Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Dalam Impitan Sunyi
Sinar mentari pagi menyusup pelan dari celah ventilasi kamar kontrakan, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya ubin semen. Bayu terbangun dari tidur singkatnya di dekat meja kerja. Namun, belum sempat ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku, suara rintihan tertahan yang disusul batuk hebat memecah keheningan pagi.
Bayu melompat seketika dari posisinya. Di atas tempat tidur busa, ibunya memegangi dada dengan wajah pucat pasi. Sapu tangan putih di genggamannya telah ternoda bercak darah segar.
"Ibu! Ibu kenapa?!" jerit Bayu panik seraya merangkul tubuh ibunya yang gemetar.
"Bayu... dada Ibu... rasanya seperti dihimpit beban yang sangat berat..." napas ibunya terdengar amat patah-patah, dadanya naik turun dengan tidak teratur.
"Tahan sebentar, Bu! Bayu panggilkan taksi sekarang, kita ke rumah sakit!" suara Bayu bergetar hebat. Jemarinya yang biasanya begitu tenang saat mengetik kode, kini gemetar merogoh ponsel murah di sakunya.
Tirai ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Medika tersingkap. Seorang dokter bermasker keluar dengan raut wajah amat serius, membuat Bayu yang sejak tadi berdiri cemas langsung melangkah mendekat.
"Keluarga dari Ibu Suminah?" panggil dokter tersebut.
"Saya anaknya, Dok! Bagaimana kondisi ibu saya?" tanya Bayu menyongsong dokter dengan mata memerah.
"Kondisi paru-paru ibu Anda mengalami komplikasi akut, Mas. Infeksi bakterinya menyebar dengan sangat cepat dan terjadi penumpukan cairan yang membahayakan fungsi pernapasannya. Beliau harus segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif dan mendapatkan penanganan antibiotik dosis tinggi," jelas dokter dengan suara berat.
"Tolong lakukan yang terbaik, Dok. Tolong selamatkan ibu saya," pinta Bayu dengan suara tercekik.
"Kami pasti berusaha maksimal, Mas. Tapi Anda harus segera mengurus administrasi di bagian pendaftaran. Resep obat khusus dan deposit perawatan intensif harus diselesaikan agar tindakan medis lanjutan bisa segera dijalankan," lanjut sang dokter sebelum kembali masuk ke dalam UGD.
Bayu setengah berlari menuju loket administrasi. Di balik kaca tebal, seorang petugas wanita menatap komputer sebelum berpaling padanya.
"Selamat pagi, Mas. Untuk penanganan perawatan intensif dan obat dosis tinggi pasien atas nama Ibu Suminah, deposit awal yang harus dibayarkan adalah lima juta delapan ratus ribu rupiah," ujar petugas itu dengan nada formal.
Darah di tubuh Bayu seolah berhenti mengalir. "Lima juta delapan ratus? Mbak, bisakah ibunya ditangani dulu? Saya janji akan mengusahakan uangnya hari ini juga."
"Maaf sekali, Mas. Ini sudah prosedur tetap rumah sakit untuk pasien non-BPJS aktif. Jika deposit minimal belum masuk ke sistem, apotek pusat tidak bisa mengeluarkan resep obat intensif tersebut," sahut petugas itu dengan wajah simpatik namun terikat aturan.
"Tolonglah, Mbak... Ibu saya kritis! Nyawanya terancam kalau obatnya tertunda!" desak Bayu, kedua tangannya mengepal erat di atas meja konter hingga buku-buku jarinya memutih.
"Saya sangat memahami situasi Mas. Tapi aturan manajemen memang ketat. Mas bisa mencoba mencari dana darurat terlebih dahulu," jawab petugas itu pelan.
Dengan langkah gontai dan kepala serasa dihantam beban berat, Bayu melangkah ke sudut koridor rumah sakit yang dingin. Jemarinya menekan nomor kontak klien freelance yang memegang proyek sistemnya minggu lalu.
"Halo, Pak Abdul? Selamat pagi, Pak," sapa Bayu, berusaha keras menahan getaran di suaranya.
"Iya, Bayu. Ada apa pagi-pagi menelepon?" sahut suara Pak Abdul dari balik telepon.
"Pak, saya mau menanyakan honor pengerjaan perbaikan sistem kemarin... Apakah bisakah dicairkan pagi ini juga, Pak? Ibu saya kritis di rumah sakit dan butuh biaya darurat."
