Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Di Sarang Serigala

Terjebak Di Sarang Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.


yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Anak laki-laki tertua keluarga itu menyela sebelum Faris sempat bereaksi. Namun, teguran Hadin sama sekali tidak bersumber dari rasa kasihan pada adik tirinya. Pria yang sebentar lagi lulus kuliah itu menyandarkan punggungnya, lalu menyipitkan mata, menatap Nina dari balik gelas minumnya.

Di mata Hadin, penampilan Nina yang dibalut hijab sederhana justru memancarkan kepolosan yang memikat. Wajah manis dan kulit bersih gadis itu melebihi ekspektasinya tentang sosok anak desa. Senyum tipis yang penuh intensitas liar terukir samar di sudut bibirnya.

"Maafkan Hazel ya, Nina," lanjut Hadin dengan nada ramah yang dibuat-buat, tatapannya masih meneliti paras cantik Nina tanpa henti. "Dia memang suka bicara sembarangan."

"Tidak apa-apa, Kak Hadin," bisik Nina lembut tanpa berani mendongak menatap Hadin. Untung sudah beberapa bulan ia bersahabat dengan Taniza,jadi bisa meniru gaya Taniza yang memang asli lembut dan malu-malu.

Di balik wajah penurut dan kepala yang menunduk, ingatan Nina bekerja cepat. Ia menyadari sepenuhnya tatapan menilai dari Hadin, sindiran penuh kedengkian dari Hazel, serta keramahan palsu dari Anggun. Bahkan Faris hanya diam memperhatikannya, seolah sedang menilai sejauh mana barang dagangannya siap dipasarkan.

"Sembunyi di balik topeng ramah kalian," batin Nina dingin sembari mengunyah makanannya secara perlahan. "Kalian pikir aku umpan yang mudah ditelan, padahal aku yang akan meruntuhkan tempat ini dari dalam."

Malam semakin larut. Setelah jamuan makan malam yang dipenuhi kepura-puraan itu usai, Nina berada di kamarnya, berpura-pura sibuk merapikan pakaian dari tas lusuhnya.

Suara ketukan kasar di pintu memecah keheningan. Belum sempat Nina menjawab, pintu sudah terdorong terbuka. Hazel melangkah masuk tanpa permisi, mengunci pintu di belakangnya, lalu bersedekap dengan wajah penuh cemoohan.

"Heh, anak udik ," desis Hazel, melangkah mendekati Nina hingga jarak mereka sangat dekat. "Jangan kepedean ya gara-gara Mama sama Papa menyambut kamu dengan manis tadi."

Nina menunjukkan raut wajah takut, tubuhnya sengaja diubah menjadi sedikit gemetar. "M-maksud Kak Hazel apa?"

Hazel tertawa sinis, menatap Nina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan jijik. "Jangan coba-coba cari perhatian di rumah ini! Ingat ya, ini rumah Ibu aku! Pria yang kamu sebut ayah itu cuma ayah tiri buat aku sama Kak Hadin. Di mata aku, Faris itu cuma pekerja yang kebetulan ditunjuk buat ngurus perusahaan Ibu aku! Sampai kak Hadin siap memimpin perusahaan, kebetulan Ayahmu memiliki otak yang encer juga licik,jadi walaupun dari desa , ia bisa mengelola perusahaan besar milik kami, Kamu dan ayahmu itu nggak ada bedanya, cuma benalu yang bisa di buang kapan saja!"

Hazel menunjuk tepat di depan wajah Nina, memberikan ancaman akhir. "Bereskan barang-barangmu, sadar diri, dan jangan pernah mimpi bisa sejajar sama aku. Kalau sampai kamu bikin ulah, aku sendiri yang bakal tendang kamu keluar dari rumah ini!"

Setelah melepaskan emosinya, Hazel berbalik dan menghentakkan kaki keluar, membanting pintu kamar Nina dengan kencang.

Begitu derap langkah Hazel menjauh, ketakutan di wajah Nina sirna seketika. Ia mengusap bahunya, mengulas senyum tipis yang amat dingin. "Jadi Faris cuma pion di rumah ini? Bagus. Informasi yang sangat berguna, "batin Nina sembari mencatat setiap detail itu di kepalanya.

Sementara itu, di kamar lain di ujung koridor, suasana tak kalah panas, namun dengan jenis bahaya yang berbeda.

Hadin berdiri di depan kaca besar, melonggarkan kancing kemeja atasnya. Namun, bukannya merasa lega, napasnya justru semakin memburu. Wajah polos Nina, bibir tipisnya, serta tatapan matanya yang terintimidasi saat makan malam tadi terus berputar di otak Hadin.

Penampilan Nina yang dibalut hijab sederhana bukannya membuat Hadin menghormatinya, melainkan menyalakan naluri liarnya. Kepolosan gadis desa itu terasa sangat memikat, membakar imajinasi kotor di kepalanya.

Hadin mengepalkan tangannya di tepi meja, membayangkan bagaimana rasanya meruntuhkan kepolosan itu dan menjadikan Nina sebagai pelampiasan hasratnya. Pikiran-pikiran liar itu membuat darahnya mendidih dan tubuhnya terasa memanas.

"Gadis desa yang manis..." gumam Hadin dengan suara berat dan senyum licik yang terukir di bibirnya. "Kamu nggak bakal bisa lari dari rumah ini."

Tanpa Nina sadari, ancaman di rumah itu bukan hanya datang dari rencana penjualan dirinya oleh Faris dan kejahatan Anggun, melainkan juga dari bahaya terselubung yang dibawa oleh kakak tirinya sendiri.

