Indonesia
NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbeda

Pagi harinya, suasana di dalam apartemen terasa dingin dan serba canggung. Suara gesekan kardus dan derit resleting koper menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruang tengah. Jungkook berdiri bersedekap di dekat meja makan, memperhatikan Mira yang sibuk mengikat kardus terakhirnya. Pria itu tidak banyak bicara, namun tatapan matanya yang tajam dan dipenuhi ganjalan tak pernah lepas dari setiap gerak-gerik Mira.

TING-DONG.

Bel pintu berbunyi. Mira yang sudah bersiap langsung berjalan melangkah cepat untuk membukanya. Di balik pintu, Chloe berdiri bersama seorang pria tinggi berparas tampan, seorang mahasiswa blasteran Tionghoa-Inggris bernama James. James mengenakan coat kasual dengan senyum hangat yang langsung mengembang begitu melihat Mira.

Jungkook yang berjalan mendekat ke area pintu seketika menyempitkan matanya. Kehadiran sosok James yang tak asing baginya, seorang pria yang beberapa kali terlihat memperhatikan Mira di kampus, membuat atmosfer di dalam ruangan mendadak menegang.

"Mira! Coucou! Kami datang untuk membantumu," sapa Chloe ceria, namun ia berusaha menjaga raut wajahnya tetap terkontrol karena ingat pesan mewanti-wanti dari Mira untuk tidak menyebutkan alamat apartemen Chloe di depan Jungkook.

"Terima kasih sudah datang, Chloe... James," jawab Mira seraya tersenyum tipis.

"Sama-sama, Mira. Kamu tidak perlu mengangkat barang yang berat-berat, biarkan aku saja yang mengurusnya," ujar James dengan suara lembut.

Pria itu langsung melangkah masuk, tanpa ragu meraih koper paling besar milik Mira dan membawakannya dengan sangat sigap.

Jungkook hanya berdiri kaku di dekat lorong, tangannya terbenam rapat di dalam saku celananya. Mata hitamnya menatap setiap gestur James dengan dingin. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana cara James menatap Mira, sorot mata penuh perhatian dari seorang pria yang menyimpan rasa.

"Pelan-pelan, Mira. Kardus yang ini agak berat, jangan sampai tanganmu tergores," ucap James lagi seraya mengambil alih kardus buku dari tangan Mira, jemarinya sempat sengaja menyentuh pelan punggung tangan gadis itu dengan raut penuh kelembutan.

"A-ah, terima kasih, James," bisik Mira canggung, menyadari sepenuhnya kehadiran Jungkook yang berdiri tak jauh dari mereka.

Melihat pemandangan itu, rahang Jungkook mengetat keras. Rasa muak dan panas yang tak beralasan membakar dadanya. Ia paling benci melihat pria lain berani bersikap seintim itu pada Mira tepat di depan matanya sendiri, di dalam rumahnya.

Jungkook mengambil satu langkah maju dengan tubuh tegapnya yang mengintimidasi, berniat mengambil alih koper itu dari tangan James. "Biar aku saja yang membawa ini ke bawah—"

"Tidak perlu, Monsieur Jeon," potong James dengan sopan namun percaya diri, menghentikan langkah Jungkook. "Ini tugas kami sebagai teman-teman kuliahnya. Anda pasti sangat sibuk dengan urusan bisnis. Kami bisa mengurus semuanya sampai ke tempat tujuan Mira."

Jungkook mengepalkan tangannya di dalam saku. Kalimat sopan namun terkesan membatasi itu benar-benar menguji kesabarannya. Ia menatap James dengan tatapan tajam yang mampu membuat orang biasa bergidik, namun James hanya membalasnya dengan senyum tipis yang tenang.

Jungkook kemudian mengalihkan pandangannya pada Mira, berharap gadis itu mengatakan sesuatu. Namun Mira hanya menunduk dalam, mengelak dari tatapan matanya dan enggan memberikan penjelasan apa pun.

"Barangnya sudah lengkap semua, kan? Ayo kita turun ke mobil," ajak Chloe cepat, berusaha memecahkan ketegangan berat yang kian mencekik di ruangan itu.

"Iya, Chloe," sahut Mira pelan. Ia lalu berbalik menatap Jungkook, membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk perpisahan yang formal.

