Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rin mabuk
Rin menoleh kepada Takumi. Bibirnya membentuk senyum kecil yang entah kenapa terlihat tidak pada tempatnya.
"Keluar sebentar."
"Ke mana?"
"Ketemu Kiba."
Rin terkekeh, dan Takumi mengernyitkan dahi. "Apa yang lucu?"
Rin tidak menjawab. Ia malah terkekeh lagi, kemudian menarik-narik ujung kemeja flanelnya yang masih dikenakan setengah terbuka.
"Kenapa dari tadi aku keGerahan..."
Takumi memperhatikan wajahnya. Pipi Rin terlihat memerah, dan tatapannya sedikit berbeda—tidak benar-benar kosong, tetapi seperti sulit berkonsentrasi pada satu hal.
"Kau kenapa?"
Rin mengangkat bahu. "Tadi ketemu Kiba."
"Iya aku tau."
Rin tersenyum lagi. "udah tau kau masih nanya..." ia terkekeh tanpa alasan yang jelas. "tau gak ,, Dia percaya alasan yang kubuat."
"Alasan tentang apa?"
Rin menatap Takumi beberapa detik. Kemudian jarinya terangkat dan menunjuk tepat ke dada pria itu.
"ya ,,Kau..takumi"
Takumi menatap jarinya. "Aku?"
Rin kembali terkekeh, lalu tangannya turun mengusap keningnya sendiri dengan wajah meringis kecil. "Sakit..."
Takumi langsung memperhatikan keningnya. "Masih sakit?"
Rin mengangguk pelan, menyandarkan tubuhnya ke sofa, dan memejamkan mata. Takumi mengambil napas panjang.
"Rin, jangan tidur dulu. Kita belum makan."
"Emm..." Rin tidak membuka mata. "Tolong kipasi aku, Takumi."
"Apa?"
"Aku kegerahan."
"Aku tidak mau."
Rin membuka satu mata, tatapannya menyipit. "Dasar..."
Tanpa banyak bicara, Rin melepas kemeja flanelnya, menyisakan tank top putih yang dipakainya di dalam. Takumi langsung memalingkan pandangan, lalu Rin mengambil ponselnya dari meja dan membuka daftar kontak.
Takumi melirik. "Untuk apa kau menghubungi Kiba?"
Rin tidak menjawab, malah menekan tombol panggilan dan menyalakan pengeras suara. Dering pertama langsung diangkat.
"Ya, Rin?" suara Kiba terdengar dari ponsel.
Rin langsung tersenyum. "Kibaaa..."
Takumi menatapnya tajam.
"Tolong kipasi aku."
"Hah?"
"Aku -."
Takumi langsung mengambil ponsel dari tangan Rin. "Sudah," katanya, lalu mematikan panggilan.
"Heiii!" protes Rin kesal.
Takumi mendekat dan menatap wajah Rin beberapa detik. Ada aroma asing yang samar dari napas gadis itu. Takumi mengernyit.
"Kau minum sake?"
Rin menggeleng. "Enggak kok."
"Jangan bohong."
"Hanya minuman kaleng," Rin mengerutkan hidung. "Tapi rasanya nggak enak."
Takumi terdiam, lalu baru mengerti. "Jadi kau menghabiskan satu kaleng itu?"
Rin mengangguk polos. Takumi menghela napas. "Pantas saja."
Ia berjalan menuju kamarnya dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa obat anti-mabuk serta segelas air. Ia menyodorkannya kepada Rin.
"Minum dulu."
Rin hanya bersandar sambil menatap obat dan air di tangan Takumi. "Nanti..."
"Rin."
"Kau menyebalkan, Takumi."
"Aku?"
"Iya."
Rin memejamkan mata sebentar. "Kiba... Kyo... kalian punya rahasia," ia tersenyum kecil. "Yang sudah aku tahu..."
Takumi tidak menjawab. Rin kemudian bangkit, memungut kemeja flanel dan ponselnya, lalu berjalan menuju tangga tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Takumi memperhatikannya. "Obatnya diminum."
Rin mengangkat tangan tanpa menoleh. "Ya..."
***
Sesampainya di kamar, Rin berjalan menuju cermin dan menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat memerah. Ia menyentuh pipinya.
"Panas..."
Rin meletakkan kemeja flanel di lantai, menaruh ponselnya di atas kasur, lalu membuka jendela kamarnya lebar-lebar hingga angin malam langsung masuk menerpa wajah. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit, sampai beberapa detik kemudian matanya perlahan terpejam.
Di lantai bawah, Takumi masih memegang obat dan segelas air yang tadi hendak diberikan kepada Rin. Tiba-tiba—
Ting tong.
Bel rumah berbunyi. Takumi menoleh, dan tidak lama kemudian suara Kiba terdengar dari luar.
"ini aku, Takumi"
Takumi membukakan pintu, dan Kiba langsung melangkah masuk sambil membawa sebungkus plastik. Mereka duduk di sofa ruang tengah, di mana obat anti-mabuk dan gelas berisi air masih utuh di atas meja. Takumi membuka pintu samping untuk membiarkan udara malam masuk, lalu menyalakan rokok. Kiba ikut mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya.
"Tadi Rin ke sini?" tanya Kiba.
