Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Badai dari Masa Lalu, Kehebohan di Kantin, dan Benteng Sang CEO
Pagi di SMA Garuda seperti biasa diawali oleh keriuhan yang absurd di area kantin belakang. Setelah melewati jam pelajaran matematika yang menguras sisa-sisa otak anak SMA, Alexa, Rin, Safi, dan Melati sudah berkumpul di meja favorit mereka.
Di atas meja, empat mangkuk bakso berkuah merah melimpah sudah mengepulkan aroma gurih. Namun, perhatian ketiga sahabat Alexa tidak tertuju pada makanan, melainkan pada kelakuan Alexa yang sedang berusaha memasukkan cireng bulat utuh ke dalam mulutnya sekaligus.
"Aiyo! Alexa! Kau nak tercekik ke apa?!" jerit Safi heboh dengan logat Melayu khasnya, matanya melotot memandangi pipi tembam Alexa yang mengembung mirip karakter kartun hamster. "Makan tu pelan-pelan lah! Tak lari cireng tu!"
Rin menggeleng-gelengkan kepala seraya menyesap teh botolnya. "Bukan cirengnya yang lari, Safi... Tapi nyawanya yang mau melayang gara-gara kesurupan. Lihat tuh, mukanya udah kaya orang kesurupan setan kantin."
"Mumpung... uhuk!... mumpung masih hangat tahu!" cerocos Alexa setelah berhasil menelan cirengnya dengan susah payah, menenggak es teh manisnya dalam sekali tegukan. "Kalian tahu gak, semalam aku mimpi aneh banget!"
Melati menopang dagu dengan minat penuh. "Mimpi apa, Ca? Kamu mimpi dapet voucher boba gratis seminggu?"
"Bukan!" seru Alexa heboh seraya memajukan tubuhnya ke tengah meja, berbisik-bisik sok rahasia walau suara cemprengnya tetap terdengar ke meja sebelah. "Aku mimpi... aku dikejar sama nenek sihir tinggi langsing yang mukanya mirip kanebo basah! Nenek sihirnya mau merebut boneka beruang kesayangan aku!"
Rin menyipitkan matanya tajam, menyenggol lengan Melati seraya tersenyum misterius. "Boneka beruang kesayangan... apa 'Om Suami Es Batu' kesayangan, nih?"
Wajah Alexa seketika membara merah padam bagaikan kuah bakso di depannya. "RIN MASHITA! Kok jadi bahas si Om Es Batu sih?! Ini kan cuma mimpi!"
"Aalah... cakap je lah kau rindu kat suami kau tu, Ca," goda Safi terkekeh manis, menaik-turunkan alisnya. "Gaya je cakap benci, tapi kalau kat rumah mesti kau berkepit macam perangkap lalat kan?"
"GAK ADA YA!" jerit Alexa refleks dengan suara cemprengnya yang melengking naik dua oktaf, membuat ibu kantin dan beberapa murid di meja sekitar menoleh kaget. Alexa cepat-cepat menunduk kaku, menepuk jidatnya sendiri. "Aaaa! Kalian semua jahat banget! Awas ya, Nanti kalau es boba kalian aku tumpahin jangan menangis!"
Di tengah gelak tawa ketiga sahabatnya yang menggelegar, tidak ada satu pun murid di sekolah itu yang tahu bahwa gadis mungil berjulukan "Si Botol Yakult" yang sedang di-bully bercandaan ini sebenarnya adalah istri sah dari pemilik Dirgantara Group—konglomerat paling berpengaruh di ibu kota.
Sementara itu, di lantai teratas gedung Dirgantara Group...
Ketenangan yang menyelimuti area kantor eksekutif mendadak pecah oleh dentak sepatu hak tinggi yang nyaring dan percaya diri.
Seorang wanita jangkung berparas cantik jelita dengan gaun merah menyala dan rambut cokelat bergelombang melangkah anggun keluar dari lift VIP. Riasan wajahnya sangat tajam dan sempurna, memancarkan aura wanita karir kelas atas yang percaya diri. Dialah Clara—mantan kekasih Exel yang lima tahun lalu tega meninggalkan Exel tanpa pamit demi mengejar karir model dan bisnisnya di Eropa.
Langkah Clara yang percaya diri membuat para karyawan di lorong saling berbisik heboh.
"Eh, itu bukannya Mbak Clara ya? Mantan pacarnya Pak Exel yang dulu?"
"Iya! Kok balik lagi dari luar negeri? Wah, ada skandal baru nih!"
