Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 DUA JAM BERSAMA PUTRIKU
Elara berdiri di depan pintu ruang bermain dengan wajah serius. Arsen yang baru turun dari tangga berhenti beberapa langkah darinya. Pandangannya beralih dari Elara ke Kaluna, lalu ke Veyra yang berdiri agak jauh di belakang mereka.
Kaluna menangkap perubahan tipis pada wajah Veyra. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang baru sadar bahwa tempatnya di rumah itu tidak lagi seaman yang ia kira.
Arsen mendekati Elara.
“Papa tidak melarang Kaluna datang.”
“Tapi Kaluna bilang harus izin.”
“Karena Papa perlu tahu dia datang kapan.”
“Kenapa?”
“Supaya jadwalmu tidak berantakan.”
“Aku tadi cuma main puzzle.”
“Elara,” sela Veyra dengan suara lembut, “Papa cuma ingin semuanya teratur.”
Elara menoleh kepadanya.
“Mama tidak suka Kaluna datang?”
Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam. Veyra tampak tidak siap mendengarnya.
“Tentu saja bukan begitu.”
“Terus kenapa Mama berdiri di luar?”
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja.”
Jemari Veyra bergerak kecil di sisi pakaiannya. Kaluna bisa saja memanfaatkan keadaan itu. Membiarkan Elara terus bertanya sampai Veyra semakin sulit menjawab. Ia tidak datang untuk memenangkan pertengkaran melalui putrinya.
“Elara,” kata Kaluna, “Papa dan Mama Veyra cuma ingin kamu aman. Kita masih punya waktu buat menyelesaikan puzzle.”
Anak itu menoleh cepat.
“Kamu belum pulang?”
“Belum.”
“Berapa lama?”
“Dua jam.”
Elara menghitung dengan jemarinya, lalu mengernyit.
“Dua jam itu lama?”
“Kalau buat mengerjakan tugas, lama.”
“Kalau main?”
“Biasanya terasa cepat.”
Elara masuk lagi ke ruang bermain. Kaluna menyusul dan duduk di tempat semula. Arsen masih berdiri di dekat pintu, sementara Veyra berjalan ke ruang depan.
“Aku ada panggilan kantor,” kata Arsen. “Kalau ada apa-apa, panggil.”
Kaluna mengangguk singkat.
Begitu pintu tidak lagi dipenuhi orang dewasa, Elara kembali mengambil potongan puzzle. Tangannya tidak segera bekerja.
“Papa sama Mama marah?”
“Tidak.”
“Muka mereka tadi aneh.”
Kaluna menahan senyum.
“Kadang orang dewasa banyak pikiran.”
“Kamu juga?”
“Iya.”
“Karena uang?”
Pertanyaan itu muncul lagi. Kaluna mengambil potongan puzzle bergambar daun.
“Bukan cuma karena uang.”
“Karena pengadilan?”
“Juga.”
Elara memperhatikannya.
“Kamu sekarang sudah hidup, kan?”
“Sudah.”
“Terus kenapa masih tinggal di hotel?”
“Karena beberapa milikku belum kembali.”
“Termasuk rumah ini?”
Kaluna berhenti sejenak.
“Iya. Tapi aku belum tahu nanti rumah ini bagaimana.”
“Kalau jadi punyamu lagi, Mama tinggal di mana?”
“Aku tidak akan langsung mengusir siapa pun.”
“Papa juga?”
Kaluna menatap potongan puzzle di tangannya. Pertanyaannya sederhana. Jawabannya tidak.
“Masalah rumah harus dibicarakan orang dewasa.”
Elara mengembuskan napas panjang.
“Lagi-lagi orang dewasa.”
“Kali ini memang bukan sesuatu yang harus kamu pikirkan.”
“Tapi semua orang mikirin itu dekat aku.”
Kaluna memandang putrinya lebih lama. Usianya baru tujuh tahun, tetapi setiap hari ia tinggal di antara percakapan setengah jadi, pintu yang ditutup terburu-buru, dan wajah-wajah yang berubah tiap kali nama Kaluna disebut. Elara mungkin belum mengerti semuanya. Tapi ketegangan itu tetap sampai kepadanya.
“Kalau kamu dengar sesuatu yang bikin takut, kamu boleh tanya aku,” kata Kaluna.
“Kalau aku tanya Mama?”
“Itu juga boleh.”
“Kalau jawabannya beda?”
Kaluna berpikir sebentar.
“Dengarkan dua-duanya. Setelah itu tunggu sampai ada bukti.”
Elara mengerutkan hidung.
“Kayak polisi.”
“Sedikit.”
Anak itu akhirnya tersenyum.
