Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Pagi yang tenang di aula privat salah satu hotel berbintang itu menyajikan suasana yang hangat dan damai. Karpet tebal berwarna abu-abu meredam setiap langkah kaki, sementara pendar lampu pijar memberikan kesan hangat. Aroma kayu cendana dan kelopak mawar merayap di udara, berpadu dengan alunan lembut ayat suci Al-Qur'an yang diputar tipis sebelum acara dimulai.

​Alana duduk di barisan tengah bersama Maya. Wanita itu mengenakan gamis polos berwarna moka dengan khimar senada sederhana, tanpa perhiasan mencolok, namun memancarkan aura keanggunan yang kokoh. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil bercover kulit dan pena sudah siap. Maya di sampingnya tersenyum tipis, merasa lega karena berhasil membawa atasannya keluar sejenak dari lingkaran sesak kehidupan pribadinya.

​Ustadzah Asma, seorang penceramah paruh baya dengan tatapan mata yang teduh dan menenangkan, naik ke atas podium kecil. Beliau menyapa sekitar lima puluh peserta wanita yang hadir dengan salam yang menghangatkan jiwa.

​"Ibu-ibu yang dicintai Allah," tutur Ustadzah Asma dengan suara lembut namun berwibawa. "Pagi ini, kita berkumpul bukan untuk memperdebatkan siapa yang paling terluka di dunia. Kita berkumpul untuk merapikan jiwa kita yang retak, agar cahaya Allah bisa masuk dan memulihkannya."

​Sesi pertama diisi dengan materi mengenai pemaknaan takdir dan keikhlasan. Namun, suasana baru benar-benar menguras emosi saat memasuki sesi tanya jawab interaktifmsebuah sesi privat tempat para peserta diperbolehkan membagikan beban hidup mereka untuk dicarikan solusinya dari sudut pandang syariat.

​Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh delapan tahun di barisan depan berdiri. Tubuhnya kurus, jemarinya menggenggam mik dengan getaran yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya yang pucat tersirat kelelahan batin yang amat dahsyat.

​"Assalamu'alaikum, Ustadzah..." panggil wanita itu dengan suara parau yang langsung menyedot perhatian seluruh ruangan.

​"Waalaikumsalam warahmatullah, silakan, Mbak," sahut Ustadzah Asma lembut.

​Wanita itu menarik napas panjang, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. "Nama saya... Rahma, Ustadzah. Saya sudah menikah selama sepuluh tahun. Pernikahan saya adalah pernikahan turun ranjang."

​Dada Alana seketika berdesir hebat. Kata turun ranjang menghantam pendengarannya bagaikan petir di siang bolong. Ia membetulkan posisi duduknya, menatap lurus ke arah wanita bernama Rahma itu.

​"Adik kandung saya meninggal sepuluh tahun lalu saat melahirkan anak kembar," lanjut Rahma dengan isak tangis yang mulai pecah. Suaranya bergema pilu di ruangan yang hening. "Atas desakan orang tua dan wasiat terakhir adik saya, saya bersedia mengorbankan masa muda saya untuk menikahi suami adik saya ipar saya sendiri demi merawat dua bayi kembar yang ditinggalkan."

​Alana mengepalkan jemarinya di atas paha. Kisah itu... begitu menyerupai jalan hidupnya sendiri, hanya saja dibalik posisinya.

​"Selama sepuluh tahun ini, Ustadzah..." tangis Rahma pecah, bahunya tergoncang hebat. "Saya membesarkan anak kembar itu seperti anak kandung saya sendiri. Saya mengurus rumah, menyiapkan makanannya, menutupi semua kekurangan suami saya. Uang gaji saya dari mengajar bahkan saya pakai untuk membantu dapur saat usahanya mandek. Tapi... di mata suami saya dan keluarga besar, saya tidak pernah ada."

​Seluruh ruangan mencengkeram keheningan. Beberapa peserta wanita tampak mengusap air mata mereka dengan tisu.

​"Di narasi media, di obrolan kerabat, bahkan di mata masyarakat," racau Rahma pilu, "pernikahan turun ranjang atau naik ranjang selalu saja memposisikan pihak laki-laki sebagai korban yang malang. Suami saya selalu dikasihani sebagai pria malang yang ditinggal mati istri pertama. Orang-orang bilang suami saya sangat hebat karena mau bertahan dengan wanita biasa seperti saya demi anak-anaknya. Seolah-olah dialah yang paling tersakiti dan paling berkorban!"

