Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Pagi itu, Adeline bangun dengan perasaan yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, dia tidak langsung disambut oleh kebisingan suara hati yang memenuhi kepalanya. Clara telah mengajarinya teknik untuk membangun tembok pelindung di sekeliling pikirannya, dan sekarang dia mulai bisa menggunakannya dengan lebih baik.

Gadis kecil itu turun dari tempat tidur dan berjalan ke ruang makan. Elena sudah menyiapkan sarapan dan tersenyum melihat putrinya yang terlihat lebih segar dari biasanya. "Selamat pagi, Sayang. Kamu tidur nyenyak?"

Adeline mengangguk sambil duduk di kursinya. "Aku mencoba teknik Clara, Bu. Aku membayangkan tembok di sekitarku. Dan suara-suara itu tidak terlalu keras pagi ini."

Elena mengecup kening putrinya dengan bangga. "Ibu senang mendengarnya, Sayang. Kamu pasti bisa mengendalikan kemampuannya."

Adrian datang dengan langkah cepat, wajahnya tampak bersemangat. "Ada kabar baik, Sayang. Daniel menemukan beberapa petunjuk baru tentang dalang di balik semua ini. Kita mungkin segera menemukan siapa dia."

Adeline tersenyum mendengar kabar itu, tetapi kali ini dia tidak langsung menawarkan diri untuk mendengarkan suara hati orang yang dicurigai. Dia memutuskan untuk menunggu dan melihat apa yang akan terjadi. Dia belajar bahwa terkadang, diam dan mengamati lebih penting daripada terus menerus mendengar.

Sepanjang hari itu, Adeline mengamati keluarganya dengan cara yang baru. Dia tidak hanya mendengar suara hati mereka, tetapi mencoba memahami alasan di balik perasaan mereka. Ketika dia melihat Nathan terlihat murung, dia tidak langsung mendengar pikirannya. Sebaliknya, dia duduk di samping kakaknya dan bertanya dengan lembut.

"Kak, ada apa? Kakak terlihat sedih."

Nathan menatap adiknya dengan terkejut. Biasanya Adeline langsung tahu apa yang dia rasakan tanpa bertanya. "Kakak hanya khawatir tentang ujian sekolah, Ade. Kakak takut nilainya jelek."

Adeline menggenggam tangan kakaknya. "Kakak pasti bisa, Kak. Kakak pintar. Dan kalau Kakak butuh bantuan, Adeline bisa membantu belajar bersama Kakak."

Nathan tersenyum mendengar kata-kata adiknya. "Terima kasih, Ade. Kakak menghargai itu."

Adeline merasakan kehangatan di dadanya. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa terbebani oleh perasaan kakaknya. Sebaliknya, dia merasa senang karena bisa membantu dengan cara yang sederhana.

Sore itu, Adeline duduk di ruang tamu bersama William. Kakeknya terlihat gelisah, matanya terus menatap foto-foto lama di dinding. Adeline mendekati kakeknya dan duduk di sampingnya tanpa mengatakan apapun.

"Kakek," kata Adeline akhirnya, "Kakek masih memikirkan masa lalu, ya?"

William menghela napas panjang. "Kakek tidak bisa berhenti memikirkannya, Sayang. Ada begitu banyak kesalahan yang Kakek perbuat di masa lalu. Kakek takut semua itu akan menghancurkan keluarga kita."

Adeline menggenggam tangan kakeknya dengan lembut. "Kakek, Adeline tidak bisa mendengar semua pikiran Kakek. Tapi Adeline bisa merasakan bahwa Kakek menyesal. Dan penyesalan itu menunjukkan bahwa Kakek adalah orang baik. Orang jahat tidak pernah menyesal."

William menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu benar-benar istimewa, Sayang. Bagaimana kamu bisa begitu bijaksana di usiamu?"

Adeline tersenyum kecil. "Mungkin karena Adeline mendengar banyak hal. Tapi sekarang Adeline belajar bahwa mendengar saja tidak cukup. Adeline harus mencoba memahami. Dan dengan memahami, Adeline bisa membantu dengan lebih baik."

Malam itu, keluarga Wijaya berkumpul di ruang keluarga. Adrian dan Daniel berbagi temuan terbaru mereka tentang dalang di balik semua konspirasi. Mereka telah berhasil mengidentifikasi seseorang bernama Hartono, seorang pria yang pernah menjadi mitra bisnis William di masa lalu.

"Ayah," kata Adrian menatap William, "siapa Hartono? Kenapa dia begitu membenci keluarga kita?"

William menutup matanya sejenak, mengingat masa lalu yang menyakitkan. "Hartono adalah sahabatku dulu. Kami mendirikan perusahaan bersama. Tapi suatu hari, aku menemukan bahwa dia mencuri uang perusahaan. Aku memecatnya dan melaporkannya ke polisi. Dia dihukum dan dipenjara. Aku pikir dia sudah mati. Tapi ternyata dia masih hidup dan dendamnya belum padam."

Adeline mendengarkan cerita kakeknya dengan penuh perhatian. Dia tidak mendengar suara hati Hartono, tetapi dia bisa merasakan rasa sakit yang mendalam dari kakeknya. William telah membuat keputusan yang sulit di masa lalu, dan sekarang dia harus menghadapi konsekuensinya.

"Kakek melakukan hal yang benar," kata Adeline pelan. "Kakek melindungi perusahaan dari orang jahat. Tapi Kakek juga sedih karena kehilangan sahabat. Adeline mengerti perasaan Kakek."

William memeluk cucunya erat. "Kamu adalah anugerah terbesar dalam hidupku, Sayang. Kemampuanmu bukan hanya untuk mendengar, tapi untuk memahami. Dan dengan pemahaman itu, kamu bisa menyembuhkan luka yang bahkan tidak bisa dilihat oleh orang lain."

Malam itu, ketika Adeline berbaring di tempat tidurnya, dia merenungkan semua yang telah dia pelajari. Kemampuan Heart Listening-nya telah berubah. Dia tidak lagi hanya mendengar suara hati orang lain, tetapi mulai memahami alasan di balik perasaan mereka. Dia belajar bahwa setiap kemarahan memiliki luka di belakangnya, setiap kebencian memiliki ketakutan yang mendasarinya, dan setiap kesedihan memiliki kehilangan yang menyertainya.

Dengan pemahaman itu, Adeline tidak lagi merasa terbebani oleh suara-suara yang dia dengar. Sebaliknya, dia merasa bisa membantu dengan cara yang lebih berarti. Dia tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga menjadi penyembuh.

"Aku akan terus belajar," bisik Adeline pada boneka beruangnya. "Aku akan terus memahami. Dan dengan pemahaman itu, aku akan melindungi keluargaku dengan cara yang lebih baik."

Di luar jendela, bintang-bintang bersinar terang. Rumah besar Wijaya terasa lebih damai dari sebelumnya. Dan di dalam kamarnya, seorang gadis kecil yang memiliki kemampuan untuk mendengar hati, kini juga memiliki kekuatan untuk memahami. Dan kekuatan itu, kekuatan dari kasih sayang, adalah kekuatan yang paling ampuh dari semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!