Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dadar Gulung Dan Sensor keamanan

Beberapa hari kemudian, lagi - lagi drama ibu hamil kembali terjadi . Pagi itu sinar matahari menembus kaca antipeluru di lantai paling atas penthouse Dirgantara Group tidak mampu mencairkan suasana kaku yang menyelimuti area ruang makan. Karena lagi -Lagi Alina menangis di meja makan,dan lagi lagi drama kue dadar yang di sajikan di depannya.

Isakan Alina akibat bentuk kue dadar gulung yang terlalu simetris perlahan mereda, menyisakan helaan napas panjang dari Devan yang masih berlutut di samping kursi istrinya. Pria itu menyapu air mata di pipi Alina dengan ibu jarinya, lalu dengan gerakan perlahan menyingkirkan piring porselen berisi kue dadar tersebut dari jangkauan pandangan istrinya.

"Panggil koki," perintahkan Devan pelan namun berhawa dingin kepada seorang pelayan yang berdiri cemas di sudut ruangan. "Minta dia membuatkan sarapan baru. Potong bahannya secara acak. Jangan ada bentuk yang simetris atau terlalu rapi di atas piring istriku."

Pelayan itu mengangguk cepat dan segera menghilang ke arah dapur utama. Alina, yang masih mengusap matanya yang memerah, menatap suaminya dengan campuran rasa malu dan heran atas reaksinya sendiri.

"Mas Devan, kamu tidak perlu menyuruh koki melakukan hal konyol seperti itu," bisik Alina, suaranya masih tersendat oleh sisa tangis. "Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa sangat sedih melihat kue itu. Ini benar-benar tidak masuk akal."

Devan berdiri tegak, merapikan lipatan kemeja putihnya yang sedikit kusut di bagian lengan. Wajahnya kembali mengeras dalam ekspresi datar tanpa cela, sebuah topeng ketahanan yang selalu ia pakai saat berhadapan dengan krisis, tak peduli apakah krisis itu berupa ancaman bisnis triliunan rupiah atau fluktuasi hormon kehamilan istrinya.

"Segala hal yang membuatmu tidak nyaman, tertekan, atau menangis adalah krisis yang harus diselesaikan, Alina," sahut Devan tegas. Tangannya terulur merengkuh bahu Alina, menuntun wanita itu beranjak dari ruang makan menuju area ruang keluarga yang luas dan sepi. "Sekarang, duduk di sofa. Kita harus menuntaskan penyesuaian sistem keamanan pribadi yang baru."

Alina menurut, menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa berbusa tebal yang telah dilapisi kain wol lembut. Namun, pandangannya langsung tertuju pada deretan kotak sepatu eksklusif berlabel merek kesehatan internasional yang tersusun rapi di atas meja kaca di hadapannya. Di samping kotak-kotak tersebut, berdiri Pak Bagas dengan setelan jas hitamnya yang kaku, memegang sebuah piringan logam kecil dan pemindai digital.

"Ada apa lagi ini,Mas Devan?" tanya Alina, dahinya berkerut rapat. "Bukankah kamu sudah membuang semua sepatu hak tinggiku?"

Devan duduk di samping Alina, mengambil salah satu pasang sepatu dari dalam kotak. Sepatu itu berwarna krem netral, terbuat dari serat kain terintegrasi yang sangat elastis dengan sol datar berbahan karet khusus penyerap benturan.

"Ini bukan sekadar sepatu datar biasa," Devan menjelaskan sembari berlutut di hadapan Alina, mengangkat kaki kanan istrinya tanpa ragu untuk memakaikan sepatu tersebut. "Sepatu ini diproduksi khusus oleh laboratorium ortopedi di Swiss. Di dalam sol bawahnya tertanam sensor tekanan micro-piezoelectric. Setiap kali kamu melangkah, sensor ini merekam distribusi berat badanmu dan mengukur tingkat kestabilan panggulmu saat berjalan."

Alina membeku, menatap suaminya yang kini sedang mengikat tali sepatu datar itu di kakinya. "Sensor tekanan? Di dalam sol sepatu?"

