"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiyu Lembur
Memasuki bulan kedua magang, Tiyu mulai lebih percaya diri menjalani rutinitas kerjanya di lantai produksi. Namun, ketenangan itu terusik ketika suatu hari, salah satu lini produksi mengalami gangguan teknis mendadak menjelang target pengiriman besar ke salah satu klien utama perusahaan.
"Semua anak magang divisi engineering, kumpul di ruang kontrol sekarang," suara Mas Adi terdengar melalui pengeras suara pabrik, nada suaranya jauh lebih serius dari biasanya.
Tiyu bergegas menuju ruang kontrol bersama beberapa rekan magang lainnya, mendapati suasana yang jauh lebih tegang dari hari-hari biasa. Angel sudah berada di sana lebih dulu, matanya fokus menatap layar monitor yang menampilkan data produksi yang error.
"Mesin nomor tiga mengalami malfungsi di bagian kalibrasi tekanan," jelas Angel cepat, tanpa basa-basi. "Kalau nggak segera diperbaiki dalam dua jam ke depan, target pengiriman hari ini bakal molor, dan itu bisa berdampak ke kontrak besar kita sama klien."
"Apa yang bisa kami bantu, Kak?" tanya salah satu anak magang, suaranya sedikit gemetar mendengar tingkat urgensi situasi itu.
"Kalian bagi tugas. Sebagian bantu cek ulang data kalibrasi manual, sebagian lagi bantu siapkan laporan sementara buat manajemen," instruksi Angel tegas, langsung membagi tim tanpa membuang waktu.
Tiyu, yang kebetulan mendapat tugas mengecek ulang data kalibrasi manual bersama Angel langsung, merasa jantungnya berdebar kencang bukan hanya karena tekanan situasi darurat itu, tetapi juga karena untuk pertama kalinya dia akan bekerja berdampingan langsung dengan Angel dalam waktu yang cukup lama.
'Mampus!' Batin Tiyu.
---
Dua jam berikutnya dihabiskan dengan kerja intensif, memeriksa setiap detail data kalibrasi satu per satu, mencari sumber kesalahan yang menyebabkan malfungsi mesin. Angel bekerja dengan kecepatan dan ketelitian yang luar biasa, sesekali memberikan instruksi singkat namun jelas kepada Tiyu yang berusaha mengikuti ritme kerjanya semaksimal mungkin.
"Coba cek bagian sensor tekanan di titik ini," instruksi Angel, menunjuk salah satu bagian pada layar data. "Kelihatannya ada anomali kecil yang mungkin luput dari pemeriksaan rutin."
Tiyu segera memeriksa bagian yang dimaksud, dan setelah beberapa menit penelitian teliti, dia menemukan sesuatu yang mencurigakan. "Kak, saya rasa saya nemu masalahnya. Ada selisih kalibrasi kecil di sensor ini, kemungkinan karena maintenance terakhir yang kurang presisi."
Angel segera memeriksa temuan itu, matanya fokus menatap layar dengan seksama. Setelah beberapa saat, dia mengangguk puas. "Bagus, Tiyu. Ini kemungkinan besar penyebab utamanya."
Untuk pertama kalinya, Tiyu merasakan pujian tulus dari Angel, bukan sekadar teguran atau kritik seperti yang biasa dia terima selama ini.
"Makasih, Kak," jawab Tiyu, tersenyum lega meski masih dalam situasi tegang.
"Nggak usah makasih. Ini emang tugas kamu buat teliti," jawab Angel, meski kali ini nadanya terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya.
Angel yang biasa nya judes dan hanya mengkritik, sebenarnya adalah orang yang teliti dan mumpuni di bidangnya. Jujur saja, alumni teknik mesin cewek itu jarang sekali, bahkan di angkatan Tiyu kuliah saja cuma dua orang. Jadi sebenarnya, meski Tiyu sering kesal sama Angel, dia sebenarnya juga kagum dengan Angel.
---
Berkat temuan itu, tim teknisi berhasil memperbaiki malfungsi mesin tepat waktu, memastikan target pengiriman hari itu tetap bisa terpenuhi sesuai jadwal. Begitu situasi darurat itu berhasil diatasi, suasana di ruang kontrol berubah drastis, dari tegang menjadi lega dan penuh rasa syukur.