​Rahma mengusap air matanya secara acak dengan ujung jilbabnya. "Padahal reality-nya, Ustadzah... dialah yang mengabaikan saya. Selama sepuluh tahun, di atas meja kerjanya masih terpajang foto almarhumah adik saya. Di dalam hatinya, saya hanya pengasuh gratisan yang bertugas membesarkan anak-anaknya dan menyiapkan bajunya. Kalau kami bertengkar, dia selalu membela ingatan adik saya dan menuduh saya tidak setulus adik saya. Saya yang hidup... tapi saya yang merasa mati di rumah itu."

​Rahma menunduk dalam-dalam, dadanya tersengal. "Dua bulan lalu, suami saya bilang dia mulai sadar kalau dia jahat sama saya. Dia minta maaf dan minta kesempatan untuk belajar mencintai saya dari awal. Tapi Ustadzah... rasa cinta saya sudah habis sehabis-habisnya. Hati saya sudah mati rasa. Mati total. Jangankan untuk memeluknya, untuk sekadar melihat wajahnya saja dada saya terasa sesak dan jijik."

​Rahma mendongak, menatap Ustadzah Asma dengan pandangan memohon jawaban. "Ustadzah... apakah saya berdosa kalau saya minta cerai? Apakah saya wanita durhaka kalau saya menolak memberikan kesempatan kedua pada suami yang baru sadar setelah sepuluh tahun menginjak-injak harga diri saya?"

​Alana terpaku kaku di kursinya. Suara Rahma bagaikan gema dari isi hatinya sendiri yang selama enam tahun ini terkunci rapat. Setiap jengkal rasa sakit Rahma adalah bayangan cermin dari apa yang ia rasakan terhadap Gema.

​Ustadzah Asma menghela napas panjang dengan raut wajah penuh empati yang amat dalam. Beliau membetulkan posisi mik di depannya, lalu menatap Rahma dengan pandangan yang penuh kasih sayang.

​"Ibu Rahma yang dikasihi Allah..." tutur Ustadzah Asma, suaranya jernih dan berwibawa. "Terima kasih sudah berani bersuara. Pertama-tama, mari kita luruskan persepsi salah yang berkembang di masyarakat kita."

​Ustadzah Asma memperbaiki duduknya. "Masyarakat kita sering kali terjebak dalam stereotip patriarki yang tidak adil. Dalam kasus pernikahan naik atau turun ranjang, publik cenderung mendramatisasi duka pihak laki-laki sebagai sosok duda malang yang berkorban menikahi kerabat istrinya demi anak. Publik mengagungkan kebaikan suami, sementara mata mereka buta terhadap pengorbanan raksasa seorang wanita yang rela masuk ke dalam rumah yang penuh dengan bayang-bayang masa lalu, merawat anak yang bukan lahir dari rahimnya, dan menyerahkan masa mudanya demi rasa bakti."

​Ustadzah Asma menatap seluruh peserta. "Wanita dalam posisi ini sering dijadikan tumbal atas nama keutuhan keluarga dan kasihan pada anak. Dan celakanya, ketika wanita ini akhirnya lelah dan menuntut keadilan, masyarakat dengan mudah melabelinya sebagai wanita tidak bersyukur atau perusak kebahagiaan. Ini adalah kezaliman yang nyata di atas kezaliman."

​Beberapa peserta mengangguk setuju, termasuk Maya yang menyikut lengan Alana dengan raut haru.

​"Sekarang, mengenai pertanyaan Ibu Rahma," lanjut Ustadzah Asma dengan ketegasan hukum Islam. "Apakah seorang istri berdosa jika menuntut perceraian saat hatinya sudah mati rasa dan suaminya baru ingin berubah?"

​Ustadzah Asma tersenyum teduh. "Islam adalah agama yang sangat adil. Memang benar, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud.

Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian. Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa wanita yang meminta cerai tanpa alasan yang sah (tanpa ba'sin) tidak akan mencium bau surga. TETAPI... perhatikan kata kuncinya Tanpa alasan yang sah."

​Ustadzah Asma membuka kitab kecil di mejanya. "Dalam syariat Islam, pengabaian nafkah batin, kedinginan emosional, menjadikan istri sekadar bayangan, dan penelantaran perasaan selama bertahun-tahun adalah ALASAN YANG SANGAT SAH untuk mengajukan cerai atau khula (gugat cerai)."

​Beliau melanjutkan dengan penjelasan yang makin tajam.

​"Allah SWT menegaskan kewajiban suami dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 19.

Wa 'aasyiruuhunna bil ma'ruuf.

Artinya: Dan pergaulilah istri-istrimu dengan cara yang patut (baik).

