Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.
Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.
Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.
Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?
Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Melepaskan
Sudah beberapa minggu sejak hubungan Almeera dan Kaizan berakhir. Waktu ternyata tetap berjalan, meskipun seseorang merasa dunianya berhenti. Awalnya Almeera mengira dirinya tidak akan mampu menjalani hari hari tanpa Kaizan. Namun sekarang, ia mulai terbiasa. Tidak sepenuhnya lupa dan tidak sepenuhnya sembuh, tetapi sudah jauh lebih mampu menerima.
Pagi itu Almeera duduk di dalam kelas sambil menyalin catatan dari papan tulis. Eliza duduk santai di sampingnya.
"Meera," panggil Eliza pelan.
"Hm?" jawab Almeera tanpa menoleh dari bukunya.
"Kamu masih ingat tugas kelompok minggu depan?" tanya Eliza.
Gerakan tangan Almeera yang sedang menulis langsung berhenti. "Tugas yang mana?"
Eliza langsung menatapnya gemas. "Jangan bilang kamu lupa."
Almeera tertawa kecil. "Oh iya, yang itu."
"Makanya jangan terlalu banyak melamun," ucap Eliza menasihati.
"Aku lagi nggak mikirin apa apa kok," jawab Almeera membela diri.
Eliza tersenyum lega. "Baguslah."
Dosen kemudian kembali menjelaskan materi pelajaran. Almeera pun melanjutkan catatannya yang sempat tertunda.
Hari itu sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa. Namun setelah kelas selesai, ketika Almeera membuka ponselnya, ia melihat sebuah notifikasi. Nama Kaizan muncul di layar.
Almeera sempat terdiam. Pesannya terasa sangat singkat:
“Semoga kamu baik baik saja.”
Almeera membaca pesan tersebut. Kali ini tidak ada rasa marah seperti beberapa minggu lalu. Tidak ada pula keinginan menggebu gebu untuk langsung membalas. Hanya ada rasa asing yang menjalar di dadanya.
Dulu, satu pesan dari Kaizan bisa membuatnya tersenyum sepanjang hari. Sekarang, satu pesan yang sama justru membuatnya berpikir cukup lama.
Eliza memperhatikan perubahan wajah sahabatnya itu. "Dari siapa, Meer?"
Almeera langsung mematikan layar ponselnya. "Kaizan," jawab Almeera jujur.
Eliza terdiam sebentar. "Dia bilang apa?"
"Cuma menanyakan kabar," jawab Almeera santai.
"Kamu mau balas?" tanya Eliza lagi hati-hati.
Almeera menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak tahu."
Eliza tidak mau memaksanya. "Kamu nggak harus balas sekarang kok kalau memang belum mau."
Almeera mengangguk. "Iya, benar kata kamu." Mereka berdua kemudian berjalan keluar kelas.
Sepanjang perjalanan menuju kantin, Almeera masih memikirkan pesan tersebut. Ia memikirkannya bukan karena ingin kembali, melainkan karena pesan itu mengingatkannya pada masa lalu yang sedang ia coba lepaskan.
Saat sudah duduk di kantin, Almeera akhirnya membuka ponselnya kembali. Pesan dari Kaizan masih ada di sana. Jarinya sempat menggantung di atas kolom balasan selama beberapa detik. Namun akhirnya, ia memilih tidak mengetik apa pun dan kembali mengunci layar ponselnya.
"Aku nggak perlu menjawab semuanya," ucap Almeera pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Eliza yang duduk di depannya langsung mengangguk setuju. "Benar."
Almeera menatap permukaan meja makan. "Aku dulu selalu takut kehilangan dia, Liz."
Eliza diam, fokus mendengarkan.
"Sekarang aku baru sadar, mungkin yang sebenarnya harus aku takutkan selama ini adalah kehilangan diriku sendiri," lanjut Almeera tersenyum kecut.
Eliza ikut tersenyum tulus. "Kamu sudah jauh berubah ya sekarang."
Almeera menggelengkan kepalanya merendah. "Aku sampai sekarang masih harus banyak belajar."
