Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengintip dari lantai dua
Malam semakin larut waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Satu per satu teman Takumi akhirnya berdiri dan bersiap untuk pulang. Suara tawa yang sejak tadi memenuhi ruang tengah perlahan menghilang, berganti dengan derap langkah kaki menuju pintu depan.
“Kalau begitu kami pulang dulu, Takumi.”
"sampai jumpa besok bro .."
Takumi berdiri beberapa saat di dekat pintu, memastikan teman-temannya benar-benar sudah pergi sebelum kembali melangkah ke ruang tengah. Ia memandang sekeliling. Beberapa bungkus makanan ringan masih tergeletak di atas meja, lengkap dengan gelas plastik bekas minuman, beberapa tisu yang diremas, dan sisa bungkus makanan lainnya.
Takumi mengembuskan napas panjang. “Waktunya bersih-bersih.”
Ia mulai membereskan kekacauan itu satu per satu. Meja dan sofa dilap sampai bersih mengilap. Setelah memastikan area tengah rapi, ia membuka pintu belakang dan keluar sebentar untuk membuang kantong sampah.
Sementara itu, Rin yang sejak tadi mengurung diri di kamar akhirnya memberanikan diri turun. Ia membuka pintu kamar perlahan, lalu melangkah menuruni anak tangga satu per satu sambil sesekali mengintip ke bawah dengan waspada.
“Sudah pulang semua, kan?” gumamnya pelan.
Tidak terdengar suara siapa pun. Begitu sampai di lantai bawah, Rin berhenti sejenak. Matanya langsung menyapu ruang tengah dan tertegun.
“Eh...?” Rin mengerjap tak percaya. Rumah itu sudah kembali rapi tak berjejak. “Cepat banget dibereskannya...”
Ia melangkah mendekati meja makan. Saat itulah matanya menangkap sebuah benda familiar di atas meja: sebuah ikat rambut kain.
Rin langsung mengenalnya. “Ah! Punyaku...”
Ia mengambil benda itu dan menggenggamnya. Namun baru saja hendak berbalik untuk kembali ke lantai atas, pintu belakang terbuka. Rin refleks menoleh.
Takumi masuk sambil mengusap kedua tangannya usai membuang sampah. Begitu melihat Rin berdiri di dekat meja, langkahnya terhenti. Tatapannya langsung tertuju pada benda di tangan Rin.
“Jadi kau yang meninggalkan itu?”
Rin melirik ikat rambutnya. “Yang ini?”
“Ya.”
Rin buru-buru memasukkannya ke dalam saku celana. “Maaf, aku lupa.”
Takumi menghela napas panjang, menatapnya jengkel. “Sudah berapa kali aku harus mengingatkanmu supaya memperhatikan barang-barangmu sendiri?”
Rin langsung memasang wajah cemberut. “Kan sudah kuambil!”
“Itu bukan berarti kau boleh meninggalkannya begitu saja di area umum.”
“Iya, iya... maaf.”
Takumi menggelengkan kepala pelan. Namun sebelum Rin sempat melangkah pergi, pria itu teringat sesuatu. “Tunggu.”
Rin menoleh heran. “Apa lagi?”
“Tadi kau bermain game di kamar?”
Rin sedikit terkejut. “Eh? Kok bisa tahu?”
Takumi menatapnya datar. “Tadi temanku bilang ada pemain yang masuk ke dalam timnya.”
“Aahh! Jadi itu temanmu...!” Rin terbelalak kaget.
Takumi terdiam sesaat sebelum kembali bersuara. “Ya, katanya cara bermainmu cukup bagus.”
Mendengar pujian itu, Rin langsung memasang senyum bangga. “Benarkah...?”
Takumi mengangguk pelan. Tiba-tiba, Rin teringat percakapan mereka saat makan malam tadi. Ia menatap Takumi dengan binar antusias.
“Kalau begitu seru juga, ya, kalau bisa main bersama.”
“Main bersama?”
“Iya! Kenalkan aku pada temanmu itu.”
Takumi menyipitkan mata penuh selidik. “Kau sendiri yang bilang kalau teman-temanku terlalu tua.”
Rin terdiam sebentar, lalu terkekeh pelan. Ia mengangkat bahunya santai. “Dunia game kan tidak memandang umur!”
Takumi hanya menatapnya tanpa membalas. Rin pun berbalik menuju tangga sambil melambaikan tangan.
“Kabari aku jika temanmu setuju. Selamat tidur, Kurosawa-san.”
“...Ya. Selamat tidur.”
Rin menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Sementara Takumi ia masuk ke kamarnya menghela napas pelan sebelum mematikan lampu dan bersiap tidur, namun, tiba-tiba ponsel Takumi bergetar pendek. Sebuah pesan singkat muncul di layar:
“Bisa kita bertemu sebentar?”
Takumi mematung menatap layar ponselnya. Beberapa saat ia hanya Diam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil jaketnya.
***
Di kamar atas, Rin baru saja merebahkan tubuhnya di kasur ternyata ponselnya ada Sebuah pesan dari ayahnya masuk yang sudah masuk saat ia dibawah tadi.
“Kapan kamu pulang, Nak? Masih bertahan di kamar..?”
