Indonesia
NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 PORSENI SMA BUDI BANGSA

Satu minggu berlalu sejak malam magis di Bukit Bintang yang meruntuhkan segala tembok pembatas di antara dua dunia yang berbeda.

Udara pertengahan bulan di SMA Budi Bangsa pagi ini terasa jauh lebih semarak dari biasanya.

Spanduk-spanduk besar berwarna-warni membentang di berbagai sudut koridor, umbul-umbul berkibar di sepanjang jalan masuk, dan suara dentuman musik berirama cepat menghentak dari pengeras suara raksasa di pinggir lapangan utama.

Hari ini adalah hari pembukaan PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni) SMA Budi Bangsa. Sebuah acara tahunan yang menjadi ajang pelampiasan energi bagi seluruh siswa setelah otak mereka diperas habis-habisan selama Ujian Tengah Semester.

Bagi sebagian besar murid, hari ini adalah surga kebebasan.

Namun, bagi seorang Asmara Putri, hari ini adalah medan perang yang menuntut kewarasan tingkat tinggi.

"Fajar! Mikrofon untuk MC di panggung seni tolong dicek lagi baterainya! Tadi suaranya sempat kresek-kresek waktu check sound!" seru Asmara, suaranya harus bersaing dengan dentuman musik bass dari lapangan.

Gadis itu berdiri di dekat tenda panitia pusat. Ia mengenakan kemeja seragam OSIS berwarna biru muda yang lengannya digulung hingga siku, celana bahan hitam yang memudahkannya bergerak, dan sebuah lanyard panitia yang menggantung di lehernya.

Papan dada (clipboard) berisi puluhan lembar rundown acara tak pernah lepas dari pelukannya. Rambut panjangnya diikat ekor kuda yang tinggi, sesekali bergoyang seiring dengan gerakannya yang gesit ke sana kemari.

"Udah, Ra! Baterainya baru gue ganti pakai yang baru! Aman terkendali!" balas Fajar dari kejauhan sambil mengacungkan jempolnya. Fajar yang dulu sering meremehkan Asmara, kini bergerak patuh layaknya prajurit teladan sejak insiden 'gertakan' Asmara di ruang rapat waktu itu.

Asmara menghela napas panjang, mencontreng satu tugas di kertasnya. Keringat tipis mulai bermunculan di pelipisnya. Belum ada setengah hari acara berjalan, tapi kakinya sudah terasa pegal karena harus berlarian dari lapangan basket ke panggung seni, lalu ke ruang tata usaha.

"Ra, ini daftar nama tim basket kelas sepuluh yang bakal tanding jam sepuluh nanti. Ada satu pemain cadangan yang diganti karena sakit," lapor Nisa yang tiba-tiba muncul dari arah ruang ganti dengan napas terengah-engah, menyodorkan selembar kertas.

Asmara mengambil kertas itu dengan cepat. "Oke, makasih, Nis. Nanti saya langsung update ke meja panitia pertandingan biar wasitnya tahu. Tim kelas dua belas sudah standby semua?"

"Udah beres, Ra. Tinggal nunggu jadwal tip-off aja. Eh, by the way..." Nisa menurunkan suaranya, senyum jahil tiba-tiba terbit di wajahnya. Ia menyenggol pelan lengan Asmara. "Tim kelas kita, XI IPS 2, jadwalnya tanding jam setengah sebelas nanti, lho. Lawan kelas XI IPA 1. Lo bakal nonton di pinggir lapangan kan?"

Asmara mendecak pelan, berusaha mengabaikan rona merah yang tiba-tiba mengancam akan muncul di pipinya. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan Nisa.

"Saya ketua OSIS, Nis. Kerjaan saya mantau semua venue, bukan cuma nongkrong di pinggir lapangan basket saja," jawab Asmara mencoba terdengar profesional, matanya pura-pura sibuk membaca deretan nama di kertas.

"Alah, sok sibuk banget Ibu Ketua ini," Nisa mencibir geli. "Padahal mah dari tadi pagi matanya nyari-nyariin cowok jangkung nomor punggung tujuh terus. Udah deh, Ra, belain nonton bentar napa. Sang Matahari butuh semangat dari pawangnya, tuh!"

"Nisa! Saya nggak nyari dia ya!" sangkal Asmara cepat, memelototi sahabatnya itu. "Udah sana, balik ke pos jagamu. Jangan gosip terus!"