"Setidaknya kamu mau belajar, Meer," ucap Eliza menyemangati.
Almeera tersenyum ramah. "Iya, terima kasih ya."
Sore harinya, Almeera kembali datang ke acara kajian rutin. Kali ini ia terpaksa datang sendiri karena Eliza mendadak memiliki urusan lain. Almeera duduk di tempat yang biasa ia tempati di barisan belakang, lalu membuka buku catatan kecilnya.
Acara kajian pun dimulai. Almeera mendengarkan penjelasan materi dengan sangat tenang. Tema kajian hari itu membahas tentang cara menerima ketetapan takdir dari Allah.
Ada satu bagian penjelasan ustaz yang membuat Almeera terdiam cukup lama di tempat duduknya. Ustaz menjelaskan bahwa manusia boleh saja memiliki rencana, namun hasil akhirnya tetap berada di luar kendali manusia.
Almeera menundukkan kepalanya dalam dalam. Ia langsung teringat hubungannya dengan Kaizan dulu. Dulu ia begitu yakin bahwa Kaizan akan menjadi bagian dari masa depannya. Ia bahkan tidak pernah membayangkan kalau hubungan tersebut akan berakhir. Namun kenyataannya, manusia bisa berubah, keadaan bisa berbalik, dan rencana yang dianggap pasti bisa berakhir tanpa ada pemberitahuan.
Almeera menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya. "Ya Allah..." ucap Almeera lirih dalam hati.
Setelah kajian selesai, Almeera tidak langsung pulang. Ia duduk sebentar untuk menuliskan sesuatu di dalam buku catatan kecilnya:
“Aku tidak harus memahami semua alasan di balik kehilangan. Aku hanya perlu percaya bahwa Allah tahu apa yang tidak aku tahu.”
Almeera membaca tulisannya kembali, kemudian menutup bukunya dengan rapat. Namun saat hendak berdiri, seseorang berjalan menghampirinya.
"Belum pulang, Meera?"
Almeera menoleh tegak. "Eh, Ka Rafael."
Rafael menunjuk ke arah kursi kosong di sebelahnya. "Saya boleh duduk di sini?"
Almeera mengangguk ramah. "Boleh, silakan."
Rafael pun duduk dengan jarak pembatas yang wajar dan sopan. "Kamu harian ini datang sendiri?"
"Iya, Eliza lagi ada urusan lain," jawab Almeera menjelaskan.
Rafael mengangguk angguk. "Biasanya kan kamu selalu bareng sama Eliza terus."
"Iya, benar. Makanya hari ini saya sendirian," ucap Almeera.
Mereka sempat terdiam sebentar. Rafael kemudian melihat buku catatan di tangan Almeera. "Masih suka menulis ya?"
"Iya, masih kok," jawab Almeera santai.
"Isinya masih tentang pengingat diri seperti kemarin?" tanya Rafael lagi.
Almeera tersenyum manis. "Kurang lebih begitu."
Rafael mengangguk tegak. "Itu bagus, Meera."
Almeera langsung tertawa kecil. "Kamu mulai lagi deh mengucapkan kata itu."
Rafael ikut tersenyum geli. "Maaf, sudah jadi kebiasaan."
Almeera kemudian bergerak memasukkan bukunya dengan aman ke dalam tas ransel. "Kamu sendiri kenapa datang ke sini?"
"Ada sedikit kegiatan rapat bersama panitia setelah kajian ini," jawab Rafael menjelaskan kesibukannya.
"Oh, begitu ya," ucap Almeera paham.
Rafael melirik ke arah jam dinding. "Kalau kamu mau pulang sekarang, aku bisa temani berjalan sampai ke depan yuk?"
Almeera menggelengkan kepalanya pelan untuk menolak halus. "Nggak usah repot repot, Rafael. Aku bisa sendiri kok ke depan."
Rafael mengangguk menghormati batasan Almeera. "Oke, siap."
Tidak ada sikap memaksa dari Rafael, dan tidak ada yang membuat percakapan menjadi terlalu jauh. Mereka hanya duduk mengobrol santai beberapa menit sebelum akhirnya berpisah.