Takumi tidak langsung menjawab, hanya mengisap rokoknya pelan. Kiba melirik obat di atas meja.
"Itu untuk dia?"
Takumi mengangguk kecil.
"Tadi dia salah mengambil minuman. Dia malah menghabiskan satu kaleng sake. Kurasa sedikit mabuk."
Takumi mengendus pelan. "Pantesan."
Kiba menatapnya sebentar, lalu pandangannya beralih ke arah dapur. "Oh iya. Wastafelmu rusak? Tukangnya cepat sekali memperbaikinya."
Takumi ikut menoleh ke arah dapur. "Ga rusak kok."
Kiba mengernyit " Tadi dia pulang buru-buru karena kau ngeluh wastafel bocor !!"
Tiba tiba Takumi teringat ucapan rin tadi :
"tau gak ,, Dia percaya alasan yang kubuat."
"Ah bukan wastafel dapur ,, yang lain "
Kiba hanya mengangguk dan tidak membahasnya lagi. Takumi mengambil salah satu kaleng minuman dari kantong yang dibawa Kiba, membuka tutupnya, dan keduanya kembali menonton televisi.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan sebelum Kiba membuka percakapan.
"Kau sudah menerima undangan Makoto?"
"Hmm. Sudah."
"Kau akan datang?"
Takumi mengangkat bahu. "Entahlah. Sepertinya tidak." Ia mengisap rokoknya.
"Aku sudah cukup berurusan dengannya."
Kiba terkekeh. "Kau dulu juga mengatakan begitu, tapi kau terus saja meladeni dia."
Takumi menghela napas. "Aku hanya tidak mau dicap sebagai perebut istri orang."
Kiba terkekeh lebih keras, namun Takumi hanya diam menatap layar televisi tempat pertandingan sepak bola masih berlangsung. Beberapa menit kemudian, Takumi tiba-tiba bersuara.
"Kapan Sakura sampai ke Ishikawa?"
Kiba yang sedang minum langsung menoleh, tatapannya berubah sesaat.
"Kenapa?"
"Dia melihatmu tadi."
Kiba terdiam sejenak. "Lalu kau bilang apa?"
Takumi hanya mengangkat bahu, kembali menatap layar televisi. "Aku tidak ikut campur urusan orang lain. biar dia mencari tahu sendiri."
Kiba terkekeh. "Baiklah. Oke, oke. Aku percaya padamu."
Takumi mengisap rokoknya pelan.
"Tapi jangan Rin, Kiba."
Kiba menoleh dengan alis terangkat. "Eh?"
"Cari gadis lain," Takumi akhirnya menatapnya langsung. "Kali ini jangan dia."
Kiba menyipitkan mata. Bibirnya terangkat sedikit sebelum ia terkekeh. "Sejak kapan kau mengurusi hal seperti itu?"
Takumi tidak menjawab.
"Kau bercanda, kan?"
Takumi tetap diam, membuat Kiba tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Bukan berarti karena kau menyewa rumah neneknya, malah dapat bonus cucunya juga, kan?"
Takumi meliriknya tajam tanpa memberikan jawaban. Kiba akhirnya menghabiskan sisa minumannya, Kiba bangkit berdiri.
"Baiklah. Waktunya aku pulang."
Setelah mengantar Kiba keluar, Takumi kembali masuk ke dalam rumah. Ia membereskan kaleng minuman dan sisa rokok di meja, sebelum pandangannya jatuh pada obat anti-mabuk dan segelas air yang sejak tadi tidak tersentuh. Takumi mengambil keduanya, lalu menaiki tangga menuju kamar Rin.
Ia mengetuk pintu dua kali. Tidak ada jawaban. Takumi lantas membuka pintu perlahan.
Rin sudah tertidur lelap. Kamarnya tampak sedikit berantakan—beberapa pakaian lama tergeletak di lantai, tas tersimpan di sudut, dan kabel pengisi daya berserakan di samping kasur. Jendela kamar masih terbuka lebar, membiarkan angin malam berembus membuat tirai bergerak pelan.
Takumi berjalan mendekat, meletakkan obat di atas nakas, lalu menutup rapat jendela tersebut. Rin tampak tidur sangat pulas.
"Aku taruh saja obatnya di sini," gumam Takumi pelan.
Ia berbalik dan hendak melangkah keluar kamar. Namun, sebuah bisikan pelan menghentikannya.
"Aku tahu..."
Langkah Takumi terhenti. Ia menoleh ke arah kasur. Rin masih memejamkan mata, keningnya sedikit berkerut dalam balutan mimpi.
"Kau bohong..."
Takumi diam terpaku, memperhatikan wajah gadis itu. Rin mengendus kecil, bergerak gelisah, hingga sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
"Tapi..." suara itu semakin pelan. "...aku menyukaimu..."
Takumi membeku di tempat. Tatapannya tertuju lekat pada Rin. Menyukai siapa? pertanyaan itu langsung menghantam kepalanya.
Ia berdiri cukup lama, seolah menunggu kelanjutan kalimat tersebut. Namun, Rin tidak mengatakan apa-apa lagi. Napasnya kembali teratur, tenggelam dalam lelapnya.
Takumi akhirnya mengalihkan pandangan. Ia memilih melangkah keluar dan menutup pintu kamar.
"siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Rin?"