"Benar, Bu Alina," Pak Bagas menyela dengan nada suara formal yang terlatih.

"Data dari sensor sepatu ini akan terhubung secara real-time ke sistem pemantau di ruang kendali bawah. Jika Ibu melangkah dengan ketidakseimbangan lebih dari lima persen, yang menandakan Ibu mulai merasa lelah, pusing, atau kehilangan pijakan, sistem akan memicu peringatan halus pada gelang pintar Ibu, dan pengawal terdekat akan langsung mendekat untuk menopang Ibu."

Alina menarik kakinya ke belakang secara refleks, membatalkan proses pemasangan sepatu sebelah kiri. Wajahnya merona merah akibat rasa frustrasi yang mendadak membakar dadanya.

"Ini sudah tidak wajar, Mas !" seru Alina, suaranya meninggi memecah keheningan ruangan. Ia menatap Devan dan Pak Bagas bergantian dengan tatapan tak percaya.

"Sepatu dengan sensor kestabilan? Gelang pelacak GPS dan pemantau detak jantung? Dokter pribadi yang tinggal di lantai bawah? Pengawal yang mengikutiku sampai ke pintu kamar mandi? Kamu sedang membangun fasilitas karantina untukku, bukan menyiapkan tempat tinggal yang nyaman bagi calon anak kita!"

Pak Bagas menundukkan kepala sedikit, mundur satu langkah untuk memberikan ruang privasi bagi pasangan suami istri tersebut. Namun Devan tidak bergeming. Pria itu tetap berlutut di lantai, memegang sepatu datar sebelah kiri dengan cengkeraman yang stabil.

"Pasang kakimu kembali, Alina," perintah Devan datar. Suaranya tidak tinggi, namun mengandung bobot tekanan yang sangat berat.

"Tidak mau!" balas Alina bertahan, menyilangkan kedua kakinya di atas sofa. "Aku tidak akan memakai sepatu berteknologi pelacak itu, dan aku menuntut gelang perak di tanganku ini dilepas sekarang juga. Aku manusia hidup, Devan! Aku bukan aset perusahaan yang harus ditancapi sensor di setiap sudut tubuhnya agar tidak penyok!"

Devan menghela napas pendek. Kedalaman iris matanya mendadak berubah sangat gelap, memancarkan aura ketegangan yang selama ini berusaha ia sembunyikan di balik perintah-perintah kaku yang ia keluarkan sejak insiden perbukitan Bogor. Pria itu meletakkan sepatu di lantai, lalu berdiri menjulang di hadapan Alina.

"Apakah kamu tahu apa yang terjadi dua hari lalu di perbukitan itu, Alina?" tanya Devan, suaranya memelan hingga menyerupai bisikan yang dingin dan menusuk.

Alina terdiam, bibirnya terkatup rapat.

"Sinyal pelacak di mobilmu terputus selama tepat lima menit empat puluh detik," lanjut Devan. Ia melangkah mendekati sofa, membungkukkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Dalam waktu kurang dari enam menit itu, aku harus menyaksikan koordinat kendaraanmu hilang dari sistem monitoring pusat. Aku harus mengendarai mobil dengan kecepatan dua ratus kilometer per jam di jalanan basah perbukitan, tanpa tahu apakah saat aku sampai di sana aku masih bisa melihatmu bernapas atau melihat tubuhmu terkubur di bawah reruntuhan truk."

Napas Devan terdengar sedikit tidak teratur saat kenangan horor itu kembali menghantam kesadarannya. Tangannya terulur, meraih pergelangan tangan kiri Alina yang terpasang gelang perak, menggenggamnya rapat-rapat.

