Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Dongeng Yang Terlalu Nyata

Langit di atas kamp pengungsian itu mendadak pekat, tertutup oleh bayangan monolit logam raksasa yang dingin dan mematikan. Di bawahnya, ratusan makhluk dengan visual yang nyaris sempurna berlarian kalap. Mereka adalah para abadi dari ras Elf Cahaya—penduduk asli Ljosalfar.

Normalnya, mereka adalah makhluk-makhluk agung berambut pirang keemasan sehalus sutra, berwajah rupawan tanpa cela, dengan manik mata sehijau batu zamrud yang memancarkan pendar sihir. Namun saat ini, keagungan itu luruh. Tanah Ljosalfar yang suci baru saja dilanda gempa bumi dahsyat yang meruntuhkan istana-istana kristal mereka, memaksa ras Elf yang sombong ini turun kasta dan mengungsi sementara waktu ke Hutan Luminara di dunia manusia.

Mereka mengira hutan berkabut di dunia fana ini adalah dermaga keselamatan sementara. Nyatanya, maut justru turun langsung dari langit, memburu mereka yang tengah rapuh.

"Tolong! Ayah! Ibu!"

Jerit anak-anak Elf memecah udara, tubuh-tubuh mungil berambut emas itu terpencar dan terinjak dalam kekacauan massa.

"Selamatkan diri kalian! Lari lebih dalam ke Hutan Luminara!"

Teriakan para orang tua Elf terdengar parau, tenggelam oleh deru mesin frekuensi rendah dari angkasa yang menggetarkan dada.

"Di mana anakku? Selamatkan anakku! Larilah ke sana, Nak, jangan menoleh ke belakang!"

Seorang ibu Elf meratap histeris, manik mata zamrudnya meredup tertutup air mata saat ia mendorong putrinya sekuat tenaga demi menjauh dari jangkauan kerucut cahaya aneh yang perlahan turun dari perut kapal.

Monster besi itu tidak menghancurkan tenda darurat. Ia tidak butuh bangunan manusia maupun perkemahan Elf. Makhluk asing itu hanya mengincar satu komoditas spesifik: anak-anak perempuan.

Setiap kali kilatan cahaya perak ditembakkan, tubuh gadis-gadis kecil Elf yang diculik akan melayang ke udara. Mereka meronta, menangis, sebelum akhirnya ditarik paksa ke dalam kegelapan lambung kapal bak barang jarahan tak berharga. Jeritan demi jeritan pecah di setiap sudut kamp. Namun, tepat di tengah badai kepanikan yang brutal itu, terdapat satu titik sunyi yang ganjil.

Seorang bocah perempuan berusia lima tahun duduk dengan tenang di bawah tenda terpal yang diikat alakadarnya pada batang pohon pinus tua.

Anak ini adalah anomali. Dia adalah satu-satunya makhluk yang berbeda di seluruh tempat itu, karena dia bukanlah bagian dari ras Elf Cahaya.

Di saat semua orang di sekitarnya memiliki rambut pirang berkilau dan mata hijau zamrud, bocah ini terlahir dengan rambut bergelombang sewarna cokelat tanah dan sepasang manik mata cokelat gelap yang pekat. Dia adalah seorang anak manusia yatim piatu yang sejak lahir entah bagaimana bisa ikut tinggal dan dibesarkan di Ljosalfar.

Saat ini, ia tidak lari seperti para Elf rupawan itu. Ia tidak menangis, bahkan tidak mengedipkan mata. Sepasang netra cokelat gelapnya hanya menatap kosong ke arah pembantaian dan kekacauan di depannya.

"Berisik sekali. Aku hanya ingin ketenangan," gumam anak itu lirih. Suaranya datar, terlalu dingin dan hampa untuk bocah seusianya.

Anehnya, radar kapal alien yang menyapu tanah seolah buta terhadap kehadirannya. Riak tak kasat mata seakan membentengi tempat manusia kecil itu berpijak.

Beberapa orang tua Elf yang menyadari keajaiban protektif dari bocah manusia yang biasanya mereka kucilkan itu segera menyeret anak-anak mereka yang tersisa ke arahnya.

"Berlindung di dekat anak manusia itu! Cepat!"

Benar saja, begitu beberapa anak Elf merangkak mendekat ke bawah terpal si bocah cokelat, kapal alien di atas mereka seolah ragu. Sensor mereka mendadak kehilangan target.

Cahaya penculik itu meredup, mesinnya menderu pelan dengan suara bergetar tak nyaman, sebelum akhirnya berbalik arah dan menghilang di balik awan hitam dunia manusia. Meninggalkan keheningan yang menyesakkan dan bau belerang yang pekat.

"Apakah... apakah mereka sudah pergi? Kita aman?" tanya seorang anak perempuan Elf bernama Viona. Rambut pirang emasnya kusut dan suaranya gemetar hebat saat menatap bocah misterius di sampingnya.

"Sudah," jawab bocah manusia itu singkat, sama sekali tidak menoleh.

"Aku sangat takut, Elisa..."

Elisa tidak menjawab. Ia berdiri dengan gerakan lambat, jemari kecilnya mencengkeram erat pegangan sebuah koper tua yang tampak terlalu berat untuk ukuran tubuh manusianya.

Tanpa memedulikan tangisan para Elf di sekitarnya, ia mulai berjalan menyeret koper itu menuju halte bus tua di ujung jalan setapak Hutan Luminara yang berbatasan dengan peradaban manusia.