Mereka melanjutkan puzzle. Kaluna menemukan beberapa potongan atap rumah pohon. Elara menyusun batang pohon, meski dua bagiannya terbalik. Kaluna tidak buru-buru membetulkan. Ia membiarkan Elara mencoba sampai sadar sendiri.
“Kok tidak bilang?” protes Elara setelah membalik potongan itu.
“Karena kamu bisa menemukan sendiri.”
“Kalau aku tidak ketemu?”
“Baru aku bantu.”
Elara mengangguk, seolah jawaban itu cukup penting untuk disimpan.
Tidak lama kemudian, ia berdiri dan mengambil sebuah kotak dari rak.
“Aku punya permainan lain.”
Di dalamnya ada kartu bergambar hewan. Aturannya sederhana: mereka mengambil kartu bergantian, lalu menirukan suara hewan yang muncul.
Kaluna mendapat kartu bergambar ayam.
“Kamu mulai,” kata Elara.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu tamu.”
Kaluna terdiam sebentar.
“Aku tamu?”
Elara tampak bingung.
“Kamu tidak tinggal di sini.”
Kata itu menusuk, tetapi Kaluna tidak memperlihatkannya.
“Baiklah. Tamu mulai dulu.”
Ia menirukan suara ayam pelan-pelan. Elara langsung tertawa.
“Bukan begitu!”
“Memangnya bagaimana?”
Elara memperagakan suara ayam sekeras-kerasnya sampai terdengar ke luar ruangan.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki mendekat. Veyra muncul di ambang pintu.
“Ada apa?”
Elara masih terkikik.
“Suara ayam Kaluna aneh.”
Veyra sempat kehilangan ketenangannya. Barangkali ia tidak pernah membayangkan akan melihat Kaluna duduk di lantai rumah itu, bermain dengan anak yang selama tiga tahun dibesarkannya.
“Elara, jangan keras-keras,” katanya.
“Kami cuma main.”
“Aku tahu. Tapi Papa sedang menelepon.”
Elara mengangguk.
Veyra belum pergi. Ia masih berdiri di sana, memperhatikan kartu-kartu yang berserakan di lantai.
“Mama mau ikut?” tanya Elara.
Veyra tampak terkejut. Kaluna pun tidak menyangka anak itu akan mengajaknya.
“Aku harus menyiapkan makan malam.”
“Mbok Rini yang masak.”
“Mama tetap harus lihat.”
Elara tidak mendesak.
Veyra akhirnya pergi, tetapi langkahnya terdengar lebih lambat daripada saat datang.
Kaluna mengambil kartu berikutnya.
Seekor kelinci.
Ia diam saja.
Elara menunggu.
“Kelinci tidak punya suara?”
“Punya, tapi tidak seperti ayam.”
“Berarti kamu kalah.”
“Aku bisa menirukan jalannya.”
Kaluna mengangkat kedua tangan di dekat kepala seperti telinga kelinci.
Elara kembali tertawa, lalu cepat-cepat menutup mulut agar tidak ditegur lagi.
Perlahan, suasana yang tadinya berat menjadi lebih ringan. Mereka bermain sampai seluruh kartu habis. Setelah itu, Elara memperlihatkan buku gambar, koleksi stiker, dan tiga boneka lain yang menurutnya tidak sepenting Momo.
Kaluna mendengarkan setiap ceritanya sungguh-sungguh.
Dari obrolan kecil itu, ia baru tahu Elara menyukai warna kuning, takut petir, tidak suka bubur yang terlalu encer, dan pernah menang lomba menggambar di sekolah.
Hal-hal sederhana tentang putrinya yang seharusnya sudah ia tahu.
“Kamu dulu tahu semua ini?” tanya Elara.
“Tidak semuanya.”
“Waktu aku kecil suka warna apa?”
“Merah.”
“Sekarang aku tidak suka merah.”
“Berarti kamu berubah.”
“Aku juga dulu suka wortel?”
“Tidak.”
Elara tertawa kecil.
“Berarti yang itu tidak berubah.”
Kaluna ikut tersenyum.
Pintu terbuka lagi. Kali ini Arsen yang muncul.
“Waktunya hampir selesai.”
Kaluna melihat jam.
Benar. Dua jam ternyata sependek itu.
Elara langsung menoleh kepada ayahnya.
“Belum.”
“Kalian sudah hampir dua jam.”
“Puzzle-nya belum selesai.”
“Bisa dilanjutkan lain kali.”
“Kapan?”
Arsen memandang Kaluna.
“Dua hari lagi,” jawabnya.
Kaluna tidak tahu apakah itu memang sudah diputuskan atau sekadar jawaban agar Elara tidak kecewa.
“Aku bisa datang dua hari lagi,” katanya.
Elara masih belum puas.
