Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. TAK ADA BEBAN, TAK ADA TEKANAN

Bab 27. Tak Ada Beban, Tak Ada Tekanan.

Mereka tidak langsung keluar lagi setelah barang-barang selesai dibereskan. Perjalanan panjang sejak pagi membuat keduanya sama-sama ingin beristirahat sejenak. Kalandra menjatuhkan tubuhnya ke kursi rotan di sudut ruangan. Sementara itu, Hagia kembali berdiri di depan jendela. Kedua tangannya bertumpu pada bingkai kayu, matanya menyapu hamparan perbukitan yang perlahan berubah warna diterpa cahaya sore.

"Kamu mau berdiri terus di situ?"

"Sebentar." Hagia tidak mengalihkan pandangannya. "Saya lagi memastikan ini bukan mimpi."

Kalandra bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekat tanpa mengatakan apa pun. Tiba-tiba jemarinya mencubit pelan punggung tangan Hagia, lalu menahannya beberapa saat.

"Sakit?"

"Tuan!" Hagia spontan menepuk tangan Kalandra hingga terlepas.

"Ya sakitlah. Masih nanya."

Ia mengusap pelan bekas cubitan itu sambil mendelik.

Kalandra mengangguk kecil.

"Masih berpikir ini mimpi?"

Hagia menggeleng pelan.

"Makin ke sini, Anda makin aneh."

Untuk sesaat, tawa Kalandra pecah memenuhi ruangan. Tidak keras. Namun, cukup membuat Hagia kembali menatapnya dengan wajah penuh keheranan.

"Nah, kan..." gumam Hagia pelan. "Bisa ketawa terus sekarang."

Kalandra hanya membalas dengan senyum tipis. Setelah itu ia ikut berdiri di samping Hagia, bertumpu pada jendela yang sama. Pandangannya lurus mengarah ke hamparan lembah yang mulai diselimuti cahaya keemasan.

"Di sini..." ucapnya pelan, "rasanya tidak ada beban." Ia berhenti sejenak. "Tidak ada tekanan pekerjaan."

Hagia tidak langsung menjawab.

Entah mengapa, ia justru lebih banyak memperhatikan wajah pria di sampingnya daripada pemandangan di depan mereka. Garis rahang yang biasanya selalu tegang kini tampak jauh lebih rileks. Bahkan sorot matanya pun berbeda. Seolah-olah Kalandra yang berdiri di sampingnya saat ini bukan pria yang setiap hari memimpin Arshaka Group.

Mungkin karena terlalu lama memperhatikan, Kalandra akhirnya menoleh.

"Kamu lihat apa?"

Hagia yang ketahuan sedang memandanginya segera berdeham kecil.

"Tuan..."

"Hm?"

"Di sini, Anda merasa tidak tertekan, tapi... sayalah yang tertekan."

Kalandra mengernyit. "Kenapa?"

Hagia melirik pelan ke arah lengan mereka yang nyaris saling bersentuhan karena sama-sama bertumpu pada jendela yang sempit.

"Anda maksa banget berdiri di jendela sekecil ini."

Ia bergeser setengah langkah sambil tersenyum tipis. "Kan saya jadi tertekan."

Kalandra mengikuti arah pandang Hagia, lalu baru menyadari jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

Sudut bibirnya kembali terangkat.

Namun kali ini, ia memilih diam.

Kalandra akhirnya memutuskan beristirahat sejenak. Perjalanan panjang sejak pagi benar-benar menguras tenaganya. Ia merebahkan tubuh di atas tempat tidur kayu yang memenuhi hampir separuh ruangan.

"Saya tidur sebentar."

Hagia mengangguk pelan.

"Silakan."

Tidak membutuhkan waktu lama hingga napas Kalandra terdengar teratur. Sementara itu, Hagia sama sekali belum mengantuk. Tidur hampir sepanjang perjalanan membuat tubuhnya kembali segar. Ia melangkah keluar menuju beranda kecil yang seluruh lantainya terbuat dari bilah-bilah bambu hitam yang mengilap. Kedua tangannya bertumpu pada pagar bambu.

Hamparan perbukitan yang sejak tadi memikat perhatiannya kini berubah warna diterpa cahaya senja. Langit perlahan bergradasi jingga keemasan, sementara angin pegunungan membawa aroma pinus dan tanah basah yang begitu menenangkan.

