Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Teen School/College / Romantis
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepasang Mata Yang Terbakar 21.

Tiga hari kemudian...

Suasa ruang kelas sembilan C pagi ini mendadak berubah bagi Livy. Juga dengan seantero kelas termasuk Galang.

Wali kelas masuk dengan langkah tegas, buat murid yang lagi beraktivitas random langsung terlonjak ke meja belajar masing-masing.

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid pindahan dari luar negeri. Silakan perkenalkan dirimu, Nak." Bu Ningsih mengetuk meja dengan penggaris kayu.

Livy yang awalnya sibuk mencoret-coret pinggiran buku tulisnya dengan nama 'Galang'—lengkap dengan tanda silang besar di atasnya sebagai bentuk pelampiasan dendam—langsung mendongak. Seketika jantungnya langsung mencelos.

"Halo semuanya. Kenalin, nama saya Rayhan Setiawan. Panggil aja Rayhan. Semoga kita bisa berteman baik."

Kelas langsung riuh, terutama barisan anak perempuan di pojok kanan. Namun, fokus Livy terenggut sepenuhnya saat mata Rayhan menjelajah kelas dan berhenti tepat di matanya. Senyum Rayhan melebar. Sebelah tangannya terangkat, melambai santai khusus ke arah Livy.

"Rayhan, kamu bisa duduk di kursi sebelah Livy. Livy, tolong angkat tanganmu, untuk Fanya tolong kamu pindah duduk di sebelah Nindy." perintah Bu Ningsih.

Fanya mengangguk menuruti permintaan wali kelas nya, sedangkan Livy mengangkat tangan dengan gerakan kaku. Di saat yang bersamaam, ia bisa merasakan sebuah tatapan tajam menusuk tengkuknya dari arah bangku depan.

Tatapan yang begitu pekat, dingin, dan menuntut. Livy tahu persis siapa pemilik mata elang itu. Ya, itu adalah Galang.

Sekarang, takdir justru mengirimkan 'interupsi' baru tepat di sebelah bangkunya.

"Hai, Liv. Saya sudah tepati janji saya, kita beneran satu sekolah lagi ya" bisik Rayhan sambil menggeser kursinya, lalu meletakkan tas ransel hitamnya di meja.

Livy mengerjapkan mata, mencoba menguasai gemuruh di dadanya. "Iya Ray.. Tapi, kok bisa pindah ke sini? Katanya papah kamu mau dinas di Jepang lagi sampe kamu lulus?"

Rayhan terkekeh pelan, menopang dagunya dengan satu tangan, menghadap sepenuhnya ke arah Livy. Jarak mereka begitu dekat. "Papa saya emang kesana. Saya milih tinggal disini sama mama. Lagian, saya masih kangen sama kamu" Rayhan mengacak rambut depan Livy dengan gemas.

Gerakan itu spontan membuat seisi kelas hening karena Bu Ningsih mulai menulis di papan tulis yang menjadi saksi kedekatan mereka.

Dari sudut matanya, Livy tidak sengaja melihat Galang menggeser kursinya ke depan dengan kasar hingga menimbulkan suara decitan nyaring yang memotong penjelasan Bu Ningsih.

"Galang? Ada masalah?" tanya Bu Ningsih tanpa menoleh.

"Enggak, Bu. Kursinya kurang nyaman," jawab Galang datar. Suaranya berat, serak, dan menyimpan nada tidak suka yang sangat kentara.

Livy sengaja tidak menoleh lebih lanjut ke arah Galang. Ego cegil-nya yang terluka selama ini mendadak bangkit, memberikan rasa puas yang aneh saat menyadari Galang terusik.

"Masih inget kan dulu kamu nangis di kejer anjing terus jatuh dari pohon mangga di belakang rumah saya?" Rayhan memulai obrolan lagi dengan suara setengah berbisik, mengabaikan ketegangan yang merayap di atmosfer kelas.

Livy tertawa kecil, sengaja mengeraskan suaranya sedikit agar terdengar sampai ke depan. "Ih, jangan diingetin! Itu kan gara-gara kamu yang godain anjingnya! Ya mana tau anjing itu ngejer balik. Tapi makasih banyak loh ya udah lindungi saya"

"Walau kaki saya terluka-luka, tapi saya gendong kamu balik ke rumah, kan? Sampe kaki saya makin lecet semua gara-gara kamu keberatan karbo," balas Rayhan sambil mengerling jenaka.