Nisa tertawa puas, lalu berbalik sambil melambaikan tangannya. "Iya, iya! Awas aja nanti kalau gue lihat lo berdiri di barisan paling depan!"

Sepeninggal Nisa, Asmara kembali menghela napas panjang. Ia mengusap dahinya yang berkeringat.

Jujur saja, meski ia sangat sibuk, fokusnya memang sedikit terbelah hari ini.

Sejak kejadian dijemput menggunakan motor klasik minggu lalu, hubungannya dengan Wira memang belum diresmikan dengan kata-kata 'pacaran' yang formal.

Namun, perilaku mereka berdua sudah melampaui batasan teman.

Ada kepedulian yang mendalam, ada tatapan yang mengunci, dan ada debaran yang selalu hadir setiap kali mereka berdekatan.

"Sibuk banget kayaknya, Bu Ketua. Sampai ngelamun gitu di tengah jalan. Nanti kesambet lho."

Sebuah suara bariton yang berat, santai, dan dipenuhi nada tengil yang sangat familier tiba-tiba terdengar tepat dari arah belakang Asmara.

Asmara terkesiap. Ia memutar tubuhnya dengan cepat.

Di depannya, berdirilah Wira.

Pemuda itu terlihat sangat memukau dalam balutan jersey basket sekolah berwarna merah terang dengan nomor punggung tujuh tercetak besar di dadanya. Handuk kecil berwarna putih tersampir santai di bahu kirinya. Otot-otot di lengan lengannya terlihat jelas, sementara rambut ikalnya sedikit basah oleh keringat setelah melakukan pemanasan.

Jantung Asmara seketika berdentum lebih cepat. Ia menelan ludah, berusaha mati-matian menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat seperti remaja yang sedang kasmaran di tengah tugas resmi.

"Gue nggak ngelamun, ya. Gue lagi mikir," balas Asmara ketus, namun tak bisa menyembunyikan senyum kecil di sudut bibirnya. Kosakata 'lo-gue' kembali meluncur natural dari lidahnya. "Lo ngapain keluyuran ke sini? Bukannya jadwal tanding kelas kita masih sejam lagi? Mending lo hemat tenaga sana."

Wira melangkah lebih dekat, mengabaikan beberapa siswi panitia yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Ia menundukkan kepalanya sedikit agar wajahnya sejajar dengan Asmara.

"Gue haus. Terus gue mikir, kayaknya air mineral biasa nggak bakal mempan buat balikin tenaga gue. Gue butuhnya asupan semangat dari Ketua OSIS," goda Wira blak-blakan, menyeringai dengan gaya angkuh namun mematikan.

Asmara memutar bola matanya, meski dadanya serasa sedang dipenuhi ribuan kupu-kupu yang berterbangan. "Gombalan lo makin hari makin krispi ya, Wir. Tapi kurang garing."

"Biarin. Yang penting lo senyum," Wira membalas santai. Tiba-tiba, pemuda itu mengulurkan tangannya, lalu dengan sangat pelan dan natural, ia mengusap keringat di pelipis Asmara menggunakan ujung jarinya. "Kerja sih kerja, Ra. Tapi jangan sampai kecapekan. Muka lo udah merah banget tuh kena panas. Nanti pingsan lagi, repot gue harus gotong lo ke UKS."

Sentuhan singkat di pelipisnya itu membuat napas Asmara nyaris berhenti. Sengatan aliran listrik statis merambat cepat dari titik yang disentuh Wira ke seluruh tubuhnya.

Asmara buru-buru memundurkan wajahnya, melirik panik ke sekeliling, takut ada panitia atau guru yang melihat interaksi kelewat intim tersebut.

"Wira! Jangan sembarangan pegang-pegang di tempat umum ah!" bisik Asmara panik, meski wajahnya kini benar-benar merah seperti kepiting rebus. "Ini area steril panitia!"

Wira tertawa lepas, menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana olahraga training-nya. "Iya, iya, maaf. Lupa gue kalau lagi di wilayah keratonnya Tuan Putri."

Wira kembali memasang raut wajah yang sedikit lebih serius, meski senyum jahilnya belum sepenuhnya hilang. Ia menatap Asmara dengan tatapan mengunci. "Nanti jam setengah sebelas, kelas kita tanding. Lo wajib nonton di pinggir lapangan."

"Gue sibuk, Wir. Nggak bisa janji," elak Asmara, berusaha jual mahal.