Desahan napas terdengar dari ujung telepon. "Aduh, Bayu... Saya paham kondisi kamu. Tapi prosedur pencairan di kantor kami baru bisa diproses setiap akhir bulan. Hari ini baru tanggal lima belas. Bagian keuangan tidak akan mengizinkan pencairan di luar jadwal."
"Tolonglah, Pak... Tiga juta rupiah dari honor itu sangat berarti buat menyambung nyawa ibu saya saat ini. Saya mohon, Pak..." pancing Bayu, air mata frustrasi mulai menetes di pipinya.
"Maaf sekali, Bayu. Saya tidak punya wewenang melangkahi sistem keuangan perusahaan. Kamu coba cari pinjaman lain dulu ya," ucap Pak Abdul sebelum akhirnya memutus telepon.
Bayu menyandarkan punggungnya pada dinding lorong rumah sakit yang dingin, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Rasa sesak luar biasa menekan dadanya. Ia tidak punya pilihan lain selain menghubungi Dimas.
"Halo, Bay! Kenapa? Lu di mana? Suara lu kok kedengaran panik gitu?" suara Dimas terdengar penuh kekhawatiran dari seberang telepon.
"Dim... Ibu masuk UGD. Kondisinya kritis..." suara Bayu pecah, tangisnya tak lagi bisa ditahan.
"Apa?! Rumah sakit mana, Bay?! Gue ke sana sekarang!" seru Dimas terkejut.
"Rumah Sakit Harapan, Dim... Pihak rumah sakit minta deposit lima koma delapan juta buat ruang intensif dan obatnya. Uangku sama sekali tidak ada, Dim... Honor kerjaanku belum bisa cair..."
"Ya Tuhan, Bay..." Dimas terdengar sangat panik. "Gue cuma ada uang sisa sejuta dua ratus di rekening gue, Bay. Orang tua gue lagi tugas ke luar negeri dan kartu kredit gue sedang diblokir sementara gara-gara masalah limit kemarin. Tapi tunggu, gue bakal usahakan pinjam ke teman-teman lain!"
"Dim... aku benar-benar minta maaf selalu menyusahkanmu..."
"Jangan ngomong gitu, Bayu! Lu sahabat gue! Tunggu gue di sana, gue jalan sekarang!" tegas Dimas sebelum mematikan sambungan.
Tiga puluh menit berlalu dalam kepedihan yang menyiksa. Bayu merogoh saku jaket lusuhnya, mengeluarkan ponsel Android murah berlayar retak yang semalam baru saja ia pasangi sistem AI eksperimental. Ia menatap layar hitam itu dengan pandangan hampa. Semua kejeniusannya, semua logika algoritma canggih yang ia ciptakan, mendadak terasa tak berguna sama sekali saat dihadapkan pada lembaran uang kertas yang tidak ia miliki untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Ini adalah titik terendah dalam hidupnya.
Langkah kaki tergesa-gesa memecah keheningan. Dimas berlari terengah-engah menyusuri koridor dan langsung berlutut di hadapan Bayu.
"Bayu!" Dimas memegang kedua bahu Bayu. "Gue udah telepon lima orang teman kita... Tapi mereka cuma bisa kumpul delapan ratus ribu. Ditambah uang gue, totalnya baru dua juta rupiah. Masih kurang banyak, Bay..." Dimas menunduk dengan raut penyesalan mendalam.
Bayu menatap sahabatnya dengan mata memerah dan wajah sembab. "Terima kasih banyak, Dim... Kamu sudah berjuang sebisa kamu. Kamu memang sahabat sejati."
"Terus gimana sekarang, Bay? Ibu lu butuh penanganan segera," tanya Dimas dengan suara bergetar.
Bayu mengusap air matanya, menyapu rasa putus asa yang sempat melumpuhkannya. Ia membetulkan kacamata tebalnya dan menatap lurus ke depan.
"Aku akan bicara lagi dengan kepala manajemen rumah sakit, Dim. Aku akan memohon, menjaminkan KTM, atau berlutut di depan mereka jika perlu. Apapun akan kulakukan. Aku tidak boleh menyerah sekarang," ucap Bayu dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan keteguhan hati.
Dimas menggenggam jemari Bayu erat-erat. "Gue ikut sama lu, Bay. Kita hadapi ini sama-sama."
Bayu mengangguk pelan. Di tengah kegelapan dan impitan ekonomi yang hampir menghancurkan hidupnya, Bayu berdiri tegak kembali bersama Dimas, melangkah menuju ruang manajemen untuk memperjuangkan harapan terakhir bagi kesembuhan ibunya.