Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pukul 06.30 pagi, Seo Tae-jun sudah berada di kantornya. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh karena ia memang selalu tiba lebih awal dibanding karyawan mana pun. Baginya, waktu adalah aset yang tak boleh terbuang sia-sia.

Namun, pagi ini terasa berbeda.

Sudah hampir sepuluh menit ia bergeming di balik meja tanpa membaca satu halaman pun dari laporan yang terbuka di depannya. Pikirannya terus tertuju pada satu nama: Han Ji-eun.

Tae-jun mengangkat tangan, perlahan menyentuh plester kecil di pelipisnya. Luka itu sebenarnya tidak parah, dokter pribadinya bahkan mengatakan ia tidak membutuhkan jahitan. Namun, yang membuat Tae-jun tak bisa mengalihkan ingatan dari kejadian semalam bukanlah rasa sakit dari luka tersebut, melainkan wanita yang merawatnya.

"Manajer Han..." gumamnya tanpa sadar.

Ia menggeleng pelan, berusaha menguasai diri lalu mengambil berkas lain. Tepat saat itu, telepon di mejanya berdering.

"Direktur," suara sekretarisnya terdengar dari ujung telepon.

"Ya."

"Rapat dengan jajaran direksi dimajukan menjadi pukul sembilan."

"Saya tahu."

"Dan... ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Manajer Han Ji-eun sudah mengirimkan laporan mengenai kejadian tadi malam."

Tangan Tae-jun mendadak berhenti membalik halaman. "Dia menulis apa?"

Sekretarisnya terdiam sejenak di balik telepon. "Tidak ada."

"Tidak ada?"

"Beliau hanya menuliskan bahwa inspeksi malam berjalan normal."

Tae-jun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tidak ada catatan bahwa ia ditemukan terluka, apalagi tentang ceceran darah. Wanita itu benar-benar menepati janjinya.

"Baik." Tae-jun menutup telepon.

Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka berkas profil hotel Hanseong Grand. Matanya tertambat pada sebuah baris tulisan.

HAN JI-EUN — GENERAL MANAGER

Usia: 32 tahun

Masa kerja: 5 tahun di Seo Group

Rekam jejak: Prestasi sangat baik, tidak pernah mendapat teguran, dan tidak pernah mengajukan permintaan khusus.

Latar belakang: Sederhana. Lahir di Busan, orang tua meninggal saat ia masih kecil, dibesarkan oleh sang nenek.

Tae-jun membaca seluruh deretan kalimat itu dalam diam, lalu mendadak berhenti. Ada perasaan asing yang mendadak mengganggunya. Selama ini, ia tidak pernah peduli pada latar belakang pribadi karyawannya. Namun kini, ia malah meneliti seluruh riwayat hidup seorang wanita hanya karena selembar plester di pelipisnya.

Ia menutup berkas itu rapat-rapat. "Ini konyol."

Pukul 09.15, rapat berjalan seperti biasa. Para direktur sibuk memaparkan angka okupansi, rencana renovasi, strategi pemasaran, hingga rencana ekspansi hotel baru di Jeju. Tae-jun menyimak semuanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Khusus Hanseong Grand Hotel, tingkat okupansi bulan ini naik tujuh persen," ujar salah satu direktur seraya membuka slide presentasi. "Sebagian besar merupakan dampak dari program loyalitas baru yang diterapkan oleh General Manager Han."

Tae-jun mengangkat pandangannya. "Program loyalitas?"

"Ya."

"Siapa yang mengusulkannya?"

"Manajer Han."

Tae-jun terdiam. Matanya tertuju pada layar lebar di depan ruangan. Di salah satu slide, terdapat foto Ji-eun yang sedang tersenyum ramah menyapa tamu. Tae-jun sedikit mengerutkan kening.

"Kenapa program ini belum diterapkan di hotel lain?" tanyanya tegas.

"Karena saat ini masih dalam tahap evaluasi, Direktur."

"Perluas sekarang."

Seluruh peserta rapat seketika menoleh ke arahnya.

Tae-jun melanjutkan dengan nada tenang namun tak terbantahkan, "Jika sudah terbukti berhasil di satu hotel, jangan menunggu tiga bulan hanya untuk menerapkannya di unit lain."

"Baik, Direktur. Segera kami proses," jawab direktur pemasaran cepat seraya mencatat instruksi tersebut.

Rapat kembali berlanjut. Namun Soo-jin, sekretaris Tae-jun yang sudah mendampinginya selama enam tahun, menyadari satu detail kecil. Bosnya beberapa kali mencuri pandang ke arah foto manajer hotel di layar presentasi.

Hal itu sangat tidak biasa. Sama sekali bukan karakter seorang Seo Tae-jun.

...****************...

Ji-eun sedang berdiri di hadapan sekelompok stafnya. "Mulai minggu depan, penyesuaian jadwal shift akan mulai diberlakukan," jelasnya tegas namun tenang.

Seorang supervisor mengangguk. "Baik, Manajer."

"Dan mengenai masalah kamar VIP kemarin, jangan menyalahkan tim housekeeping," lanjut Ji-eun seraya menatap timnya satu per satu. "Kita gagal berkoordinasi, jadi mari perbaiki sistemnya bersama."

Seorang staf junior perlahan mengangkat tangan. "Manajer Han..."

"Ya?"

"Anda... tidak dimarahi Direktur Seo, kan?"

Langkah Ji-eun terhenti sejenak, lalu ia tertawa kecil. "Kenapa saya harus dimarahi?"

"Sebab kabarnya beliau datang mendadak tadi malam."

"Apakah beliau menyampaikan teguran?"

"Tidak..."

"Kalau begitu, jangan mencari masalah yang tidak ada," ujar Ji-eun santai.

Tawa ringan terdengar di antara para staf, meredakan ketegangan. Namun saat suasana kembali tenang dan para staf mulai membubarkan diri, raut wajah Ji-eun perlahan berubah.

Bayangan Tae-jun semalam kembali terlintas di pikirannya. Pria itu terluka, dan jelas telah terjadi sesuatu sebelum ia ditemukan terkulai di tangga darurat. Ji-eun tahu ia tak seharusnya ikut campur dalam urusan atasan. Namun, tatapan Tae-jun semalam sungguh sulit ia lupakan, tatapan seorang pria yang sudah terlalu lama terbiasa menanggung segala hal seorang diri.

"Manajer Han," panggil stafnya, membuyarkan lamunannya.

"Ya?"

"Ada telepon dari kantor pusat."

Ji-eun segera menerima gagang telepon. "Han Ji-eun di sini."

"Manajer Han, Direktur Seo akan melakukan inspeksi kembali siang ini," ujar suara sekretaris di ujung telepon.

Ji-eun mengerutkan dahi. "Siang ini?"

"Benar."

"Apakah ada masalah serius di hotel?"

"Tidak ada."

"Baik, terima kasih informasinya."

Gagang telepon diletakkan kembali. Ji-eun menatap benda itu dengan heran. Bukankah Tae-jun baru saja melakukan inspeksi tadi malam? Untuk apa ia kembali lagi secepat ini?

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!