Indonesia
NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Siang itu, kesibukan di rumah sakit belum juga mereda.

Suara langkah kaki terdengar silih berganti di sepanjang lorong. Para perawat bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain, sementara beberapa pasien masih menunggu giliran pemeriksaan. Azmira baru saja keluar dari ruang poli ketika seorang perawat menghampirinya.

"Dokter Azmira."

Azmira berhenti. "Iya?"

"Dokter diminta ke ruang kepala bagian."

Azmira mengernyit. "Sekarang?"

"Iya, Dok."

Azmira mengangguk. "Baik."

Ia tidak banyak bertanya. Setelah menyerahkan beberapa catatan kepada perawat lain, Azmira berjalan menuju ruang kepala bagian. Namun baru saja pintu terbuka, langkahnya terhenti. Di dalam ruangan sudah ada kepala bagian, seorang staf administrasi, dan seorang laki-laki yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Silakan duduk, Dokter Azmira," ujar kepala bagian.

Azmira menarik kursi.

"Ada apa, Dok?"

Kepala bagian terlihat sedikit ragu sebelum akhirnya menyerahkan sebuah berkas. "Kami menerima keluhan dari salah satu pasien pemeriksaan kemarin."

Azmira membuka berkas tersebut. Matanya membaca beberapa baris yang tertulis di sana.

"Pasien merasa pemeriksaannya terlalu singkat dan menganggap Dokter tidak memberikan penjelasan yang cukup."

Azmira terdiam. Ia masih mengingat pasien tersebut. Seorang laki-laki yang mengikuti pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari program kerja sama perusahaan.

"Saya sudah menjelaskan hasil pemeriksaannya," ujar Azmira tenang.

"Saya tahu."

Kepala bagian mengangguk. "Catatan pemeriksaan Dokter juga lengkap. Tidak ada prosedur yang terlewat."

Azmira menatapnya. "Lalu?"

"Kami hanya perlu mendengar penjelasan dari Dokter secara langsung."

"Baik."

Ia kemudian menjelaskan pemeriksaan yang dilakukan, mulai dari keluhan pasien, pemeriksaan fisik, hingga anjuran yang telah diberikan. Tidak ada nada membela diri ataupun kemarahan. Ia hanya menyampaikan apa yang memang terjadi.

Setelah selesai, kepala bagian kembali membaca catatan tersebut. "Sebenarnya dari catatan ini, saya tidak melihat kesalahan."

Azmira mengembuskan napas lega. "Tapi pasien tersebut merupakan salah satu karyawan penting dari perusahaan yang bekerja sama dengan rumah sakit."

Azmira terdiam sebentar. "Jadi kita tetap harus menindaklanjuti keluhannya."

"Saya mengerti, Dok."

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu. Tok... tok...

"Masuk."

Pintu terbuka. William muncul dengan beberapa dokumen di tangannya.

"Saya mengganggu?"

Kepala bagian menggeleng. "Tidak. Kebetulan kami sedang membahas salah satu keluhan dari program Wiratama Group."

William langsung memperhatikan Azmira.

"Dokter Azmira?"

Azmira mengangguk. "Saya."

William kemudian menatap kepala bagian. "Masalahnya apa?"

Kepala bagian menjelaskan secara singkat. William mendengarkan tanpa menyela. Setelah itu ia mengambil berkas yang tadi berada di meja.

"Pasien ini?"

"Iya."

Lalu William membaca catatan pemeriksaan.

Beberapa detik kemudian ia mengangkat wajah. "Di mana letak kesalahan Dokter Azmira?"

Kepala bagian terdiam. "Kami belum mengatakan Dokter Azmira salah."

"Lalu kenapa kita memperlakukannya seperti orang yang melakukan kesalahan?"

Suasana ruangan mendadak hening. Azmira menatap William. Pria itu masih membaca berkas dengan tenang.

"Kalau pasien merasa kurang mendapatkan penjelasan, kita bisa memberikan klarifikasi. Tetapi bukan berarti dokter yang sudah menjalankan prosedur harus dianggap bersalah."

Kepala bagian mengangguk perlahan. "Benar juga."

William menutup berkas. "Saya akan bicara dengan pihak perusahaan."

Azmira langsung menyela. "Pak William."

William menoleh seketika.

"Saya bisa menjelaskan sendiri."

"Saya tahu."

"Kalau begitu—"

"Saya bukan membela Anda."

Azmira terdiam sementara William hanya tersenyum tipis.

