Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Di Sarang Serigala

Terjebak Di Sarang Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.


yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suasana penthouse mendadak hening begitu Dako dan seluruh pengawal melangkah keluar. Dalam sekejap, jejak keributan dan ceceran darah Faris telah dibersihkan oleh para pekerja privat hingga marmer kembali berkilau tanpa noda. Kini, ruangan bernuansa gelap itu hanya menyisakan dua orang yang baru saja terikat ikatan pernikahan siri. Jafar dan Nina.

Tidak ada percakapan hangat, tatapan mesra, atau canggung selayaknya sepasang pengantin baru. Tapi Nina takut akan malam pertama...., tubuhnya bergetar hebat membayangkan dirinya tidak akan suci lagi. Dan lebih tepatnya akan di renggut paksa oleh suami yang tubuhnya sangat berbeda jauh dengan teman-temannya di desa .

Jafar berdiri menjulang, membelakangi Nina sembari membuka kancing kemeja bagian atasnya. Hawa dingin dan aroma kayu maskulin terpancar dari tubuhnya, menciptakan intimidasi yang begitu menekan.

Nina semakin tersudut, tubuhnya bergetar hebat namun suasana tegang itu terhenti oleh suara getaran ponsel jafar.

drrrrrrrt...

drrrrrrrt...

Pria itu merogoh saku dalam jasnya, melirik layar yang menampilkan panggilan internasional dari kantor cabangnya di luar negeri. Begitu menempelkan ponsel ke telinganya, alis tebal di balik maskernya langsung bertaut tajam.

"Ada insiden apa?" suara Jafar terdengar berat dan dingin.

Ia mendengarkan laporan dari seberang telepon selama beberapa detik. Terjadi insiden besar di proyek utamanya di Eropa yang membutuhkan kehadirannya secara langsung malam ini juga.

Jafar mematikan panggilan tersebut, memutar tubuhnya perlahan menatap Nina. Sepasang mata tajam berbulu mata lentik itu menghujam tepat di manik mata Nina yang berwajah pucat, seolah sanggup menguliti setiap rahasia yang tersembunyi di balik raut lugunya.

"Kali ini kamu selamat," ucap Jafar datar, suaranya mengandung ancaman halus yang pekat. "Jet pribadiku sudah disiapkan. Aku harus berangkat ke luar negeri sekarang."

Nina menghembuskan nafasnya lega..."Alhamdulillah....".

Jafar melangkah mendekat, menghentikan sepatunya hanya berjarak satu tapak dari Nina. Tinggi tubuhnya yang menjulang membuat Nina harus sedikit mendongak.

"Malam ini tidurlah di sini. Tapi ingat, jangan pernah berani menjejakkan kaki atau memasuki area kamar atas," tegas Jafar sembari menunjuk ke arah koridor lantai bawah. "Kamarmu di bawah. Keperluan mu sudah ada disana, Besok pagi kamu bisa kembali ke keluargamu sampai aku pulang dan menagih seluruh kewajibanmu sebagai istriku."

Tanpa menunggu balasan, Jafar berbalik dan melangkah lebar meninggalkan penthouse. Pintu besi tebal itu tertutup rapat dengan bunyi click yang bergema.

Nina berdiri mematung sendirian di tengah ruangan yang megah namun sepi. Dadanya yang tadi sempat berdebar kencang perlahan mereda. Ada rasa lega karena ia selamat dari bahaya malam pertama, namun di sisi lain, rasa penasaran yang amat besar mulai menggerogoti pikirannya.

Siapa sebenarnya pria itu? batin Nina sembari menatap pintu yang baru saja tertutup.

Sepanjang interaksi mereka, Jafar tak pernah sekalipun melepas masker hitamnya. Hanya sorot mata yang tajam, dingin, dan penuh intimidasi yang menyisa di ingatan Nina. Sorot mata yang seolah sanggup membubarkan keberanian siapa pun yang menatapnya. Namun bagi Nina yang terlatih, misteri di balik masker Jafar justru menjadi target baru yang harus ia selidiki.

Ditinggal sendirian di dalam penthouse yang asing, rasa penasaran Nina justru makin berkobar. Ia melangkah menuju sofa empuk, memiringkan tubuhnya, lalu merogoh ponsel dari dalam tas. Jemarinya yang lincah langsung membuka mesin pencari di internet dan mengetik satu kata kunci...Jafar.

Namun, bukannya muncul foto sosok CEO misterius yang baru saja menikahinya, layar ponsel Nina justru dipenuhi oleh foto-foto aktor tampan bertubuh kekar dari Arab, karakter kartun berjanggut, hingga model-model Timur Tengah yang memamerkan senyum menawan. Nina mengernyitkan dahi bingung. Tak ada satu pun artikel yang membahas sosok pengusaha kejam bermasker hitam pemilik kampus elit tempatnya berkuliah.

"Siapa sih sebenarnya pria itu? Kok di internet cuma muncul foto aktor Arab?" gumam Nina heran sembari menghembuskan napas gemas.

Karena tidak menemukan jawaban, Nina memutuskan untuk menghubungi Tania. Bagi Nina, Tania adalah satu-satunya tempat bersandar dan menumpahkan segala kejadian gila malam ini. Nina menekan tombol panggilan suara tanpa menyadari sama sekali situasi di ujung telepon sana.

Di tempat terpisah, di sebuah kamar utama bernuansa hangat dan temaram, suasana sebenarnya sedang sangat intim. Ameer dan Tania tengah menghabiskan malam mereka di atas ranjang. Namun, ponsel Tania yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering nyaring, memecah gairah di antara mereka.

