Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Wush!

Suara kobaran api semakin mengganas menelan sisa oksigen di dalam studio film yang tertutup itu.

Suhu ruangan melonjak drastis hingga membuat pandangan mengabur karena gelombang panas.

Gilang menerjang maju menerobos kepulan asap dengan pisau baja di tangan kanannya.

"Matilah kau sebagai pahlawan di panggungku ini, Reyhan!" teriak Gilang dengan suara parau.

Sring.

Bilah pisau yang memantulkan cahaya api itu mengincar tepat ke arah leher Reyhan.

Reyhan merunduk dengan sangat cepat menghindari tebasan mematikan tersebut.

Kemampuan Ketahanan Fisik tingkat menengah membuatnya bisa bergerak sangat lincah meski udara di sekitarnya terasa membakar paru-paru.

Bugh!

Reyhan membalas dengan sebuah pukulan keras tepat ke arah luka tembak di bahu Gilang.

"Argh!" teriak Gilang kesakitan sambil terhuyung mundur beberapa langkah.

Namun senyuman gila di wajah mantan asisten sutradara itu sama sekali tidak memudar.

"Pukulan yang sangat bagus, Reyhan."

"Tapi kekuatan fisik saja tidak akan cukup untuk memadamkan api kebencianku."

Reyhan berdiri tegak dengan kuda-kuda bersiap, matanya menatap tajam ke arah Gilang.

"Menyerahlah Gilang, permainanmu sudah berakhir."

"Kau sudah kehabisan poin sistem untuk meretas atau membuat bukti palsu lagi."

Gilang tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat menyakitkan diiringi batuk darah.

Uhuk. Uhuk.

"Siapa bilang aku butuh poin untuk mengubah bukti fisik lagi, Rey?"

"Sistemku memang kehabisan poin untuk mengubah realitas di luar sana."

"Tapi aku masih punya satu kemampuan rahasia yang tidak membutuhkan poin sama sekali."

Gilang membuang pisau di tangannya ke lantai dan merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.

"Aku akan menghancurkan pikiranmu dari dalam."

Wenggg.

Sebuah gelombang energi yang sangat aneh tiba-tiba memancar dari tubuh Gilang dan menyapu seluruh area panggung yang dilingkari api.

[Ding! Peringatan Sistem!]

[Mendeteksi serangan mental tingkat tinggi dari Sistem Sutradara Tragedi.]

[Skill Ilusi Trauma sedang diaktifkan oleh target.]

Kepala Reyhan mendadak terasa sangat pusing seperti dihantam godam besi.

Pandangannya mulai berputar dan kobaran api di sekelilingnya tiba-tiba berubah warna menjadi kebiruan.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Reyhan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.

"Aku hanya menunjukkan naskah asliku padamu, Reyhan," suara Gilang menggema dari segala arah, seolah-olah ia berbicara langsung di dalam otak Reyhan.

Asap tebal di sekitar Reyhan mulai membentuk bayangan-bayangan manusia yang sangat nyata.

Bayangan pertama yang muncul adalah sosok Hendra Setiawan dengan leher yang tersayat dan darah mengucur deras.

"Ini semua salahmu, Reyhan."

"Kalau kau tidak mengambil peran itu, aku tidak akan mati dibunuh dengan cara seperti ini," ucap bayangan Hendra dengan suara mendesis.

Lalu muncul bayangan Hakim Sudarsono yang mulutnya berbusa akibat racun sianida.

"Kau menabrakku dan membiarkan pembunuh itu menaruh racun di gelasku."

"Kau adalah kaki tangan pembunuh, Reyhan."

Reyhan memejamkan matanya rapat-rapat dan menggelengkan kepalanya keras-keras.

"Ini cuma ilusi, ini semua cuma tipuan sistemnya!" gumam Reyhan berusaha menyadarkan dirinya sendiri.

Tapi suara-suara itu terdengar semakin nyata dan menyayat hati.

Bayangan dr. Tirta yang tubuhnya hancur meleleh karena zat asam kini ikut merangkak mendekati kaki Reyhan.

"Tolong aku, Reyhan."

"Rasanya sangat panas, dagingku meleleh karena kau terlambat datang."

Napas Reyhan menjadi sangat sesak, bukan hanya karena asap, tapi karena beban rasa bersalah yang dipaksa masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

Skill Ilusi Trauma milik Gilang bekerja dengan cara mengeksploitasi celah terkecil dari keraguan di hati korbannya.

"Kau lihat kan, Reyhan?" suara Gilang kembali terdengar di sela-sela tangisan para ilusi korban.

"Kau bukan pahlawan, kau hanyalah pembawa sial bagi mereka semua."

"Sejak sistem itu memilihmu, tanganmu sudah berlumuran darah orang-orang ini."

Reyhan jatuh berlutut di lantai studio, tubuhnya gemetar hebat menahan serangan psikologis tersebut.

Ia mulai merasa bahwa semua ucapan Gilang itu benar.

"Kalau saja aku menolak audisi malam itu."

"Kalau saja aku tidak rakus menginginkan hadiah dari sistem."

"Mungkin mereka semua masih hidup," batin Reyhan yang mulai termakan ilusi.

Di luar lingkaran api, Alena melihat Reyhan tiba-tiba berlutut dan berbicara sendiri dengan pandangan kosong.

"Reyhan! Sadarlah!" teriak Alena dari luar lingkaran.

Namun suara Alena tertelan oleh suara gemuruh kobaran api yang semakin membesar.

Uhuk! Uhuk!

Alena mulai terbatuk-batuk parah karena asap hitam sudah memenuhi separuh ruangan studio.

Oksigen di dalam sana semakin menipis.

"Reyhan... aku tidak bisa napas..." rintih Alena sambil jatuh terduduk memegangi dadanya.

Suara rintihan Alena yang nyata dari luar lingkaran api itu tiba-tiba menembus pendengaran Reyhan.

Reyhan mendongakkan kepalanya dengan susah payah.

Matanya melihat sosok Alena yang sedang sekarat karena kehabisan oksigen.

"Alena," gumam Reyhan pelan.

Sebuah percikan kesadaran kembali menyala di dalam otak Reyhan.

Ia teringat pada detektif wanita yang rela membuang karirnya dan menjadi buronan Propam hanya untuk melindunginya.

"Tidak, aku tidak boleh hancur di sini," batin Reyhan dengan tekad yang perlahan kembali menguat.

"Sistem, aktifkan Akting Psikopat dan Manipulasi Pikiran sekarang juga!"

[Mengaktifkan Akting Psikopat tingkat dasar.]

[Mengaktifkan Manipulasi Pikiran tingkat dasar secara internal.]

Aura yang sangat dingin dan mematikan tiba-tiba meledak dari dalam tubuh Reyhan, menetralkan hawa panas di sekitarnya sesaat.

Reyhan perlahan berdiri dari posisi berlututnya.

Wajahnya yang tadinya dipenuhi rasa bersalah kini berubah menjadi sangat datar, tanpa emosi, dan kosong.

Ia menggunakan Manipulasi Pikiran bukan untuk menyerang Gilang, melainkan untuk membentengi pikirannya sendiri.

Reyhan menatap bayangan ilusi Hendra, Sudarsono, dan Tirta yang masih merangkak di sekelilingnya.

"Kalian hanyalah figuran mati yang skenarionya sudah berakhir," ucap Reyhan dengan suara yang sangat dingin.

"Aku adalah aktor utamanya, dan aku yang menulis naskahku sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!