"Nggak nerima penolakan," potong Wira mutlak, menaikkan sebelah alisnya. "Kalau sampai peluit tip-off bunyi dan gue nggak ngelihat batang hidung lo di pinggir lapangan, gue bakal pura-pura kram kaki di tengah pertandingan biar panitia OSIS repot ngurusin gue. Lo mau gitu?"

Mendengar ancaman konyol itu, Asmara mendengus tak percaya. "Lo gila ya! Ancaman lo kayak anak TK tahu nggak!"

"Biarin. Yang penting efektif," kekeh Wira. Ia lalu menepuk pelan puncak kepala Asmara dengan handuknya, sebuah gestur ringan namun sarat makna. "Gue tunggu, Ra. Awas kalau nggak muncul."

Tanpa menunggu balasan dari Asmara, Wira berbalik badan dan berlari kecil dengan gaya jogging santai menuju arah lapangan basket outdoor, meninggalkan Asmara yang berdiri mematung sambil meremas papan clipboard-nya dengan kuat demi menetralisir debaran jantungnya yang sudah tidak karuan.

.....

.....

Tepat pukul 10.30 WIB.

Terik matahari Jogja terasa semakin menyengat, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan antusiasme ratusan siswa yang memadati pinggiran lapangan basket outdoor SMA Budi Bangsa.

Sorak-sorai supporter dari masing-masing kelas saling bersahutan, diiringi tabuhan drum galon air mineral yang dipukul dengan ritme cepat.

Pertandingan antara kelas XI IPS 2 melawan XI IPA 1 akan segera dimulai. Suasana di sekitar lapangan terasa mendidih.

Di bangku cadangan, Wira sedang melakukan peregangan terakhir. Danang, sang kapten tim sekaligus ketua kelas, sedang memberikan pengarahan dengan penuh semangat berapi-api.

"Pokoknya kita pakai formasi man-to-man marking! Anak IPA 1 itu fisiknya lemah kalau diajak lari, jadi kita gempur pakai fast break! Wir, lo jadi ujung tombak penyerangan kita ya. Gue yang bakal assist dari tengah!" instruksi Danang sambil menepuk-nepuk pundak Wira.

"Siap, Bos. Lo lempar aja bolanya ke area gue, urusan finishing serahin ke gue," jawab Wira dengan keyakinan diri yang sangat tinggi. Matanya yang tajam bak elang menyapu seluruh deretan penonton di pinggir lapangan.

Ia mencari-cari sosok berbaju biru muda.

Kecewa mulai merayap pelan saat ia tidak menemukan Asmara di tribun penonton.

Namun, tepat ketika wasit meniup peluit panjang memanggil kedua tim untuk masuk ke tengah lapangan, ekor mata Wira menangkap sebuah pergerakan di dekat meja panitia scorer yang berada persis di pinggir garis lapangan tengah.

Asmara ada di sana.

Gadis itu berdiri di samping meja panitia, memegang papan clipboard-nya di depan dada, mengobrol sebentar dengan petugas pencatat skor sebelum akhirnya menoleh ke arah lapangan.

Mata mereka bertemu.

Asmara tidak tersenyum lebar, ia hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang sangat samar, namun efeknya bagi Wira bagaikan suntikan adrenalin murni yang disuntikkan langsung ke nadinya.

Wira menyeringai lebar. Ia berlari kecil ke tengah lapangan untuk melakukan tip-off.

"Priiitt!"

Bola dilambungkan ke udara oleh wasit, dan pertandingan pun resmi dimulai.

Dalam hitungan menit, Wira Aji Pratama membuktikan mengapa dulu ia menjadi legenda di sekolah lamanya di Bogor.

Gerakan pemuda itu sangat lincah, cepat, dan bertenaga. Ia mendribel bola meliuk-liuk melewati dua pemain defense dari XI IPA 1 dengan sangat mulus. Setiap kali ia memegang bola, sorak-sorai penonton perempuan di pinggir lapangan langsung meledak histeris.

Pertandingan berjalan sangat sengit. Poin saling berbalas, namun XI IPS 2 memimpin tipis.

Momen yang membuat seisi lapangan nyaris kehilangan napas terjadi di pertengahan kuarter kedua. Skor saat itu 21-18, keunggulan untuk tim Wira.

Danang berhasil merebut bola rebound di area pertahanan sendiri. Ia melihat Wira sudah berlari kencang membelah lapangan menuju area lawan. Dengan sekuat tenaga, Danang melakukan lemparan panjang melambung ke depan.

"Wir! Ambil!" teriak Danang.

