Indonesia
NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Komandan yang Penuh Perhatian

Pagi setelah kepulanganku, aku membungkus daun singkong rebus, ikan asin kecil, dan sambal matang dengan kertas makanan.

Itu bukan hadiah mahal. Semuanya berasal dari kiriman kampung yang diselipkan Bu RT ke mobil. Namun aku tak ingin semua perhatian Bram hanya mengalir satu arah.

Aku menaruh bungkusan di depan pintu kantornya bersama catatan: `Untuk makan siang. Jangan lupa makan.`

Lalu aku pergi sebelum ia datang.

***

Aku, Bram, menemukan bungkusan itu saat kembali dari apel. Tulisan Laras rapi. Di dalamnya, lauk sederhana disusun seolah meja makan lengkap.

Adi muncul di belakangku. "Wangi, Komandan."

"Kamu sudah makan."

"Saya cuma mengamati."

Aku membawa makanan masuk dan menyuruhnya melapor kondisi perjalanan kemarin.

"Nala hampir terlambat ditangani," katanya. "Mbak Laras kasih semua uangnya ke Mbah. Dompetnya kosong. Bajunya juga... yang tambalan lama itu ditambal lagi di bagian siku."

Aku membuka catatan pengeluaran keluarga prajurit gugur. Bantuan resmi tersedia, tetapi pencairan berkala tidak menjawab kebutuhan harian di rumah terpencil.

"Atur kunjungan kesehatan rutin lewat program keluarga," kataku. "Untuk susu dan obat yang tidak tercakup, pakai uang saya. Bayar melalui warung dan simpan kuitansi."

"Mbak Laras pasti tahu."

"Jangan cantumkan nama saya pada pesan ke rumah."

"Kalau dia tanya langsung?"

"Jangan bohong. Alihkan ke Hendra."

Adi menghela napas. "Itu lebih susah daripada latihan."

"Jalankan."

Aku juga meminta Hendra mempercepat asesmen tempat tinggal Nala. Selama anak itu tetap di kampung, Laras akan terus terbelah. Namun membawanya ke kompleks memerlukan kamar layak, status tinggal, jadwal penitipan, dan bukti bahwa pekerjaan Laras tidak terganggu.

Semua harus dipersiapkan tanpa membuatnya merasa keputusan telah diambil untuknya.

Baru setelah Adi pergi aku membuka makan siang. Sambalnya pedas, ikan asinnya garing, daun singkongnya lembut tanpa pahit.

Di bawah bungkusan pertama ada nasi yang dipadatkan dalam daun pisang dan satu potong tempe. Laras pasti membaginya dari kiriman yang seharusnya ia makan bersama Sena.

Aku mengambil foto sebelum menyentuhnya, lalu berhenti. Mengirim foto piring kosong setelah makan terasa terlalu pribadi. Namun tidak memberi kabar mungkin membuatnya bertanya apakah makanan sampai.

Aku akhirnya menulis dua kata: `Sudah diterima.`

Balasannya datang cepat: `Diterima atau dimakan?`

Aku makan sampai habis, memotret kotak kosong, lalu mengirim tanpa kalimat.

Tiga titik muncul di layar, menghilang, lalu muncul lagi. Pesan akhirnya hanya berbunyi: `Bagus.`

Satu kata itu membuat ruang kerja terasa tidak terlalu sepi.

Aku menghabiskan semuanya.

***

Di kantor Sukandar, Ratna menceritakan kendaraan kesehatan yang keluar menuju Sumberejo.

"Bram ikut menyetujui," katanya. "Mobil dinas dipakai untuk anak Laras."

Sukandar meminta salinan buku kendaraan. Di sana ada tanda tangan klinik, Hendra, tujuan medis, waktu, jarak, petugas, dan bahan bakar.

"Ini lengkap," katanya.

"Tapi tetap urusan pribadi."

"Anak prajurit gugur, kunjungan medis, rekomendasi dokter. Kalau diserang langsung, kita yang terlihat kejam."

Ratna kecewa. "Jadi dibiarkan?"

"Kumpulkan pendapat warga. Jangan menuduh kendaraan dulu. Tekankan perlakuan istimewa."

Kerja sama mereka menemukan bentuk baru: Ratna menciptakan suara massa, Sukandar menunggu kapan suara itu bisa dipakai sebagai tekanan resmi.

***

Sore hari Hendra datang ke kamarku membawa dua dokumen.

