Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAUNG KEMENANGAN DAN SENJA DI SOLARIA
Cahaya keemasan matahari terbenam perlahan merayap di atas langit Solaria, membiaskan warna jingga kemerahan yang memantul indah di atas menara-menara marmer putih Kota Suaka. Angin sejuk bertiup dari arah Hutan Monster, membawa harum aroma dedaunan segar dan bunga-bunga sihir yang mulai bermekaran di sepanjang taman kota.
Di jalan-jalan utama, atmosfer perayaan masih terasa hangat. Penduduk dari pelbagai ras—Elf dengan jubah anggunnya, Beastkin bertubuh kekar, hingga manusia sipil—masih membicarakan kembalinya lima ribu prajurit elit Solaria tanpa cacat sedikit pun dari medan perang Arcania. Gelak tawa dan sorak-sorai kepuasan terdengar di kedai-kedai makan, menegaskan betapa aman dan bangganya mereka hidup di bawah naungan Penguasa Absolut.
Sementara itu, di dalam ruang makan istana utama yang megah, aroma hidangan istimewa menggugah selera. Meja panjang dari kayu jati berukir dilapisi kain sutra putih, tersaji penuh dengan olahan daging panggang rempah, sup kaldu sihir yang menghangatkan tubuh, serta buah-buahan segar olahan bangsa Elf.
Di ujung meja utama, Alan duduk dengan tenang, menikmati suasana malam bersama Putri Sena dan Kanya. Yumi berdiri anggun di belakang Alan, selalu siap melayani dengan ketangkasan seorang Kepala Pelayan terbaik.
"Ayah! Tadi waktu di sekolah, Sena bisa menggambar naga besar lho!" seru Sena riang seraya mengunyah sepotong roti manis. Pipinya yang mengembung membuat wajah mungilnya terlihat sangat menggemaskan.
Alan mengusap lembut kepala keponakannya dengan tersenyum hangat. "Benarkah? Nanti tunjukkan pada Ayah gambarnya di ruang kerja, ya."
"Siap, Ayah!" sahut Sena dengan mata berbinar-binar, menyuap makanan dengan penuh antusias.
Di sisi lain meja, Kanya memperhatikan kehangatan keluarga kecil tersebut dengan rasa haru yang teramat sangat. Di kepalanya, bayangan tentang Kerajaan Granvalia—tempat di mana meja makan kerajaan selalu dipenuhi oleh ketegangan, aroma intrik politik, dan tatapan dingin ayahnya—perlahan makin pudar. Di Solaria, makan malam bukanlah panggung perdebatan kekuasaan, melainkan momen penuh kehangatan keluarga.
"Bagaimana pelajaranmu hari ini, Kanya?" tanya Alan tenang, mengalihkan pandangannya pada sang putri.
Kanya terperanjat pelan, lalu menundukkan kepalanya penuh hormat seraya tersenyum tulus. "Sangat lancar, Tuan Alan. Sena adalah anak yang sangat cerdas dan cepat menyerap pelajaran membaca. Mengajarinya adalah sebuah kehormatan dan kebahagiaan tersendiri bagi hamba."
"Terima kasih sudah mendampinginya," tutur Alan bersahaja.
Usai makan malam dan menghantar Sena menuju kamarnya bersama Yumi untuk beristirahat, Alan melangkah menuju Balkon Observasi Utama Istana.
Angin malam yang dingin berembus lembut, membelai mantel hitam berbingkai emas milik Alan. Dari ketinggian balkon megah ini, seluruh lanskap Kota Suaka terpapar dengan begitu memukau. Ribuan lentera sihir berwarna biru dan kuning menyala redup di sepanjang jalan dan pemukiman warga, menciptakan pemandangan seperti lautan bintang di atas tanah.
Di kejauhan, di atas puncakan benteng luar, terlihat bayangan raksasa Naga Merah Kuno dan Naga Hijau Kuno sedang meringkuk santai, bersiap untuk tidur malam. Keberadaan dua entitas legendaris itu menambah kesan tak tertembus bagi domain ini.