Rin menyipitkan mata kesal. Ayah pikir aku masih hibernasi
Ia bangkit, memotret suasana kamarnya yang kini sudah rapi dan bersih, lalu mengirimkannya.
“Mataku sudah terbuka, Ayah.”
Dua detik kemudian, balasan ayahnya masuk.
“Wah, bagus. Lalu apa pilihanmu? Menerima perjodohan itu atau melanjutkan kuliah?”
“Tidak keduanya.”
Rin langsung menekan tombol power dan mematikan ponselnya. Ia tahu memperpanjang debat dengan ayahnya tak akan ada habisnya.
Gadis itu berdiri untuk mematikan lampu kamar, lalu melangkah hendak menutup celah gorden yang terbuka. Namun sebelum kain gorden rapat, matanya menangkap sesosok siluet di luar. Karena posisi jendela kamarnya mengarah tepat ke halaman depan, ia bisa melihat jelas siapa pun yang melintas di jalanan rumah.
Rin mengintip penasaran. Seorang gadis berdiri di depan pagar...
Siapa dia? Apa dia mencari seseorang?
Saat Rin hendak berbalik, matanya membelalak kaku. Ia melihat Takumi berjalan keluar rumah menghampiri gadis itu. Namun yang membuat napas Rin tertahan adalah detik berikutnya: Gadis itu melangkah mendekat, lalu tanpa ragu merengkuh Takumi dalam pelukan yang sangat erat.
Rin membeku.
Tangannya yang masih memegang ujung gorden perlahan mengendur.
Hah...? Siapa dia...?
Ia tidak berkedip selama beberapa detik. Pemandangan itu membuat pikirannya kembali pada percakapan yang tak sengaja ia dengar saat makan siang tadi. Tentang seseorang bernama...
Rin mengerutkan kening, berusaha mengingatnya. -Makoto-
Matanya kembali tertuju pada dua sosok di halaman.
Apa wanita itu Makoto...?
Cukup lama wanita itu memeluk Takumi. Rin masih berdiri kaku di balik gorden, matanya tidak lepas dari pemandangan di halaman depan.
Beberapa saat kemudian, wanita itu perlahan melepaskan pelukannya. Namun, sebelum Rin sempat mengalihkan pandangan, wanita tersebut kembali mendekat. Lalu bibir mereka bertemu.
Rin membelalak. “...!”
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menyaksikan adegan seperti itu secara langsung di depan matA. Wajah Rin seketika memanas. Ia buru-buru menutup gorden rapat-rapat, lalu berbalik dan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
“Ya ampun...”
Jantungnya berdebar bukan karena takut, melainkan kaget luar biasa. Itu... pacar Kurosawa-san?
Rin mematung beberapa detik sambil memandangi lantai. Namun rasa penasarannya jauh lebih kuat daripada rasa malunya. Pelan-pelan, ia kembali mendekati jendela dan membuka sedikit celah gorden untuk mengintip.
Halaman depan ternyata sudah kosong.
“Eh?”
Rin membuka gorden sedikit lebih lebar. Tidak ada Takumi, tidak ada wanita tadi, bahkan suara langkah kaki pun tak terdengar. Rin mengernyitkan dahi bingung. Ke mana mereka? Pandangannya beralih ke pintu depan.
Jangan-jangan... mereka melanjutkan di dalam rumah?!
Pikiran itu membuat Rin semakin penasaran. Ia melangkah perlahan menuju pintu kamar, membukanya sesepi mungkin, lalu berjalan berjinjit di lorong lantai dua sambil memasang telinga lebar-lebar. Suasana tetap hening.
Saat Rin baru saja hendak menuruni satu anak tangga, suara engsel pintu depan berbunyi. Klek.
Rin langsung membeku. Takumi masuk ke dalam rumah.
Rin spontan mundur beberapa langkah dan bersembunyi di balik dinding dekat tangga sambil menahan napas. Dari balik tembok, ia mengintip sedikit. Takumi melepas sepatunya di genkan (area di dalam rumah / pintu masuk untuk melepas sepatu sebelum masuk ke ruang utama. ) seperti biasa.
Pria itu sendirian—tidak ada sosok wanita tadi.
Jadi... dia pulang sendiri?
Takumi berjalan menuju ruang tengah sambil melepas jaketnya. Tiba-tiba Takumi melirik ke arah tangga. Rin sontak menarik kepalanya dan menempel di dinding, jantungnya berdegup kencang. Setelah memastikan Takumi berjalan menuju dapur, Rin mengembuskan napas lega.
“Nyaris ketahuan...”
Rin membayangkan jika ia nekat bertanya, ‘Kurosawa-san, tadi wanita yang menciummu itu siapa?’ Wajahnya seketika membara merah padat. “Ahh, malu banget!”
Rin menutup wajah dengan kedua tangan, lalu menghela napas pasrah. “Sudahlah...”
Ia berbalik menuju kamar, namun baru dua langkah berjalan, kakinya kembali berhenti. Rin melirik ragu ke arah tangga.
“...Tapi aku tetap penasaran. Kenapa sih aku harus melihatnya?” gerutunya kesal pada diri sendiri sebelum akhirnya benar-benar masuk ke kamar.