Rambut cokelat bergelombangnya menari-nari ditiup angin pegunungan yang menggigit tulang.

"Elisa! Tunggu aku!" teriak Viona.

Dengan napas memburu, gadis Elf kecil itu berlari mengejar sembari memeluk erat sebuah buku dongeng tebal pemberian ibunya—satu-satunya harta yang berhasil ia selamatkan dari Ljosalfar.

Di halte yang sepi dan berkabut, Viona duduk terengah-engah di samping Elisa. "Kamu mau ke mana? Jangan tinggalkan tempat ini sendirian," tanya Viona cemas, mata zamrudnya menatap Elisa lekat-lekat.

Elisa hanya menoleh sedikit, melempar senyum tipis yang sulit diartikan, lalu menggeleng pelan. Ia sendiri tidak tahu ke mana bus manusia itu akan membawanya. Ia hanya tahu satu hal: ia harus pergi sejauh mungkin dari keramaian makhluk hidup yang memuakkan ini, baik itu Elf maupun manusia.

"Tetaplah di sini bersamaku. Jangan pergi sendirian, Elisa. Orang tuaku pasti mau merawatmu setelah kekacauan ini selesai," bujuk Viona lagi, mencoba meraih tangan Elisa yang sedingin es.

"Tidak. Aku tidak mau merepotkan siapapun," ucap Elisa tenang, namun sarat akan ketegasan yang mutlak.

"Ayolah, El, aku tahu kamu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kamu bahkan tidak punya sihir Elf."

"Maaf, Viona. Aku tidak bisa."

Sikap dingin Elisa yang di luar batas kewajaran anak seusianya perlahan membuat Viona merinding. Namun, rasa takut akan kesendirian membuat Viona bersikeras untuk tetap tinggal.

"Oke, baiklah kalau itu maumu. Aku akan di sini, menemanimu sampai bus itu benar-benar datang."

Elisa kembali menutup mulutnya, seolah-olah keberadaan Viona di sampingnya hanyalah embusan angin lalu yang tidak berarti.

Untuk memecah kesunyian yang mencekam di antara mereka, Viona membuka buku dongengnya. Ia mulai membaca keras-keras, berharap untaian kalimat tentang makhluk-makhluk mistis kuno bisa mengusir atmosfer ganjil yang melingkupi mereka.

"Elisa, dengar ya. Aku akan membacakan cerita agar kamu tidak bosan. Tolong dengarkan aku..." Viona mulai mengeja kata demi kata dengan terbata-bata.

"Mne-mo-sy-ne. So-sok can-tik, ang-gun bak de-wi itu... se-lalu me-makan inga-tan anak-anak dan ora-ng yang di-su-kai-nya. Ia hid-up da-lam ke-aba-dian..." Viona menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.

"Bagaimana ceritanya, El? Bagus, kan? Aku suka sekali dengan dongeng ini. Bahkan aku sudah berkali-kali memandangi gambarnya sebelum Ljosalfar hancur. Menurutku, Mnemosyne itu... sangat keren."

Angin dingin tiba-tiba berembus kencang secara tidak wajar, menyapu tengkuk Viona hingga bulu kuduknya berdiri.

"Kau benar-benar menyukainya, Viona?"

Suara Elisa tiba-tiba berubah. Nada suaranya memberat, berwibawa, penuh gaung kuno, dan tidak lagi terdengar seperti suara bocah lima tahun. Itu adalah suara sesosok entitas yang telah kenyang oleh waktu.

"Kenapa kamu begitu gigih memaksaku tinggal bersama keluargamu? Bagaimana jika aku bukan gadis manusia yatim piatu pendiam yang kamu kira? Bagaimana jika... aku adalah makhluk mengerikan di dalam buku yang kamu pegang itu?"

Jantung Viona berdegup kaku. Perlahan, ia menurunkan buku dongengnya dengan tangan yang gemetar hebat. Suara Elisa terasa begitu dekat, berbisik tepat di lubang telinganya dengan hawa dingin yang membekukan darah.

Saat halaman buku itu turun sepenuhnya, Viona membeku berlumur horor. Di depannya, wujud Elisa telah bermutasi. Kulit manusianya yang halus mengkerut layaknya nenek tua yang telah hidup berabad-abad. Giginya memanjang, meruncing tajam dengan warna kekuningan yang mengerikan, dan rambut cokelatnya memutih dalam hitungan detik bagai tersapu salju abadi.

Monster di depannya menyeringai lebar, menatap jauh ke dalam kornea mata zamrud Viona yang melebar ketakutan.

"Mnemosyne... akulah makhluk abadi itu..."

Viona menjerit histeris—

"Hahaha! Itu konyol sekali!"

Tawa renyah yang meledak tiba-tiba itu seketika memecahkan atmosfer tegang yang mencekik. Di ruang tengah panti asuhan yang diterangi cahaya temaram namun hangat, seorang gadis remaja berusia 18 tahun tertawa terpingkal-pingkal sampai harus memegangi perutnya yang kram.

Itu Elisa. Dia bukan lagi bocah lima tahun dalam mimpi buruk barusan, melainkan seorang gadis remaja yang merupakan penghuni tertua di panti asuhan itu.

Anak-anak panti lainnya yang sedang berkumpul di lantai dan Ibu Pengasuh menatapnya dengan kernyitan heran di dahi mereka.

"Apa yang menurutmu sangat lucu, Elisa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!