Yang pertama surat pengangkatan tetap sebagai pelatih teknis dapur untuk masa uji enam bulan. Yang kedua jadwal evaluasi dan rincian gaji.

Hendra juga membawa lembar uraian tugas yang harus dipasang di dapur. Aku bertanggung jawab mengembangkan resep, melatih tim, mengawasi konsistensi porsi, dan menyusun evaluasi bahan. Aku tidak berwenang memberi diagnosis, menyusun diet medis sendiri, atau menyetujui pengadaan.

"Kalau Darman dan saya berbeda pendapat?"

"Uji dua versi, catat hasil. Kalau soal keamanan, standar klinik dan logistik yang menang. Kalau soal rasa, panel."

"Kalau perwira meminta menu di luar prosedur?"

"Minta surat atau catat sebagai konsumsi pribadi berbayar."

Setiap jawaban membuat posisi itu terasa nyata, bukan hadiah yang bisa ditarik saat seseorang marah.

"Baca dulu," katanya.

Aku membaca setiap baris. Tidak ada kata ahli gizi. Atasanku untuk urusan teknis adalah Darman, administrasi melalui Hendra, dan jam menyusui Sena tercantum sebagai penyesuaian kerja.

"Saya boleh menolak tugas di luar kompetensi?"

"Wajib menolak kalau menyangkut keputusan klinis."

Aku menandatangani.

Nama Larasati di bawah jabatan tetap terlihat seperti milik orang lain. Beberapa minggu lalu aku datang hanya dengan dua daster. Sekarang pekerjaanku punya gaji, batas, dan masa evaluasi.

"Mulai Senin," kata Hendra. "Tapi ada satu hal."

Ia merendahkan suara. "Di asrama ada omongan soal kendaraan kemarin dan perhatian Pak Danyon. Semua dokumen aman, tetapi kamu jaga diri."

"Saya harus bagaimana? Berhenti punya anak sakit?"

"Bukan. Jangan pernah menerima urusan kerja tanpa catatan. Kalau ada ajakan pribadi dari perwira, bawa saksi."

Aku tahu yang ia maksud.

"Pak Hendra tahu soal Sukandar?"

"Saya tahu cukup untuk menyuruhmu hati-hati."

Setelah ia pergi, kutempel salinan surat di dalam peti, bukan di dinding. Aku tidak ingin pamer. Namun satu lembar kubawa ke dapur agar tugas dan wewenangku diketahui tim.

Di jalan, aku melihat Bram keluar dari kantor sambil membawa kotak makanan kosong yang kuberi pagi tadi.

"Enak?" tanyaku.

"Lumayan."

"Kalau habis semua berarti lebih dari lumayan."

Ia menyerahkan kotak yang sudah dicuci. "Besok jangan kasih semua laukmu."

"Bukan jatah saya. Kiriman kampung."

"Tetap makan."

Aku mengangkat surat pengangkatan. "Mulai Senin saya punya gaji tetap. Saya bisa membeli lauk sendiri."

Tatapannya jatuh pada tanda tangan di bawah. "Ini kamu dapat karena pekerjaanmu."

"Saya tahu. Tapi ada orang yang memastikan prosesnya punya pintu."

Bram tidak menjawab.

Aku memberanikan diri bertanya, "Apa Bapak yang meminta Wardhana menyetujui ini?"

"Saya mengajukan kebutuhan. Wardhana menyetujui proses. Hendra memverifikasi. Darman menilai kemampuanmu."

"Jawaban panjang."

"Supaya jelas."

"Kalau saya gagal masa uji?"

"Kamu evaluasi, perbaiki, atau berhenti dengan hakmu tetap dibayar. Nggak ada utang pribadi kepada siapa pun."

Kalimat terakhir sengaja ditujukan pada umpan Sukandar. Bram tidak bertanya detail yang membuatku malu. Ia hanya memastikan tidak ada lelaki yang bisa menagih tubuh atau kesetiaanku sebagai harga pekerjaan.

"Terima kasih," kataku.

"Untuk apa?"

"Untuk membuat saya bisa bilang tidak."

Matanya menggelap, lalu ia mengangguk satu kali.

Di tangan kiriku ada surat yang membuat kaki terasa menapak. Di tangan kanan ada kotak kosong yang membuktikan perhatian kecilku diterima.

Namun suara Hendra masih tertinggal di telinga.

Asrama mulai bicara semakin keras dari hari ke hari. Dan kali ini, orang yang sejak awal sabar menunggu di balik semua omongan itu adalah Sukandar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!