"Rayhan ih! Saya gak gendut ya dulu! Kamu tuh sok jadi pahlawan, kamu gendong saya tapi sambil nangis gara-gara digigit anjing haha" Livy mencubit lengan Rayhan pelan sembari tertawa.

Rayhan mengaduh pura-pura sakit, memegangi lengannya sambil terus menatap Livy dengan binar jenaka yang tulus. Tatapan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Livy dapatkan dari laki-laki mana pun, terutama dari Galang yang selalu menatapnya penuh kejengkelan atau kekosongan.

Tepat di baris depan, Galang mencengkeram pulpen milik temannya hingga patah menjadi dua bagian. Plastik pulpen itu retak, menumpahkan tinta hitam ke telapak tangannya, namun Galang tidak peduli. Matanya yang biasanya sedingin es kini menyala, mengunci lurus pada pundak Livy dan kedekatan intim ragawi antara cewek itu dengan si anak baru.

Ada rasa tidak terima yang membakar dada Galang. Rasa kehilangan yang masif yang baru ia sadari belakangan ini.

Biasanya, di jam-jam seperti ini, Livy akan melempar kertas kecil berisi gombalan norak ke mejanya. Biasanya, Livy akan bercicit setiap lima menit hanya untuk memastikan Galang tidak tertidur. Biasanya, atensi Livy adalah miliknya mutlak, sekonyol apa pun cara cewek itu mendapatkannya.

Namun sekarang, Livy bahkan tidak sudi meliriknya. Cewek itu kembali pamer canda tawa yang lepas—tawa yang belum pernah Galang dengar selama mereka saling mengenal—untuk cowok lain.

Saat bel istirahat berbunyi, Rayhan pamit ke toilet sebentar setelah dibisiki rute oleh Livy.

Begitu tubuh Rayhan menghilang di balik pintu kelas, Livy baru saja hendak berdiri untuk menyusul temannya ke kantin ketika sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

Livy tersentak. Ia mendongak dan mendapati Galang sudah berdiri di depannya.

Wajah cowok itu mengeras, rahangnya mengetat, dan napasnya memburu pendek.

"Lepas, Lang," kata Livy, suaranya sedatar mungkin, menyembunyikan detak jantungnya yang menggila. Bukan karena cinta, melainkan karena sisa-sisa trauma penolakan Galang.

"Siapa dia?" tanya Galang, suaranya rendah, sarat akan tuntutan kepemilikan yang egois.

Livy tersenyum sinis, menatap langsung ke manik mata Galang tanpa ketakutan yang biasa ia miliki dulu. "Bukan urusan kamu. Bukannya kamu bilang kamu gak peduli hidup saya mau hancur seperti apa, kehadiran saya dimata kamu cuma setumpuk sampah? Sekarang kenapa nanya?"

Cengkeraman Galang di pergelangan tangan Livy sedikit melonggar, bukan karena melepas, melainkan karena ia terkejut dengan nada dingin Livy. "Vi, jangan kekanak-kanakan. Kamu sengaja kan akrab sama cowok-cowok belakangan ini cuma buat mancing saya?"

Mendengar itu, Livy tertawa hambar. Sifat cegil-nya yang dulu mungkin akan luluh, tapi tidak hari ini. "Mancing kamu? Kamu terlalu percaya diri, Galang. Dunia saya gak berputar di kamu lagi. Kau masih ingat malam itu? Kamu minta saya jauh-jauh dari hidup kamu, Ini yang kamu mau, saya turutin keinginan kamu" Kata Livy dengan nada lembut namun dingin, gadis itu melangkah maju dan akhirnya meninggalkan Galang.

Galang terpaku. Untuk pertama kalinya, ada ketakutan nyata yang menjalar di hati Galang—ketakutan bahwa ia benar-benar telah kehilangan cewek gila yang dulu sangat memujanya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Friska Zega
👌
penggemar_Uangkecil?!
👍
aku
kapol
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Akai
semangat kak membuat novel /Smile/👍
kucing kawai
lebih baik dengan kata "aku kamu kalo gk pakai lo gue" aja lebih keren thor
kucing kawai: siap thor, semangat terus ya thor 🫶
total 3 replies
kucing kawai
sedikit saran ya thor jangan pakai bahasa saya terlalu formal thor, baguss karya mu thor
kucing kawai: semangat ya author 🫶
total 2 replies
Queen Aisyah
astaga galang..🤣
Queen Aisyah
good
aku
diskon brp jd nya Lang?? 🤣🤣
Hesty
semnget💪💪💪
Hesty
bgus
Hesty
semanget💪
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!