"Bukannya Pak Exel makin dingin semenjak ditinggal dia ya? Apa mau balikan?"
Tanpa memedulikan kasak-kusuk karyawan, Clara langsung menerobos pintu ruang kerja Exel tanpa mengetuk.
Srett!
Exel yang sedang membaca dokumen laporan keuangan mendadak mengangkat pandangannya. Alis tebalnya menukik tajam begitu mengenali sosok wanita yang berdiri di ambang pintu. Aura dingin bagaikan kulkas dua pintu seketika menyelimuti seluruh ruangan.
"Exel..." panggil Clara dengan suara lembut mendayu, berjalan mendekat dengan senyuman manis yang dipaksakan. "Akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Aku kangen banget sama kamu."
Exel tidak berdiri dari kursinya. Tatapan mata cokelat gelapnya sangat datar, kaku, dan membunuh—tidak ada sedikit pun binar kehangatan atau kerinduan yang tersisa di matanya.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke ruanganku?" tanya Exel dengan suara sangat rendah dan berat yang menusuk tulang.
Langkah Clara terhenti sejenak, namun wanita itu berusaha menutupi keterkejutannya dengan senyuman. "Exel, jangan dingin begitu... Aku tahu dulu aku salah karena pergi ke Paris tanpa pamit. Tapi sekarang aku sudah kembali untukmu. Aku sadar, karirku di sana tidak ada artinya kalau tidak ada kamu di sisiku."
Clara memajukan tubuhnya, berniat memegang lengan kemeja Exel.
Brak!
Exel menutup dokumennya kencang, berdiri tegap dari kursi eksekutifnya. Tubuhnya yang tinggi menjulang memancarkan tekanan dominan yang membuat Clara refleks melangkah mundur.
"Jangan pernah sentuh aku," pangkas Exel kaku tanpa jeda. "Masa laluku sudah mati lima tahun lalu bersama kepergianmu. Dan sekarang, aku tidak punya waktu untuk melayani drama ketidakjelasanmu. Keluar."
"Exel! Aku tahu kamu cuma gengsi dan marah kan?!" seru Clara mulai panik, tidak menyangka penolakan Exel akan sekeras ini. "Aku tahu kamu belum punya wanita lain! Tidak ada wanita yang bisa sejajar dengarmu selain aku!"
Exel menyunggingkan senyum sinis yang sangat tipis dan dingin. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku yang sekarang. Keluar dari kantor ini sebelum aku menyuruh sekuriti menyeretmu."
Pintu ruangan mendadak terbuka kencang. Achmad melangkah masuk dengan raut wajah kaku yang jarang terlihat, diikuti dua petugas sekuriti bertubuh tegap.
"Permisi, Nona Clara," potong Achmad tegas tanpa ramah tamah khasnya. "Pak Exel sudah menyatakan keberatannya. Silakan tinggalkan area gedung ini secara mandiri sebelum kami bertindak tegas."
Clara mengepalkan tangannya kencang, matanya menatap Exel dengan rasa tidak percaya dan amarah yang membara. Dengan hentakan kaki yang nyaring, wanita itu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan dengan wajah memerah tahan malu.
Setelah Clara pergi, Achmad menghela napas panjang, merapikan jasnya seraya menatap Exel. "Lu gak apa-apa, Cel?"
Exel kembali duduk di kursinya, merapikan kancing kemejanya kaku. "Gua tidak apa-apa. Pastikan wanita itu tidak bisa menembus keamanan gedung ini lagi."
"Siap, Bos," sahut Achmad. Namun, tak berapa lama kemudian, cengiran jenakanya kembali terbit. "Gokil juga tuh cewek... Dia gak tahu aja kalau Pak CEO kita ini sudah ada yang punya. Si Botol Yakult kalau tahu bisa ngamuk pakai jurus toa masjidnya, hahahaha!"
"Achmad, diam," desis Exel tajam, walau ada sedikit kecemasan tersirat di matanya jika sampai Alexa mengetahui hal ini.
Malam harinya, sesuai permintaan Maria Dirgantara, Exel dan Alexa menginap di kediaman utama keluarga Dirgantara. Kebetulan hari itu adalah hari Jumat, sehingga Alexa tidak perlu khawatir terlambat sekolah besoknya.
Di ruang keluarga yang luas, suasana terasa hangat. Hendra dan Maria sedang mengobrol santai bersama Alexa di sofa utama. Alexa yang mengenakan baju tidur kaus kebesaran bernuansa gambar kartun beruang sedang asyik mengunyah buah apel sambil bercerita heboh tentang tingkah Safi di sekolah.