“Kenapa tidak besok?”
“Kamu punya jadwal belajar.”
“Setelah belajar.”
Arsen masuk dan duduk di kursi dekat dinding.
“Elara, Kaluna juga punya pekerjaan.”
“Kamu sibuk?” Elara bertanya kepada Kaluna.
“Ada beberapa hal yang harus kuurus.”
“Rekening?”
Kaluna dan Arsen saling pandang.
“Siapa yang bilang soal rekening?” tanya Arsen.
Elara mengangkat bahu.
“Tadi pagi ada yang ngomong di ruang makan.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu. Banyak orang.”
Wajah Arsen langsung mengeras.
Kaluna memilih tidak menyalahkan siapa pun di depan Elara.
“Aku memang sedang memeriksa beberapa dokumen,” katanya. “Tapi aku tetap bisa datang lagi.”
“Dua hari lagi?”
“Iya.”
Elara memandang Arsen, menunggu kepastian.
Arsen mengangguk.
“Dua hari lagi.”
Kaluna mulai memasukkan kartu ke dalam kotak. Elara membantunya, meskipun wajahnya tidak seceria tadi.
Ketika Kaluna berdiri, ia ikut bangkit.
“Kamu langsung pulang?”
“Iya.”
“Ke hotel?”
“Iya.”
“Kamu sendirian?”
Kaluna sempat terdiam.
“Naren dan Salindri sering membantuku. Tapi aku tinggal sendiri.”
“Elara tidak suka tidur sendiri.”
“Aku juga tidak terlalu suka.”
“Terus kenapa tidak tinggal sama kami?”
Arsen menundukkan wajah.
Kaluna berjongkok agar sejajar dengan Elara.
“Karena keadaan rumah ini sekarang sudah berbeda. Kita tidak bisa mengubah semuanya dalam satu hari.”
“Kalau dua hari?”
Kaluna nyaris tersenyum.
“Dua hari juga belum cukup.”
Elara tampak kecewa, tetapi tidak bertanya lagi.
Saat Kaluna hendak keluar, tangan kecil Elara meraih tangannya.
Sentuhan itu membuat langkahnya berhenti.
“Kaluna.”
“Iya?”
“Nanti kamu datang sendiri?”
Kaluna mengerutkan dahi sedikit.
“Maksudmu, tanpa Papa atau Mama Veyra di dekat kita?”
Elara mengangguk.
“Maksudku, nanti jangan ada yang lihat terus.”
Arsen bangkit dari kursinya.
“Elara...”
“Aku tidak bilang Mama jahat,” potong Elara cepat. “Tapi kalau Mama berdiri dekat pintu, aku jadi merasa harus hati-hati.”
Kaluna memandangi putrinya.
Elara tampak takut ucapannya menyakiti Veyra.
“Aku cuma mau main,” lanjutnya. “Tidak mau semua orang dengar.”
Veyra muncul di lorong. Mungkin ia mendengar bagian terakhir.
Wajahnya memucat.
Elara menoleh dan seketika tampak bersalah.
“Mama, aku bukan tidak mau sama Mama.”
Veyra tersenyum, tetapi matanya tetap muram.
“Mama tahu.”
“Aku cuma mau Kaluna datang tanpa diawasi.”
Veyra mengangguk pelan.
Kaluna tidak merasa menang.
Veyra bukan sekadar takut kehilangan tempatnya di rumah itu. Perempuan itu takut kehilangan Elara.
Ia juga tidak bisa selamanya menjadi tamu dalam kehidupan putrinya.
Kaluna menggenggam tangan Elara.
“Nanti kita bicarakan baik-baik.”
“Dengan siapa?”
“Papa, Mama Veyra, dan orang yang membantu mengatur jadwal.”
Elara mengerutkan kening.
“Kenapa banyak sekali?”
Kaluna menghela napas.
“Karena orang dewasa memang sering bikin semuanya rumit.”
Elara mengangguk, setuju sepenuhnya.
Kaluna melepas tangannya, lalu berjalan menuju pintu depan.
Sebelum sempat keluar, Veyra memanggil dari belakang.
“Kaluna.”
Kaluna menoleh.
Veyra berdiri di ujung lorong. Arsen sudah tidak berada di dekatnya.
“Aku ingin bicara denganmu,” katanya.
“Tentang Elara?”
“Tentang alasan kenapa aku tidak bisa membiarkanmu bersamanya tanpa pengawasan.”
Kaluna memandang wajahnya.
“Apa alasannya?”
Veyra diam beberapa detik.
Ketika akhirnya bicara, suaranya nyaris seperti bisikan.
“Karena sebelum kecelakaanmu, kamu pernah memintaku menjaga Elara seolah kamu tahu tidak akan kembali.”