SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Inspeksi ke Ladang Uang dan Bau Kotoran Naga
"Bos, gue mau cuti lapangan hari ini!"
Aura menggebrak meja kerja Caden dengan semangat membara. Ia sudah mengganti rok kerjanya dengan celana kargo hitam, kemeja putih yang lengannya digulung, dan sepasang sepatu bot kulit setinggi betis. Pin naga emasnya tersemat rapi di kerah.
Caden, yang sedang menandatangani tumpukan dokumen negara, menaikkan sebelah alisnya tanpa menghentikan goresan penanya.
"Cuti lapangan? Ke mana? Kau mau menghabiskan uang di pusat perbelanjaan? Ambil saja kartu platinumnya, tidak perlu izin."
"Bukan mau shopping, Bos! Gue mau inspeksi ke Wilayah Pertanian Timur! Panen perdana gandum kita setelah insiden belalang itu dimulai hari ini, kan? Gue harus memastikan efisiensi pemotongan gandumnya! Lima persen laba gue ada di sana!"
Caden meletakkan penanya. Ia menatap asistennya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Wilayah Timur berjarak tiga ratus kilometer dari ibukota, Elara. Dan di sana hanya ada lumpur, keringat, dan bau kotoran naga kargo. Itu bukan tempat untuk seorang wanita, apalagi asisten utamaku."
"Bos, di mana ada bau kotoran hewan ternak, di situ ada bau uang!" bantah Aura cepat. "Lagian, kalau gue nggak ngawasin langsung, ntar mandornya korupsi timbangan gimana? Gue nggak sudi laba gue disunat oknum!"
"Lucas bisa mewakilimu."
"Lucas itu matanya minus tebel, Bos! Dia disuruh bedain gandum sama rumput liar aja pasti loading lama! Pokoknya gue harus berangkat! Kalau Bos nggak ngasih izin, gue nekat naik naga kargo komersil sendirian!" ancam Aura sambil berkacak pinggang.
Ruangan itu hening sejenak. Lucas yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa mengusap dadanya. Nona Elara benar-benar tidak punya rasa takut mengancam nyawanya sendiri di depan Yang Mulia, batinnya pasrah.
Caden menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang penuh toleransi muncul di wajahnya. Ia berdiri, mengambil jas hitamnya yang tersampir di kursi.
"Siapkan kereta udara pribadiku, Lucas," perintah Caden mutlak.
"B-baik, Yang Mulia. Tapi... apakah Anda juga akan pergi?" tanya Lucas terkejut.
"Jika asisten gilaku ini bersikeras ingin berenang di lumpur, aku harus memastikan dia tidak tenggelam dan merugikan asetku," jawab Caden santai. Ia menatap Aura yang sedang bersorak kegirangan. "Ayo. Tapi ingat, jangan mengeluh jika sepatumu kotor."
"Siap, Bosku yang protektif! Mari kita sidak!"
Dua jam kemudian, Kereta Udara bersimbol Naga Perak mendarat dengan anggun di tengah ladang gandum raksasa di Wilayah Timur. Hamparan kuning keemasan itu membentang sejauh mata memandang, siap untuk dipanen.
Begitu pintu kereta terbuka, bau tanah basah dan sisa cairan anti-hama langsung menusuk hidung. Caden secara refleks menutup hidungnya dengan saputangan sutra, wajahnya memancarkan rasa jijik khas bangsawan kelas atas.
Namun Aura justru melompat turun dari kereta, menghirup udara itu dalam-dalam dengan mata terpejam.
"Haaaah... bau cuan! Segar banget!" teriak Aura girang.
Puluhan petani yang sedang bekerja langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka melihat kereta dengan lambang pangeran paling ditakuti se-kekaisaran mendarat di ladang mereka. Ketakutan langsung melanda.
"Y-Yang Mulia Pangeran Caden!" Kepala Desa setempat yang bertugas sebagai mandor berlari tergopoh-gopoh dan langsung bersujud di tanah berlumpur. "A-ampuni hamba! Kami tidak tahu Yang Mulia akan datang inspeksi!"
Caden melangkah turun dengan elegan, mengabaikan lumpur yang menodai sepatu kulit naga seharga jutaan koin emasnya. Hawa dingin dan mengintimidasi langsung menyelimuti ladang itu.
"Bangun," perintah Caden singkat, namun membuat sang Kepala Desa gemetar hebat.
Aura langsung maju, menepuk bahu Kepala Desa itu dengan ramah ala politikus yang sedang kampanye. "Halo, Pak Mandor! Jangan tegang gitu dong, muka Bos saya emang default-nya kayak mau nagih utang nyawa, tapi aslinya dia investor budiman, kok!"