Suara langkah kaki kecil membuatnya menoleh. Seorang anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun berdiri di bawah beranda sambil melambai kecil.

"Kak."

Hagia membalas senyumnya.

"Iya?"

"Ibu nyuruh saya bilang... makanannya sudah siap. Kakak sama suaminya tinggal datang ke sana kalau sudah lapar. Jangan tunggu sampai dingin."

Hagia mengikuti arah telunjuk anak itu menuju bangunan kayu yang berada sedikit lebih tinggi dari vila mereka.

"Oke. Sebentar lagi, ya." Ia membentuk lingkaran kecil dengan ibu jari dan telunjuknya.

"Nunggu suami saya bangun dulu."

"Iya, Kak. Ditunggu sama Ibu."

Anak itu kembali berlari menyusuri jalan setapak. Hagia masih memandangi punggungnya hingga menghilang di balik pepohonan.

"Ngobrol sama siapa?" Suara Kalandra terdengar dari belakang.

Hagia menoleh sambil tersenyum tipis.

"Sudah bangun, ya?"

Kalandra mengangguk kecil.

"Anaknya pemilik vila."

"Apa katanya?"

"Ngasih tahu makan malam sudah siap."

Kalandra mengangguk pelan. Saat itu juga angin kembali berembus lebih dingin. Hagia refleks mengusap kedua lengannya. Tanpa berkata apa-apa, Kalandra membuka jaket yang dikenakannya.

"Kamu enggak dingin?"

Belum sempat Hagia menjawab, jaket itu sudah lebih dulu disampirkan ke bahunya.

"Tuan..."

"Pakai saja."

Hagia merapatkan kedua sisi jaket itu ke tubuhnya. "Terima kasih."

Kalandra ikut bersandar pada pagar bambu di sampingnya. Keduanya kembali memandang lembah yang mulai tertutup bayang-bayang senja.

"Sebentar banget tidurnya."

"Saya memang tidak biasa tidur sore."

Hagia menoleh. "Kenapa?"

"Kalau kelamaan, saya biasanya malah pusing."

Hagia mengangkat sebelah alis.

"Apa?" Kalandra melirik sekilas ke arahnya. "Itu bukan teori. Cuma kebiasaan saya saja."

Hagia langsung tertawa kecil.

"Saya kira teori baru lagi."

Kalandra hanya menggeleng pelan.

Senyum tipis masih bertahan di wajahnya. Sesaat kemudian, keduanya kembali larut dalam keheningan. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hamparan langit jingga di depan mereka seolah sudah lebih dari cukup untuk mengisi sore pertama yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Langit benar-benar berubah gelap ketika mereka akhirnya memutuskan turun menuju kafe.

Hagia lebih dulu mengenakan jaket rajut tebal yang dibawanya dari Jakarta. Sementara itu, Kalandra menambahkan jaket luar berwarna gelap di atas kemeja yang sejak pagi dikenakannya. Mereka keluar dari vila tanpa tergesa-gesa.

Jalan setapak yang siang tadi masih ramai kini jauh lebih lengang. Beberapa tamu sudah kembali ke vila masing-masing. Tidak banyak suara yang terdengar selain langkah kaki mereka yang sesekali memecah keheningan malam. Kafe kecil itu masih buka. Lampu-lampu berwarna kuning temaram menggantung di bawah atap kayunya, memancarkan suasana hangat yang kontras dengan udara malam di luar.

Pemilik vila yang melihat kedatangan mereka langsung menyambut dengan senyum ramah.

"Silakan, Pak... Bu. Makanannya sudah siap."

"Terima kasih, Bu," jawab Hagia.

Mereka menempati meja kecil dengan posisi duduk berhadapan. Tidak jauh dari tempat mereka duduk, hanya ada satu keluarga kecil yang sedang menikmati makan malam. Selebihnya, suasana kembali tenang. Beberapa hidangan sederhana segera tersaji di atas meja. Nasi hangat, ikan bakar, sayur, sambal, serta sepoci teh yang masih mengepulkan uap.

Untuk beberapa menit, keduanya menikmati makan malam tanpa banyak bicara. Kalandra baru saja hendak membuka percakapan.