WUSHHH.
Udara di belakang Alan bergetar pelan. Suara langkah kaki zirah yang berat namun halus terdengar mendekat. General Zero dan Pahlawan Kayy melangkah ke balkon, lalu berlutut tegap di belakang penguasa mereka.
"Hamba menyambut Yang Mulia Tuan Alan," ucap Zero dan Kayy bersahut-sahutan.
Alan tidak berbalik, matanya tetap menatap jauh ke arah garis horizon malam seraya bersuara datar. "Berdirilah. Bagaimana kondisi perbatasan dan prajuritmu, Zero?"
Zero berdiri tegap, melaporkan dengan nada penuh kebanggaan. "Seluruh lima ribu prajurit telah kembali ke markas dalam keadaan sehat tanpa cidera berarti, Yang Mulia. Moral pasukan berada di puncaknya. Berita kemenangan di Arcania juga telah menyebar, membuat kepercayaan para petualang dan warga sipil makin melonjak mutlak."
Kayy menyela seraya menyilangkan tangan di dada. "Kabar kekalahan Granvalia di Arcania dipastikan telah sampai ke telinga Raja Granvalia malam ini, Tuan Alan. Mereka pasti sedang panik luar biasa karena strategi mengisolasi Solaria justru berbalik memunculkan dominasi militer kita di mata kerajaan-kerajaan lain."
Alan mengangguk pelan. "Melodina, berikan laporan estimasi pergerakan Kerajaan Granvalia pasca-kegagalan invasi mereka."
[Memulai Analisis Proyeksi Strategis,] suara Melodina bergema amat jernih dan tegas di dalam benak Alan, diiringi hamparan peta keemasan tiga dimensi yang muncul di ruang penglihatannya.
[Hasil Analisis Sistem:] tutur Melodina memaparkan data. [Kerajaan Granvalia mengalami krisis kepercayaan dari para bangsawan internal mereka akibat kerugian material militer sebesar empat puluh persen. Risiko mereka untuk melakukan serangan terbuka langsung ke Solaria berada di bawah dua persen. Namun, terdeteksi potensi manipulasi politik diplomasi tingkat benua melalui aliansi kerajaan-kerajaan barat lainnya.]
"Biarkan mereka berencana sesuka hati," gumam Alan dingin dengan sudut bibir terangkat tipis. "Granvalia hanyalah semut yang mencoba menahan laju gunung."
Alan memalingkan wajahnya pada Zero dan Kayy. "Tetap pertahankan kewaspadaan standar di perbatasan. Solaria akan tetap menjadi tempat suaka paling damai, dan kita tidak akan membiarkan percikan kotoran musuh menyentuh kedamaian warga maupun Sena."
"Pesan Anda adalah perintah mutlak kami, Yang Mulia!" tegas Zero dan Kayy mantap seraya membungkuk hormat, sebelum akhirnya berbalik mundur meninggalkan balkon.
Kini tinggal Alan sendiri di atas balkon istana yang hening. Langit malam Solaria dihiasi oleh dua rembulan yang memancarkan cahaya perak memukau.
Alan mengangkat satu tangannya, membiarkan aura mana absolut ber-Level 99.999 memancar sangat tipis di jemarinya—sebuah kekuatan tak terbatas yang sanggup meratakan benua dalam satu kedipan mata, namun ia gunakan secara bijaksana hanya demi menciptakan dunia di mana keponakannya bisa tertawa tanpa takut akan kejamnya dunia luar.
Dengan berdirinya Guild Petualang, terjaminnya keamanan Kerajaan Arcania sebagai sekutu, serta makin rapatnya benteng pertahanan Solaria, kejayaan dan kedamaian kerajaan ini telah mengakar begitu kuat di tanah benua. Tidak ada Raja, Pahlawan, maupun Naga yang sanggup meruntuhkan apa yang telah dibangun oleh Sang Penguasa Absolut.