Exel baru saja turun dari lantai dua mengenakan kaus polos hitam, melangkah mendekat. Sementara Achmad juga berada di sana karena baru selesai menyerahkan dokumen pekerjaan malam untuk Exel kepada Hendra.
Tiba-tiba, dari arah pintu utama, terdengar suara keributan kecil antara kepala pelayan dan seorang tamu.
"Nona, mohon maaf, Anda tidak bisa masuk sembarangan tanpa janji—"
"Minggir! Aku ini calon menantu keluarga ini!"
Brak!
Pintu ruang keluarga terdorong kasar. Clara melangkah masuk dengan gaun mewahnya yang lain, matanya langsung menyapu seluruh ruangan hingga terhenti pada Exel. Rupanya, rasa penasaran dan keangkuhan Clara membuatnya nekad mendatangi rumah utama keluarga Dirgantara, yakin bahwa Maria Dirgantara pasti akan menyambutnya seperti dulu.
"Tante Maria! Om Hendra!" panggil Clara dengan raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Lihat Exel, Tante... Dia jahat banget sama Clara di kantor tadi sore!"
Suasana di ruang keluarga seketika membeku total.
Hendra Dirgantara menyipitkan matanya tajam, sementara raut wajah Maria berubah sangat dingin—jauh berbeda dari sikap ramahnya yang biasa.
Alexa yang sedang memegang gigitan apelnya tertegun kaku. Mata bulatnya menatap wanita tinggi cantik dan sangat dewasa yang baru saja menerobos masuk itu. Ini... Ini kan wanita tinggi langsing yang mirip kanebo basah di mimpiku tadi pagi?! batin Alexa terperanjat.
"Clara?" suara Maria terdengar sangat datar dan dingin. "Untuk apa kamu datang ke rumah saya malam-malam begini?"
"Tante... Clara datang untuk minta maaf soal lima tahun lalu," racau Clara dramatis, mencoba mendekati Maria. "Clara mau memperbaiki hubungan kita. Clara yakin Exel masih mencintai Clara, tapi dia cuma gengsi—"
"Cukup, Clara," pangkas Hendra dengan wibawa berat yang mengintimidasi. "Kamu tidak punya hak lagi berbicara seperti itu di rumah ini."
"Tapi Om—"
"Panggil dia Nyonya Dirgantara, Clara," potong Exel dingin, melangkah maju dua pijakan hingga tubuh tegapnya berdiri tepat di depan Alexa yang masih duduk tertegun di sofa, seolah memagari istri mungilnya dari pandangan Clara. "Dan jangan pernah mengganggu keluargaku lagi."
Clara membelalakkan matanya, bingung melihat reaksi dingin seluruh keluarga. Tatapan matanya lantas jatuh pada sosok gadis mungil berseragam kaus kartun beruang yang berdiri di belakang punggung lebar Exel.
"Siapa dia?!" tunjuk Clara dengan nada meremehkan dan sinis ke arah Alexa. "Kenapa ada anak kecil kusam berseragam kartun di rumah mewah ini?! Anak pembantu baru ya?!"
DUARRR!
Perkataan 'Anak pembantu baru' seketika menyulut api kemarahan di seluruh ruangan!
Bukannya takut, gengsi dan keberanian anak SMA milik Alexa seketika meledak drastis! Bibit cemburu yang membara sejak melihat wanita itu mendekati Exel langsung memicu aksi nekat.
Alexa melompat berdiri dari atas sofa, menyingkirkan cengkeraman halus Exel, lalu berdiri tegak tepat di samping suaminya dengan tangan bertengger kencang di pinggang mungilnya!
"EHH! MBAK KANEBO BASAH PASARAN!" jerit Alexa heboh dengan suara cemprengnya yang melengking menggelegar di ruang keluarga, membuat Clara refleks menutup kedua telinganya kaget. "Enak aja maki-maki aku anak pembantu! Mata Mbak kabur ya gara-gara kebanyakan pakai bulu mata palsu?! Baju aku ini gambar beruang limited edition tahu gak!"
"Kamu—! Kurang ajar banget budak SMA ini!" murka Clara wajahnya merah padam. "Siapa kamu berani berteriak padaku?!"
Alexa mendongak tinggi-tinggi, menatap Clara yang lebih tinggi darinya dengan pijar mata penuh rasa memiliki yang sangat kuat pada Exel.
"Aku istri sahnya Mas Exel Dirgantara!" seru Alexa kencang tanpa ragu sedikit pun, suaranya menggema tegas. "Nyonya Muda di rumah ini! Mending Mbak pergi deh sekarang sebelum aku lempar pakai apel ini!"
