar tentara bayaran menjaga jalur sungai kita."
"Tentara bayaran itu tidak pernah kulihat sekali pun," yang lain menjawab, mendengus. "Yang kulihat cuma rumah baru Hakim Tong yang lebih besar dari kuil setempat."
Jadi bukan pemerasan murni tanpa alasan sama sekali—ada ancaman perompak sungai yang nyata, alasan yang digunakan untuk membenarkan kenaikan pajak. Tapi berdasarkan yang ia dengar, sebagian besar dana itu tidak pernah benar-benar sampai pada tujuan yang diklaim.
---
Pada hari keempat, ia mendekati seorang juru tulis tua di kantor pencatatan pajak, seorang pria bernama Lu Cheng yang, menurut gosip di kedai teh, sudah bekerja untuk tiga hakim berbeda selama tiga puluh tahun dan dikenal sebagai orang yang "tahu segalanya tapi tidak pernah bicara."
"Aku dengar kau menyimpan catatan yang sangat rapi," Fang Ye berkata, duduk di seberangnya di kedai teh kecil tempat Lu Cheng makan siang sendirian setiap hari.
"Aku juga dengar orang asing yang bertanya terlalu banyak biasanya berakhir buruk di kabupaten ini," Lu Cheng menjawab, tidak mengangkat pandangan dari mangkuknya.
"Aku bukan mencari masalah untukmu," Fang Ye berkata jujur. "Aku mencari kebenaran tentang ke mana uang pajak tiga tahun terakhir sebenarnya pergi. Seorang pria bernama Han Lei kehilangan segalanya karena kenaikan pajak itu—istrinya, tanahnya, hampir anak-anaknya juga."
Lu Cheng akhirnya mengangkat pandangan, matanya menilai Fang Ye lama sebelum berkata apa pun lagi.
"Han Lei," ia mengulang pelan. "Aku ingat nama itu. Petani kecil di sisi timur, benar?"
---
"Kakakku juga kehilangan tanahnya tahun yang sama," Lu Cheng akhirnya berkata, suaranya lebih pelan, lebih personal daripada sebelumnya. "Ia tidak seberuntung mungkin bisa lari seperti Han Lei. Ia mati kelaparan musim dingin berikutnya."
Fang Ye tidak mengatakan apa pun, membiarkan keheningan memberi ruang bagi Lu Cheng untuk memutuskan sendiri seberapa jauh ia bersedia bicara.
"Aku sudah menyimpan salinan catatan asli selama tiga tahun," Lu Cheng akhirnya berkata. "Bukan untuk siapa pun. Hanya karena aku tidak bisa membuang bukti bahwa apa yang terjadi pada kakakku bukan kecelakaan alam, tapi keputusan seseorang yang duduk nyaman di rumah besarnya sekarang."
"Bisakah aku melihatnya?"
Lu Cheng menatapnya lama lagi, mempertimbangkan sesuatu yang jelas lebih berat daripada sekadar kepercayaan pada orang asing.
"Aku akan memberikannya padamu," ia akhirnya berkata. "Tapi kau harus pergi dari kabupaten ini secepat mungkin setelah menerimanya, dan tidak pernah menyebut namaku pada siapa pun."
---
Catatan yang diberikan Lu Cheng malam itu, diselipkan di antara karung beras di gudang kosong yang mereka sepakati sebagai tempat pertemuan, menunjukkan lebih dari yang Fang Ye harapkan: pajak yang dikumpulkan memang tiga kali lipat dari yang dilaporkan ke pemerintah provinsi, tapi hanya sepertiga dari kelebihan itu yang benar-benar digunakan untuk keamanan sungai. Sisanya mengalir ke rekening pribadi yang jelas terhubung dengan keluarga Hakim Tong.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ada catatan surat-menyurat yang menunjukkan Hakim Tong melapor secara berkala kepada seseorang di ibu kota provinsi—seorang pejabat yang jauh lebih tinggi kedudukannya, yang tampaknya menerima bagiannya sendiri dari uang yang sama, dan yang kemungkinan besar juga menjadi alasan mengapa "verifikasi" yang diminta sekte berjalan begitu lambat.
Ini bukan lagi sekadar satu hakim korup di satu kabupaten kecil.
---
Fang Ye meninggalkan Fengyang keesokan paginya sebelum fajar, catatan tersembunyi di antara barang dagangannya, mengikuti jalur yang berbeda dari yang ia gunakan untuk datang, berjaga-jaga terhadap kemungkinan ia diikuti.
Ia tiba kembali di sekte lima hari kemudian, dengan bukti yang cukup untuk mengungkap korupsi yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia duga—tapi juga dengan berat di dadanya yang tidak bisa ia abaikan, mengingat wajah Lu Cheng yang memutuskan mempercayainya karena kakaknya sendiri, dan risiko yang diambil pria itu untuknya.
Ia sudah berjanji tidak akan menyebut nama Lu Cheng pada siapa pun. Tapi janji itu tidak menjamin keamanannya sepenuhnya—catatan yang hilang dari arsip resmi, cepat atau lambat, akan disadari, dan tidak akan sulit bagi seseorang yang cukup curiga untuk mempersempit siapa yang punya akses dan alasan untuk mengambilnya.
---
Sepuluh hari setelah kepulangannya, seorang pedagang yang sering bepergian ke Fengyang singgah di sekte, membawa kabar yang membuat perut Fang Ye terasa dingin.
"Ada juru tulis tua di kantor pencatatan Fengyang yang ditangkap minggu lalu," pedagang itu bercerita pada siapa pun yang mau mendengarkan, tidak menyadari betapa dekat ceritanya menyentuh seseorang di antara pendengarnya. "Dituduh mencuri catatan resmi. Dipukuli cukup parah sebelum dipenjara, kudengar. Aneh, katanya ia sudah bekerja dengan jujur selama tiga puluh tahun."
Fang Ye berdiri diam, tangannya mengepal di sisi tubuhnya, mendengarkan detail yang tidak seharusnya ia dengar dengan cara sesantai ini.
---
Ia tahu, tanpa keraguan, bahwa "pencurian" yang dituduhkan itu adalah catatan yang sama yang sekarang tersembunyi di kamarnya, dan bahwa Lu Cheng membayar harga itu karena percaya pada seorang asing yang mengaku sedang mencari kebenaran demi Han Lei.
Ia punya bukti sekarang—cukup untuk mungkin menjatuhkan Hakim Tong, mungkin bahkan menyentuh pejabat yang lebih tinggi di baliknya. Tapi bukti itu datang dengan harga yang sudah dibayar seseorang yang tidak pernah ia lindungi dengan cukup baik, meski ia sudah berjanji akan melakukannya.
Ia duduk sendirian malam itu, catatan Lu Cheng terbentang di depannya, menyadari bahwa keputusan berikutnya—apa yang akan ia lakukan dengan bukti ini, kapan, kepada siapa—bukan lagi sekadar tentang menemukan kebenaran atau menegakkan keadilan secara abstrak.
Itu tentang apakah pengorbanan yang sudah dibayar Lu Cheng akan berarti sesuatu, atau hanya menjadi kerugian lain yang tidak pernah benar-benar diperhitungkan dalam perhitungannya sendiri tentang benar dan salah.
Ia tidak tahu jawabannya malam itu. Yang ia tahu hanya bahwa ia tidak bisa lagi memperlakukan pencarian kebenaran sebagai sesuatu yang hanya menyangkut dirinya sendiri dan keyakinannya—setiap langkah yang ia ambil sekarang membawa nama orang lain yang mungkin harus menanggung akibatnya, entah mereka setuju menanggungnya atau tidak.