​Menggauli dengan patut bukan sekadar memberi uang belanja atau menyediakan tempat tinggal. Menggauli dengan patut artinya memberikan rasa aman, menghargai hatinya, memuliakan kedudukannya, dan tidak menjadikannya nomor dua di dalam rumahnya sendiri. Ketika seorang suami menelantarkan batin istrinya selama bertahun-tahun, suami itulah yang terlebih dahulu melakukan DOSA BESAR penelantaran!"

​Ustadzah Asma memegang jemarinya, menghitung poin hukum syariat.

​"Ada beberapa kondisi di mana seorang istri tidak hanya dibolehkan, tetapi BISA WAJIB menceraikan atau berpisah dari suaminya, yaitu.

​Suami melakukan penelantaran batin dan dzalim secara emosional yang konsisten.

Jika suami bertindak dingin, tidak menghargai, dan menganggap istri tidak ada hingga merusak kesehatan mental dan kewarasan sang istri. Dalam Surat An-Nisa ayat 129, Allah memperingatkan suami agar tidak berpaling total hingga menggantung nasib istrinya. Maka janganlah kamu cenderung terlalu (benci) hingga kamu biarkan dia terkatung-katung.

​Hilangnya rasa secara total (Karahiyah) yang dikhawatirkan membuat istri tidak bisa lagi menjalankan hak dan kewajiban syariat.

Kisah ini pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW pada istri Thabit bin Qais, yaitu Jamila binti Abdillah. Jamila datang kepada Rasulullah dan berkata bahwa ia tidak membenci akhlak atau agama suaminya, tetapi ia sama sekali tidak bisa mencintai suaminya dan takut kufur nikmat jika mempertahankan pernikahan itu.

Apakah Rasulullah memaksanya bertahan? TIDAK! Rasulullah SAW justru menyuruh Jamila mengembalikan mahar (khula') dan memisahkan mereka secara baik-baik."

​Ustadzah Asma menatap lurus ke arah Rahma dan seluruh jemaah.

​"Ibu Rahma, dan siapapun wanita di ruangan ini yang mengalami hal serupa," tutur Ustadzah Asma dengan nada menyejukkan namun tegas. "Jika penyesalan suami datang di saat hatimu sudah benar-benar mati rasa (kahf) dan keberadaan suami itu justru membuat jiwamu makin tertekan, membuat ibadahmu tidak khusyuk, serta menimbulkan rasa benci yang berkepanjangan... maka melepaskan diri dari pernikahan itu BUKANLAH DOSA."

​Ustadzah Asma menambahkan, "Allah tidak pernah mewajibkan seorang wanita untuk membunuh jiwanya sendiri demi memuaskan penyesalan terlambat seorang pria! Penyesalan suami adalah urusannya dengan Allah atas dosa keabaiannya di masa lalu. Namun, penyembuhan jiwamu adalah tanggung jawabmu sendiri di hadapan Allah. Jangan biarkan dirimu mati perlahan di dalam rumah yang dingin hanya karena takut pada cemoohan manusia. Pernikahan dibangun untuk mencari sakinah, mawaddah, wa rahmah. Jika ketiga hal itu sudah musnah dan berganti menjadi siksaan batin, maka berpisah secara baik-baik (tasriihum bi ihsaan) adalah jalan yang diridhai Allah."

​Tasriihum bi ihsaan. Melepaskan dengan cara yang baik.

​Kalimat itu bergema di dalam kepala Alana bagaikan lonceng kebebasan. Selama ini, Alana selalu merasa bersalah karena hatinya telah tertutup rapat untuk Gema. Ia sering mempertanyakan apakah dirinya dingin, keras kepala, atau istri yang jahat karena tidak bisa menyambut penyesalan Gema yang berurai air mata satu bulan lalu.

​Namun detik ini, penjelasan syariat dari Ustadzah Asma menghancurkan seluruh keraguan yang membelenggu jiwanya. Alana menyadari bahwa mati rasa yang ia alami bukanlah bentuk kejahatan, melainkan respon alami dari jiwa yang telah dihancurkan oleh keabaian bertahun-tahun.

​Di sampingnya, Maya menatap Alana dengan mata berkaca-kaca, mengusap pelan punggung tangan atasannya. Alana menoleh pada Maya, memberikan senyuman paling legah dan paling jernih yang pernah ia miliki selama enam tahun terakhir.

​Beban berat di dadanya terangkat sepenuhnya. Alana tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak perlu lagi berpura-pura mengimbangi Gema atau hidup dalam kepura-puraan sebagai istri formalitas. Jalan ke depan telah terang benderang ia berhak atas kedamaian jiwanya sendiri, dan ia tidak lagi takut untuk mengambil keputusan besar demi kebahagiaan hidupnya bersama Tania.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!