*

*

*

Pagi harinya, sinar matahari mulai menerobos gorden kamar Nina. Semua berkas pendaftaran dan persyaratan kampus sudah tersusun rapi di dalam tasnya. Dengan balutan kemeja longgar dan hijab yang terpasang rapi, Nina turun ke lantai bawah, bersiap menyambut hari pertamanya di universitas.

Di pelataran parkir, Hazel yang sudah tampil modis menyilangkan tangan di dada, menatap Nina dengan tatapan jijik.

"Ma, Hazel berangkat duluan ya," cetus Hazel sengaja menyindir cukup keras. "Nggak mau aku satu mobil sama dia. Nanti bau Udiknya nempel di jok mobilku, idih!"

Tanpa menunggu balasan, Hazel langsung masuk ke mobilnya dan melaju kencang.

Saat Nina berpura-pura serba salah dan menunduk ragu, Hadin melangkah mendekat dengan senyum manis yang dipaksakan. Sikapnya mendadak berubah sangat hangat dan perhatian.

"Nggak apa-apa, Nina. Biar Kak Hadin yang antar," ujar Hadin lembut, membukakan pintu mobil untuk Nina. "Ayo masuk, nanti kamu terlambat di hari pertama."

"T-terima kasih banyak, Kak Hadin..." jawab Nina dengan suara pelan dan sedikit gemetar, memainkan peran gadis desa yang lugu dan penuh rasa sungkan.

Selama perjalanan menuju kampus, Hadin sesekali melirik Nina dari balik kemudi, menikmati kepolosan buatan adik tirinya itu. Begitu tiba di area parkir universitas yang megah dan dipenuhi kendaraan mewah, Hadin turun dan berjalan berdampingan dengan Nina, atau lebih tepatnya, Nina sengaja mengekor sedikit di belakang Hadin dengan langkah ragu.

Beberapa mahasiswa yang merupakan teman-teman tongkrongan Hadin bersiul nakal dari jauh saat melihat Hadin berjalan bersama seorang gadis berhijab yang tampak asing.

"Woy, Hadin! Bawa siapa tuh? Buset, ada Cinderella nyasar di kampus kita nih!" goda salah satu temannya sambil tertawa menggoda.

Pandangan mata teman-teman Hadin yang menyapu penampilannya terasa sangat melecehkan. Hati Nina mendidih. Rasanya jemarinya sudah gatal ingin mendaratkan pukulan tepat di wajah-wajah kurang ajar itu, persis seperti latihan fisik yang diajarkan Paman Juan setiap pagi. Namun, Nina dengan cepat menekan emosinya. Ia justru semakin menundukkan kepala, pura-pura malu-malu dan ketakutan.

Hadin merangkul bahu Nina secara sepihak, memasang raut wajah pelindung yang terkesan heroik di depan teman-temannya.

"Santai, Bro," sahut Hadin seraya terkekeh tipis, mengeratkan rangkulannya pada bahu Nina yang membuat gadis itu merasa mual. "Kenalin, ini saudara jauh gue dari desa. Dia baru masuk semester ini, ambil jurusan desain."

"Oalah, saudara jauh... Boleh juga nih diprospek, Din," timpal teman Hadin yang lain sambil terkekeh.

Nina tetap menunduk dalam-dalam, menyembunyikan kilat mata tajam yang sarat akan kebencian. "Nikmati aktingmu sekarang, Hadin," batin Nina dingin di balik topeng kepasrahannya. "Nanti saat waktunya tiba, tangan ini sendiri yang bakal meruntuhkan keangkuhan kalian semua."

1
Ayusha
udah paling bener begitu, orang bebal susah sadar sebelum masuk liang kubur
@Mita🥰
bagus Nina
Ayusha
wis lah, ga usah di kasih hati orang begini
Ayusha
lagi dan lagi, hanya rasa sakit yg di dapat
Teh Qurrotha
🤣 faris2 lucu,mungkin karena uang hasil jual Nina blm kamu nikmati dan lupa utang dibayarin dengan jual Nina.
sungguh terlalu kamu Faris
Ayusha
gaada penyesalan kah di hati Faris, dulu menyia²kan istri dan mengorbankan anak kandung nya.
@Mita🥰
Faris ...faris
suti markonah
faris ini ga sadar bahwa selama ini ga merawat nini, tp giliran butuh uang' anak yg selama ini tak di ksh nafkah malah di peras
@Mita🥰
jafar udah mulai bucin
@Mita🥰
mungkin preman suruhan nina
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣 jafar kejang" Krn terkejut 🤣🤣🤣
M⃟3💋AisyahRendra
Jafar oh Jafar..Pelan tapi pastiiii, dikit demi sedikit lama² jadi bukitt itu cintamu untuk Nina 🤣 tunggu sajaaa MP nyaa yaaa 🫢😆🤣 gasabar nih menantikan saat² romantisnya 🫠
Sri Supriatin
Wah karma tuh Faris... Akakah mereka kapok 🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
wah Fajar mulai deketin Nina🤭🤭
M⃟3💋AisyahRendra
Berasaaa lumayan puas sihh yaa sm nasib kehidupan Faris Anggun Dkk. 🫠 Tapiiiii tunggu tunggu tunggu dlu Hazel belum dapet giliran, dan lagiiiii kakaknya yg berada dalam rehabilitas juga belum merasakan kesakitan yg amat krn sudah pernah bermimpi ingin menganuuu Nina 🙄😒😏 next kak Onel
Ayusha
jajan nya orang have, sekali beli jajan nya aset dong 🤭
Ani Sulastri
Jafar pasti shock nich , liat nonif dari perbankan 😂😂..
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰
Sri Supriatin
Tks upnya thor💪💪💪
Ayusha
gadis desa yg keren khaan🤭
Ayusha
malah bagus dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!