Tania yang sedang enak-enak berusaha mengabaikannya, namun layar ponsel terus menyala menampilkan nama Nina. Karena panggilannya tak kunjung diangkat, Nina yang polos dan tidak pernah tahu hubungan suami istri setiap malam justru merasa khawatir. "Mungkin Tania sedang tidak memegang ponselnya? Atau ada hal darurat? " batin Nina lugu. Tanpa ragu, Nina menekan tombol panggilan kembali secara berturut-turut.

Panggilan ketiga, keempat, hingga kelima terus masuk tanpa henti.

Ameer yang pergerakannya terus terganggu oleh dering ponsel yang tak kenal ampun akhirnya hilang kesabaran. Muka pria itu memerah geram. Dengan napas yang masih memburu dan amarah yang menumpuk di dada, Ameer menyambar ponsel istrinya, menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga.

"Woy, Nina! Kamu tahu jam berapa sekarang?!" semprot Ameer dengan suara berat, dalam, dan terdengar sangat ketus.

Nina yang di seberang telepon mendadak tersentak kaget. Suara berat pria itu membuatnya refleks menjauhkan ponsel dari telinga selama beberapa detik.

"L-lohh... Tuan Ameer?" tanya Nina dengan suara pelan dan bingung. "Tania-nya mana, Tuan? Nina mau tanya..."

"Tania lagi sibuk! Nggak bisa diganggu!" jawab Ameer galak, napasnya terdengar tidak teratur di seberang telepon.

Nina yang benar-benar polos justru makin mengernyitkan dahi, sama sekali tidak menangkap sinyal dari nada suara Ameer. "Tapi Tuan, kata Tania kemarin kalau Nina ada masalah kapan pun harus langsung telepon Tania... Kok Tuan Ameer malah marah-marah?"

Mendengar kepolosan sahabat istrinya yang sama sekali tidak peka situasi, Ameer mengerang frustrasi. Ia melirik Tania yang sedang menutupi wajahnya dengan bantal karena menahan tawa sekaligus malu.

"Kamu mau tahu kenapa Tania sibuk?!" geram Ameer dengan suara ditekan namun penuh penekanan yang gamblang. "KAMI LAGI PROSES BIKIN ANAK! Jangan telepon-telepon lagi kalau nggak mau aku pecat Tania sebagai sahabat mu! Paham?!"

TUT... TUT... TUT...

Panggilan langsung diputus secara sepihak oleh Ameer.

Di dalam penthouse yang sunyi, Nina terpaku di atas sofa. Ponselnya masih menempel di telinga, sementara matanya membelalak sempurna. Kalimat “Lagi proses bikin anak” bergema berulang-ulang di dalam kepalanya bagaikan petir di siang bolong.

Perlahan-lahan, kesadaran menghantam otak lugunya. Wajah Nina yang biasanya tenang dan dingin mendadak berubah menjadi merah padam sampai ke ujung telinga. Rasa malu yang begitu luar biasa menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Nina menyungkurkan wajahnya ke bantal sofa, menjerit tanpa suara sembari menendang-nendangkan kakinya di udara karena sangat canggung.

"Astaghfirullah... Aku malu banget!" bisik Nina histeris pada dirinya sendiri, merutuki kepolosannya yang telah mengganggu momen intim sahabat dan suaminya di tengah malam.

1
Ayusha
udah paling bener begitu, orang bebal susah sadar sebelum masuk liang kubur
@Mita🥰
bagus Nina
Ayusha
wis lah, ga usah di kasih hati orang begini
Ayusha
lagi dan lagi, hanya rasa sakit yg di dapat
Teh Qurrotha
🤣 faris2 lucu,mungkin karena uang hasil jual Nina blm kamu nikmati dan lupa utang dibayarin dengan jual Nina.
sungguh terlalu kamu Faris
Ayusha
gaada penyesalan kah di hati Faris, dulu menyia²kan istri dan mengorbankan anak kandung nya.
@Mita🥰
Faris ...faris
suti markonah
faris ini ga sadar bahwa selama ini ga merawat nini, tp giliran butuh uang' anak yg selama ini tak di ksh nafkah malah di peras
@Mita🥰
jafar udah mulai bucin
@Mita🥰
mungkin preman suruhan nina
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣 jafar kejang" Krn terkejut 🤣🤣🤣
M⃟3💋AisyahRendra
Jafar oh Jafar..Pelan tapi pastiiii, dikit demi sedikit lama² jadi bukitt itu cintamu untuk Nina 🤣 tunggu sajaaa MP nyaa yaaa 🫢😆🤣 gasabar nih menantikan saat² romantisnya 🫠
Sri Supriatin
Wah karma tuh Faris... Akakah mereka kapok 🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
wah Fajar mulai deketin Nina🤭🤭
M⃟3💋AisyahRendra
Berasaaa lumayan puas sihh yaa sm nasib kehidupan Faris Anggun Dkk. 🫠 Tapiiiii tunggu tunggu tunggu dlu Hazel belum dapet giliran, dan lagiiiii kakaknya yg berada dalam rehabilitas juga belum merasakan kesakitan yg amat krn sudah pernah bermimpi ingin menganuuu Nina 🙄😒😏 next kak Onel
Ayusha
jajan nya orang have, sekali beli jajan nya aset dong 🤭
Ani Sulastri
Jafar pasti shock nich , liat nonif dari perbankan 😂😂..
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰
Sri Supriatin
Tks upnya thor💪💪💪
Ayusha
gadis desa yg keren khaan🤭
Ayusha
malah bagus dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!