Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halaman yang Tertutup

Suasana di kamar itu menjadi hening seketika. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Mata mereka semua tertuju pada buku yang terbuka di meja itu, halaman yang tertulis rapi namun penuh kegelisahan. Kata-kata itu seakan bukan sekadar tulisan di atas kertas melainkan pesan yang ditujukan langsung kepada siapa pun yang berani masuk ke ruangan ini, bertahun-tahun setelah ditulis.

"Siapa yang menulis ini?" tanya Tika pelan, suaranya bergetar. "Dan kapan terakhir kali ia menulisnya?"

"Kita tidak tahu," jawab Raka lembut, matanya tetap menatap tulisan itu namun tangannya tidak berani menyentuh buku itu. "Tanggalnya tidak tertulis di bagian atas halaman ini. Seakan penulisnya sengaja tidak mencatat waktu, seakan waktu tidak lagi berarti di rumah ini."

Laras berdiri terpaku di tempatnya, matanya tak mampu beralih dari baris kalimat terakhir itu: "melainkan sesuatu yang sudah ada di sini sebelum kami datang. Sesuatu yang menunggu." Kata-kata itu terasa begitu akrab di telinganya, seakan ia pernah mendengarnya di mimpi berulang kali. Sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang sejak awal kehadiran mereka di kawasan ini terasa mengawasi setiap langkah, setiap napas, setiap kata yang terucap.

"Kita rekam halaman itu saja dulu," perintah Bu Sari pelan, suaranya berusaha tetap tenang namun nada tegang tak bisa disembunyikan. "Jangan dibalik halamannya. Jangan disentuh. Cukup ambil gambar apa adanya."

Budi mengarahkan kamera ke meja itu, memperbesar tampilan hingga tulisan itu terlihat jelas di layar monitor. Cahaya lampu sorot jatuh lembut di atas kertas yang sudah mulai menguning dimakan usia, memperlihatkan setiap goresan pena yang tertulis dengan hati-hati, seakan penulisnya takut ada yang membaca tulisan itu sebelum waktunya.

"Pena itu masih tergeletak di samping buku," gumam Eko pelan. "Seakan ia baru berhenti menulis, lalu beranjak sebentar dan akan kembali. Tapi itu terjadi bertahun-tahun yang lalu..."

"Justru itulah yang aneh," sambung Raka pelan. "Kalau mereka pergi secara terburu-buru atau dipaksa, buku ini pasti sudah tertutup, atau jatuh, atau terbalik. Tapi buku ini diletakkan rapi, terbuka di halaman terakhir yang ditulis. Seakan ia sengaja meninggalkannya terbuka, agar siapa pun yang datang ke sini bisa membacanya. Seakan ia menunggu seseorang untuk menemukan pesan ini."

Angin kembali berhembus pelan melalui celah jendela, menggerakkan halaman buku itu sedikit ke samping, seakan ada tangan tak kasat mata yang ingin membalik halaman berikutnya. Namun halaman itu tertahan. Ada sesuatu yang mencegahnya terbuka. Entah karena kelembapan udara yang membuat kertas saling menempel, entah karena alasan lain yang tak bisa dijelaskan.

"Cukup dulu di sini," ucap Bu Sari akhirnya, memecah keheningan. "Kita turun ke ruang bawah lagi, lalu ke ruang makan dan dapur. Kita ambil gambar secara menyeluruh, lalu kita keluar sebelum matahari terlalu condong ke barat. Ingat pesan Pak Tua Suryo — jangan tinggal di sini setelah matahari terbenam."

Mereka semua mengangguk pelan, berjalan mundur perlahan dari meja itu seakan takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur di dalam ruangan itu. Sebelum keluar, Laras menoleh sekali lagi ke arah buku itu. Untuk sesaat ia merasa ada bayangan samar yang bergerak di sudut ruangan, di belakang pintu lemari yang tertutup rapat. Namun saat ia menatap lebih tajam, tidak ada apa-apa di sana. Hanya bayangan lemari yang jatuh di dinding.

Turun tangga terasa lebih berat dibandingkan saat naik. Setiap langkah ke bawah membawa mereka kembali ke kenyataan, namun bayangan kata-kata di buku itu tetap mengikuti di belakang kepala, seakan berbisik pelan di telinga. Sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang sudah ada di sini sebelum mereka datang.

"Kita cek ruang makan dan dapur," ucap Bu Sari pelan setelah mereka kembali ke ruang tengah. "Di sana mungkin ada detail yang menarik untuk suasana film."

