Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Gala Malam Itu
# Bab 7 — Gala Malam Itu
Ballroom Hotel Grand Wirawan dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilauan, dihiasi ratusan tamu undangan mengenakan busana terbaik mereka pebisnis ternama, pejabat, tokoh media, hingga figur publik yang biasa menghiasi halaman majalah. Alya menggenggam erat lengan Raka saat mereka melangkah masuk, berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik senyum yang dilatihnya sepanjang perjalanan tadi.
Sorotan kamera langsung mengarah ke arah mereka begitu memasuki ruangan. Bisik-bisik terdengar di sekeliling "Itu istri baru Pak Raka", "Katanya dia dulu dokter", "Cantik sekali, pantas saja CEO Wirawan langsung menikahinya" campuran rasa penasaran dan kekaguman yang jujur saja membuat Alya sedikit kewalahan.
"Tersenyum saja," bisik Raka pelan di telinganya, tangannya menuntun langkah Alya dengan mantap melewati kerumunan. "Kau melakukannya dengan baik."
Mereka baru saja menyapa beberapa mitra bisnis penting ketika Alya merasakan tatapan tajam dari seberang ruangan. Dia menoleh, dan jantungnya langsung mencelos.
Vania berdiri di sana, mengenakan gaun merah menyala, tersenyum lebar yang dipaksakan, berjalan mendekat bersama beberapa rekan dokter lainnya dari rumah sakit tempatnya bekerja sekarang. Di belakangnya, agak menjaga jarak namun jelas terlihat, Bimo mengikuti dengan wajah tegang.
"Alya!" seru Vania dengan nada terlalu ceria untuk terdengar tulus, menarik perhatian beberapa tamu di sekitar mereka. "Astaga, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Dan oh, ini suamimu? CEO Wirawan Group? Selamat ya, atas... pernikahan kilatmu."
Ada penekanan sinis pada kata "kilat" yang tidak luput dari telinga Alya. Beberapa tamu di sekitar mereka mulai memperhatikan, merasakan ketegangan yang tersembunyi di balik senyum-senyum formal itu.
"Terima kasih, Vania," jawab Alya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang, meskipun tangannya yang menggenggam lengan Raka sedikit mengerat. "Senang bertemu denganmu juga."
"Kudengar kau sudah tidak praktik lagi sekarang," lanjut Vania, matanya berkilat penuh perhitungan, sengaja mengangkat topik itu di depan umum. "Sayang sekali, padahal dulu kau begitu bersemangat soal karier kedokteranmu. Tapi ya, mungkin memang lebih nyaman jadi istri orang kaya, daripada capek-capek kerja di rumah sakit."
Beberapa tamu terdekat mulai memperhatikan dengan lebih serius, merasakan ada sesuatu yang tidak beres di balik obrolan yang terlihat ramah itu. Alya merasakan wajahnya memanas, kata-kata itu menusuk tepat di titik paling sensitif seolah semua pencapaiannya selama bertahun-tahun kuliah kedokteran dan bekerja keras direduksi menjadi sekadar "istri orang kaya".
Namun sebelum Alya sempat merespons, Raka melangkah setengah maju, suaranya tenang namun tegas, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar mereka.
"Menarik sekali kau menyebut soal karier kedokteran," kata Raka, menatap Vania lurus-lurus, tidak ada sedikit pun kehangatan dalam suaranya. "Karena justru istri saya yang menyelamatkan nyawa nenek saya minggu lalu, dengan diagnosis yang bahkan tim medis rumah sakit rujukan mengonfirmasi sepenuhnya tepat. Kompetensinya sebagai dokter sama sekali tidak diragukan."
Vania terdiam sejenak, senyumnya sedikit goyah.
"Yang justru menarik perhatianku," lanjut Raka, nadanya semakin dingin, "adalah bagaimana seorang dokter dengan rekam jejak sebaik itu bisa tiba-tiba dipecat karena tuduhan kelalaian, hanya beberapa hari sebelum dia menikah dengan saya. Kebetulan yang menarik, bukan?"
Ruangan di sekitar mereka mendadak sunyi. Beberapa tamu yang kebetulan bekerja di bidang kesehatan mulai saling berbisik, jelas tertarik dengan implikasi yang baru saja dilontarkan Raka secara halus namun tajam.
"Saya maksud saya, itu keputusan komite etik rumah sakit, bukan urusan pribadi," Vania berusaha mempertahankan nada tenangnya, meski keringat dingin mulai terlihat di pelipisnya.
"Tentu," jawab Raka singkat, senyum tipis yang sama sekali tidak menyentuh matanya terpasang di wajahnya. "Saya yakin komite etik akan senang jika ada pihak yang bersedia melakukan audit ulang atas kasus itu. Wirawan Group kebetulan memiliki yayasan yang cukup peduli dengan transparansi dan keadilan di dunia medis."
Ancaman halus itu jelas tertangkap oleh Vania. Wajahnya memucat, dan untuk pertama kalinya sejak kedatangannya malam itu, dia kehilangan kata-kata sepenuhnya.
Bimo, yang sejak tadi hanya berdiri diam di belakang, akhirnya angkat bicara, mencoba mencairkan suasana yang semakin menegang. "K-kami hanya ingin menyapa, sungguh. Tidak ada maksud lain. Selamat atas pernikahan kalian." Dia menarik lengan Vania pelan. "Ayo, Van, kita masih harus menyapa tamu lain."
Vania, meskipun jelas masih menyimpan kekesalan yang membara, akhirnya mengangguk kaku dan berbalik pergi bersama Bimo, meninggalkan Alya dan Raka berdiri di tengah tatapan penasaran para tamu yang menyaksikan seluruh percakapan tegang itu.
Begitu keduanya cukup jauh, Alya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya, tangannya sedikit gemetar.
"Terima kasih," bisiknya pelan pada Raka. "Kau tidak perlu melakukan itu."
"Aku memang tidak perlu," jawab Raka, menatapnya lurus, ekspresinya melunak seketika begitu berhadapan dengan Alya, jauh berbeda dari nada dingin yang baru saja dia gunakan pada Vania. "Tapi aku ingin. Tidak ada seorang pun yang berhak merendahkan kemampuanmu di depanku, apalagi setelah aku sendiri menyaksikan langsung betapa hebatnya kau malam itu."
Untuk sesaat, di tengah gemerlap lampu kristal dan bisik-bisik para tamu yang masih penasaran, Alya merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya perasaan yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa terima kasih atas pembelaan seorang "suami kontrak".