Kepala Desa itu mendongak bingung, menatap gadis barbar yang berani menepuk bahunya di depan sang pangeran kejam.
"N-nona ini... siapa?"
"Saya Elara, Asisten VIP Keuangan! Mulai sekarang, manajemen lahan ini ada di bawah divisi saya," Aura mengeluarkan buku catatannya. "Pak, saya lihat progres potong gandumnya lambat banget. Ini alat potongnya masih manual pakai sabit?"
"I-iya, Nona. Kami tidak punya dana untuk menyewa traktor magis peninggalan Pangeran Arthur..."
"Buset! Pantesan lambat! Waktu adalah uang, Pak!" Aura mendecak sebal. Ia menoleh ke arah Caden. "Bos! ACC dana darurat sekarang. Gue mau sewa sepuluh traktor magis dari ibukota. Cost-nya lumayan, tapi kalau kita bisa panen dua hari lebih cepat, kita bisa monopoli suplai pasar sebelum gandum dari wilayah utara masuk!"
Caden yang sedari tadi hanya diam mengawasi, mengangguk pelan. "Lakukan apa yang menurutmu menguntungkan, Elara."
"Mantap!" Aura kembali menatap Kepala Desa yang masih melongo. "Denger kan, Pak? Mulai besok, kita pakai traktor! Dan dengerin gue baik-baik, buat semua warga desa di sini!"
Aura berbalik, menggunakan corong suara magis kecil agar suaranya terdengar ke seluruh penjuru ladang.
"Woy, Bapak-bapak, Ibu-ibu! Mulai musim ini, sistem bagi hasil kita ubah! Pangeran Arthur dulu motong pajak desa enam puluh persen, kan?!" teriak Aura lantang.
Para petani mengangguk takut-takut.
"Di bawah manajemen Departemen Keuangan Pangeran Caden, pajak desa gue potong jadi cuma tiga puluh persen!"
Keheningan melanda ladang itu seketika. Para petani saling berpandangan, tidak percaya dengan pendengaran mereka. Pajak turun drastis? Dari Pangeran Caden yang terkenal lintah darat?!
"T-tiga puluh persen, Nona?! Nona tidak bercanda?!" teriak salah satu petani dengan air mata berlinang.
"Gue pantang bercanda soal angka!" balas Aura tegas. "TAPI ADA SYARATNYA! Target panen tonase harus naik dua puluh persen dari tahun lalu! Kalau target tembus, sisa hasil panennya boleh kalian jual mandiri! Dan kalau ada yang ketahuan nyolong atau malas-malasan, gue pecat dari lahan ini tanpa pesangon! Mengerti?!"
"MENGERTI, NONA ELARA! HIDUP NONA ELARA! HIDUP PANGERAN CADEN!"
Sorak-sorai meledak di ladang itu. Para petani, yang tadinya ketakutan setengah mati pada Caden, kini menatap rombongan itu dengan mata berbinar-binar penuh harapan. Semangat kerja mereka langsung melonjak seribu persen.
Caden berdiri bersedekap, menatap gadis kecil yang berdiri di atas bongkahan batu besar sambil berorasi itu. Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang tidak normal.
Gadis ini benar-benar gila. Menurunkan pajak untuk meningkatkan motivasi kerja, yang pada akhirnya akan menghasilkan output panen jauh lebih besar. Sebuah strategi yang sangat barbar namun brilian.
"Dia merebut hati rakyatku lebih cepat daripada pangeran mana pun," gumam Caden pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum bangga.
"Tentu saja, Yang Mulia," bisik Lucas yang berdiri di belakang Caden. "Nona Elara menggunakan bahasa universal yang dipahami semua orang: Uang."
Aura melompat turun dari batu, mendarat dengan sedikit goyah karena lumpur. Hampir saja ia terjerembap, namun sebuah lengan kuat dan kekar melingkar di pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh.
Aura mendongak, menatap wajah tampan Caden yang jaraknya hanya sejengkal.
"Hati-hati, Asisten Ceroboh," bisik Caden. "Jika kau patah kaki, siapa yang akan menghitung keuntunganku?"
"Duh, Bos. Kalau gue patah kaki, Bos kan bisa klaim asuransi kecelakaan kerja atas nama gue! Tetep cuan, kan?" jawab Aura sambil nyengir lebar.
Caden mendengus, merapatkan pelukannya di pinggang Aura dan tidak melepaskannya meski mereka berada di tempat terbuka. "Asuransi tidak bisa menggantikan asisten cerewet yang pandai menguras hartaku. Sekarang, urusanmu sudah selesai, kan? Lumpur ini membuatku pusing."
"Sudah, Bos! Ayo balik, gue mau ngecek grafik bursa sore!"