Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Satu jam kemudian, Reyhan tiba di sebuah gudang kosong yang berada di pinggiran kota.
Tempat itu dipenuhi oleh beberapa kru kamera dan lampu sorot yang seadanya.
Gilang langsung berlari menghampiri Reyhan saat melihatnya datang.
"Reyhan, kau sudah datang!"
"Ayo cepat, sutradara sudah marah-marah dari tadi."
Gilang menarik tangan Reyhan menuju ke tengah lokasi syuting.
Di sana ada seorang pria botak yang sedang merokok dengan wajah cemberut.
"Pak, ini Reyhan, teman saya yang saya ceritakan tadi."
Sutradara botak itu menatap Reyhan dari atas ke bawah.
"Dia terlihat terlalu rapi."
"Tapi sudahlah, kita tidak punya waktu lagi."
"Sana ganti baju, pakai jas hitam yang ada di ruang ganti."
"Baik, Pak."
Reyhan segera berganti pakaian dan kembali dengan naskah di tangannya.
"Aku sudah membaca naskahnya di jalan tadi."
"Karakter ini adalah seorang pembunuh bayaran yang menyiksa seorang pengusaha korup, kan?"
Sutradara botak itu mengangguk singkat.
"Benar, kau harus terlihat sangat menikmati siksaan itu."
"Aktor yang memerankan pengusaha itu sudah diikat di kursi."
"Kita langsung take adegan puncaknya."
"Kamera siap!"
Semua kru langsung bersiap di posisi mereka masing-masing.
[Ding! Sinkronisasi peran telah mencapai 100%.]
[Host, silakan tunjukkan penampilan Anda.]
"Action!" teriak sang sutradara.
Tep.
Langkah kaki Reyhan terdengar sangat berat dan teratur saat ia berjalan mendekati pria yang diikat di kursi.
Suasana di gudang itu tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.
Para kru yang awalnya meremehkan Reyhan kini menahan napas mereka.
Reyhan tidak langsung bicara.
Ia berdiri diam di depan pria yang diikat itu, menatapnya dengan pandangan kosong yang sangat mengerikan.
Pria yang menjadi lawan mainnya itu tiba-tiba merasa ketakutan sungguhan.
"Si... siapa kau?"
Lawan mainnya mengucapkan dialognya dengan suara gemetar, kali ini bukan akting, tapi ketakutan yang nyata.
Reyhan memiringkan kepalanya sedikit.
Sebuah senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
"Siapa aku tidaklah penting, Tuan Hendra."
Suara Reyhan terdengar sangat tenang, tidak ada nada tinggi, namun setiap kata terasa menusuk ke dalam telinga.
"Yang penting adalah, kau mengambil sesuatu yang bukan milikmu."
Reyhan perlahan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah pisau properti yang terbuat dari karet.
Ia memutar pisau karet itu di sela-sela jarinya dengan sangat lihai.
Gerakannya sangat halus, seolah-olah ia sudah memegang pisau setiap hari dalam hidupnya.
"Tolong, jangan bunuh aku!"
"Aku akan berikan semua uang yang kumiliki!"
Lawan mainnya berteriak histeris.
Reyhan melangkah maju satu langkah.
Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga lawan mainnya.
"Uang tidak bisa membeli nyawa yang sudah kau hancurkan, Tuan Hendra."
Reyhan menggesekkan bagian tumpul pisau properti itu perlahan ke leher lawan mainnya.
"Pernahkah kau mendengar suara darah yang mengalir keluar dari tenggorokan?"
"Suaranya sangat indah, seperti melodi kematian."
Napas lawan mainnya menjadi sangat cepat, matanya terbelalak menatap Reyhan dengan penuh horor.
"Cut!"
Teriakan sutradara memecah keheningan yang mencekam itu.
Semua orang di ruangan itu tiba-tiba menghela napas panjang, seolah mereka baru saja lupa cara bernapas.
"Itu tadi... sangat luar biasa."
Sutradara botak itu menatap Reyhan dengan mulut sedikit terbuka.
"Kau benar-benar terlihat seperti seorang psikopat gila."
"Aktingmu sempurna!"
Para kru langsung memberikan tepuk tangan yang meriah.
Reyhan mengedipkan matanya beberapa kali, kesadaran aslinya perlahan kembali.
Ia meletakkan pisau properti itu di atas meja dan tersenyum kikuk.
"Terima kasih, Pak."
Lawan mainnya yang masih diikat di kursi sampai menangis sungguhan.
"Tolong lepaskan ikatan ini cepat, aku rasanya mau mati berdiri berhadapan dengannya."
Gilang menepuk bahu Reyhan dengan bangga.
"Kau gila, Rey."
"Aku tidak tahu kau bisa akting sehebat itu."