DEG!
Kata-kata 'Aku istri sahnya Mas Exel' yang keluar begitu lantang dari bibir cempreng Alexa seketika membuat seluruh ruangan hening, terutama Exel. Sang CEO berdarah dingin itu membeku di tempatnya, menatap samping wajah istri mungilnya dengan binar mata terkejut sekaligus buncahan kebahagiaan luar biasa yang tak bisa dilukiskan kata-kata.
Clara melotot sempurna, mulutnya terbuka lebar tanpa kata. "I-Istri?! Nggak mungkin! Exel, kamu menikah sama budak SMA bantet ini?!"
"Jaga bicaramu pada istriku, Clara!" bentak Exel dengan suara menggema yang amat menakutkan, membuat Clara bergidik ngeri. "Achmad, seret wanita ini keluar dari rumahku sekarang juga!"
"Siap dengan senang hati, Bos!" sahut Achmad riang. Tanpa kompromi lagi, Achmad dan dua pengawal rumah tangga langsung memegang lengan Clara dan memandunya kencang keluar dari pintu utama diiringi jeritan histeris penolakan dari Clara yang tak dihiraukan lagi.
Setelah pintu utama tertutup kencang dan keheningan kembali melanda, Maria Dirgantara langsung menepuk tangannya gembira. "Luar biasa! Menantu Mama memang paling top!"
Namun, Alexa yang baru saja sadar akan apa yang baru saja ia teriakkan—mengaku sebagai istri sah di depan umum dan memanggil Exel 'Mas' dengan sangat posesif—mendadak panik setengah mati!
Wajah mungil Alexa seketika berubah merah padam seratus persen bagaikan kepiting rebus yang dimasak dalam minyak panas!
"Aaaaa! Malu banget ya Allah!" jerit Alexa histeris, menutupi wajah panasnya dengan kedua telapak tangan mungilnya, lalu menutupinya di balik dada tegap Exel yang berdiri di sebelahnya.
Exel tak sanggup lagi menahan rasa gemasnya. Sang CEO berdarah dingin itu terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat manis—seraya merangkul tubuh mungil Alexa dengan sangat erat dalam pelukannya.
"Terima kasih sudah membelaku, Istriku," bisik Exel sangat rendah di telinga Alexa, membuat tubuh gadis itu makin gemetar salah tingkah.
Di dekat area pantry, Achmad yang baru saja kembali dari depan menyaksikan pelukan hangat itu seraya menggeleng-gelengkan kepala. Cengiran jenaka kembali terbit di wajahnya.
"Ckckck... Bapak CEO kita ini makin bucin aja," gumam Achmad terkekeh.
Maria yang melihat Achmad berdiri sendiri langsung meliriknya dengan senyuman menggoda. "Achmad... Exel kan sudah bahagia punya istri yang imut dan setia. Kamu kapan, Nak? Umur sudah sama kaya Exel, tapi kok masih betah jomblo sendirian?"
Mak jleb!
Pertanyaan maut dari Maria Dirgantara itu seketika menghantam dada Achmad dengan sangat telak. Achmad memegangi dadanya, berpura-pura kesakitan dramatis.
"Aduh, Nyonya Besar... Tega banget pertanyaannya," cicit Achmad memelas. "Jodoh saya kan masih disembunyikan sama Tuhan, belum ketemu."
Exel yang masih merangkul bahu Alexa melirik Achmad dengan senyuman mengejek yang sangat puas. "Makanya nyari, Mad. Jangan cuma jadi penonton drama orang."
Achmad memutar bolanya malas, menatap bosnya itu dengan pandangan sinis tiada tara (Achmad be like): "Nyari... Nyari... Lu aja dijodohin, Anjim!"
"Achmad! Jaga bahasamu di depan Mama!" tegur Exel kaku, meski sudut bibirnya terangkat menahan tawa.
"Hahaha! Ampun Bos!" gelak Achmad riang seraya melangkah mundur. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, bayangan wajah manis Safi—sahabat Alexa dengan logat Melayu kentalnya—mendadak melintas pelan di otaknya, membuat cengiran Achmad sedikit berubah menjadi senyuman tipis yang hangat.
Malam itu, kembalinya sang mantan dari masa lalu bukannya meretakkan rumah tangga mereka, melainkan justru menjadi pemicu runtuhnya benteng gengsi di antara Exel dan Alexa, mempertegas status cinta dan kepemilikan sah di dalam hati mereka berdua.