"Kerja bagus, semuanya," kata Mas Adi, tersenyum lebar begitu mendapat laporan bahwa masalah telah teratasi. "Terutama buat Tiyu, yang berhasil nemuin sumber masalahnya. Ini pengalaman berharga banget buat kamu sebagai anak magang."
Tiyu tersenyum bangga mendengar pujian itu, meski dalam hati dia tahu, keberhasilan itu juga tidak lepas dari bimbingan tegas Angel yang mengarahkannya untuk memeriksa bagian yang tepat.
Selesai jam kerja yang molor karena situasi darurat tadi, Tiyu dan Angel kebetulan keluar dari gedung pabrik bersamaan, berjalan menuju area parkir yang mulai sepi.
"Kak Angel," panggil Tiyu, memberanikan diri memulai obrolan di luar konteks kerja untuk pertama kalinya.
"Ada apa?" tanya Angel, menoleh dengan ekspresi yang masih terkesan datar seperti biasa.
"Makasih banyak buat bimbingannya tadi. Saya belajar banyak banget dari cara Kakak kerja," kata Tiyu tulus.
Angel terdiam sejenak, tampak sedikit terkejut dengan ungkapan terima kasih yang begitu jujur itu. "Kamu emang punya insting yang bagus buat detail teknis. Jangan sia-siain itu."
"Siap, Kak," jawab Tiyu, tersenyum lebar.
Sebelum berpisah menuju kendaraan masing-masing, Angel sempat berhenti sejenak, menatap Tiyu dengan ekspresi yang sedikit berbeda dari biasanya. "Kamu nggak seburuk yang aku kira waktu pertama kali lihat kamu gugup banget di hari pertama magang."
Tiyu tertawa kecil mendengar komentar blak-blakan itu. "Makasih, Kak. Itu pujian yang aneh, tapi aku terima."
Untuk pertama kalinya, Tiyu melihat Angel benar-benar tersenyum lebar, bukan sekadar senyum tipis yang biasa dia tunjukkan sesekali. Senyum itu, entah kenapa, membuat jantung Tiyu berdebar dengan cara yang sulit dia jelaskan sendiri.
---
Malam itu, sesampainya di apartemen, Tiyu menceritakan kejadian hari itu dengan penuh semangat kepada Rain dan Kenzo, yang mendengarkan dengan antusias sambil sesekali saling melempar pandangan penuh arti.
"Jadi, gimana rasanya kerja bareng Angel langsung?" tanya Rain, dengan nada menggoda yang kentara.
"Seru, Kak. Aku belajar banyak banget," jawab Tiyu, tidak menyadari nada menggoda dari kakaknya. "Dan tadi, buat pertama kalinya, dia muji aku."
"Wah, langka banget, ya," Kenzo menyahut, ikut tersenyum jenaka. "Kelihatannya kamu udah mulai berhasil menembus lapisan luar yang keras dari Angel."
"Apaan sih, Kak Kenzo," Tiyu tertawa malu, meski pipinya sedikit memerah mengingat senyum Angel tadi sore.
Rain dan Kenzo saling bertukar pandang, tersenyum penuh arti, menyadari bahwa mungkin saja, sejarah rivalitas-jadi-cinta yang pernah mereka alami sendiri, kini mulai terulang kembali dalam kehidupan Tiyu, meski dengan caranya sendiri yang unik dan penuh dinamika baru.
"Semangat terus magangnya, Tiyu," kata Rain, tersenyum hangat ke arah adiknya. "Siapa tahu, dari sini kamu bakal dapat pelajaran berharga, bukan cuma soal kerjaan, tapi juga soal hal-hal lain yang nggak kamu duga sebelumnya."
Tiyu mengangguk, meski masih belum sepenuhnya memahami maksud tersirat di balik senyuman jenaka kakaknya itu, sementara di dalam hatinya sendiri, benih rasa penasaran atau mungkin sesuatu yang lebih dari sekadar penasaran mulai tumbuh perlahan, tanpa dia sadari sepenuhnya ke arah mana hal itu akan membawanya.
Kenzo pamit pulang, tersisa Rain dan Tiyu.
"Jadi.... Kamu..."
"Apaan sih kaa..." Tiyu segera pergi ke kamar meninggalkan Rain yang cekikikan sendiri di ruang tamunya.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...