Reyhan hanya tersenyum tipis menanggapi pujian temannya itu.
[Ding! Misi utama telah diselesaikan.]
[Evaluasi penyelesaian: Sempurna.]
[Hadiah didistribusikan: Kemampuan akting psikopat tingkat dasar (Permanen).]
Reyhan merasa ada sebuah pengetahuan baru yang menetap kuat di dalam ingatannya.
Proses syuting selesai tiga jam kemudian.
Reyhan menerima amplop berisi uang tiga juta rupiah dengan perasaan lega.
Ia pamit pulang dan kembali ke kamar kosnya yang sempit sekitar pukul sebelas malam.
Ceklek.
Reyhan membuka pintu kamarnya dan langsung merebahkan diri di atas kasur tipisnya.
"Akhirnya aku bisa makan enak besok."
"Sistem ini ternyata benar-benar nyata."
"Aku akan menjadi aktor besar!"
Reyhan mengambil remote televisi dan menyalakannya sekadar untuk meramaikan suasana kamar.
Layar televisi menampilkan sebuah siaran berita darurat.
"Kami memotong siaran Anda untuk sebuah berita breaking news."
Suara pembaca berita terdengar sangat serius.
"Seorang pengusaha ternama bernama Hendra Setiawan ditemukan tewas mengenaskan di dalam sebuah gudang terbengkalai di kawasan utara kota."
Reyhan yang awalnya setengah mengantuk tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar.
Ia segera bangun dan duduk menatap layar televisi.
"Hendra Setiawan?"
"Itu kan nama karakter pengusaha di film tadi."
Reyhan menelan ludahnya yang terasa kasar.
Layar televisi menampilkan rekaman amatir di luar garis polisi.
"Korban ditemukan terikat di sebuah kursi."
"Menurut keterangan kepolisian, leher korban disayat dengan sebuah benda tajam."
Reyhan merasa sekujur tubuhnya berubah menjadi es.
Itu adalah adegan yang sama persis dengan yang ia perankan beberapa jam yang lalu.
Bahkan lokasi pembunuhannya adalah sebuah gudang terbengkalai.
"Dan yang paling mengejutkan, polisi menemukan sebuah benda kecil yang ditinggalkan pelaku di lokasi kejadian."
Layar televisi menampilkan sebuah foto barang bukti yang telah disensor sebagian.
Namun Reyhan masih bisa melihat dengan jelas benda apa itu.
Itu adalah sebuah topeng hitam berukuran kecil.
"Polisi menduga ini adalah pembunuhan berencana dan pelaku meninggalkan jejak secara sengaja."
Reyhan memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak dinding kamar.
Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahinya.
"Ini... ini tidak mungkin hanya kebetulan belaka."
"Aku tadi hanya berakting di depan kamera, kan?"
Reyhan menatap layar televisi dengan pandangan kosong.
Sebuah perasaan ngeri mulai merayapi hatinya.
[Ding!]
Suara sistem kembali terdengar di kepalanya.
[Selamat, Host.]
[Anda telah berhasil membuka tirai panggung pertunjukan.]
[Peringatan: Polisi telah menemukan jejak digital Anda.]
Reyhan membeku di tempatnya.
"Apa maksudmu sistem?"
"Aku tidak membunuh siapa pun!"
Sistem tidak menjawab pertanyaan Reyhan sama sekali.
Di saat yang bersamaan, di sebuah kantor kepolisian pusat Jakarta.
Seorang wanita muda dengan rambut sebahu yang diikat rapi sedang menatap layar komputernya dengan tatapan tajam.
Ia adalah Detektif Alena Prameswari.
"Detektif Alena, ada yang aneh dengan kasus Hendra Setiawan ini."
Seorang petugas polisi masuk dan meletakkan sebuah flashdisk di meja Alena.
"Apa itu, Bripka Anton?"
"Kami menemukan sebuah video dari forum gelap di internet."
"Video ini diunggah tepat satu jam sebelum waktu perkiraan kematian korban."
Alena segera mencolokkan flashdisk itu dan memutar videonya.
Video itu buram dan diambil dari sudut yang tersembunyi.
Namun Alena bisa melihat jelas seorang pria berjas hitam sedang menggesekkan pisau ke leher seseorang.
Dan wajah pria berjas hitam itu terlihat sangat jelas di bawah cahaya lampu.
Itu adalah wajah Reyhan Mahardika yang sedang tersenyum dingin.
Alena menyipitkan matanya.
"Senyum itu."
"Itu bukan sekadar akting."
"Itu adalah senyum seorang pembunuh sejati."
Alena berdiri dari kursinya dan mengambil jaket kulitnya.
"Keluarkan surat perintah penangkapan."
"Kita akan menjemput pria ini sekarang juga."