"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal dari anak baru
Kamis siang, kantin kantor rame seperti biasa. Rain baru aja mau duduk di meja biasa bareng Pandu, tapi belum sempat dia menaruh nampan, seorang perempuan udah lebih dulu duduk di kursi sebelah Pandu. Dinda, staf baru dari divisi Finance yang belum genap sebulan kerja di sana.
"Kak Pandu, aku bawain bekal, nih. Tadi masak kebanyakan di rumah," kata Dinda, menyodorkan kotak makan dengan senyum lebar. "Coba deh, siapa tahu suka."
"Eh, nggak usah repot-repot," Pandu menjawab, tersenyum ramah seperti biasa, senyum yang sama persis yang dia kasih ke siapa pun, tapi entah kenapa kali ini bikin dada Rain terasa sesak.
"Nggak repot, kok! Aku emang seneng masak." Dinda membuka kotak itu, memamerkan isinya dengan bangga. "Cobain, Kak, please."
Rain berdiri agak canggung dengan nampan di tangan, nggak yakin harus duduk di mana. Akhirnya dia memilih kursi di seberang, agak jauh dari posisi Dinda.
"Rain juga mau coba?" tanya Dinda, baru sadar ada Rain di situ, meski nadanya terdengar sekadar basa-basi.
"Nggak, makasih. Udah bawa makan sendiri," jawab Rain, berusaha terdengar santai meski dalam hati mulai kesal tanpa alasan yang jelas.
Sepanjang makan siang, Dinda terus mendominasi obrolan, menanyakan ini-itu ke Pandu dengan antusias yang berlebihan. Pandu, seperti biasa, menjawab semuanya dengan sabar dan ramah, tanpa menyadari, atau mungkin pura-pura nggak menyadari, bahwa perhatian yang dia terima itu bukan sekadar perhatian biasa.
"Kamu kenapa diem aja dari tadi?" tanya Pandu, begitu Dinda akhirnya pamit duluan karena ada rapat.
"Nggak apa-apa," jawab Rain, mengaduk makanannya tanpa nafsu.
"Rain."
"Aku cuma... nggak tahu, ya," Rain akhirnya buka suara, agak ragu. "Kamu tuh baik ke semua orang. Aku sampai bingung, mana yang beneran spesial buat kamu, mana yang cuma kamu perlakukan sama kayak yang lain."
Pandu terdiam sejenak, ekspresinya sulit dibaca. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"
"Nggak tiba-tiba juga," Rain menjawab, suaranya melembut. "Aku cuma... capek nebak-nebak."
Ada jeda cukup panjang. Pandu menatap piringnya, lalu menghela napas pelan. "Rain, aku"
Ponsel Pandu berbunyi, notifikasi pesan masuk dari grup kerja. Dia melirik sekilas, lalu buru-buru berdiri.
"Maaf, ada yang manggil rapat mendadak," katanya, terdengar lega sekaligus canggung di saat bersamaan. "Kita lanjutin ngobrolnya nanti, ya?"
Rain mengangguk pelan, meski dalam hati dia tahu "nanti" itu sering kali nggak pernah benar-benar datang kalau menyangkut Pandu.
Sore harinya, saat Rain sedang menunggu lift sendirian, Kenzo kebetulan lewat, membawa setumpuk dokumen.
"Kamu kelihatan kusut," komentar Kenzo, berdiri di sebelahnya menunggu lift yang sama.
"Nggak apa-apa," jawab Rain otomatis, meniru kalimat yang tadi siang dia dengar dari Pandu sendiri, meski maksudnya sama sekali berbeda.
"Kalau capek kerjaan, bilang aja capek kerjaan," kata Kenzo, datar seperti biasa. "Tapi ekspresi kamu bukan ekspresi capek kerjaan."
Rain menoleh, sedikit kaget dengan ketepatan tebakan itu. "Kamu ini... suka banget nebak-nebak orang."
"Bukan nebak," Kenzo menjawab, "cuma memperhatikan."
Lift terbuka, mereka berdua masuk berbarengan. Dalam diam beberapa detik, Rain akhirnya mengaku, entah kenapa lebih nyaman cerita ke orang yang biasanya galak ini dibanding ke orang yang biasanya lembut.
"Kadang aku bingung," gumam Rain, lebih ke dirinya sendiri. "Orang baik itu belum tentu berani, ya?"
Kenzo menatapnya sejenak, seolah mencerna kalimat itu lebih dalam dari yang Rain maksud. "Baik itu gampang. Semua orang bisa baik kalau nggak ada risikonya. Berani itu beda cerita."
Rain terdiam, menatap lantai lift yang berkilau memantulkan lampu neon. Kalimat itu terasa terlalu tepat sasaran, seolah Kenzo tahu persis apa yang lagi Rain pikirkan tanpa Rain perlu jelasin panjang lebar.
Pintu lift terbuka di lantai tujuan Rain. Sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi ke arah Kenzo.
"Kamu berani?" tanya Rain, entah kenapa penasaran.
Untuk pertama kalinya, Kenzo tersenyum kecil, benar-benar tersenyum, bukan sekadar ekspresi datar seperti biasa.
"Coba aja lihat nanti," jawabnya, sebelum pintu lift menutup di antara mereka.
Rain berdiri mematung sebentar di depan lift yang udah tertutup, jantungnya berdebar jauh lebih kencang dari yang seharusnya untuk satu kalimat sederhana.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...