"Setiap kali sensor di gelang ini berkedip, itu adalah bukti bagiku bahwa jantungmu masih berdetak dan anak kita masih hidup di dalam rahimmu," bisik Devan, matanya memerah menahan badai emosi yang berkecamuk. "Setiap kali sensor di sol sepatu ini merekam langkahmu, itu adalah kepastian bagiku bahwa kamu tidak jatuh. Kamu menyebut ini karantina atau kurungan emas, Alina. Tapi bagiku, ini adalah satu-satunya benteng yang menjaga akal sehatku agar tidak hancur karena rasa takut."

Alina menatap mata suaminya yang dipenuhi oleh kerapuhan ekstrem. Di balik seluruh kekuasaan, kekayaan, dan sifat dominan yang dimiliki Devan Dirgantara, pria di hadapannya ini hanyalah seorang suami yang hancur oleh trauma karena nyaris kehilangan belahan jiwanya.

Perlawanan dan kemarahan yang tadinya membakar dada Alina perlahan meluruh, berganti menjadi rasa iba dan kasih sayang yang mendalam.

Alina mengulurkan tangannya yang bebas, menyentuh pipi Devan yang terasa hangat dan kaku. "Mas Devan ... aku mengerti kamu takut. Aku juga sangat ketakutan hari itu. Tapi kamu tidak bisa terus-menerus hidup dalam ketakutan seperti ini. Ini tidak sehat untukmu, dan ini tidak baik untuk perkembangan bayi kita jika suasananya selalu semencekam ini."

Devan memejamkan matanya sejenak saat telapak tangan Alina mengusap rahangnya. Namun, keteguhan pada raut wajahnya sama sekali tidak mengendur.

"Ketakutan atau bukan, sistem ini tidak akan diubah," kata Devan saat kembali membuka mata. Ia menarik lembut kaki kiri Alina, memosisikannya kembali di atas pangkuannya, dan memakaikan sepatu datar kedua tanpa ada penolakan lagi dari sang istri. "Sepatu ini tetap kamu pakai setiap kali kamu beranjak dari tempat tidur. Gelang ini tidak boleh dilepas dalam kondisi apa pun. Dan mulai hari ini, seluruh rute jalan-jalan soremu di taman komplek akan dikosongkan dari warga umum."

Alina menyandarkan punggungnya ke sofa, menghembuskan napas pasrah. "Dikondisikan? Kamu menyewa taman publik?"

"Pak Bagas sudah menyelesaikan negosiasi dengan pengelola kawasan perumahan," Devan berdiri, merapikan kembali pakaiannya. "Taman komplek akan ditutup untuk umum setiap pukul lima sore hingga pukul enam sore. Hanya kamu, aku, tim medis, dan tim pengawal yang diizinkan berada di area tersebut. Tidak ada kendaraan melintas, tidak ada hewan peliharaan tanpa pengawasan, dan tidak ada orang asing dalam radius seratus meter."

"Mas Devan, anak-anak warga sering bermain sepeda di taman itu pada sore hari!" protes Alina lagi, meski nadanya kini lebih menyerupai keluhan lelah daripada penolakan keras. "Kamu tidak bisa mengusir anak-anak hanya karena aku ingin berjalan santai selama tiga puluh menit!"

"Mereka bisa bermain di area lain atau di jam yang berbeda," sahut Devan tanpa penyesalan sedikit pun. Pria itu melangkah menuju meja kerjanya di sudut ruangan, mengambil sebuah berkas digital. "Anak-anak yang berlari tanpa arah atau mengendarai sepeda dengan kecepatan tak terukur adalah variabel bahaya yang tidak bisa aku kontrol. Risiko kamu tersenggol atau tertabrak terlalu tinggi."

Pak Bagas, yang masih berdiri di dekat pintu, segera mengambil pemindai digital dan mengarahkannya ke arah kaki Alina yang kini sudah terbalut sepatu datar khusus tersebut. Suara bip halus terdengar dua kali dari perangkat di tangan Pak Bagas.

"Sensor sol sepatu terkalibrasi dengan sempurna, Tuan Devan," lapor Pak Bagas. "Sinyal kestabilan langkah Ibu Alina sudah terhubung ke layar monitor utama di ruang keamanan."