"Saya hanya tidak suka kalau seseorang disalahkan tanpa dasar."

Azmira tidak langsung menjawab. Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat hatinya terasa sedikit hangat.

"Terima kasih."

William mengangguk. "Sama-sama."

Ia hendak keluar, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Azmira masih memegang berkas.

"Dokter."

"Iya?"

"Jangan terlalu dipikirkan."

Azmira mengernyit. "Saya tidak memikirkannya."

William tersenyum. "Bagus."

"Kenapa?"

"Karena kalau Anda terus memasang wajah seperti itu, orang-orang akan mengira saya baru saja memarahi Anda."

Azmira spontan menatapnya tajam. "Saya memang sedang kesal."

William tertawa kecil. "Nah, itu."

Azmira menggeleng. "Pak William memang menyebalkan."

"Saya sudah sering dengar."

William kemudian pergi. Kepala bagian yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum tipis.

"Dokter Azmira."

Azmira menoleh.

"William memang begitu. Tapi kalau dia sudah menganggap seseorang sebagai teman, dia cukup bisa diandalkan."

Azmira terdiam. "Teman?"

Ia tidak tahu mengapa kata itu membuatnya kembali mengingat beberapa kejadian belakangan ini. William yang menangkap tubuhnya ketika hampir jatuh. William yang selalu menggodanya. Dan William yang barusan membelanya tanpa diminta.

Azmira segera menggeleng kecil. "Sudahlah."

Lalu ia berdiri karena memang ada tugas yang lebih penting lagi setelah menjelaskan semua ini.

"Saya kembali bekerja dulu, Dok."

"Baik."

Azmira keluar dari ruangan. Namun baru beberapa langkah, ia mendengar suara dari belakang.

"Dokter!"

Azmira menoleh. William berdiri beberapa meter darinya.

"Ada apa lagi?"

William mengangkat sebuah kartu identitas yang ternyata milik Azmira.

"Ini tertinggal."

Azmira memeriksa saku jasnya.

"Astaga." Ia berjalan mendekat dan mengambilnya. "Terima kasih."

William tersenyum. "Sama-sama."

Azmira berbalik hendak pergi.

"Dokter."

Ia kembali menoleh, tentunya dengan perasaan yang lebih dongkol. Sementara William hanya berkata santai,

"Besok jangan lupa sarapan."

Azmira mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena kalau Anda pingsan lagi, saya yang repot."

Azmira langsung teringat kejadian di gedung Mahardika. Wajahnya seketika memerah karena malu.

"Saya tidak akan pingsan!"

William terkekeh. "Saya cuma mengingatkan."

Azmira mendengus lalu berjalan pergi. William masih berdiri di tempatnya, memperhatikan perempuan itu sampai menghilang di ujung lorong.

Tanpa disadari keduanya, jarak yang awalnya hanya sebatas rekan kerja perlahan mulai berubah.

Mereka tidak mengatakan ucapan pujian bahkan tidak ada yang menyadari sama sekali. Tetapi perhatian-perhatian kecil itu mulai tumbuh dengan sendirinya.

☘️☘️☘️☘️

Sementara itu, di lantai lain gedung Wiratama Group, Dika baru saja menerima laporan dari asistennya.

"Pak, mengenai keluhan dari karyawan kita di rumah sakit..."

Dika mengangkat wajah dari layar komputernya.

"Sudah selesai?"

"Sudah ditangani."

"Siapa dokter yang menangani?"

Asisten itu membuka catatan.

"Dokter Azmira Shafitri."

Tangan Dika yang sedang memegang pena berhenti. Nama itu lagi. Entah mengapa belakangan ini nama tersebut terlalu sering muncul di hadapannya.

"Bagaimana?"

"Menurut pihak rumah sakit, tidak ada kesalahan dari dokter tersebut."

Dika mengangguk. "Kalau begitu selesai."

Asistennya mengangguk. Namun setelah lelaki itu pergi, Dika justru kembali bersandar di kursinya.

Tatapannya kosong. "Azmira..."

Nama itu kembali terucap pelan. Ia sendiri tidak mengerti mengapa dokter muda itu terus muncul dalam pikirannya. Padahal mereka baru bertemu sekali. Dan Dika tidak pernah tahu... bahwa perempuan yang sedang ia pikirkan itu adalah anak yang dahulu ia tinggalkan.

Bersambung...