Almeera bangkit berdiri dari posisinya. "Kalau begitu, saya pulang dulu ya, Ka Rafael."
"Iya, silakan. Hati hati di jalan ya," jawab Rafael ramah.
"Iya, kamu juga semangat rapatnya. Assalamu'alaikum," ucap Almeera.
"Wa'alaikumussalam," jawab Rafael hangat. Almeera pun berjalan keluar meninggalkan gedung masjid.
Di dalam angkutan umum perjalanan pulang, pikiran Almeera kembali teringat pada pesan dari Kaizan tadi siang. Namun kali ini, ia merasa jauh lebih yakin dengan keputusannya. Ia sama sekali tidak membenci Kaizan, dan tidak ingin membalas perlakuannya. Ia murni hanya ingin berhenti membawa bawa masa lalu ke dalam kehidupan barunya yang sedang ia bangun.
Sesampainya di rumah, Almeera langsung masuk ke dalam kamarnya yang tenang. Ia mengambil ponsel, lalu membuka ruang obrolan Kaizan untuk yang terakhir kalinya. Jarinya bergerak perlahan mengetik satu balasan singkat:
“Aku baik baik saja kok. Semoga kamu juga selalu baik baik saja ya.”
Almeera membaca pesan tersebut sekali lagi, lalu menekan tombol kirim. Tidak lama kemudian, balasan dari Kaizan langsung masuk kembali.
“Syukurlah.”
Hanya satu kata itu yang dikirim. Dan Almeera memilih untuk tidak membalasnya lagi. Ia mengunci layar ponselnya, lalu meletakkannya di atas meja belajar.
Untuk pertama kalinya, Almeera tidak merasa perlu mencari tahu apa yang sedang Kaizan lakukan setelah hari ini. Ia tidak ingin tahu tentang urusan pertunangannya, tidak ingin mencari tahu tentang Zafira, dan tidak ingin melihat kehidupan mereka lagi. Ia benar benar ingin berhenti sampai di sini.
Almeera kemudian mengambil kembali buku catatannya. Ia membuka halaman baru yang masih bersih, lalu menulis:
“Hari ini aku belajar bahwa melepaskan bukan berarti harus membenci. Melepaskan berarti menerima kenyataan bahwa sesuatu memang bukan lagi menjadi milikku.”
Ia berhenti menulis sebentar, menarik napas dalam, lalu menambahkan satu kalimat tegar sebagai penutup:
“Dan untuk sekarang, aku ingin belajar mencukupkan seluruh hatiku kepada Allah.”
Almeera menutup bukunya rapat rapat. Malam itu rasanya berjalan dengan jauh lebih tenang dan damai. Tidak ada lagi tangisan galau, tidak ada lagi keinginan untuk kembali ke masa lalu. Hanya ada rasa lega yang perlahan mulai tumbuh di dadanya.
Almeera tahu betul kalau perjalanan hijrahnya ini masih sangat panjang. Ia masih bisa saja melakukan kesalahan, masih bisa goyah, atau bahkan masih bisa sesekali merasa sedih. Namun sekarang, ia tidak lagi berjalan sambil memegangi masa lalunya. Ia mulai belajar melepaskannya pergi dengan ikhlas.
Dan mungkin, tanpa pernah Almeera sadari malam ini, ketika satu porsi dari masa lalunya sudah benar-benar ia lepaskan, Allah sebenarnya sedang mempersiapkan babak baru dalam hidupnya. Takdir ini datang bukan bertujuan untuk menggantikan posisi siapa pun, dan bukan untuk mengisi kekosongan hatinya. Melainkan untuk membuktikan kepada Almeera bahwa kehidupannya ternyata masih memiliki banyak halaman cerita indah yang belum sempat ia baca selama ini.
Dan di salah satu lembar halaman cerita baru yang bersih itu, nama Rafael perlahan mulai muncul menghiasi hari harinya. Kehadiran Rafael saat ini memang bukan menjadi tujuan utamanya, melainkan sebatas sosok kakak tingkat yang kebetulan sering takdir pertemukan dengannya karena keadaan. Ya, setidaknya untuk sekarang.