Wira menangkap bola itu dengan sempurna saat ia berlari di luar garis tiga angka (three-point line). Dua pemain lawan langsung menerjang maju untuk melakukan blokade.

Waktu terasa melambat.

Wira tidak memaksakan diri menerobos masuk ke area paint.

Dengan insting tajamnya, ia menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat kedua defender itu kehilangan keseimbangan.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Wira mengambil posisi menembak. Ia menekuk lututnya, lalu melompat tinggi ke udara.

Postur tubuhnya saat mengudara terlihat sangat sempurna dan estetis.

Dari jarak yang cukup jauh di luar garis lengkung itu, ia melepaskan bola oranye tersebut dari ujung jari-jarinya.

Bola itu melambung tinggi, membentuk lintasan parabola yang sangat presisi di udara, lalu...

Syuutt!

Bola masuk ke dalam jaring tanpa menyentuh besi ring sedikit pun.

Tembakan tiga angka yang bersih dan mematikan!

"YEEEAAAHHH!!"

Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan meledak seketika dari seluruh penonton kelas sebelas. Danang dan teman-teman setimnya bersorak kegirangan sambil berlari kembali ke area pertahanan.

Namun, Wira tidak ikut melompat merayakan poin tersebut dengan teman-temannya.

Sesaat setelah kakinya kembali mendarat di atas aspal lapangan, Wira tidak berbalik arah. Ia berdiri diam dengan napas yang sedikit memburu. Keringat membasahi dahi dan lehernya, membuatnya terlihat luar biasa memukau di bawah terik matahari.

Pemuda itu memutar kepalanya perlahan, menatap tajam ke arah meja panitia tempat Asmara berdiri.

Jarak mereka terpaut sekitar sepuluh meter, tapi tatapan Wira seolah sanggup menembus jarak tersebut.

Di hadapan ratusan pasang mata yang sedang menonton, Wira mengangkat tangan kanannya. Ia menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bibirnya sendiri—sebuah kecupan ringan—lalu mengarahkan kedua jari itu lurus menunjuk tepat ke arah Asmara, diakhiri dengan sebuah kedipan mata sebelah yang sangat mematikan.

Sebuah isyarat rahasia.

Sebuah selebrasi yang didedikasikan hanya untuk satu orang.

Seketika itu juga, dunia Asmara seolah berhenti berputar.

Napas sang ketua OSIS itu tercekat di kerongkongan.

Jantungnya meledak dalam rentetan debaran yang begitu brutal hingga ia merasa lututnya nyaris lemas.

Darah mendesir panas naik ke wajahnya, mengubah warna kulit kuning langsatnya menjadi merah merona.

Ia mematung, papan clipboard di pelukannya diremas sekuat tenaga sebagai satu-satunya jangkar yang menahan dirinya agar tidak meleleh di tempat.

"KYAAAAAAA!!"

Beberapa detik setelah Wira melakukan gestur tersebut, gerombolan siswi yang berada tak jauh dari posisi Asmara langsung menjerit histeris. Mereka semua salah paham, mengira gestur tembakan ciuman itu diarahkan kepada mereka secara umum.

Namun, sahabat-sahabat Asmara tidak semudah itu dikelabui.

Di tribun pinggir, Nisa dan Dinda yang kebetulan berdiri di sudut yang pas, melihat dengan jelas lintasan arah tangan Wira.

"Gila! Din, lo lihat nggak tadi?!" jerit Nisa sambil mengguncang-guncang lengan Dinda dengan heboh. "Itu si Wira nunjuknya lurus banget ke arah Asmara! Bukan ke supporter!"

Dinda menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak tak percaya. "Beneran, Nis! Sumpah, jantungan gue ngelihatnya! Itu cowok agresif banget sih, nggak tahu tempat!"

Dan momen baper itu tidak hanya terjadi sekali.

Di kuarter ketiga, Wira kembali mendapatkan momentum.

Lewat sebuah pick and roll manis dengan Danang, Wira kembali terbebas di area three-point sayap kiri. Ia kembali melompat, melepaskan tembakan melengkung yang lagi-lagi masuk dengan mulusnya.

Kali ini, Wira kembali mendarat. Ia mengusap keringat di rahangnya, lalu kembali memutar tubuhnya menghadap Asmara. Ia melakukan gestur yang sama: mengecup dua jarinya, lalu menembakkannya ke arah Asmara, lengkap dengan seringai tengil yang luar biasa tampan.

Asmara benar-benar tidak sanggup lagi.

Wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

Ia buru-buru mengangkat clipboard-nya, menutupi separuh wajahnya dari pandangan Wira dan pandangan orang-orang di sekitarnya yang kini mulai menyadari arah selebrasi sang bintang lapangan tersebut.

"Wir! Fokus woi! Malah tebar pesona lo!" teriak Danang sambil tertawa, menepuk keras punggung Wira untuk membuyarkan aksi romantis temannya itu.

"Ini lagi fokus, Nang! Fokus nyari buff tambahan!" balas Wira santai, tertawa lepas sambil berlari kembali ke posisinya.

Di sisa waktu pertandingan, setiap kali Wira berhasil mencetak poin penting, gestur tangan itu selalu ia lakukan. Hal itu dengan cepat menjadi perbincangan hangat di sepanjang pinggir lapangan.

Teman-teman sekelas XI IPS 2 mulai heboh berbisik-bisik, melirik bergantian ke arah Wira yang sedang bertanding dan Asmara yang sedang sibuk menyembunyikan wajahnya yang merona di balik kertas absen.

Pertandingan pun berakhir dengan peluit panjang dari wasit.

Skor akhir 56-42, kemenangan telak untuk kelas XI IPS 2.

Seluruh pemain berbaur di tengah lapangan, saling bersalaman dengan tim lawan. Para supporter turun dari tribun untuk memberikan selamat.

Di tengah euforia kemenangan itu, Wira menolak botol air minum yang disodorkan oleh adik-adik kelas yang mencoba mencari perhatian. Pemuda itu mengusap rambutnya yang basah ke belakang, lalu melangkah pasti membelah kerumunan.

Langkahnya tertuju pada satu titik...

Meja panitia scorer.

Asmara yang sedang membereskan kertas-kertas laporan skor, menyadari pergerakan pemuda itu mendekatinya. Ia menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang belum juga kembali normal sejak insiden gestur rahasia tadi.

Wira berhenti tepat di depan meja. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun dengan ritme cepat. Keringat menetes dari ujung rambutnya, jatuh membasahi kerah jersey-nya. Jarak mereka begitu dekat hingga Asmara bisa merasakan radiasi panas dari tubuh pemuda itu.

"Haus nih. Ibu Ketua OSIS nggak punya reward air minum buat pahlawan kelas yang baru aja menangin pertandingan?" tagih Wira, suaranya parau namun memancarkan pesona yang mematikan.

Asmara memutar bola matanya, meski tangannya dengan gemetar mengambil sebotol air mineral dingin dari kotak cooler di bawah meja dan menyodorkannya kepada Wira.

"Nih," ucap Asmara ketus, berusaha keras mempertahankan wibawanya. "Nggak usah sok kepedean jadi pahlawan kelas. Dan bisa nggak sih lo berhenti lakuin gaya norak tadi di tengah lapangan? Dilihatin banyak orang tahu nggak!"

Wira menerima botol itu.

Ia tidak langsung meminumnya, melainkan mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah Asmara hingga aroma tubuhnya yang maskulin dan bercampur keringat itu mengepung penciuman sang gadis.

"Norak gimana?" Wira tersenyum miring, menatap Asmara dengan tatapan dalam yang sangat mengintimidasi namun penuh kelembutan. "Gue cuma mau ngasih tahu ke satu lapangan, kalau setiap poin yang gue cetak hari ini... itu buat elo, Ra."

Blush...

Wajah Asmara kembali memanas hebat.

Pertahanannya hancur berkeping-keping.

"CIEEEEEEE!!!!"

Sebuah sorakan panjang dan kompak tiba-tiba meledak dari jarak tiga meter di belakang Wira.

Asmara dan Wira serentak menoleh.

Ternyata, tanpa mereka sadari, Nisa, Dinda, Danang, dan hampir separuh anak-anak kelas XI IPS 2 sudah berdiri bergerombol di sana, menonton adegan interaksi intim mereka dengan wajah penuh senyum jahil dan sorak-sorai kemenangan.

"Aduh, aduh! Gerah banget nih lapangan tiba-tiba!" ledek Danang sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangan. "Ada yang lagi bucin on main stage nih, guys!"

"Pantesan tadi ada yang nembak-nembak ciuman dari jauh! Ternyata targetnya ada di meja panitia, toh!" seru Dinda menimpali, disambut tawa riuh teman-teman yang lain.

"Asmara mukanya udah kayak tomat mateng tuh! Tanggung jawab lo, Wir!" sahut Nisa tak mau kalah.