"Hat... hat... hatsyuu."

Ia segera memalingkan wajah sambil menutup hidungnya dengan punggung tangan.

"Maaf."

Setelah mengusap pelan ujung hidungnya, ia menarik sedikit resleting jaket yang dikenakannya.

"Ya ampun... dinginnya."

Hagia hanya melirik sekilas lalu, mendorong teh hangat ke hadapan lelaki di depannya.

Beberapa saat, Hagia meletakkan sendoknya lebih dulu.

"Tenang banget hidup di sini."

Kalandra mengangguk pelan.

"Iya."

"Rasanya..." Hagia mencari kata yang paling tepat. "Tidak ada yang terburu-buru."

"Karena tidak ada yang mengejar."

Hagia mengangkat pandangan.

"Di kota, kita seperti dikejar waktu."

"Benar."

Ia menyesap sedikit teh hangat sebelum kembali melanjutkan makan.

Hagia menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Terus..."

Kalandra menoleh.

"Apa menurut Anda di sini sebaliknya? Waktulah yang mengejar kita?"

Kalandra menggeleng pelan.

"Tidak."

Ia terdiam beberapa saat, seolah ikut merasakan suasana yang mengelilingi mereka malam itu.

"Di sini..." ucapnya pelan, "...waktu justru seperti berhenti."

Hagia ikut terdiam. Matanya menyapu ruangan kecil itu. Tidak ada seorang pun yang terlihat terburu-buru menghabiskan makanan. Pemilik kafe melayani tamunya dengan santai. Bahkan percakapan orang-orang di sekitar mereka terdengar pelan, seolah semua sepakat untuk tidak mengganggu ketenangan malam.

"Kalau begitu..."

Kalandra kembali menatapnya.

"Saya berharap jam di tempat ini rusak."

Sudut bibir Kalandra terangkat tipis. "Supaya?"

"Supaya kita pulangnya lama."

Untuk beberapa detik, Kalandra tidak menjawab. Ia hanya memandang Hagia dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu, nyaris tanpa suara, sebuah senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

"Itu pertama kalinya..." ucapnya pelan, "saya berharap sesuatu yang sama."

Next--->

1
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
makhluk langka mungkin Hagia 🤭
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
Hagia jadi penasaran
Nety
bukan kah mereka berangkat bawa mobil kan kalandra sendiri yg nyetir,, knp skrng jadi nunggu jemputan ?? d gondol maling kah😅
Nety
seru,, meskipun pernikahan mereka di awali dgn transaksional tapi akhir nya cinta tumbuh seiring berjalanya waktu,, perlakuan kalandra terhadap hagia yg tidak menuntut
perhatian" kecil kapada pasangan dan saling pengertian dari kedua nya membuat mereka nyaman menjalani bahtera rumah tangga..

d tunggu bab selanjut nya mbu' na 🤩🤩
Nety
😂😂😂 kejengkelan hagia d balas ke tenangan se orang paksu 😅😅 yg sbr ya my istri 😅
Nety
benih benih cembokur mulai tumbuh 😅😂
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒: kamu mulai cemburu kalandra
total 1 replies
Nety
aku ikut tegang, berasa ada d dalam novel🤭
Nety
apakh ini jebakan danu??
Nety
ke nya CEO kita ini lagi pura pura tidak tau tentang identitas hagia 😄
🫩¹
jreng jreng jreng... next.. lnjut lagi 👉
🫩¹
Xavier itu apanya Hagia thor? Daddy nya kah?... ahhhh aku penasaran 🙈
🫩¹
emang nama Xavier itu siapa? penasaran 🙈
🫩¹
nah kan ada sangkut pautnya Danu dengan kejadian Hagia... next mbu' 👉
🫩¹
aku curiga sama Danu dan ibu sambungnya 🫣
🫩¹
mbuna suka ngegantung ya /Facepalm/
🫩¹
aku sudah terlanjur curiga sama Danu 😅
🫩¹
ada yg sengaja gak ya nguncinya🫢
🫩¹
tunjukkan pesonamu Hagia🤭😅
🫩¹
mulai curiga 🤭
🫩¹
benih2 sudah mulai tumbuh 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!