 "Terima kasih atas semuanya selama ini, Jungkook Oppa. Aku permisi dulu. Lain kali aku akan mentraktirmu" ucap Mira.

Jungkook berdiri kaku di tengah ruang tengahnya yang kini mendadak terasa sangat kosong. Ia menyaksikan James dengan telaten membimbing Mira melangkah keluar pintu, merangkul pelan bahu gadis itu agar tidak tersenggol ambang pintu.

Pintu apartemen tertutup rapat dengan bunyi klek yang nyaring.

Jungkook sendirian. Pria itu mengembuskan napas keras seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Kesalahpahaman yang belum terurai, misteri perubahan sikap Mira, dan rasa cemburu yang membakar dadanya melihat James, semua itu menyatu menjadi kemarahan yang tertahan, meninggalkannya dalam kesunyian apartemen yang mendadak terasa amat dingin.

Musim dingin di Paris yang menggigit perlahan meluruh, berganti dengan kehangatan awal musim semi yang menyegarkan. Pohon-pohon di sepanjang bulevar mulai menumbuhkan kuncup-kuncup hijau, dan bunga-bunga cantik berwarna merah muda serta putih bermekaran indah di sudut-sudut kota. Angin sepoi-sepoi yang bertiup tak lagi membawa rasa ngilu, melainkan kelopak bunga yang berjatuhan secara anggun di atas trotoar.

Namun, indahnya perubahan musim sama sekali tak mampu mencairkan suasana di apartemen Jungkook. Hunian luas itu masih terasa hampa dan dingin. Tanpa keberadaan Mira, setiap harinya terasa seperti pengulangan yang membosankan bagi pria itu.

Rasa janggal dan kesepian yang kian menumpuk membuat Jungkook tak tahan lagi. Siang itu, ia kembali memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang Universitas Sorbonne. Pria itu menyandarkan tubuhnya di dalam mobil, matanya tak lepas menatap area tangga gedung kampus dari balik kacamata hitamnya.

Tak lama kemudian, sosok yang dicarinya akhirnya keluar dari balik pintu kayu berukir.

Jungkook menahan napasnya seketika. Matanya menyipit lekat, tertegun menatap penampilan gadis itu yang mendadak terasa begitu berbeda di bawah pendar sinar matahari musim semi.

Mira tidak lagi berbalut coat tebal serba gelap seperti saat musim dingin. Hari ini, gadis itu mengenakan rok selutut bermotif bunga-bunga cokelat yang melambai lembut setiap kali ia melangkah. Dipadukan dengan jaket kulit berwarna krem yang pas di tubuhnya serta sepatu boots berhak rendah dengan warna senada. Rok yang tersingkap tipis oleh tiupan angin musim semi memperlihatkan betapa mulusnya kulit kaki Mira yang terekspos, membuat penampilannya terlihat teramat manis, segar, dan anggun secara alami.

Di mata Jungkook, Mira terlihat sangat cantik. Begitu memikat hingga pria itu tak sanggup mengalihkan pandangannya sedikit pun.

Namun, kejap kekaguman itu seketika sirna digantikan oleh rasa panas yang kembali memukul dadanya.

Mira tidak berjalan sendirian. Di sampingnya, James melangkah dengan senyum lebar. Pria itu sesekali membawakan tas kuliah Mira, lalu tertawa bersama melihat respons malu-malu dari gadis itu. Angin musim semi yang berembus pelan sempat menerbangkan beberapa helai rambut Mira, dan dengan sangat leluasa, James mengulurkan tangan untuk merapikan selip rambut itu ke balik telinga Mira.

Mira tertawa lepas, sebuah tawa bahagia yang teramat nyaring hingga terdengar dari jarak beberapa meter.

Jungkook meremas kuat lingkar kemudinya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengetat keras, menahan gejolak cemburu yang kian membakar seluruh kesabarannya. Melihat bagaimana pria lain bisa dengan begitu bebas menyentuh dan membuat Mira tertawa cantik di bawah pendar musim semi... benar-benar menguji batas ketahanan seorang Jeon Jungkook.