Sorakan 'Cieee' terus bergema, menyudutkan mereka berdua dalam situasi yang sangat memalukan sekaligus mendebarkan.

Asmara yang tidak tahan lagi menjadi pusat perhatian gosip kelasnya, akhirnya melempar pandangan memohon ke arah Wira.

"Wira! Beresin teman-teman lo tuh! Bikin malu aja!" bisik Asmara panik, menutupi wajahnya dengan clipboard.

Wira justru tertawa lepas. Alih-alih membantah atau merasa malu, pemuda itu membalikkan badannya menghadap teman-teman sekelasnya. Ia merangkul bahu Danang dengan sebelah tangannya, memasang gaya pongah sang penguasa lapangan.

"Udah, udah, bubar lo pada! Jangan gangguin pawang gue!" seru Wira lantang tanpa rasa canggung sedikit pun, sebuah proklamasi tak resmi yang membuat sorakan seisi kelas semakin menggila. "Sana lo semua ke kantin! Hari ini gue traktir es teh manis sekelas buat ngerayain kemenangan! Tapi bayarnya nanti pakai uang kas Danang dulu ya, besok gue ganti!"

"Huuuu!! Dasar preman kere!" sorak Danang, meski ia dan teman-teman lainnya tertawa dan akhirnya berbalik membubarkan diri menuju kantin, meninggalkan Wira dan Asmara.

Setelah kerumunan itu menjauh, Wira kembali memutar tubuhnya menghadap Asmara. Ia membuka tutup botol air mineralnya, menenggaknya hingga tandas setengah, lalu mengusap sisa air di bibirnya menggunakan punggung tangan.

​"Nah, aman kan sekarang?" ucap Wira santai, menatap gadis yang masih salah tingkah di depannya.

​Asmara mendengus pelan, meletakkan papan dadanya ke atas meja. "Aman apanya? Besok satu sekolah pasti bakal ngegosipin kita gara-gara kelakuan bar-bar lo barusan."

​"Bagus dong," Wira menyeringai lebar, mendekatkan wajahnya lagi. "Biar semua cowok di sekolah ini tahu, kalau Asmara Putri, Ketua OSIS paling galak dan paling cantik se-SMA Budi Bangsa... udah ada yang punya."

​Kata-kata itu meluncur dengan begitu mantap dan penuh kepemilikan.

Asmara menatap sepasang mata elang di hadapannya, tak menemukan sedikit pun keraguan di sana.

Di tengah hiruk-pikuk suara Porseni yang menggema dari segala penjuru, dunia Asmara kembali menyempit, hanya menyisakan dirinya dan Sang Matahari yang kini secara terang-terangan berjanji akan terus bersinar hanya untuknya.

1
Yurmanitya Fadilah
Terharu aku 🥹
Wanoja
sedih
Wanoja
jadi inget adegan Cinta nyusul rangga di bandara di film aadc
Wanoja
eldeer itu berat
Wanoja
definisi ada senyum ada tangis ada bahagia ada luka
Wanoja
typo dikit nihh
Yurmanitya Fadilah
Sudah kuduga
Yurmanitya Fadilah
Akhirnya ada yang bisa menaklukan dia
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mwehehehe... 😍😍😍
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Gereget banget gue sama ini anak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Emang badjingan si Wira... 🗿🗿🗿
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Ya Allah Wira Badung nya tuh ngebadung amat ini anak bikin emosi yang baca
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ciri khas bocah nggak mau diatur, Kak... 💪💪💪
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hahahaaa ngakak🤣
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hayo Lo Wira, good luck ya menghadapi Bude mu, semoga cepet tobat GK bandel lagi
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Aamiin... 🤭🤭🤭
total 1 replies
Wanoja
ngiri sama kebahagiaan mereka
Yurmanitya Fadilah
Wira Badung banget, bagus lah bapak ibunya bijak, aku setuju dia dipindahin ke Jogja aja 😄🤣
Wanoja
ya kali raka cs juga berubah kayak kmu wira setelah ke jogja terus ketemu dek asmara
Wanoja
seperti lagi dibawa keliling malioboro sama wira dan dek asmara
Wanoja
Bedanya apa ronde sama sekoteng?
Wanoja
😂 raka belum tau jogja sepertinya cuma candi sama naik becak katanya
Wanoja
baca nya esem esem ndewe
Wanoja: bayangin mereka lah
total 2 replies
@ ~arworld author(。・ω・。)
satu bunga untuk kakak nya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!