1
Tengku Nafisa
aaaa kenapa gak di teruskan. penasaran nih.
Heni Fitoria
semoga saja anak gundik yg km besarkan itu bukan anakmu, hukum karma untukmu dika
Nar Sih
kak ayuuu boleh satu bab. lgi ngk,penasarannn🙏🥰
Nar Sih
dan...ank yg kmu tinggal kan dan tdk kmu akui sdh berjuang keras bersama ibu nya tanpa mu ayah durjana🤣🤣
Nar Sih
jdi gk sbr nunggu karma ayah yg ngk mengangap putri nya
Ghiffari Zaka
di tunggu up nya ya Thor....AQ ud mulai agak gmn dech Thor,karena mulai sedikit jenuh thur...tp AQ ttp usahakan tunggu author up...mungkin karena kurang greget di kehidupan Dika yg enak2 trs seolah Rina dan Mira tu GK ada maknanya...semudah itu,EK dech Thor AQ tunggu jangan lama2 ya Thor....🙏🙏🙏🙏/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
AQ no komen dech di bab ini Thor...lanjut aja dech...cmn mau nunggu gmn si Dika tu menderita aja/Frown//Frown/
Ghiffari Zaka
Thor maaf Thor...sebenarnya AQ gondok bngt loh Thor...kok kehidupan si Dika itu bs baik2 aja sih?? knp bd gt padahal dia ud menyakiti dan menyia2kan istri dan ank nya.....kok gak adil gt loh Thor....sangking gedek nya AQ SMP pingin nangis guling2 ini loh thor😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
perasaan seorang ibu itu amat kuat,iya gak n bakal ada hal yg terjadi PD ank nya,tp mereka hrs ttp berjalan di balik masa lalu yg menyakitkan,kalaupun Mira tau Dika BPK nya dan bahkan se x pun dia pemilik perusahaan semoga Mira bs berpikir bahwa itu gak bs dengan mudah menghapus luka dia dan ibunya selama 25 tahun ini,jangan mau dekat dengan BPK mu yg jahat ya Mira????😡😡😡
Ghiffari Zaka
dan jangan LP Thor...karma on berlaku,AQ gak ikhlas loh Thor mereka bahagia sementara ank dan istrinya menderita begitu,di tambah lagi mereka membahagiakan penghianat dan pelakor loh....😡😡😡
Ghiffari Zaka
heeeem....aroma2 Cinto ini🤭🤭🤭
Ghiffari Zaka
heeeemmmm...jodoh otw ni ceritanya,semoga dia pria baik ya Mira,yg bs terima km apa adanya,ud gak usah cari BPK mu yg gak berguna itu,dia itu laki2 yg jahat dan gak berbelas kasih,km bs kok HDP cmn dngn ibumu,buktinya ud 25 THN bs kan???/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
semoga laki2 itu baik dan bs membuat Mira bahagia nnt nya
Ghiffari Zaka
Alhamdulillah...akhirnya cita2 mu terkabul Mira,AQ ikut bahagia...SMP mewek ni AQ nya😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
selamat MLM jg Thor...sukaaa bngt,cuman campur gemezzz gt Thor......semoga sukses dengan karya2 mu thor/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
ih dasar bapak GK waras,tega dia perjuangkan selingkuhannya dr pada istri sah dan parahnya lagi tega bngt dia sm ank kandungnya sendiri,CPT Thor
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡
Ghiffari Zaka
nah kan...dadar si Dika ini banyak ya istrinya x,awas AQ doakan km cepat dapat karma,km dah nolak Mira sekarang km punya ank dr istri yg lain jg dan perempuan juga kan,km gak bakalan bs punyak ank laki2,itu kutukan dari q,nah...nah...lok AQ dah emosi jadi Mak nya si Malin Kundang AQ jadinya ,maaf beribu maaf ya Thor🙏🙏🙏😂😂😂😂
Ghiffari Zaka
banyak banget tokohnya Thor jadi bingung,apa semua ank perempuan itu ank nya si Dika BPK yg GK ada akhlaknya itu ya??? ah takut dosa AQ Thor lok nebak2,cuman author yg punya kuasa,lanjut aja lah Thor🤭🤭🤭
Ghiffari Zaka
kalau menurut q majikan ibunya Shasa itu nenek nya Mira dech,atau Shasa jg ank yg GK di inginkan jg ya sm kayak Mira,dan apa mungkin mereka 1 darah??? ah gak mau nebak2 Thor,lanjut aja dech.....🤭🤭
Ghiffari Zaka
ya allah.jahatnya mereka😡😡😡sabar ya Mira....km harus kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!