Jungkook tak sanggup lagi menahan rasa panas yang membakar dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia melepas kacamata hitamnya, membuka pintu mobil, dan melangkah lebar menyeberangi jalanan kampus. Sosoknya yang tegap berbalut kemeja rapi dan blazer langsung menarik perhatian beberapa mahasiswa yang lalu lalang, namun fokus mata tajam Jungkook hanya tertuju pada satu titik.

"Kim Mira."

Suara bariton yang teramat familiar itu memotong gelak tawa Mira dan James. Mira seketika menghentikan langkahnya, tubuhnya menegak kaku saat berbalik dan menemukan Jungkook sudah berdiri beberapa langkah di depannya.

"O-Oppa?" cetus Mira terkejut. Matanya berkedip bingung menatap pria di depannya. "Oppa... sedang apa di sini?"

Pertanyaan polos dari Mira seketika membuat ketegasan di wajah Jungkook luntur. Pria yang biasanya selalu tenang dan penuh kendali itu mendadak salah tingkah. Sorot matanya bergerak liar, menghindari tatapan lurus Mira. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan canggung, merutuki dirinya sendiri dalam hati karena tidak menyiapkan alasan logis terlebih dahulu.

"A-aku..." Jungkook berdehem pelan, berusaha menetralkan suaranya yang mendadak gagap. "Aku tadi ada janji meeting dengan klien di restoran dekat sini. Lalu... aku kebetulan lewat dan melihatmu."

Jungkook menatap Mira lekat-lekat, menyembunyikan rasa gengsinya di balik nada bicara yang agak merajuk. "Lagi pula, kau sama sekali tidak pernah menghubungiku atau mengirim pesan sejak pindah. Jadi sekalian saja... kita bisa makan siang bersama sekarang."

Mira tertegun. Jantungnya berdesir hebat mendengar ajakan yang mendadak itu. Tatapan mata Jungkook yang intens, dipadukan dengan fakta bahwa pria itu memintanya makan bersama membuat Mira ikut salah tingkah. Pipi dan telinganya perlahan memerah di bawah sengatan lembut matahari musim semi.

Namun, menyadari keberadaan James dan teman-teman lainnya yang menunggunya di belakang, Mira meremas tali tasnya canggung.

"Maafkan aku, Oppa..." bisik Mira pelan seraya menundukkan kepala. "Tapi... aku sudah terlanjur berjanji untuk makan siang bersama teman-teman kampus hari ini."

Jawaban itu memukul dada Jungkook. Melihat Mira berbalik dan berniat melangkah kembali ke arah James, pertahanan dan gengsi Jungkook runtuh seketika.

Sebelum Mira sempat mengambil dua langkah, jemari kekar Jungkook bergerak cepat menahan dan menggenggam erat pergelangan tangan gadis itu. Sentuhan hangat yang sangat merindukan itu membuat Mira menghentikan langkahnya dan berbalik kaget.

Jungkook menatap lurus ke dalam mata Mira. Tak ada lagi topeng keangkuhan, yang tersisa hanyalah sorot mata dalam yang sarat akan permohonan yang teramat sangat.

"Sekali ini saja..." suara Jungkook terdengar lebih rendah dan dalam, hampir menyerupai bisikan yang tertahan. "Ikut aku."

Genggaman tangan yang hangat dan tatapan mata Jungkook yang begitu intens berhasil melumpuhkan seluruh pertahanan Mira. Kata-kata ketus dari wanita cantik di apartemen beberapa waktu lalu mendadak menguap, tergilas oleh kesungguhan yang terpancar dari raut wajah pria di depannya.

Mira menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. Ia berbalik menatap James dan Chloe yang memperhatikan mereka dari jarak beberapa meter dengan raut bingung.

"James, Chloe... maaf sekali, sepertinya aku tidak bisa ikut makan siang bersama kalian hari ini," ujar Mira merasa enak hati. "Kalian duluan saja ya."

James sempat menatap Jungkook dengan raut tidak suka yang tersirat, namun melihat Mira yang menyetujuinya, pria itu hanya bisa menghembuskan napas pasrah dan tersenyum tipis. "Baiklah kalau begitu, Mira. Sampai ketemu di kelas besok."

Jungkook tak membuang waktu. Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Mira, ia menuntun gadis bernuansa musim semi itu melangkah menuju mobilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!