Yun Luofeng dikenal sebagai sampah Klan Yun—tak bisa berkultivasi, tergila-gila pada Putra Mahkota, bahkan menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Kekaisaran.
Namun setelah sebuah percobaan bunuh diri, Yun Luofeng yang lama telah tiada.
Kini, di dalam tubuhnya hidup seorang genius medis dari dunia lain, membawa Kitab Dewa Medis dan rahasia yang mampu mengguncang Benua Longxiao.
Mereka bilang dia sampah? Dia akan menjadi kultivator yang membuat para genius menundukkan kepala.
Mereka menghina keluarganya? Dia akan membuat mereka membayar.
Dan Putra Mahkota yang membuangnya?
Maaf, bahkan untuk menjadi pelayannya pun belum tentu memenuhi syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwinanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Gadis yang Seharusnya Sudah Mati
Kepulangan seorang pahlawan seharusnya menjadi hari yang membahagiakan.
Namun bagi Jenderal Besar Yun Luo, sorak-sorai ribuan warga yang memenuhi jalan utama Kota Kekaisaran Longyuan bahkan tidak mampu membuatnya tersenyum.
“Jenderal Yun!”
“Selamat atas kemenangan besar!”
“Panjang umur Kerajaan Longyuan!”
Suara pujian bergema di sepanjang jalan. Bendera perang berkibar tinggi, sementara barisan prajurit bergerak memasuki kota dengan langkah teratur.
Di barisan terdepan, Yun Luo menunggang kuda perang dengan punggung tegak. Rambutnya telah memutih dimakan usia, tetapi tubuhnya masih kokoh dan tatapan tajamnya menyimpan wibawa seorang jenderal yang telah menghabiskan sebagian besar hidup di medan perang.
Nama Yun Luo adalah legenda di Longyuan.
Selama bertahun-tahun, dia menjaga perbatasan hingga kerajaan-kerajaan tetangga tidak berani menyerang. Dalam perang terakhir, pasukannya bahkan berhasil menundukkan empat kerajaan sekaligus dan memaksa mereka menjadi negeri bawahan Longyuan.
Kaisar sangat gembira.
Selain memanggil Yun Luo kembali untuk menerima penghargaan, Kaisar memberinya sebuah dekret kosong—janji bahwa satu permintaan Yun Luo akan dikabulkan selama masih berada dalam kemampuan penguasa Longyuan.
Hadiah yang cukup membuat bangsawan mana pun tergila-gila.
Anehnya, Yun Luo bahkan tidak langsung pergi ke istana.
Begitu memasuki Kota Kekaisaran, dia menyerahkan urusan pasukan kepada bawahannya lalu memacu kudanya menuju Kediaman Jenderal.
Para prajurit mengetahui alasannya.
Cucu perempuan sang jenderal baru saja membuat skandal besar.
Yun Luofeng.
Berbeda dengan kakeknya yang dihormati seluruh kerajaan, Yun Luofeng terkenal sebagai nona bangsawan yang tidak berguna. Dia tidak mampu menyerap energi spiritual, apalagi menjadi kultivator.
Namun bukan itu yang membuat namanya menjadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini.
Yun Luofeng dikabarkan mengejar seorang pria tampan di jalan dan ingin menjadikannya lelaki simpanan, padahal sejak kecil dia telah bertunangan dengan Putra Mahkota Gao Ling.
Skandal tersebut memberi Gao Ling alasan untuk membatalkan pertunangan mereka.
Yun Luofeng yang sangat mencintai Putra Mahkota tidak sanggup menerimanya. Dia memilih gantung diri dengan harapan Gao Ling akan berubah pikiran.
Usahanya tampak gagal karena para pelayan berhasil menyelamatkannya.
Setidaknya, semua orang percaya demikian.
Tidak seorang pun tahu bahwa Yun Luofeng sebenarnya telah mati hari itu.
---
Lebih dari setengah bulan kemudian, seorang gadis berpakaian putih berbaring santai di atas batu besar di taman belakang Kediaman Jenderal.
“Dunia yang benar-benar merepotkan.”
Yun Luofeng menyipitkan mata menatap langit.
Namanya pada kehidupan sebelumnya juga Yun Luofeng.
Dia berasal dari Huaxia dan merupakan mahasiswa kedokteran berbakat. Hidupnya berakhir ketika eksperimen yang dilakukannya di laboratorium mengalami kecelakaan dan menyebabkan ledakan.
Ketika sadar kembali, dia telah berada dalam tubuh Nona Sulung Klan Yun.
Selama setengah bulan terakhir, Yun Luofeng telah menyerap seluruh ingatan pemilik tubuh sebelumnya. Karena itu, dia juga mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum gadis malang tersebut memilih kematian.
Skandal itu adalah jebakan.
Pria yang dituduh digoda Yun Luofeng, mengenakan pakaian yang menyerupai milik Gao Ling dan jika dilihat dari belakang memiliki bentuk tubuh hampir sama dengannya.
Yun Luofeng yang lama salah mengira pria tersebut sebagai tunangannya dan menghampirinya.
Namun pria itu tiba-tiba berteriak di depan banyak orang, menuduh Yun Luofeng terus mengganggunya dan ingin memaksanya menjadi lelaki simpanan.
Karena panik dan tidak pandai membela diri, Yun Luofeng hanya terdiam.
Diamnya justru dianggap sebagai pengakuan.
“Terlalu mudah.”
Senyum tipis muncul di bibir Yun Luofeng.