"Bagus," paut Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. "Pastikan juga barikade pengawal di pintu keluar taman sudah siap sebelum pukul lima sore. Jika ada warga yang mencoba menerobos area steril, selesaikan secara persuasif, namun jangan beri celah akses."

Alina menatap kedua kakinya yang kini terbungkus sepatu datar serba canggih itu, lalu beralih menatap gelang perak di pergelangan tangannya. Ia menyadari bahwa pertempurannya melawan sikap posesif Devan tidak akan bisa dimenangkan dengan argumen logika biasa. Suaminya telah mengunci seluruh celah keamanan dengan kepresisian militer, mengorbankan kenyamanan publik demi memagari kehamilan istrinya dari segala kemungkinan terburuk.

Namun, ketika Alina melirik ke arah meja kerja Devan dan melihat bagaimana pria itu diam-diam membagi fokusnya, satu mata menatap laporan keuangan triliunan rupiah dan mata lainnya terus-menerus melirik ke arah grafik denyut jantung Alina yang terpampang di monitor khusus, Alina hanya bisa menggelengkan kepala.

Di balik benteng sensor, pengawal bersenjata, dan sepatu berteknologi tinggi ini, ada seorang pria berkuasa yang sedang berlutut di hadapan rasa cintanya sendiri.

Dan Alina tahu, masa-masa kehamilannya ke depan akan menjadi sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan benturan antara kontrol ketat Devan dan kejutan-kejutan tak terduga dari naluri kehamilannya sendiri.

1
sunaryati jarum
Segera buat adonan baby
MayAyunda: ha ..ha ..itu yang di tunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Syukurlah Arimbi menerima keputusan Devan yang mencintai Alina
sunaryati jarum
Katanya pergi kok ada undangan
sunaryati jarum
Mantaaap,tanpa drama.Akhirnya cinta terungkap
MayAyunda: he he 😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Benar - benar tindakan kesatria , melindungi istri dengan pengakuan ke publik.Sekaligus membungkam kesombongan Arimbi dan menghentikan langkah Hendra yang ingin merebut perusahaan alm ayahmu
MayAyunda: baca ceritaku yang lain kak judulnya ke grep preman tengil . sama" suami Dadakanku ternyata bos baruku "
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah kan, Devan sudah mencintaimu Alrna/Drool//Drool//Drool/
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Tenang Alina,suami kilatmu ada dipihakmu jangan berpikir kau sendirian
sunaryati jarum
Alina untuk melindungi hatimu dari kecewa, ingatkan dirimu jika Devan menikahimu secara kontrak jangan banyak berharap tapi berdoa jika jodohmu lancarkan Segala urusan Devan
sunaryati jarum
Diam- diam memberi pengawasan dan perlindungan
sunaryati jarum
Mampus ,Clara
sunaryati jarum
Devan sepertinya.mulai ada rasa padamu Alina, bentengi diri dulu.Agar kamu tidak kecewa , jangan mudah terlena ,lihat kesungguhan Pak Devan dulu.
sunaryati jarum
Devan memilihnya bukan kebetulan, sebelumnya pasti sudah menyelidiki, mungkin Rumah Sakit tempat ibumu dirawat itu miliknya
sunaryati jarum
Itu seharusnya bukan kesalahan besar ,Alina.Sepertinya Clara menjatuhkan kamu,hati- hati.
sunaryati jarum
Itu juga Bos Devan Alina, tidak usah cemas
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Devan sebelumnya sudah tahu padamu Alina.Itu dugaan emak.Mungkin dia juga jatuh cinta padamu,sakit ibumu sebagai pengikat kau dekat dengannya.Semoga kedepannya kalian menjadi suami istri sesungguhnya
sunaryati jarum
Memangnya file Alina langsung dihapus, katanya berkualitas mau menjebak cuma laporan offline , yang pasti ketahuan lah.
Maseni Maseni: licik tapi ga pakai otak ya kak, alina kan masih ada soffile yg benar

ayo qta buktikan
total 2 replies
Siti Zaenab
next lanjut
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!