Ruangan makan itu terletak di sebelah kanan ruang tengah, terhubung langsung dengan dapur di bagian belakang. Meja makan kayu itu masih tertata rapi, seakan akan ada yang makan sebentar lagi. Di atas meja itu terdapat piring-piring yang sudah tertutup debu, sendok dan garpu yang tersusun rapi di samping piring, dan sebuah mangkuk besar di tengah meja. Di sudut meja terdapat kursi yang sedikit ditarik ke belakang, seakan seseorang baru saja bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa.

"Lihat kursi itu," tunjuk Maya pelan. "Yang lain semuanya rapi tersusun di bawah meja. Hanya satu yang ditarik keluar. Seakan orang itu bangkit berdiri tiba-tiba, melihat sesuatu yang membuatnya takut, lalu lari meninggalkan meja itu tanpa sempat mengembalikan kursinya ke tempat semula."

"Dan tidak ada tanda-tanda perkelahian atau keributan," tambah Raka sambil mengamati lantai dan meja. "Semua piring tidak pecah. Tidak ada barang yang jatuh atau berantakan. Tapi orang itu pergi dengan tergesa-gesa. Ada sesuatu yang membuatnya pergi, tapi bukan karena dipaksa."

Mereka berjalan menuju dapur di bagian belakang. Dapur itu sederhana, dengan kompor tanah liat dan tungku kayu di salah satu sudut, serta rak-rak dinding yang berisi peralatan masak dan piring-piring. Semuanya masih di tempatnya. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang rusak. Di sudut dapur terdapat sebuah ember air yang masih berisi air bening, dan di sebelahnya ada gayung yang terbuat dari kelapa. Semuanya terawat, seakan dapur itu masih digunakan kemarin.

"Airnya tidak keruh," gumam Rian, penata suara, dengan nada heran. "Padahal sudah bertahun-tahun. Seakan ada yang mengisinya dan menggantinya secara berkala."

"Jangan dipikirkan terlalu jauh," tegur Bu Sari lembut namun tegas. "Kita ambil gambar, lalu kita pergi. Semakin lama kita di sini, semakin berat hawa yang terasa."

Mereka bergerak cepat namun tetap berhati-hati, merekam setiap sudut ruangan, setiap benda yang tertinggal, setiap detail yang menceritakan kehidupan keluarga yang pernah tinggal di sini namun kini hilang tanpa jejak. Setiap langkah yang mereka ambil terasa semakin berat, setiap napas terasa semakin dalam. Seakan rumah itu perlahan menyerap kehadiran mereka, menyimpan wajah dan nama mereka di setiap sudut ruangannya.

"Sudah cukup," ucap Bu Sari setelah semua sudut terekam. "Kita keluar sekarang."

Mereka berjalan menuju pintu depan dengan langkah cepat namun tidak berlari. Raka berjalan paling belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal. Sebelum melangkah keluar dari ambang pintu, ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di dalam rumah yang mulai remang-remang itu, di lorong menuju tangga, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Di sana, berdiri sosok gadis muda yang mengenakan pakaian sederhana, menatapnya dengan tatapan sedih namun tenang. Ia tidak bergerak, tidak berbicara, hanya berdiri diam di tengah kegelapan. Raka terpaku, matanya tak mampu berkedip. Sosok itu perlahan mengangkat tangan kanannya, seakan memberi isyarat agar ia pergi. Dan saat Raka mengedipkan mata, sosok itu lenyap seketika, seakan tak pernah ada.

"Raka, ayo!" panggil Laras dari luar pintu, suaranya terdengar cemas.

Raka tersentak, segera melangkah keluar dan menutup pintu kayu tua itu perlahan. Pintu tertutup rapat, menutup segala sesuatu yang ada di dalam sana. Namun Raka tahu, ia tidak akan pernah melupakan wajah itu. Wajah yang menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan, mata yang seakan memohon pertolongan.

"Kita pergi sekarang," ucap Raka pelan kepada seluruh kru, suaranya sedikit bergetar namun tegas. "Jangan menoleh ke belakang. Terus berjalan sampai kita keluar dari kawasan ini."

Mereka semua melihat perubahan di wajah Raka, namun tidak ada yang bertanya. Mereka tahu sesuatu yang besar baru saja terjadi di dalam rumah itu, sesuatu yang Raka lihat namun tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menurun, meninggalkan ketujuh rumah dan rumah kedelapan itu di belakang mereka. Langit di atas sudah mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, tanda matahari akan segera terbenam. Dan di atas bukit itu, di balik jendela besar rumah kedelapan, sesuatu sedang memperhatikan kepergian mereka, sambil menunggu kedatangan berikutnya.

 

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!