Orang yang merancang jebakan tersebut memahami sifat pemilik tubuh ini dengan sangat baik.
Dan siapa yang paling diuntungkan?
Gao Ling.
Putra Mahkota Longyuan dikenal tampan, berbakat, dan memiliki masa depan gemilang. Tentu saja dia tidak ingin menikahi perempuan yang dianggap sampah.
Yun Luofeng bisa memahami itu.
Yang tidak bisa diterimanya adalah menggunakan jebakan untuk menghancurkan reputasi seorang gadis hanya demi membatalkan pertunangan tanpa terlihat sebagai pihak yang bersalah.
“Nona!”
Suara Qingyan memutus pikirannya.
Pelayan muda itu berlari mendekat dengan napas terengah-engah.
“Jenderal Besar sudah kembali. Beliau meminta Nona segera datang ke ruang kerjanya.”
Yun Luofeng terdiam sejenak.
Sebuah emosi asing mendadak muncul di dalam hatinya.
Pemilik tubuh sebelumnya kehilangan kedua orang tuanya ketika masih kecil. Yun Luo kemudian pergi menjaga perbatasan saat cucunya baru berusia empat tahun.
Sepuluh tahun berlalu.
Gadis itu terus menunggu kepulangan kakeknya.
Namun dia mati sebelum keinginannya terwujud.
Yun Luofeng bangkit dan menepuk pakaiannya.
“Kalau begitu, ayo kita temui orang tua itu.”
---
Setengah jam.
Selama itulah Yun Luofeng berdiri di ruang kerja sementara Yun Luo hanya menatapnya dari balik meja.
Yun Luofeng akhirnya menguap.
Kesabaran Yun Luo langsung habis.
“Aku mendengar kau melakukan tindakan memalukan di depan umum dan bahkan mencoba bunuh diri setelah pertunanganmu dibatalkan. Apa kau tidak punya penjelasan?”
“Penjelasan?”
Yun Luofeng tersenyum.
“Kalau Kakek lebih percaya rumor daripada cucu sendiri, apa gunanya aku menjelaskan?”
“Kurang ajar!”
BRAK!
Yun Luo menghantam meja hingga kayu tebal itu terbelah.
“Begitukah sikapmu kepada kakekmu?”
Senyum Yun Luofeng menghilang.
“Kakek?”
Emosi yang selama ini tersimpan di tubuhnya mendadak meledak.
“Ketika Kakek menjaga perbatasan, pernahkah Kakek memikirkan cucumu?”
Yun Luo membeku.
“Ketika aku dihina karena tidak bisa berkultivasi, siapa yang membelaku? Ketika reputasiku dihancurkan, siapa yang berdiri di sampingku?”
Yun Luofeng menatap lurus ke matanya.
“Ketika aku membutuhkan seseorang untuk melindungiku... di mana Kakek?”
Ruangan mendadak sunyi.
Anehnya, setelah mengucapkan semuanya, Yun Luofeng merasakan beban besar terlepas dari tubuhnya.
Dia mengerti.
Itulah penyesalan terakhir Yun Luofeng yang dahulu.
Gadis itu hanya ingin mengucapkan keluhannya kepada kakek yang telah ditunggunya selama sepuluh tahun.
Kini keinginan itu akhirnya terpenuhi.
Kemarahan Yun Luo lenyap.
Tubuh lelaki tua itu perlahan bersandar pada kursi.
“Feng’er…”
Tangannya yang kasar terangkat, tetapi berhenti sebelum menyentuh cucunya.
“Kakek bersalah kepadamu.”
Suara sang jenderal terdengar serak.
“Kedua orang tuamu mengorbankan nyawa demi kerajaan, tetapi aku malah meninggalkanmu ketika kau masih berusia empat tahun.”
Ingatan lama menghantam pikirannya.
Seorang gadis kecil menangis sambil memegang pakaiannya, memohon agar dia tidak pergi.
Namun demi menjaga perbatasan, Yun Luo tetap meninggalkannya.
Dia melindungi jutaan rakyat Longyuan.
Tetapi gagal melindungi cucunya sendiri.
Yun Luofeng memandangnya beberapa saat.
“Kalau tidak ada urusan lain, aku ingin beristirahat.”
Yun Luo ingin mengatakan sesuatu, tetapi semua kata tertahan di tenggorokan.
Akhirnya dia hanya mengangguk lemah.
“Pergilah.”
Yun Luofeng berbalik.
Sesaat dia merasa kasihan melihat jenderal yang begitu ditakuti musuh kini tampak seperti lelaki tua yang kehilangan seluruh semangatnya.
Namun beberapa luka tidak dapat disembuhkan dengan satu permintaan maaf.
Setelah pintu tertutup, Yun Luo memejamkan mata.
Kesunyian berlangsung cukup lama sebelum dia bertanya dengan suara berat,
“Qingya... apakah selama ini aku benar-benar salah?”
Klik.
Dinding di sisi ruang kerja perlahan bergeser.
Dari balik pintu rahasia, seorang lelaki berwajah pucat muncul menggunakan kursi roda.
“Ayah memang telah mengecewakannya.”
Lelaki itu adalah Yun Qingya.
Paman Yun Luofeng.
Dan seseorang yang seharusnya telah mati lebih dari sepuluh tahun lalu.
Di luar sana, seluruh Longyuan percaya Yun Qingya sudah menjadi mayat.
Tak seorang pun menyadari bahwa salah satu rahasia terbesar Klan Yun selama ini tersembunyi tepat di bawah kediaman mereka.
......................
Bersambung...